Monday, April 4, 2011

Suatu Hari Sandikala

Syahdan pada masa Upanishad, Dewi Draupadi – istri Prabu Yudhistira - datang kepada Prabu Wirata yang sudah beberapa tahun ini meninggalkan tahtanya untuk menyerahkan diri kepada kesederhanaan hidup. Mereka berdua berbincang di bawah naungan pohon Latamaosandi. Dalam perbincangan, Draupadi meminta nasehat perihal perceraian. Kepada Prabu Wirata disampaikan pula bahwa dirinya sudah meminta pertimbangan kepada seorang brahmana. Prabu Wirata bertanya apa pendapat brahmana tersebut. Draupadi menjawab: sang brahmana menyetujuinya.


“Apa alasan dia menyetujui perceraian, anakku?”


“Menurut wisik yang didapat dalam samadi, beliau mengatakan layaklah laki-laki seperti Yudhistira diceraikan. Raja tidak tahu adat. Berani menyerahkan istri sebagai taruhan judi. Merelakan istri ditelanjangi. Tidakkah dia menghargai hamba yang selalu menyerahkan cinta dan diri sepenuhnya? Tidakkah dia terkenang saat indah penuh cinta dalam kama-ratih?”.


“Brahmana itu berkata begitu?”.


“Nun, inggih, Gusti”.


“Ah, tapi menurut rasaku, Wong Ayu. Semakin jauh dan dalam dasar kolam semakin tidak bisa kita putuskan wujudnya. Wajarlah brahmana mengatakan hal itu jika tidak melalui samadi. Tetapi dalam samadi ... yah sudahlah ... tujuan orang berbeda-beda. Tetapi sejauh kudengar dari adikku Wratsangka yang beroleh kabar dari Harjuna, anakku Draupadi selamat dari penghinaan di arena judi berkat kuasa Hyang Widhi”.


“Nun, inggih, Gusti Prabu. Entah ... hamba merasa gelap saat itu. Rasa malu dan terhina begitu besar membuat hamba pingsan. Tetapi menurut adik Harjuna kain penutup badan hamba seakan tidak lepas dari tubuh. Terurai menjadi demikian panjang. Semua kegilaan itu berhenti berkat turun-tangan Eyang Bhishma. Kabarnya beliau sangat murka kepada Suyudana dan adik-adiknya”.


“Ah ... Bhishma. Dia orang baik. Tentu dia tahu apa arti aturan yang harus diterima dalam sebuah perjudian. Tapi dia orang yang tidak pernah berhenti pada kebiasaan dan aturan. Ya, kebenaran baginya adalah kebenaran. Kebenaran adalah zat-milik Sang Hyang Widhi. Jika Sang Hyang Widhi sendiri adalah Zat Agung yang tidak bisa dipengaruhi zat-zat duniawi manapun, maka tentulah sebagai milik, kebenaran juga tidak bisa dipengaruhi oleh aturan apapun di dunia”.


Prabu Wirata diam. Dirasakannya semilir angin pada kulit tubuhnya yang mulai memiskin, lama tidak tersentuh berbagai ramuan istana. Di depannya, kira-kira selemparan batu, dilihatnya anak gembala bermain seruling di antara sapi-sapi. Anak itu memandang kepada sang Prabu. Dia berkulit hitam. Parasnya tampak cantik pada wujudnya yang laki-laki. Dia melepaskan seruling dari mulutnya dan tersenyum. Sang Prabu membalas dengan senyum. Teduh hatinya. Dia menarik nafas lembut dan dalam. Matanya setengah terpejam.


Akhirnya sang Prabu melepas kebisuannya.


“Begini saja, anakku Draupadi. Kau tentu lelah. Banyaklah makan dan istirahat dulu. [Nun inggih, Gusti Prabu. Tapi hati ini sakit sekali]. Saya mengerti, tapi sebaiknya jangan memutuskan apapun selama hatimu masih diselimuti galau. Nah, Dalam hening-wening di pedesaan ini aku tak bisa memberikan masukan apapun kecuali mengajakmu menghadap Sang Hyang Widhi. Dan biarlah Sang Hyang Widhi sendiri yang menyampaikan warta kepadamu, warta yang aku tidak tahu. Warta yang tidak bisa diukur oleh nalar kita, manusia. [Apa maksud Gusti?] Lha iya. Menurut rasaku, anakku wong ayu, kalau Sang Hyang Widhi sendiri menyelamatkanmu di arena judi tempo hari, maka aku kok merasa bahwa dirimu adalah kecintaanNya. Artinya, kau diciptakan secara pribadi dan selaras dengan Zat-Nya. Maka, hanya Dia yang bisa menjadi sumber pemecahan kegalauan hatimu".


Hari sudah sandikala. Prabu Wirata masih duduk di bawah naungan Latamaosandi. Dilihatnya anak gembala pergi dalam gembira bersama sapi-sapi. Dilihatnya juga beberapa rahib berjalan membawa kembang, air, dan dupa untuk doa malam. Dari hatinya, bersama dengan semilir angin barat, bergulirlah sebuah harapan: semoga, ya semogalah, Sang Hyang Widhi - Sang Sumber Cinta – yang melahirkan Draupadi dan memanggilnya dengan nama yang paling pribadi menaburkan cinta illahi. Suatu zat yang melampaui segala wujud yang ada di dunia, supaya Draupadipun tidak berhenti pada perkara-perkara dunia, namun sebaliknya mampu memberi cinta. Apapun keputusannya nanti. Dan dirinya sendiri? Ah, dirinya mengakui bahwa masih belajar menjejakkan kaki di dunia, agar bisa disebut dengan suatu nama, yang harapannya selaras dengan Sang Cinta Abadi dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti dirinya dan para rahib memanggil anak gembala cantik yang selalu gembira itu: Krishna!

Monday, December 20, 2010

Menemani

Seorang perempuan yang kutemui di angkot tadi siang bercerita tentang berita yang baru saja dibacanya di sebuah koran. Dia mencoba menjelaskan kembali apa yang ditulis pada berita tersebut dan mengomentarinya demikian: Seorang anak korban perceraian tampil di sebuah media massa. Dia ditanya perihal calon suami ibunya, yang menurut rencana akan menikah lagi. Tentu, kalau dia sayang kepada ayahnya, dia akan menjawab ayahnyalah yang terbaik. Barangkali, kalau ayahnya hendak menikah lagi nanti, dan sang anak menyayangi ibunya, dia juga akan menjawab ibunya yang terbaik. Kemudian dia menambahkan lagi, “Tapi itu wajar to, Mas. Bahwa ada seorang anak membela ayah atau ibunya karena dia mempunyai cinta. Tapi, apa yang dia rasakan waktu mengatakan mendukung apapun pilihan orang tuanya. Rak gendheng to, bocah seusia itu bisa omong begitu. Lha itu yang tua si anak atau bapak-ibunya?”. Aku cuma tersenyum mendengar itu. Mataku masih terpaku pada pengamen di dekat jendela sopir, yang penampilannya ngudubilahi serba asal-asalan.

Tapi tak urung terpikir juga kata-kata perempuan itu. “Apa yang Mbak bilang tadi? Mbak katakan si anak punya cinta? Alhamdulillah kalau begitu. Waras selaras dengan selera Zat yang melahirkannya. Tapi sayang cinta yang satu beda dengan cinta yang satunya. Maksudnya? Lha iya, cinta si anak waktu membela bapaknya itu cinta yang dipunyai seorang anak. Seorang anak yang sesungguhnya; yang masih suka dikeloni dan diciumi. Yang masih punya kejujuran seorang anak. Lha kalau sudah mendukung apapun pilihan orang tua, ya punten dalem sewu, betapa luhur hatinya, Mbak, tapi pedih juga. Anak mana yang mau orang tuanya cerai? Di mata anak dunia serba bagus. Seperti puzzle memang, tapi serba ketemu dan cocok. Tapi berani mendukung pilihan orang tua padahal dirinya masih ingin didekap dikeloni? Nah, nah ... hikiii ... mesti dudu jiwane bocah. Jiwane Wara Srikandi yang agung tapi penuh daya amuk kepada Resi Bisma. Agung tapi gamang. Satria dia. Tahu unggah-ungguh. Tapi kalau sudah tercubit prinsipnya, wah wah ... seorang Resi yang paling agung pun luruh ditangannya”.

“Betul, Mas. Semogalah jiwa anak-anak itu secantik Wara Srikandi, tapi pada keagungannya, dan bukan pada amuknya”.

"Bisa, Mbak. Insya Allah, Gusti Allah mboten sare. Tuhan tidak tidur".

"Lha, kalau Tuhan tidak tidur lantas siapa yang menemani?"

"Ya, mungkin kita-kita ini”.

Angkot bergerak berangkat. Langit senja terlihat jingga. Di sudut terminal orang-orang berkerumun beristirahat; ngopi sambil mengaso, main kartu menghilangkan penat. Sebisa mungkin patuh pada perintah alam yang menyampaikan pergeseran waktu, juga si pengamen yang ngudubilahi tadi. Di jalan mulai terlihat warna-warna Natal di papan-papan reklame yang diterangi lampu. Ratusan laron mengerumuni sinarnya. Indah dan mewah warna-warna itu. Tapi semogalah ... ya semoga, tidak menyilaukan kehadiran seorang Bayi yang kelahiranNya dirayakan oleh warna-warna itu. Seorang Bayi Agung yang nyaris tidak mempunyai seorang bapak. Hanya karena rahmat Allah maka sang bapak tidak menceraikan ibuNya. Tapi ya bukan rahmat Allah saja. Rahmat Allah bisa bekerja sempurna kalau manusia mau terbuka menerima. Dan si bapak memang cuma tukang kayu biasa saja. Ibunya juga; seperti mbok-mbok ndeso biasalah. Tapi yang biasa-biasa biasanya lebih gampang menerima warta, setidaknya dalam batinnya. Ora keminter. Gusti Allah memang tidak butuh yang pintar, tapi butuh yang mau menemaniNya. Ngancani.

Friday, October 22, 2010

Wira

Malam itu udara terasa gerah di Bali. Aku tidur dalam sebuah bilik kecil bersama seorang teman, Pak Artam namanya. Ya, kami lelah sekali malam itu setelah seharian penuh bergelut dengan proyek-proyek yang masih sangat membutuhkan perhatian. Tentu, sesuatu yang sejuk kami harapkan untuk memberi ketenangan. Cukuplah suhu udara yang nyaman sebetulnya. Tidak lebih. Sebagai orang-orang lapangan kami terbiasa tidur dalam kondisi seadanya. Tetapi udara di Sanglah malam itu tidak sedikitpun memberi perhatian kepada kami. Tiba-tiba, di sela gelisah, telfon selulerku berdering; panggilan dari Jakarta, dari seorang sahabat : Berna. Kulirik arloji. Pukul satu dini hari.

‘’Mas, sudah tidur?’’

‘’Yup. Kenapa, Nduk?’’, jawabku dengan suara yang kubuat semerdu mungkin. Pikirku; apa dia tidak sadar sudah pukul berapa sekarang?

‘’Ngga. Cuma mau minta bantuan. Kenal orang-orang yang sedia jadi donor darah?’’

‘’Malam ini?’’

‘’Ya. Buat seorang bayi. Anaknya temenku. Sudah kritis’’.

Selebihnya dia bercerita panjang lebar tentang kondisi anak tersebut, yang ternyata belum sempat diberi nama. Aku yang hampir memejamkan mata hampir tidak mendengar semua yang dikatakannya. Akhirnya dia menyudahi pembicaraan dan mengatakan akan menunggu kabar dariku.Duh,Gusti Allah, aku capek sekali. Besok saja cari bantuan, pikirku. Lagi pula malam seperti ini? Bukankah hampir semua orang terlelap? Tapi tak urung hatiku gelisah. Berkali-kali bantal kubalik, sampai tiba-tiba seperti ada sebentuk pikiran merasuki otakku dan mengatakan alangkah lebih baik diselesaikan sekarang sehingga besok tidak terlalu menjadi beban pikiran. Maka jadilah. Beberapa nama kuhubungi dan ... sangat mengejutkan ... dalam waktu tak kurang dari tigapuluh menit tiga orang sudah menyatakan kesediaannya. Yang lain memberi nomor lembaga-lembaga yang layak dimintakan tolong. Dengan semangat aku mengabari Berna. Kuminta agar dia menghubungi lembaga dan para pendonor yang sudah bersedia. Selanjutnya, tak lebih dari dua puluh menit dia menghubungiku lagi. Dengan nada suara gembira dia mengatakan bahwa para pendonor siap dan untuk sementara semua cukup. Dia juga berkali-kali mengucapkan terimakasih.

‘’Mas, tahu’kan. Ibu anak itu sahabatku. Terimakasih!’’.

‘’Ya, ya’’, kataku. Di otakku saat itu cuma ada satu kata : tidur.

Legian Bali, hari keempat setelah Berna menghubungiku. Aku tiba-tiba ingin tahu perkembangan anak itu. Kutanyakan kepada Berna. Dia mengatakan bahwa anak itu sudah pergi untuk selamanya. Sing Murbeng Dumadi, Allah maha pengasih punya cara yang lebih baik untuk menyatakan cintaNya.

‘’Sempat transfusi darah?’’, tanyaku.

‘’Sempat, Mas. Tapi lumayan terlambat. Duh, maaf aku ngga sempat kasih kabar’’. Dan selanjutnya kudengar dia menangis. Juga minta doa.

Meskipun hatiku haru, tapi entah kenapa aku selalu memandang bahwa kematian adalah kehidupan itu sendiri. Menangis dalam kesedihan adalah sebentuk ungkapan cinta, tetapi lambat laun cinta itu juga yang akan menjadikannya sebuah senyum. Bukan, bukan kematian itu yang terus menjadi pikiranku, melainkan aku teringat akan seseorang, Wira namanya.

Di malam yang panas itu, sesaat setelah Berna meminta informasi tentang para pendonor, aku menghubungi Wira. Wira adalaha sahabatku di Jogja. Dia memberi cukup banyak informasi tentang pendonor golongan darah AB seperti yang diminta. Informasinya sangat berguna dan membantu. Tapi setelah beroleh kabar tentang kepergian anak itu, dia mengaku bahwa sebetulnya dirinya juga bergolongan darah AB. Menjadi sebuah penyesalan baginya karena sebetulnya mampu untuk menyumbang darah dalam waktu cepat. Baik si Anak maupun Wira ada dalam satu kota yang sama. Apalah arti waktu bagi orang Jogja terlebih di malam hari. Semua bisa ditempuh sesegera mungkin. ‘’Kalau saja aku mau lebih peduli, barangkali anak itu masih hidup ...’’, sesalnya. ‘’Aku terlalu menggampangkan. Aku cuma merasa cukup dengan memberi banyak informasi dan percaya Gusti Allah sendiri yang akan melanjutkan. Duh, Gusti, nyuwun pangapunten ...’’

Aku tersenyum mendengar penyesalannya. Tentu bukan karena aku senang bahwa Wira menyesal. Tidak begitu. Kok seperti orang suci saja. Senyumku senyum getir sebetulnya. Hanya aku merasa akhirnya sampai juga pada pemahaman bahwa Gusti Allah bisa melakukan apa saja termasuk bertindak sendiri menyembuhkan si Anak. Tapi tak urung Dia juga selalu membutuhkan bantuan manusia. Ah, konsep macam apa lagi ini; menganggap Tuhan tidak kuasa tanpa peran manusia? Memang Actus-puruslah Dia. The unmoved-moverkata Aristoteles; penggerak yang tak bergerak. Yang adi-kodrati dan kekal. Sangcausa-prima. Tapi kalau sang pimpinan yang serba bisa membutuhkan bantuan bawahan, maka pertanyaannya : apa dan siapakah sang bawahan itu sehingga sang pemimpin membutuhkan bantuannya? Begitu spesialkah dia? Entahlah.

Pak Artam memanggil dari kejauhan. Dari bahasa tubuhnya kutahu ada yang harus cepat diputuskan di lapangan. Maka aku segera membayar makanan, kemudian berlari dalam hiruk-pikuk jalan Padma. Kepada Wira hanya kukirimkan sebuah pesan singkat : thank you, Brother.

Ciko

Hanya kucing kecil, budukan ... lagi tidak bersih. Kutemukan malam hari di pinggir jalan waktu hujan selesai mengguyur. Dia berteriak keras. Sangat keras. Awalnya tidak aku pedulikan, tapi teriakannya yang keras seakan melempar energi yang meruntuhkan kebekuan hati. Melampaui makna yang awalnya kulihat hanya sekedar kucing. Makna itu terus menampakkan dirinya yang sejati dan frekuensinya tersambung dengan pengalaman masa laluku. Tepat di titik itu aku seakan mengenali sesuatu lebih dari sekedar kucing; kepedihan, kesepian, dan ketakutan.

Maka, aku beranikan mengambilnya. Dia diam waktu aku meletakkan pada lengan, sedangkan aku berpikir, ‘’hendak di letakkan dimana di rumah nanti?” Rumah yang aku tempati adalah rumah komunitas. Meskipun aku tahu bahwa pada dasarnya teman-temanku baik adanya tetapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengurusnya. Kuputuskan memberinya tempat di pojok carport yang cukup hangat pada sebuah kardus dan kain dengan harapan sang induk datang mengambilnya. Semangkuk kecil susu kusorongkan, yang dibalas dengan tatapan dingin. Dia sepertinya tahu aku hendak masuk rumah lagi dan meninggalkan dirinya di carport. Dia berteriak. Suaranya terdengar dari dalam rumah.

Seorang teman memberi nama : Ciko. Barangkali untuk mengenang kucing kesayangannya dulu. Ciko selalu berteriak keras setiap mendengar suara. Seperti anak ketakutan yang ingin dipeluk. Tetapi yang unik, yaitu setiap aku datang untuk memberinya makan dia berlari mendekat. Dia hanya ingin mendekat dan berlari cepat mengejarku setiap kali aku meninggalkannya. Sesekali dia kubiarkan masuk rumah dan memanjati lenganku dengan kakinya yang gemetar. Pada saat seperti itu dia diam seribu bahasa. Sebaliknya berteriak keras ketika kutinggalkan di luar. Pernah sekali melalui jendela kulihat dia tetap setia duduk dalam waktu lama sambil berteriak keras dan memandangi pintu yang kututup; pintu tempat aku masuk. Selanjutnya, dalam kelelahan dia menyerah pergi ke kotak kardusnya. Entah kenapa suatu rasa terbersit dalam hatiku, ‘’aku menolaknya’’. Mungkin dia cuma kucing. Tapi perasaan yang melampaui keberadaannya sebagai kucing terus muncul.

Malam menjelang hari ketiga aku memindahkan Ciko ke Garasi. Kupikir agar lebih hangat dan aman dari ancaman luar dan badai. Tapi baik malam itu atau esok paginya dia tetap berteriak keras, menatap dengan dingin susu dan makanan yang kuberikan, dan tentu saja, mengejarku. Malam hari di hari ketiga teriakannya mulai berkurang. Kadang ada kadang berhenti. Ah, kupikir dia mulai tenang. Syukurlah.

Pagi hari keempat selesai ibadat pagi. Aku tidak mendengar suaranya. Di Garasi kulihat dia mendengkur tidur dalam kardusnya. Aku lega melihatnya bisa istirahat. Maka kuletakkan dengan hati-hati semangkuk susu menggantikan yang lama yang tidak pernah disentuhnya. Setelahnya aku kembali ke kamar.

Tetapi di dalam kamar hatiku mengatakan sesuatu. Kudatangi kembali Garasi. Aku memandangi kucing kecil tersebut dengan lebih jelas. Dia memang tidur tetapi bukan dalam sebuah istirahat tenang. Matanya yang terbuka menatap nanar. Tubuhnya lemas. Nafasnya pelan dan sesekali terdengar lengkingan lirih suaranya. Tidak ada reaksi apapun ketika tubuhnya kuangkat. Dia menjelang kematiannya ... dalam kesesakan, kesepian dan kesedihan. Dia sudah menyerah. Tidak didapatkannya tempat bersandar di bumi ini. Suatu tempat yang bisa memeluknya. Saat itu aku yang merasa hampa hati membawanya ke kamar. Memberinya tempat yang terbaik dan hangat selama menunggu kepergiannya. ‘’Sudah terlambat’’, seperti ada yang berbisik. Tapi tak apalah. Siang hari menjelang sore kucing kecil itu pergi selamanya. Bersama dengan tanah terakhir yang menutup kuburnya, aku teringat kembali saat dia berjuang mempertahankan harapan untuk beroleh kehangatan tapi harus kembali ke kardusnya dengan lengkingan kesedihan dan kesepian yang dalam. ‘’Ah, aku sudah menolaknya’’.

Barangkali hanya kucing kecil. Budukan lagi. Tapi kesepiannya menyebarkan sebuah tanda. Dalam frekuensi yang sama aku menangkap tanda itu, yang sepertinya pernah hadir dalam realita hidupku. Aneh, Ciko si kucing kecil itu pelan-pelan semakin menampakkan kejujurannya yang melampaui dirinya sebagai seekor kucing. Dia menampakkan diri sebagai anak kecil. Berawal dari satu orang, menjadi puluhan, ratusan dan ribuan. Semuanya berlari mengejar sambil berteriak. Menggapai harapan dalam ketakutan dan kesepian, tetapi berakhir dalam penolakan. Tiba-tiba terdengar bisikan, “jangan lagi menolak. Jangan!”. Tapi bagaimana mungkin? Ada ribuan anak! Aku lari menghindar dalam pelukan doa ibadat malam. Aneh, selama ini aku mencari makna dari doa-doa yang kudaraskan, dan malam itu semuanya bertemu dalam sebuah kesatuan penuh waktu aku mengucapkan; ’’untuk mereka yang sedih karena kesepian dan ditolak. Semoga Tuhan memberi damai kepada mereka ... damai yang tidak pernah diberikan oleh dunia’’. Aku menjadi tahu bahwa selalu ada rahmat bagi turunnya damai, tetapi rahmat itu membutuhkan banyak tangan yang rela untuk menyalurkannya. Meminta damai bagi mereka tidaklah cukup. Ketika teman-teman menyanyikan Kidung Maria, aku menangis. Hari itu Selasa malam, 19 Oktober 2010.

* Untuk anak-anak yang kesepian dan ditolak.

Monday, March 1, 2010

Love

Subuh dini hari aku bermimpi berjumpa almarhumah Ibu yang menjelang 4 tahun lalu berpulang. Ini mimpiku yang pertama sejak sekitar setahun lebih tidak pernah memimpikannya lagi. Mungkin karena aku tidak terlalu peduli dengan mimpi. Mimpi selalu aku anggap sebagai kembang tidur saja. Biasan perasaan-perasaan hati yang terpendam saja, termasuk pada awal kepergiannya.

Tapi ada yang menarik dari mimpi kali ini.

Dalam mimpi tersebut aku datang mengendarai sepeda ke sebuah rumah yang sedang mengadakan acara penghormatan kepergian seseorang, dan aku tahu seseorang yang berpulang itu adalah Ibuku. Uniknya, aku tidak melihat situasi atau gambaran jenazah dengan petinya. Hanya melihat kerumunan besar dan suara penata acara yang sebentar lagi akan mengucapkan kata perpisahan melepas jenazah.

Selepas memarkir sepeda aku melihat Ibu berdiri di depan pintu masuk. Wajahnya cerah dan rileks (berbeda dengan terakhir aku lihat, begitu menahan sakit karena kankernya). Beliau menungguku. Kami beranjak keluar bersama melewati beberapa pelayat. Sebelum melewati beberapa pelayat beliau menawarkan untuk berbincang sejenak dengan kondisi badan kami tidak terlihat oleh pelayat. Dan betul kami melihat mereka tapi mereka tidak melihat kami. Aku lihat juga Romo Prasetyo, seorang Imam yang selalu baik dengan keluarga kami.

Di tengah jalan aku bertanya kepada Ibu : "Aku rindu sekali. Apakah Ibu juga rindu sama aku?"

Dengan tenang beliau menjawab : tidak.

Mendengar jawaban itu hatiku menjadi sedih sekali. Dan demi melihat reaksi sedihku Ibu mengatakan lagi : "Tetapi itu di dalam nama Tuhan". Dijelaskan lebih lanjut karena aku masih tidak juga paham : "Ibu sudah ikut Tuhan". Mendengar itu aku menjawab : "maka itu sudah tidak ada lagi emosi ... barangkali ... semua menjadi penuh dan tertuju kepada Tuhan ... ". Sebuah jawaban yang kujawab atas pertanyaanku sendiri, dan tentu tidak memuaskanku.

Suara penata acara kembali kudengar memberangkatkan jenazah. Aku lihat para pelayat berduyun menuju pemakaman. Aku dan Ibu ada bersama mereka. Menjelang makam suasana mulai gelap dan aku tidak bisa melihat jauh ke depan. Tetapi aku tidak ngeri. Gelap yang kurasakan tidak lebih daripada sekedar datangnya maghrib. Tetapi satu hal yang kurasa jelas : langkah Ibu makin cepat dan pasti sedangkan sebaliknya langkah kakiku seperti ada yang membebani. Aku merasa ada tangan yang menghalangi menuju gelap tersebut.

Tiba-tiba aku sadar bahwa waktu kami tidak banyak. Kami akan segera berpisah. Hatiku gelisah karena masih dibebani pernyataan Ibu yang mengatakan tidak lagi rindu kepadaku. Aku berpikir apakah dengan demikian beliau tidak mencintaiku lagi? Maka, untuk menuntaskan pertanyaan tersebut aku berteriak kepada Ibu yang makin menjauh: "Ibu mencintai aku?". Kulihat Ibu mengangguk. Aku ulang pertanyaan sekali lagi dan beliau mengangguk. Dan setelahnya hilang ditelan gelap. Tetapi sebelum tubuhnya betul-betul hilang dalam kegelapan Ibu berteriak mengingatkanku : awas! sembari telunjuknya menunjuk satu titik di tepi jalan yang tiba-tiba menjadi terang. Maka terlihatlah seekor ular, yang siap menyerang. Aku mundur dan Ibu menghilang.

Hampir pukul 07.00 wib. aku terbangun. Mungkin aku tetap seperti biasa, tidak terlalu peduli dengan mimpi. Tetapi kurasakan ada kelegaan dihati karena merasa dicintai. Perasaan dicintai ini yang selalu aku yakin menjadi sumber kekuatan hidup dan kehadiran Tuhan yang lembut, selalu mengampuni dan menerima apa adanya.

Sunday, October 11, 2009

Lik Tarno Mencari Tuhan


Ini kisah sehari di hari Minggu 4 Oktober di Kampung Sawah. Kisah tentang menemani seorang penggiat sosial PPM Atmajaya Jakarta yang sedang membangun rumah. Mas Tarno namanya. Herman Yosef Sutarna lengkapnya. Aku mengenalnya lewat Lesnanto temanku yang tidak lain adalah kemenakannya.


Pertemuan kami sebetulnya sudah terjadi 2 minggu sebelumnya. Ketika itu Mas Tarno, yang mengakui bahwa dirinya jenis manusia yang tidak dekat dengan Gereja menceritakan keinginannya untuk memiliki sebuah rumah yang dekat dengan bangunan gereja. Tujuannya agar anak-anak - Oka dan Luhita - bisa terjaga keimanannya. Selama ini Mas Tarno merasa tidak memiliki waktu dan kemampuan untuk mendidik anak-anaknya dalam hal kerohanian. Untuk itu dia mempercayakan peran tersebut kepada "gereja" - entah melalui bentuk apa nantinya, bahkan mungkin lewat cara yang paling naif sekalipun : mencari lokasi rumah dekat dengan gereja.


Maka, sebagai ungkapan niat dia membeli sebidang tanah seluas 150 meterpersegi di Kampung Sawah tidak jauh dari gereja Servatius dan sesegera mungkin membangunnya, meskipun dengan metode rumah tumbuh untuk menghemat biaya.


Bersama Lesnanto kami bertiga sempat mendiskusikan konsep rumah mereka. Secara pribadi aku sangat tertarik dengan keinginannya untuk menjaga keimanan anak-anaknya. Tetapi, jujur juga kuungkapkan kepada Mas Tarno dan Les bahwa aku tidak terlalu percaya kepada lembaga gereja apalagi kalau hanya berwujud sebongkah gedung saja. Bagiku, awal pertumbuhan iman seseorang berawal dari keluarga yang secara fisik diwakili oleh rumah. Maka muncullah sebuah pandangan, yaitu untuk menjadikan rumah mereka sebagai gereja. Dan gereja Servatius, tentu kami masih menghormati keberadaannnya sebagai tanda hadir Tuhan, kami lihat bukan lagi sebagai datum (satu-satunya arah) melainkan sebagai teman seperjalanan dalam membangun sebuah Gereja. Gereja Servatius diharapkan mampu memberikan inspirasi melalui kegiatan dan peran sakramental di dalamnya, dan rumah Mas Tarno ... di luar ranah religius diharapkan mampu menjadi tanda kehadiran Tuhan dan Gereja melalui aktifitas penghuninya yang sangat nyata.


Terbersit juga ide untuk mewujudkan cita-cita tersebut dengan cara : menciptakan ruang yang hidup yang tidak berhenti dan selesai pada satu masa melainkan berkembang dan memiliki unsur fisik yang memungkinkan penghuninya ikut memberi sentuhan, ikut berkarya, ikut mewarnai, yang ujungnya diharapkan tercipta dialog antara Suami-Istri-Anak. Lewat dialog-dialog itu nantinya kami sadar pemahaman iman bisa dimasukkan. Dan rencana kami dimulai dari sebuah hari dimana seluruh keluarga bisa berkumpul bersama, melihat gereja Servatius, menyusuri jalan-jalan menuju lokasi, merasakan lingkungannya, berdialog tentang kenapa Ayah-Ibu memilih lokasi tersebut, memberi pengertian kepada anak-anak perihal pembangunan yang harus serba irit dan tidak langsung jadi. Dan untukku secara pribadi - seperti biasa - memberi mereka peluang untuk ikut menentukan ruang dan memilih material.


Pukul 08.30.

Aku dan Lesnanto tiba di Kampung Sawah. Sembari menunggu Mas Tarno yang baru tiba di Jakarta dari Muntilan memboyong tukang-tukang kami mengikuti perayaan Misa Kudus.


Selebran ketika itu adalah Romo Sarjumunarsa. Beliau memberikan kotbah yang menarik tentang kemiskinan. Lumayan, membangunkan aku yang sempet merem karena setiap 5 jam sebelumnya minum 2 butir pain-killer.


Menurut pandangan sang Pastor, seperti halnya agama lain, kemiskinan patut dihindari. Dan cara untuk menghindarinya tidak selalu harus menjadi orang kaya tetapi menjadi orang yang punya niat. Secara khusus kotbah ini menjadi inspirasi dalam diskusi-diskusi kami nantinya.


Selesai misa hujan turun deras sekali. Kami menunggu cukup lama, sampai akhirnya 1 jam kemudian Mas Tarno datang dengan sepeda motor berboncengan dengan Luhita dan seorang kerabat yang dipanggil Pakde, yang rencananya akan mengomandani pembangunan rumah. Kemudian kami berjalan bersama menyusuri kampung yang masih asri : hampir setiap rumah mempunyai teras, halaman, dan penghijauan. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan.


***


Lahan milik Mas Tarno diapit dua buah rumah sederhana. Posisinya lebih turun 50 cm dari muka jalan kampung. Di bagian belakang terdapat puluhan pohon nangka besar dan sebuah sumur. Di antara lahan dengan rumah tetangga di sebelah kiri terdapat jalan tanah selebar 1,5 m yang menerus menghubungkan rumah di belakang.


Kami juga bertemu dengan pemilik rumah sebelumnya. Bertandang di ruang tamu yang sederhana sembari minum kopi. Sungguh, sebuah rumah sederhana dan kecil. Lantainya terbuat dari semen yang di beberapa sudut mulai rusak. Biliknya terbuat dari plywood. Pintunya bukan berupa panel tetapi kain gordijn. Atap, seperti umumnya rumah kampung, terdiri dari rangkaian rangka kayu yang terekspos berbalutkan genteng tanah liat yang susunannya tidak terlalu rapat. Bersama pemilik rumah kami juga sempat mengukur ulang, mendirikan patok, dan membuat batas. Tidak profesional tetapi cukup bermodalkan kepercayaan.


Tidak lama kemudian Mbak Anti, istri Mas Tarno, datang bersama putera sulungnya dan 7 orang tukang. Mereka juga membawa plastik yang biasa dipakai untuk tenda dan beberapa peralatan. Entah, aku ngga tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan dengan barang-barang tsb. tapi untuk sementara aku sibuk di ruang tamu pemilik tanah sebelumnya. Menerangkan Mas Tarno, Luhita, dan Lesnanto foto contoh rumah yang bisa dijadikan referensi pada tahap pengembangan desain selanjutnya. Sempat juga ngobrol panjang lebar bersama tuan rumah yang adalah buruh serabutan.


Siang hari menjelang sore Lesnanto mengajak makan siang yang ternyata masakannya sudah disiapkan oleh Mbak Anti. Sebuah acara makan siang yang unik : duduk bersama di atas plastik tenda yang difungsikan sebagai tikar, digelar di atas rumput pada lahan yang akan dibangunan nantinya. Seperti model tamasya jaman dulu. Tetapi bagi calon pemilik rumah acara tersebut tidak lain sebagai selamatan. Maka akupun makan bersama mereka. Bersama keluarga calon penghuni rumah, juga bersama para tukang yang malu-malu, dalam suasana mendung di bawah naungan pohon-pohon nangka. Di sini aku belajar untuk mengatasi diri : meskipun kata orang aku jorok serba saru dan seru, tetapi sebetulnya jijikan juga, apalagi kalau harus makan di atas rumput dekat tanah yang basah penuh kotoran dan dekat kamar mandi pula. Oh my God! Hanya karena melihat semua yang hadir semangat maka akupun bertahan. Mereka begitu merayakan peristiwa ini.


Selesai makan kami sedikit berbincang dengan para tukang yang dikomandani Pakde. Membuat beberapa rencana berikutnya yang harus diawali dengan pembersihan lahan. Tidak ada gambar-gambar yang terlalu detail sebagai dasar pijakan. Cukup gambar skematik terukur skalatis, dan selebihnya adalah kepercayaan. Dalam hal ini aku juga tidak ingin mengunci mereka. Asalkan pijakannya sudah betul, yakni pondasi, konstruksi, dan ruang-ruangnya maka selebihnya biarlah mereka yang berperan menentukan perkembangan fisik bangunan, dengan harapan menemukan Tuhan dalam prosesnya yang terekam dalam dialog untuk menentukan segala hal yang terbaik bagi rumah yang akan dihuni. Baik bagi Mas Tarno dan keluarga, juga baik bagi keluarga terhadap lingkungan dan gereja Servatius. Ada keyakinan yang kuat dalam diriku bahwa proses membuat rumah ini akan menjadi sarana terjalinnya relasi antara keluarga Mas Tarno dengan tuhan mereka. Alasan apa yang membuat aku begitu yakin? Karena keluarga Mas Tarno kuihat mempunyai tujuan itu, membuka diri terhadap prosesnya, dan merayakannya.


Sayup-sayup masih kuingat kata-kata Romo Sarjumunarsa dalam kotbahnya tadi pagi :"kita mungkin tidak punya banyak harta benda. Tapi kita tidak miskin karena memiliki niat. Maka, marilah kita cari utangan, cari kredit. Kredit dalam bahasa latin, seperti Credo, berarti percaya".



Tuesday, September 29, 2009

Sang Pembawa Pesan


Dulu orang-orang selalu memanggilku dengan sebutan Dik. Kependekan dari kata Adik. Karena aku sempat terlahir sebagai anak ragil atau bungsu.


Tahun 1978 aku pernah mempunyai seorang adik laki-laki yang sekarang terbaring berbungkus kain kafan bersama jasad Ibu, bertetangga dengan para sesepuh dan kerabat. Kelahirannya nyaris membuatku urung menjadi anak bungsu. Dan setelah peristiwa kematiannya tidak terbayangkan olehku akan mempunyai seorang adik lagi. Maka dalam tahun-tahun selanjutnya aku tetaplah anak bungsu.


Tak disangka, pada tahun 1992 lahirlah seorang laki-laki. Dialah adikku sekarang. Lahir dari rahim yang berbeda dengan kami, ketiga saudaranya.


Dia diberi nama Norman Mahardika. Kata Mahardika diambil karena hari lahirnya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Tetapi untuk “Norman”, kali ini Bapakku tidak lagi berfilosofi seperti ketika memberikan aku dan kedua kakakku nama. Kata “Norman” diambil secara praktis saja : waktu itu Bapak yang sangat menyukai cerita kepahlawanan sedang gandrung dengan Jenderal Norman Schwarzkopf, serigala padang gurun di pertempuran Teluk.

Banyak pertanyaan muncul di seputar kelahiran Norman. Seperti disebut di atas, dia lahir dari rahim yang berbeda sehingga mereka yang melihatnya menyangsikan nilai harmoni di antara kami, dan tentu saja ketulusan kami terhadapnya. Pertanyaan itu secara tidak langsung rasanya lebih ditujukan kepada kami kakak-kakaknya, terutama aku yang selalu nyaris bungsu.

Kehidupan terus bergulir. Bersama kedua kakakku aku terus bertumbuh. Melewati masa sebagai pelajar SMU, hidup sebagai mahasiswa arsitektur, sebagai pekerja di bidang industri arsitektur. Kami juga melewati masa-masa ketegangan pencarian jati diri. Menjadi berjarak dengan Bapak-Ibu. Kadang menentang mereka tetapi juga belajar memahami dan menerima kemanusiaan mereka dengan segala potensi dan kerapuhannya.

Sampai akhirnya bisa berpijak di atas kaki sendiri dan merefleksikan kembali perjalanan hidup, aku melihat tidak ada yang janggal dalam hubungan kami dengan Norman. Ketidakharmonisan hubungan seperti yang ditakutkan oleh beberapa orang dulu hanyalah pikiran yang serba terbelenggu kebiasaan berpikir negatif. Sebaliknya, kuingat bahwa kami banyak terlibat peristiwa yang membuat saling menemani. Menemani dia bermain dan mengenal alam, bercerita tentang ragam keilmuan. Ketika dia beranjak dewasa kami berbagi tentang kehidupan yang lebih luas. Bahkan, yang lebih mengesankanku, dalam sebuah kesempatan aku diperkenankan menjadi wali dalam sakramen Krisma baginya. Menemaninya dalam sebuah peristiwa maha penting dalam kehidupannya sebagai seorang Katolik. Masih kuingat dan kusimpan dalam hati ketika tanganku memegang pundaknya dan di saat yang sama Monseigneur Ignatius Suharyo menumpangkan tangan di kepala Norman. “Terimalah Roh Kudus”, kata Sang Uskup, diiringi alunan lembut bait Veni Creator Spiritus yang berkumandang di sebuah gereja di lingkungan Biara Missionarium a Sacra Familia.

Saat aku menulis cerita ini Norman adalah seorang pemuda berumur 18 tahun. Menanti babak berikutnya sebagai seorang mahasiswa. Kulihat dia begitu gelisah menanti peristiwa-peristiwa yang akan terjadi nanti di depan. Sebagai orang yang pernah melewati masa-masanya aku bisa merasakan ketakutan, keraguan, semangat, dan kegembiraannya.

Dia juga cerdas dan sangat sensitif. Seorang pemaaf yang sejak kecil harus belajar menerima adanya dua Ibu. Dia sangat mencintai Ibu kandungnya dan Ibuku yang selalu kompak untuk urusan tarik suara ketika dirinya masih bergabung dengan kelompok paduan suara anak-anak.

Dia juga sangat bangga dengan sekolahnya – yang semuanya berisikan murid laki-laki – terutama dengan praktek ajaran mencari tuhan dalam kehidupan yang dijalani melalui penghayatan dalam pekerjaan sebagai buruh tambang kapur di Wonogiri, sebagai penjual bensin eceran, atau pencuci gerbong kereta api.

Tetapi bagiku, di antara rasa khawatir dan semangatnya dalam menapak masa depan, tersirat rasa percaya yang besar akan dirinya. Percaya bahwa kehadirannya di dunia bukan sekedar buah dari permainan asmara Kama-Ratih yang akhirnya lahir dalam sebuah keluarga yang rapuh. Pelan-pelan disingkapkan bagiku tentang peran seorang anak yang selama 18 tahun kami temani, yang sejak kecil sudah merasakan pahit-getir kehidupan. Bagiku dia seperti seorang malaikat yang harus hadir di tengah kerapuhan sebuah keluarga. Dia hadir untuk hidup berdua dengan Bapak. Menemani beliau yang saat ini kesepian dan jatuh di hari tuanya. Dia menggantikan peran kami - kakak-kakaknya yang harus pergi jauh.

Dia juga menjadi rahim bagi kami. Menjadi tanda agar selalu setia untuk menjalani kehidupan dengan rendah hati dan tidak keduniawian. Menjadi tanda bahwa hidup tidak melulu terarah bagi diri sendiri. Bagiku kehadiran Norman menjadi sebentuk alat yang melatih hati agar tetap dalam kondisi hening, agar mampu melihat apa yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan jalannya. Barangkali, kehadirannya dalam keluarga kami yang rapuh hanya sebagai persiapan untuk memasuki tugas-tugas yang diembankan kepadanya.