Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, March 22, 2012

Nyepi

Suatu sore di tahun 2010, guruku menjelaskan perihal id-ego-superego dalam diri mahluk yang disebut Manusia. Dia berkata bahwa dalam pencapaian proses kematangan manusia, ketiga hal itu harus berjalan berurutan, satu melampaui yang lain, seperti mengupas bawang dari kulit hingga inti. Ketika manusia sampai pada 'inti bawang' maka disitulah akan berjumpa dengan sisi dirinya yang bukan lagi fisik: suatu 'kekosongan'.


"Kau tahu", katanya, "Inti bawang bukanlah benda padat tetapi lubang kosong! Demikianlah manusia. Ketika dia berhasil melampaui proses id-ego-superego, maka dia akan menemukan kekosongan. Bayangkan bahwa yang menopang diri kita adalah kekosongan!"


Tetapi kekosongan tetaplah ada meskipun tidak tersentuh oleh kelima indria manusia. Kekosongan bukan suatu kehampaan yang sia-sia. Manusia hanya tidak bisa menangkapnya dengan indria dan menjelaskannya. Maka dia disebut : kosong.


"Yang lebih mengherankan", demikian guruku, "Seluruh proses menuju kepada kekosongan terjadi secara satu arah. Seakan-akan ditarik oleh sesuatu daya kuat yang disebut kosong tadi. Aneh, kosong tetapi mampu menggerakkan. Unsur apa yang ada di dalam ruang kosong itu, yang tidak terlihat oleh indria tetapi mempunyai daya untuk menggerakkan seluruh unsur dalam diri manusia?" Seorang teman mengacungkan jari dan berkata, "Tuhan".


Mendengar jawab temanku guruku tersenyum. Dia katakan lagi,"Jangan terburu-buru mengatakan Tuhan, Nak. Kecuali kamu sudah mencari dan menemukan dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu".


***

Ya, Tuhan memang harus 'dicari'. Atau lebih tepatnya manusia harus mau memperjuangkan suatu pencarian akan Tuhan. Tidak sekedar mau menerima saja seperti anak manja. Seperti halnya kita tidak berhenti berjuang mencintai orang yang kita sayangi. Dan mencari Tuhan pertama-tama bukan sekedar terlibat dalam pelayanan, ritual, dan doa yang indah tetapi keberanian untuk masuk (justru) ke dalam diri sendiri, ke dalam kekosongan yang ternyata menjadi pondasi manusia; sejenak meninggalkan blackberry, iphone, android, internet, facebook dan segala rupa nilai-nilai duniawi, untuk berjumpa dan menerima kekosongan secara jujur, yang ternyata menyimpan kekuatan dan kubusukan kita, juga "Sang Ada yang Baik" yang siap berkolaborasi untuk mengolah kekuatan dan kebusukan itu menjadi sesuatu yang baik.


Demi alasan itu, seturut keyakinaku, saudaraku umat Hindhu melakukan tapa. Nyepi. Selemat berhening saudara. Selamat berjumpa denganTuhanmu dalam seluruh apa adanya dirimu. Seperti kuingat percakapan antara Isa putera Maryam dengan perempuan di dekat sebuah sumur. Dalam percakapan itu Isa hanya berkata," ada waktunya Allah tidak disembah di sana dan disini, tetapi di dalam hati manusia".


***


Sunday, March 18, 2012

Di Calamba


Di Calamba City aku tinggal di suatu tempat yang dikenal dengan nama Saint Albert the Great Convent. Di tempat ini tinggal para biarawan dan calon biarawan Dominikan yang lazim disapa dengan sebutan Brother. Kata Dominikan sendiri diambil dari nama Dominikus de Guzman. Dia adalah pendiri Ordo Praedicatorum yang meletakkan dasar hidup intelektual dalam Gereja.

Biara Saint Albert the Great letaknya tidak jauh dari perkampungan yang penuh dengan warung atau Sari-sari Store dalam bahasa setempat, sebuah biara lain dari Ordo Carmelite, dan kompleks sekolah Colegio de San Juan de Letran Calamba.

Tempat tinggal kami sangat sederhana; terdiri dari tiga blok bangunan di tengah kebun yang sangat luas. Blok utama di bagian muka berbentuk memanjang ke samping. Dua blok lainnya di sisi kiri dan kanan memanjang ke belakang.

Blok kiri adalah rumah yang diperuntukkan bagi para brother tahap aspiran, yaitu mereka yang masih dalam tahap penjajagan awal. Blok depan dan kanan hampir seluruhnya digunakan oleh para brother postulan, yaitu mereka yang sedang mempersiapkan diri masuk 'kawah candradimuka', atau lazim disebut novisiat. Bersama para brother tersebut tinggal pula para pastor formator atau pembina yang saat itu dijabat oleh Father Cecilio Vladimir Magboo dan Romualdo Cabanatan, Jr.

Di blok ini terdapat kamar tidur, kamar mandi umum, gudang, ruang musik, ruang billiard, sebuah hall yang berhadapan langsung dengan kapel, ruang rekreasi, refectory atau ruang makan, perpustakaan, ruang studi, kamar tidur tamu, dan ruang kerja Formator.

Di belakang blok yang dihuni para aspiran dan postulan terdapat rumah cuci, carport, lapangan olah raga. Dan masih jauh di belakang lagi terdapat rumah yang dihuni beberapa biarawan senior yang berkarya untuk Colegio de San Juan de Letran. Mereka adalah Father Rolando Castro, Honoratus Castigador, Benjamin San Juan, Felix Legaspi III, Quirao, dan seorang biarawan non imam, yaitu Bruder Nelson Taclobos.

Kamar tidurku sangat sederhana tetapi cukup besar karena aku tidak tinggal sendiri di dalamnya. Di biara ini setiap kamar ditempati dua atau tiga orang. Masing-masing mendapatkan tempat tidur, kasur, bantal, lemari pakaian, meja tulis, buku refleksi harian, dan brevir.

Joseph Aaron Sadia atau biasa disapa Aaron, adalah rekan sekamarku. Dia adalah anggota termuda kedua dalam komunitas kami. Beberapa anggota lainnya adalah Giomen, Mervin, Rocky, Geronimo, Bjorn, Ralph, Alex, Jherico, Paulo, Robert, Bautista, dan Nico. Sebagian besar dari mereka masih sangat muda, sebagian lagi pernah bekerja. Misalnya Jherico yang pernah bekerja pada perusahaan konstruksi bangunan milik keluarganya, Alex dan Robert yang adalah guru, dan Ralph yang perawat.

***
Acara harian di biara ini tidak padat, khususnya bagi brother postulan. Memang, di tempat ini kami lebih banyak dibawa dalam kondisi hening sebagai langkah persiapan ke tahap selanjutnya.

Setiap pukul 4.45 subuh seorang yang mendapat giliran bertugas sebagai "bell boy" akan berjalan mengitari kamar para brother sembari membunyikan lonceng kecil sebagai tanda waktu bangun pagi. Diulang pada pukul 5.15. Hal yang sama juga dilakukan setiap menjelang acara bersama.

Setelah lonceng berdering kami bangun dan mandi, mengenakan seragam, mengambil brevir, dan berjalan ke kapel besar di kompleks Colegio de San Juan de Letran untuk melakukan ibadat Invitatorium atau pembuka, yang dilanjutkan dengan ibadat Laudes atau ibadat pagi dan misa sebagai pembuka hari.

Selesai ibadat para brother menuju refectory untuk santap pagi. Sebelum bersantap kami berdiri di belakang kursi masing-masing sembari mendengarkan bacaan singkat yang dibacakan oleh salah seorang dari kami. Selesai bacaan singkat itu Father Formator akan mengatakan "bless us, o Lord" dan disambut oleh para brother, "and these your gifts which we are about to receive from your bounty, through Christ our Lord"'. Diucapkan serentak, dan semuanya suara laki-laki.

***
Hari-hari berjalan. Di antara "saat teduh" dan acara rutin kami melakukan beberapa kegiatan spesial seperti mengajar murid-murid sekolah dasar Bucal Calamba, menghadiri modular class, dan belajar bahasa latin.

Beberapa kali kami juga harus menjalani serangkaian psikotes yang biasa dilakukan di University of Saint Tomas Aquinas atau UST di Manila, yaitu sebuah lembaga pendidikan yang sudah berumur 400 tahun yang dimiliki oleh Ordo Dominikan. Maka untuk sementara waktu kami harus meninggalkan tempat tinggal kami di Calamba untuk menginap sementara di Central Seminary yang terletak berdekatan dengan kompleks UST, di sebuah bangunan tua berlanggam klasik Spanyol dimana tinggal para calon pastor sekulir yang sedang menjalani pendidikan di bawah bimbingan para biarawan Dominikan.

Atau diminta juga untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh ordo. Pada saat inilah kami berjumpa dengan saudara-saudari se-ordo atau berkenalan dengan anggota ordo lain: Jesuit, Franciscan, Carmelite, Soverdian, Augustinian, Benedictine, dan masih banyak lagi.

Seluruh kegiatan itu menjadi bagian dalam hidupku. Bergulir dalam ikatan komunitas, dalam suasana yang penuh dengan keramahan, pengertian, kasih, persaudaraan, kritik, dan dukungan menuju ke satu titik kehidupan di depan yang tidak kami ketahui wujudnya. Ya, betapapun indah dan teratur sebuah ritme hidup, namun semuanya serba tidak pasti. Hanya harapan yang bisa kami pegang.

Tetapi harapan bukanlah suatu wujud pasti juga, yang dengan sendirinya sudah ada di masa depan yang kami kejar. Harapan ada pada saat ini, dibentuk oleh manusia yang sungguh percaya bahwa hidup adalah suatu nilai yang harus diperjuangkan, menghidupi realitas yang tidak pasti yang selalu membutuhkan klarifikasi. Seperti Father Romualdo katakan kepadaku pada suatu malam, "kita akan selalu melakukan klarifikasi, Brother. Bahkan saya sekalipun".
Suatu klarifikasi selalu dibutuhkan agar manusia sadar akan apa adanya dirinya: sosok simple seperti apa yang Tuhan rencanakan dan bukan menampilkan ribuan topeng. Simple bukanlah 'biasa saja' atau 'kurang'. Simple adalah esensi, yang memberi kejelasan akan posisi manusia di dunia.

Siapa yang mengklarifikasi dan diklarifikasi? Descartes, Sartre, Derrida tentu akan menjawab: saya! Maka klarifikasi hanya akan terjadi jika manusia mau sejenak meninggalkan kesibukan dan mengambil waktu masuk dalam keheningan batin untuk bertanya kepada diri sendiri.

Maka itulah yang terjadi; di Calamba yang hening, pada suatu malam selepas ibadat Completorium, dengan rosario di tangan aku beranikan diri membuka pintu hati untuk bertemu sosok yang sangat kukenal selama tahun-tahun kehidupanku: dia adalah aku. Perjumpaan ini tidak hanya sekali kulakukan tetapi berulangkali. Setiap malam sembari menjelajahi sudut-sudut gelap ditemani pepohonan tua dan angin yang aku rasa sudah hadir sejak waktu tak terhitung.

***
Pada awalnya sosok itu terlihat diam. Tetapi pada hari berikutnya dia menampilkan diri sedang bekerja memperbaiki sebuah rumah lama yang bocor dimana-mana. Meski demikian banyak orang berteduh di dalamnya.

Di hari selanjutnya kulihat semakin jelas bahwa sosok itu tidak bekerja sendiri. Ada seorang laki-laki yang menemaninya. Laki-laki itu terlihat mahir dalam ilmu pertukangan dan terlihat bersemangat dalam pekerjaan yang mereka kerjakan bersama.

Laki-laki itu tampak penuh kharisma dan agung. Bahkan melalui percakapan antara mereka akhirnya aku tahu bahwa laki-laki yang menemani sosok yang kusebut dengan "aku" itu adalah orang yang selalu menemani "aku" sejak masa kelahirannya, membantu dalam masa-masa sulit, memberi semangat dalam masa-masa hilang harapan.

Sampai suatu malam kulihat sosok yang kusebut "aku" itu melepaskan alat kerja yang dipegang dan beranjak pergi menuju ke suatu lembah yang senyap. Lembah yang penuh doa-doa. Laki-laki yang menemaninya kulihat juga berhenti bekerja, sejenak termenung hingga akhirnya berkata,"jangan pergi. Kita hampir selesai". Kata-katanya diucapkan berulangkali, berebut dengan waktu yang terus berjalan. "Jangan pergi. Lihat dinding sudah terpasang rapi. Atapnya juga ... sebentar lagi terpasang. Lihat! Sudah banyak orang berteduh di tempat ini ... "

Dingin dan hening sempurna. Silentium Magnum .... Semua hal masih tampak tidak pasti. Yang pasti hanya aku yang sedang menggulirkan butir-butir tasbih, ditemani Apols, anjing penjaga biara.

Menjelang subuh aku kembali ke kamar. Di koridor yang hening dan tampak angker, pelan-pelan muncul dalam ingatanku kata-kata salah seorang Brother,"Kamu arsitek, Brother. Matilah sebagai arsitek. Seperti Ayrton Senna, sang pembalap legendaris mati di sirkuit. Seperti Isa putera Maryam, tukang kayu yang mengakhiri hidupnya pada sebatang kayu.

***

Monday, February 13, 2012

Tebarkan Jalamu di Sisi Kanan

Suatu pagi aku berdiskusi dengan seorang arsitek tua yang menjabat sebagai Director of Design pada sebuah biro arsitektur ternama. Kami terlibat dalam sebuah proyek membuat sebuah bangunan klasik. Suatu pekerjaan yang tidak mudah karena langgam klasik menuntut aturan yang sangat ketat.


Diskusi pagi itu diawali dengan pikiranku yang merasa buntu karena beragam hal yang membuatku sulit mencapai unsur klasik. Melihat kecemasanku, arsitek tua itu tersenyum dan menunjukkan berbagai straregi desain yang tidak kusangka. Bahkan pada awalnya aku merasa pesimis dengan strategi desain yang dibuatnya, yang menurutku justru akan merusak kaidah klasik.


Tapi tidak. Dia meyakinkanku bahwa strategi yang dia tawarkan justru memperkuat nilai bangunan klasik. Pikiranku jadi terbuka dan tercerahkan. Dan diskusi pagi itu berakhir dengan pesan singkatnya, "banyak cara dalam classic style, tapi yang terpenting kita harus memahami 'bahasanya'". Sebuah kalimat yang membangunkan aku yang terlalu fokus pada kebiasaan.


Diskusi itu membuatku jadi teringat akan cerita yang pernah dituturkan Kakek kepadaku, waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.


Pada suatu malam Kakek mengunjungi kami. Dia bercerita tentang seorang Guru Sufi yang hidup di tanah Palestina, kira-kira 70 tahun sebelum perang besar Jerusalem.


Guru itu adalah sosok yang penuh kharisma. Ajarannya selalu ditunggu oleh banyak orang, lewat kata-katanya yang menggugah dan mencerahkan. Seperti suatu ketika, demikian kata Kakekku, Guru itu mendatangi sekelompok nelayan yang frustasi karena hanya mendapat sedikit ikan setelah semalaman mencari. Kepada para nelayan itu Guru Sufi 'hanya' berkata "bertolaklah lagi ke danau dan tebarkan jalamu di sebelah kanan". Suatu permintaan yang menurut banyak orang tidak lumrah dan di luar kebiasaan para nelayan.


Setelah melalui perdebatan mengalahlah para nelayan itu. Dalam kelelahan mereka bertolak lagi ke danau dan menebarkan jala di lambung kanan. Maka aduhai, demikian Kakekku katakan, tertangkaplah ikan dalam jumlah banyak. Setelah kejadian itu banyak orang percaya bahwa suatu mujizat telah terjadi. Tapi, lanjut Kakekku, sesungguhnya Guru Sufi itu hanya membuka pikiran para nelayan agar mampu melihat bahwa perahu mereka memiliki 4 lambung. Sebelumnya, para nelayan itu merasa nyaman dan terbiasa pada lambung kiri yang aman dan mudah sehingga tidak melihat potensi lain yang ada pada diri dan perahu mereka. Tetapi jika peristiwa itu dikatakan sebagai mujizat, maka bisa jadi mujizat bukanlah hal- hal gaib melulu tetapi suatu keberanian untuk melihat sisi yang lain, masuk dalam wilayah yang selama ini menjadi kekhawatiran kita.


Kembali pada pesan seniorku itu, bahwa untuk memahami sesuatu kita harus memahami 'bahasa' nya. Menurutku manusia tidak pernah tuntas dalam memahami suatu bahasa karena bahasa selalu menyiratkan hal-hal yang tidak terucapkan dan tidak pernah selesai. Tetapi mungkin yang dimaksud dirinya adalah cinta. Ketika seseorang memiliki cinta dia memiliki keberanian untuk masuk ke dalam situasi yang tidak pasti, 'menebarkan jala di sisi kanan', dan memperjuangkan suatu nilai.

Saturday, January 28, 2012

Rayakan Rumahmu

Lima tahun lalu seorang teman di Yogyakarta minta dibuatkan rumah yang menurut rencana akan ditempati oleh ayahnya. Sebelumnya, ayah temanku itu menumpang di rumah seorang kerabat mereka. Semuanya berjalan lancar sampai suatu saat sang pemilik rumah mengeluh. Dia berencana menjual rumahnya tetapi niatnya selalu tertunda karena tidak tega 'mengusir' ayah temanku ini.

Setelah rumah temanku selesai dibangun sang ayah tidak kunjung menempati. Hanya sesekali menengok untuk membersihkan. Temanku ini jadi kesal hati. Sudah dibuatkan rumah tapi masih memilih merepotkan orang lain. Tempo hari di Yogya dia menengok rumah tersebut. Sesampainya di sana dia disambut tetangga yang bertanya, "Bapak menika kok lucu to mas? Wonten griyo tenang ngeten niku kok mboten dinggeni? Nggih kala wingi nika kulo ketingal wonten langit-langit retak-retak, padahal griyo nika gadhah jiwo lho mas, menawi griyo nika suwung nggih mung marai risak sedaya". [Bapak itu kok lucu to mas? Punya rumah tenang tapi tidak ditempati. Kemarin saya perhatikan ada langit-langit yang retak, padahal rumah punya jiwa. Kalau rumah dibiarkan kosong maka akan rusak].

Aku tertegun mendengar cerita itu. Pikiranku mencatat hubungan antara rumah, jiwa, kekosongan, dan kerusakan. Antara benda mati dan unsur metafisik. Menjadi suatu pertanyaan: bagaimana sebuah rumah bisa memiliki jiwa?

Masyarakat tradisional yang sangat dekat dengan alam tidak pusing dengan pertanyaan itu, yaitu bagaimana sebuah benda mati bisa memiliki jiwa. Contohnya adalah penduduk yang tinggal sekitar lereng gunung Merapi. Mereka menganggap gunung tersebut layaknya manusia. Mereka berdialog dengan sang Merapi, menghaturkan sesaji sebagai wujud terimakasih atas rejeki yang diberikan oleh sang gunung.

Aku pun pernah memiliki pengalaman yang berhubungan dengan jiwa rumah. Waktu itu, menjelang kematian Ibu, aku datang ke rumah yang sehari-hari Ibu tempati di wilayah Prawirodirjan. Sekedar untuk membersihkan setelah hampir sebulan tidak di tempati pemiliknya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Waktu itu hujan turun sangat deras. Aku melihat tetesan air di dalam rumah dalam jumlah banyak. Bocor. Dimana pun hingga menimbulkan genangan yang parah termasuk di kasur Ibu. Aneh. Tidak pernah ada kejadian separah ini di rumah ini sebelumnya. Tiba-tiba hatiku berdesir, seperti ada bisikan yang mengatakan bahwa rumah ini menangis. Kosong, karena Ibu tidak akan pernah lagi pulang. Dan benar, esok harinya, Ibu yang menurut rencana diperbolehkan pulang mendadak pendarahan disusul koma. Tiga hari setelahnya beliau wafat tanpa pernah kembali ke rumah. Jika teman-temanku yang berprofesi sebagai dokter mencatat kejadian di luar nalar yang mereka jumpai dalam praktek profesi sehari-hari mereka yang sangat berdimensi sains, demikian juga aku mencatat peristiwa itu dalam hati sebagai seorang insinyur bangunan.

Rumah memiliki jiwa. Ungkapan ini sebetulnya adalah simbol yang menunjuk pada seseorang yang tak lain adalah si pemilik yang 'meletakkan' jiwanya pada rumah yang ditempatinya. Rumah menjadi semacam titisan manusia. Menjadi tubuh kedua di dunia sebagai penjamin rasa aman dan hangat. Rumah menjadi wadah bagi manusia dalam meletakkan seluruh rahasia terdalam dirinya yang tidak ingin diketahui orang lain, tempat merenung dan merencanakan masa depan, berdialog dengan orang terdekat dan tuhannya. Maka pantaslah jika orang mengeluarkan energi besar untuk sebuah rumah, mengupayakan segala cara untuk merayakannya, bahkan jika perlu dengan berhutang. Sebuah peristiwa sakral dalam hidup. Maka, membiarkan rumah dalam situasi 'kosong' sama dengan membiarkan jiwa kita berkelana tanpa tujuan, dalam malam-malam kelam melelahkan.

Pulanglah ke rumah. Sempatkan waktu mengisi ruang- ruang di dalamnya; merefleksikan kehidupan, berdialog dengan anggota keluarga, dan beristirahat. Jangan biarkan kekosongan menguasai hingga akhirnya menimbulkan kerusakan. Kerusakan yang bukan sekedar fisik rumah tetapi juga jiwa.

Saturday, January 21, 2012

Perginya seorang Abdi

Sering kudengar orang-orang mengeluh tentang pembantu di jaman ini. Keluhan yang paling umum adalah tidak adanya sikap pengabdian.

Pagi ini aku beroleh berita tentang kepergian seorang pembantu keluarga besar kami. Namanya unik untuk telinga orang Jawa: Maria Uwuh. Maria adalah nama baptis sejak dia menjadi Katolik, dan Uwuh berarti sampah. Tapi kami cukup menyapa Mbok Adi atau disingkat saja: Simbok.

Mbok Adi berasal dari Plered Bantul. Jauh di sebelah Selatan Yogyakarta. Bisa jadi dia adalah salah satu keturunan keluarga Tepasana di jaman pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, kala kerajaan Islam Mataram belum pecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Atau bisa jadi juga moyangnya adalah orang-orang yang ikut membangun dan menjaga waduk Segarayasa. Itu, waduk yang sangar terkenal. Indah mengelilingi kraton Mataram. Jiwa Mataram ini yang tertanam sangat kuat dalam diri Mbok Adi, yakni sikap seorang Abdi.

Kata abdi sering dikaitkan dengan pembantu. Tapi kata abdi sebetulnya lebih kepada melayani dalam arti yang dalam, yaitu setiawan dan yang dipercaya. Jauh dari sekedar kata pembantu dalam pandangan umum yang berkonotasi objek belaka.

Para Abdi Dalem kraton sangat bangga dengan perannya sebagai abdi. Dia adalah objek sekaligus subjek. Dua hal yang sebetulnya satu, seperti dua sisi pada satu mata uang.

Menjadi objek adalah suatu cara menjadikan diri rendah. Menjadi subjek adalah suatu kemenangan. Dalam hal ini apa kemenangannya? Ialah kesadaran untuk menjadi rendah. Kesadaran adalah salah satu tanda kemenangan manusia sebagai mahluk yang luhur. Dan kesadaran menjadi objek sekali-kali bukan suatu kebodohan melainkan sikap rendah hati.

Secara khusus aku mencatat sikap Mbok Adi sebagai cara beriman yang khas, yaitu orang yang melayani dengan gembira. Dengan demikian dia menjalankan tugas dengan sungguh hati dan sadar. Cara beriman seperti ini buatku tampak hidup karena menghadirkan Tuhan sesuai kemampuan manusia, pada hal-hal yang riil melalui orang-orang dan tugas -tugas yang kita abdi sehari- hari.

Selamat jalan, Mbok Adi. Kelak jika dunia semakin muram dan penuh perhitungan, aku bisa bercerita kepada generasi penerusku jika mereka bertanya," pernahkah ada pengabdian yang tulus dari seorang abdi di dunia ini?". Maka aku bisa menjawab karena aku sudah melihat, bercakap, dan bersentuhan dengannya. Dan seandainya Tuhan sendiri yang hadir dalam wujud abdi itu, maka beruntungnya aku bisa melihat, bercakap, dan bersentuhan denganNya.

Sunday, September 25, 2011

Sang Arsitek

Sore hari itu di studio, ketika selesai mengajar dan sejenak membereskan beberapa buku, seorang mahasiswi mendekati Domi. Dia bertanya, “Pak, apa arti menjadi seorang arsitek?”. Mendengar itu Domi tersenyum dan menyelesaikan pekerjaannya memasukkan buku ke dalam tas. Kemudian dia duduk di meja di hadapan si mahasiswi. Matanya menyipit, memandang ke satu titik. Dia menghela nafas sebentar.

“Kalau saya harus menafsir peran arsitek maka akan banyak sekali ditemukan ragam tafsiran. Tetapi kamu tentu tahu apa pekerjaan seorang arsitek, bukan?”, jawab Domi.

“Ya. Biro konsultan dimana saya melakukan magang bulan lalu memberi saya gambaran yang jelas bagaimana para arsitek menjalankan roda industri bangunan.”

“Dan kamu sempat hadir juga dalam pertemuan kelompok arsitek muda?”, tanya Domi lebih lanjut.

“Ya. Saya senang bisa berkenalan, berbincang, dan melihat karya-karya mereka”.

“Mereka memang orang-orang hebat. Maka, melalui perjumpaan dengan mereka akhirnya kamu tentu tahu apa pekerjaan seorang arsitek? Juga beragam bidang yang digeluti”.

“Tentu … tentu … tetapi, banyak di antara mereka yang saya temui akhirnya tidak menjadi arsitek. Apakah mereka bisa dikatakan gagal? Lantas, untuk apa mereka melakukan studi?”.

“Lantas menurut kamu apakah dia masih bisa disebut arsitek?”.

“Hmm … sejujurnya, dulu saya selalu mengejek para arsitek yang tidak berprofesi sebagai arsitek. Tetapi, dalam beberapa diskusi, mereka juga mampu bercerita tentang kehidupan dengan begitu dalam, sedalam karya-karya arsitektur Le Corbusier atau Louis Khan, dan menginspirasi banyak orang”.

Domi tersenyum dan bercerita:

“Dulu, dalam sidang tugas akhir, seorang professor bertanya kepada saya demikian: Menurutmu, Domi, apa arti arsitek? Sungguh, itu sebuah pertanyaan penutup yang kecil namun sulit. Saya ingin menjawab membangun gedung, menciptakan lingkungan, merencanakan ruang …. tetapi hati saya yang terdalam seperti tertawa mengejek. Saya ingat mulut saya hanya mengeluarkan suara lirih penuh ketidakpastian. Dan sang professor … dia hanya tersenyum sembari mengatakan selamat Domi … selamat memulai pencarian. Akhirnya saya berjalan keluar ruang sidang tidak segagah ketika saya masuk karena merasa nilai A yang saya peroleh belum berarti apa-apa”.

Domi masih melanjutkan, “Setelah lulus saya bekerja pada sebuah konsultan yang sangat terkenal yang memiliki 200 orang karyawan. Saya mengenal secara pribadi pemilikinya, seorang arsitek yang sangat dihormati. Tetapi yang menarik, sejauh saya mengenalnya, dia lebih banyak bercerita tentang kehidupan. Tentang nilai-nilai dan semangat suatu bangsa dan budaya. Dia juga mempunyai seorang asisten yang sangat pintar dalam hal merancang bangunan. Kepadaku orang kepercayaan itu bercerita bahwa saat itu dirinya tidak lagi memiliki banyak kesempatan merancang. Alasannya adalah karena dia diberi tugas untuk memangku jabatan direktur yang membuatnya harus memikirkan banyak hal. Lantas aku bertanya apakah tugas itu tidak membuatnya kecewa karena dengan demikian dia harus meninggalkan dunia desain? Dia menjawab: memang ada rasa kecewa. Tetapi semua rasa itu terhapus ketika setiap pagi dia bangun, dia teringat bahwa ada 199 orang bergantung di kakinya: para karyawan yang harus menghidupi diri dan keluarga mereka”.

Masih lanjut Domi, “Kalau itu yang kamu maksudkan, anakku, maka pertanyaanmu bukan semata tentang siapakah arsitek melainkan lebih dari itu: siapakah aku, manusia?”.

Domi mengeluarkan 2 sachet kopi kapal api dan menyeduhnya. Sembari menghirup aromanya dia berkata, “Kalau saya boleh bertanya: siapakah kamu?”.

“Saya? Hmm … saya Fitriana. Saya mahasiswi arsitektur. Rambutku keriting, keturunan Banten, single …”.

“Ah, ya. Keberadaan kamu diakui karena kamu mahasiswi arsitektur, calon arsitek ternama. Tetapi, seandainya kamu bukan lagi mahasiswi arsitektur, apakah kamu bukan lagi Fitriana. Jika kamu tidak lagi keriting dan single apakah kamu menjadi orang lain. Aku tetaplah aku. Bukan begitu?”.

Fitriana, sang mahasiswi itu tersenyum. Masih didengarnya Domi menguraikan panjang lebar bahwa arsitek, seperti halnya ‘rambut keriting’ dan ‘mahasiswi arsitektur’, dia tidak lebih dari sebuah nama yang diberikan oleh mahluk yang bernama manusia. Sebuah atribut yang ditempelkan pada diri manusia. Maka, manusialah yang menentukan keberadaan arsitek dan bukan sebaliknya.

“Tetapi, kata arsitek juga punya kesejatian”, sanggah Fitri, “jika tidak dia tidak lebih dari sekedar tempelan tanpa nilai. Bukankah dibalik kata itu tercermin suatu tanggungjawab yang mulia?”.

“Kata arsitek memang mengemban tanggungjawab yang mulia”, sanggah balik Domi, “sebagai pembangun lingkungan buatan. Tetapi sebuah lingkungan buatan sejatinya hanya sarana dalam kehidupan manusia. Dia adalah objek dan manusialah subjeknya. Maka, manusia harus menjadi tujuan utama. Dan siapakah manusia? Ah, dia bukan mahluk sekedar fisik, tetapi lebih dari itu adalah juga jiwa yang memiliki unsur adi-kodrati. Jadi, kalau arsitek ingin memiliki nilai maka dia pun harus melampaui maknanya lebih dari sekedar pembangun fisik”.

Kopi belum lagi dingin, tetapi hari menjelang malam dan mereka segera ingin kembali ke rumah masing-masing. Sembari keluar studio mereka membantu satpam mematikan lampu dan membersihkan sisa-sisa potongan maket. Fitriana mengucapkan terimakasih dan basa-basi bertanya apakah sang penjaga keamanan itu sempat mudik pada libur lebaran lalu? Dijawab: tidak. Alasannya demi keamanan dan uang lembur lebih yang cukup untuk menutupi beberapa kebutuhan keluarga. Fitriana menanggapi dengan senyum, tetapi dalam hatinya ada kesejukan karena mulai mampu melihat beberapa hal dalam realitas secara arif.

Wednesday, September 7, 2011

Lentera di Pagi Hari

Belum lama Domi tiba di Jogja. Dia datang bersama keluarganya. Selepas meletakkan barang di rumah dan sejenak mengaso, dicarinya penjual gudeg di wilayah dimana dia pernah merayakan masa kecilnya dulu. Diketahuinya bahwa Bu Muh masih berjualan gudeg di tempat itu. Dari penjual gudeg itu dia ingin membeli sarapan untuk Langit, anaknya.

Tempat itu adalah tempat dimana terdapat jalan lurus membentang dengan jajaran pepohonan di sisi kiri-kanannya. Suasana di tempat itu masih terasa nyaman karena tinggi bangunan yang ada di sana tidak lebih dari dua lantai. Jika pagi menjelang wilayah ini menjadi ramai dengan orang-orang yang membeli sarapan. Mereka datang kepada salah satu penjual makanan yang mangkal di tempat ini. Mereka, para pembeli itu, seringkali tampak sebagai orang yang sejenak merayakan kebebasannya sebelum masuk dalam lingkaran rutinitas kerja atau sekolah. Ada yang masih mengenakan kaos tidur lusuh, pakaian kerja lengkap atau seragam sekolah tetapi bersandal jepit.

Mereka berdiri berkerumun di sekeliling penjual makanan yang duduk pada meja bambu rendah dengan beberapa panci di hadapan, celemek di pangkuan dan daun pisang lengkap dengan pisau di sisi kiri atau kanan. Mata para pembeli itu lahap menikmati tangan pedagang yang lihai mengambil daun pisang dan mengelapnya, mengorek gudeg, mengambil lauk yang kadang dipotong atau disuwir menjadi beberapa bagian kecil sesuai pesanan. Seringkali, bahkan bisa dipastikan, seluruh kegiatan itu disanding dengan obrolan; penjual dengan pembeli atau pembeli dengan pembeli. Sebuah keriuhan kecil yang kadang membantu para pembeli dalam merayakan kebebasannya sejenak.

***

Adalah Bu Muh, salah satu dari penjual makanan yang ada di tempat itu. Hampir duapuluh tahun dia berjualan. Dan sejauh diketahui Domi, porsi yang dijual Bu Muh tidaklah besar. Memang ada patokan porsi dan harga tetapi para penjual tradisional seperti Bu Muh selalu terbuka pada apa yang dibutuhkan pembeli. Bahkan pembeli yang hanya membutuhkan sebutir telur dengan kuah areh pun akan dilayani dengan senang hati layaknya seorang raja. Domi pernah merasakan itu.

Tetapi Domi yang sekarang hidup dengan gaji cukup di kota besar sudah terlalu lama membiasakan dirinya membeli tanpa berhitung. Dia berpikir bahwa dengan membeli lebih dia bisa memberi kepada orang banyak. Orang-orang di rumah menjadi tidak kekurangan makanan. Begitu pula para penjual pun akan memperoleh banyak keuntungan. Memanglah demikian yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang memiliki uang berlebih; menyalurkan rejekinya kepada orang lain.

Tetapi juga, pagi itu Domi mendapat pengalaman yang mengesan.

Bu Muh tentu saja senang mendapat pesanan porsi besar dari Domi. Dan perempuan yang gemar bercanda dengan pembelinya itu secara kebetulan bertanya untuk siapa porsi makanan sebanyak ini? Apakah keluarga besar sedang berkumpul? Maka Domi yang sudah mengenal Bu Muh sejak kecil menjawab, “Tidak. Yang di rumah hanya bapak, istri dan anakku si Langit. Aku beli bubur buat si Langit saja. Aku dan istriku tidak pernah sarapan. Sedangkan Bapak, ibu tahu sendiri, beliau kalau pagi lebih suka ngopi”.

Bu Muh tertawa. Sembari berbincang tangannya masih menyiapkan pesanan Domi. “Ah, ya ... bapak memang doyan ngopi sejak dulu ya. Lha kalau Langit sekarang umur berapa?”

Dijawab Domi, “tiga tahun”.

Tiba-tiba hening. Tangan Bu Muh berhenti bekerja. Suara kernet di seberang yang sebelumnya terabaikan tiba-tiba jelas terdengar.

Tidak lama Bu Muh berkata lagi, “Kau dan istrimu benar tidak ingin sarapan? Jikalau benar demikian sebaiknya buburnya setengah saja. Juga telurnya. Bolehlah ditambah tahu atau suwir ayam secukupnya. Bagaimana? Sayang kalau tidak habis”.

Semula Domi terkejut juga. Dia terbiasa membayar tanpa penolakan. Tetapi ketulusan Bu Muh menyentuh hatinya dan membiarkan dirinya menerima tawarannya. Ketulusan yang bukan baru kali ini dikenalnya. Ada faktor sejarah dan kesejarahan yang melibatkan Bu Muh dengan Domi. Domi tahu perempuan ini betul-betul tulus. Perempuan yang hidupnya sederhana ini betul-betul ikhlas dalam melayani. Tidak hanya kepada Domi dan keluarga tetapi juga kepada para pembeli yang setiap hari dilayaninya. Bahkan Bu Amin, seorang perempuan miskin yang tinggal tidak jauh dari tempat ini pun dilayaninya dengan senyum. Padahal yang dibelinya hanya nasi dibalur areh dan tahu sepotong.

***

Pagi itu langit cerah di atas Jogja. Tetapi Domi merasa dirinya melihat terang di antara cerah pagi. Terang yang muncul dari lentera batin yang sangat sederhana. Memang tidak salah jika dirinya sering membeli sesuatu secara berlebih yang barangkali bisa berguna untuk orang lain. Tetapi lentera Bu Muh memperkaya batinnya pada sisi lain : ada kalanya sesuatu yang secukupnya diperlukan untuk membantu manusia melihat sesuatu secara jujur, jernih, dan pas pada tempatnya.

Tuesday, June 7, 2011

Mengenang Ibu

Lebih kurang 35 tahun aku hidup bersama Ibu. Dari sekian waktu yang terlewati bersama, hubungan kami yang paling intim ialah saat aku masih berada dalam kandungannya. Sejarah itu tentu tidak dapat aku ingat, tetapi aku bersyukur karena berkat catatan yang ditulis oleh Bapak aku bisa memperoleh sedikit gambaran tentang hubungan kami. Dalam catatannya Bapak menulis kira-kira demikian : sewaktu mengandung aku, wajah Ibu berseri dan sumeleh. Kasih sayangnya tertumpah pada Bapak.


Ibu adalah manusia berwatak keras. Perempuan bedhil dia. Seingatku, aku sulit memahami beberapa keputusannya. Terutama saat dia memilih mengisi hidup dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberi keuntungan besar. Hidup di kampung dan menjadi guru honorer bergaji rendah misalnya, atau membuat lagu-lagu rohani.


Pernah suatu malam, kira-kira 1 tahun sebelum wafatnya, Ibu dengan gembira menunjukkan kepadaku selembar sertifikat yang menyatakan bahwa dirinya menjuarai lomba cipta lagu rohani. Kutanya apa hadiahnya. Dengan gembira Ibu menjawab sejumlah rupiah yang tidak besar. Kutanya lagi mau apa dengan uang itu. Dijawabnya lagi, hendak disimpan. Barangkali bisa menutupi beberapa kebutuhan nanti, katanya.


Aku pandangi sertifikat dan master bertuliskan not angka dan syair yang dibuatnya dengan mesin ketik kuno. Tetapi pikiranku menggantung pada jawaban terakhirnya tadi. Jawaban yang membuatku malam itu tidak bisa tidur dan memilih duduk di lincak bambu di halaman, sembari memandangi Pakde Mardi, tetangga kami, yang setiap malam mondar-mandir di luar. Juga beberapa orang yang hilir mudik di gang depan rumah kami. Semua situasi malam itu dibalut menjadi satu bersama keheningan, udara dingin, dan harum melati. Pintu-pintu rumah tetangga sudah tertutup. Hanya lampu di dalam yang tampak dari luar. Kadang juga suara anak-anak di dalam rumah. Dalam hening aku berpikir, “unsur apakah yang ada di tempat ini? Di kota ini? Orang-orang dan lingkungannya, sehingga membentuk Ibu menjadi sosok yang memilih berkaul stabilitas seperti seorang rahib?”.


Ibu juga sosok yang setia. Setia dengan hidup apa adanya. Setia artinya bukan suatu sikap heroik melainkan mau menerima sebuah proses; dihancurkan sekaligus dibentuk menjadi baru. Bukan tanpa keluh kesah, tangisan, dan kemarahan tentunya. Dari semua proses yang dijalaninya, ada sikap kreatif dalam menghadapinya, yang diungkapkan dalam pekerjaan dan ruang tinggalnya. Maka tak heran, banyak simbol dan makna di rumahnya. Simbol dengan makna di dalamnya itulah yang selalu menjadi kerinduanku.


Stabilitas, setia, berproses, memaknai setiap kesulitan. Itu seperti menaiki sampan di lautan mengejar cakrawala. Tetapi, seperti yang pernah disampaikan oleh seorang Guruku, cakrawala atau horizon itu ada dan tiada. Dia harus ada agar manusia memiliki batas sehingga tidak hilang muspra di dalam kehidupan yang serba luas dan penuh misteri. Tetapi kemana pun manusia bergerak, cakrawala ikut bergerak dan tidak tersentuh.


Kupikir benar. Hidup Ibu, meskipun stabil menetap di suatu lingkungan yang membentuk karakternya, tetapi selalu bergerak, berubah, dan penuh ketidakpastian. Segala ketidakpastian itu seperti halnya teks not-not angka yang dibuatnya pada selembar kertas; ditulis, dinyanyikan, diuji dengan organ kecil, untuk kemudian dicoret, diperbaiki, dan dimaknai baru. Terus dan terus. Pada gilirannya lagu tersebut harus selesai, tampaknya hal itu tidak lebih dari sekedar target saja.


Ibu setia pada teks-teks itu. Dia tidak mencampuradukkan mazmur dan sinetron. Dan kesetiaanya pada teks-teks yang tidak pernah pasti sangat membantuku dalam memaknai hidup yang selalu bergerak, tidak pasti, dan yang memohon untuk selalu didefinisikan secara baru.


Kuingat waktu aku masih berumur 7 tahun, Ibu membawaku ke toko ‘Semangat’ yang menjual beragam barang. Di toko itu jiwa kecilku tertarik pada sebuah botol minum kecil berisi air jeruk. Aku menyukai botol itu karena bentuknya yang bulat, dan juga isinya yang bagiku sangat mewah. Keesokan hari, ketika air jeruk habis, jiwa kecilku sedih karena masih menganggap botol dan isinya yang kami beli semalam adalah satu makna yang sama. Air jeruk habis, pikirku, hilang pula makna botol itu. Padahal, betapa aku ingin membanggakannya di depan teman-teman.


Tetapi Ibu memasukkan air jeruk yang lain ke dalam botol minuman itu sembari mengatakan, “Tak apa. Yang penting bisa dipakai dan kamu bisa bawa ke sekolah untuk bekal dan ditunjukkan kepada teman-teman.” Aku menurut. Dan betul, dari hari ke hari botol itu selalu berguna sekaligus berubah makna: dari botol air jeruk menjadi botol air teh, bahkan tempat menyimpan koin uang.


Akhir-akhir ini, ketika hidupku semakin memohon untuk dimaknai secara baru, Ibu hadir dalam bayanganku. Dia hadir berdiri di sampingku. Telunjuknya menunjuk pada suatu berkas cahaya yang sangat terang, yang tidak terlihat bentuknya, tetapi seperti matahari. Ibu berkata kepadaku:


“Jangan kamu lihat telunjuk Ibu. Lihatlah cahaya yang terang itu”.


Aku menjawab,”Tapi, apa itu? Aku tidak mengerti apa yang bersinar seperti cahaya itu?”.


Katanya lagi, “dekati!”.


Kujawab lagi, “Aku takut. Aku tidak tahu apakah itu?”.


Untuk terakhir kali Ibu berkata, “Dekati! Bukan dengan pikiran duniawimu, tapi dengan cinta”.


Selanjutnya, Ibu hilang dari pandanganku. Tetapi samar kudengar suara lembut bernyanyi. Suara Ibu. Dia melantunkan kidung Maskumambang :


Jatining dumadi kan nuwuhken wiji

Muga tunggak rila

Yen palwa brangta wus wanci

Bebadreng bayu baskara.


(Hakikat semesta bila menunbuhkan benih

Semoga tonggak rela

Apabila biduk asmara sudah sampai saat

Mengembara di angin di matahari).

Wednesday, June 1, 2011

Kebebasan Krisharjanto

Ambrosius hari ini banyak merenung di dalam kelas. Matanya fokus pada kertas, jemarinya sibuk membuat sketsa, dan pikirannya pergi ke ‘suatu tempat’ entah dimana. Namun demikian sebagian kesadarannya terantuk pada sesuatu yang menarik hatinya, yaitu kalimat yang diucapkan temannya, Nino, yang sedang bercerita di depan kelas tentang Friedrich Wilhelm Nietzsche.

“Maka, Thus Spoke Zarathustra bercerita tentang Overman. Sang manusia super yang melampaui manusia. Manusia ideal yang menurut Nietzsche harus ada sebagai konsekuensi dari kematian Tuhan. Tuhan sudah mati! Kematian Tuhan harus terjadi jika manusia ingin menjadi mahluk yang utuh dan mulia; sang Overman, sang Superman. Ujung dari semua itu adalah freedom! Kebebasan!”, demikian Nino berapi-api.

Kebebasan, kebebasan, dan kebebasan ... kata-kata ini muncul berulang dalam di pikiran Ambrosius. Jika ada kebebasan lantas kenapa ada orang yang ‘tidak bebas’? Anak-anak pandai yang tidak bisa mengenyam pendidikan? Anak-anak yang terluka hati karena perceraian orang tua? Orang-orang yang disingkirkan? Memang bebaslah seorang anak untuk memperoleh pendidikan. Tapi toh kenyataannya banyak yang tersandung oleh beragam aturan. Aturan yang dibuat manusia untuk mengatur kebebasan demi menghormati kebebasan. Di kelas ini pun tidak semua muridnya pandai. Tetapi mereka seharusnya patut bersyukur bisa memperoleh kesempatan belajar lebih tinggi. Seharusnya .. ya seharusnya, mengingat di luar sana banyak anak-anak pandai terlantar begitu saja. Tetapi ‘seharusnya’ selalu berselisih pendapat dengan ‘kenyataannya’. Demikianlah hidup.

Memikirkan kebebasan dan anak-anak pandai yang tidak sempat mengenyam pendidikan, pikiran Ambrosius mundur ke beberapa tahun silam, saat dirinya masih duduk di bangku kuliah.

Saat itu siang hari menjelang sore, di sebuah bangunan sekolah tua sederhana yang sepi dia bertemu seorang teman lama; Krisharjanto. Kris, begitu teman itu biasa dipanggil, adalah teman sebangku Ambrosius waktu masih SMP. Dia adalah salah satu anak terpandai yang pernah dimiliki sekolah tempat mereka belajar dulu. Anak buruh tani dia. Ayahnya sehari-hari menggarap beberapa petak sawah yang terletak di samping sekolah mereka.

Layaknya anak petani, figur Kris sangat sederhana. Posturnya tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Bicaranya lantang dan keras seakan-akan ruang kelas adalah area persawahan. Kris selalu memakai seragam dari bahan sederhana. Sepatu bermerk ‘Warrior’ yang dipakainya tampak kusam, berpadu dengan kaos kaki tipis yang seakan tidak lekat pada kaki sehingga harus dikencangkan dengan karet gelang.

Tetapi Kris sangat pandai meskipun duduk di bangku paling belakang. Memang, deretan bangku paling belakang selalu diidentikkan dengan wilayah anak-anak bodoh dan bebal, sehingga guru kami menyebutnya: ‘anak-anak terbelakang’. Maksudnya adalah anak-anak bodoh bebal yang duduk di bangku paling belakang. Tetapi nilai itu tidak berlaku bagi Kris; sang ahli matematika, bahasa, dan sejarah.

Sore itu mereka berdua berbincang setelah hampir 10 tahun tidak berjumpa. Mereka bertukar pengalaman, bercerita perjalanan dan pergumulan hidup hampir 10 tahun terakhir. Ambrosius bangga bisa bercerita tentang pendidikan arsitektur yang hampir selesai dijalaninya. Tentang ilmu-ilmu yang diperolehnya. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman yang menggairahkan jiwa idealisme seorang anak muda. Semula dia juga berharap cerita yang sama menggairahkannya keluar dari mulut Kris; cerita tentang kehebatannya di seputar dunia akademik. Tentu pantaslah seorang Krisharjanto yang pandai hidup secara gemilang di dunia akademik.

Tetapi, cerita itu tidak keluar dari mulut Kris. Hanya ada senyum di wajahnya yang anak petani. Wajah yang makin keras dan kasar rautnya. Wajah yang hadir bersama rambutnya yang merah dan tak teratur. Bersama pula kaos oblong putih serba bolong, dan celana pendek lusuh yang menunjukkan betisnya yang jejeg sewarna gula-geseng. Dia hanya bercerita selepas SMP tidak ada lagi kesempatan melanjutkan studi. Ayahnya yang sekedar buruh tani tak sanggup membiayai. Adik-adiknya 3 orang. Maka kemudian kertas ijazahnya hanya menjadi pajangan; kertas yang menyatakan bahwa Kris adalah lulusan terbaik.

Tetapi Kris sempat berkata juga, tentang suatu hal yang tidak akan pernah dilupakan Ambrosius, yaitu kebebasan. Ya, kebebasan, atau tepatnya menyikapi keadaan yang diterimanya dengan sikap bebas dan lepas. Awalnya terdengar aneh bagi Ambrosius. Bagaimana mungkin menerima keadaan yang mengekang kesempatan untuk maju adalah suatu kebebasan? Tidakkah itu sekedar sikap menghibur diri belaka? Tetapi Kris memang anak petani tulen. Anak alam dia. Dia belajar bahwa alam selalu bergerak memberi kebaikan. Maka, pelajaran dari alam memberinya kesadaran bahwa memang betul setiap manusia memiliki kebebasan. Tetapi kebebasan haruslah mengarah kepada kebaikan. Karena kebebasan dan kebaikan sudah menjadi kodrat dalam diri manusia, seperti 2 sisi pada satu keping mata uang. Seperti alu yang bisa dipakai untuk menumbuk gabah sekaligus untuk memukul-membunuh. Nah, petani yang waras tentu akan memilih mempertemukan alu dengan lumpang pasangannya. Untuk menumbuk gabah. Kesadaran mempertemukan alu dengan lumpang inilah yang menjadikan dunia baik dan pada tempat semestinya. Mendaratkan kebebasan agar tidak berada di awang-awang.

Masih segar dalam pikiran Ambrosius tentang perjumpaan terakhir dengan Kris. Mereka pergi bersama dari sekolah tua di tepi sawah menuju jalan besar. Ambrosius mengendarai sepeda motor keluaran terbaru. Disampingnya Krisharjanto mengendarai sepeda bermerk Raleigh yang sudah kusam. Pada jok belakang ditumpuknya tumpukan gabah yang diikat dengan tali. Mereka tidak lagi membincangkan keramaian dunia akademik, tetapi tentang angin sore yang hangat semilir, harum tanah yang disiram air hujan, air teh tubruk dengan gula batu di warung pak Pujo.

Monday, April 4, 2011

Suatu Hari Sandikala

Syahdan pada masa Upanishad, Dewi Draupadi – istri Prabu Yudhistira - datang kepada Prabu Wirata yang sudah beberapa tahun ini meninggalkan tahtanya untuk menyerahkan diri kepada kesederhanaan hidup. Mereka berdua berbincang di bawah naungan pohon Latamaosandi. Dalam perbincangan, Draupadi meminta nasehat perihal perceraian. Kepada Prabu Wirata disampaikan pula bahwa dirinya sudah meminta pertimbangan kepada seorang brahmana. Prabu Wirata bertanya apa pendapat brahmana tersebut. Draupadi menjawab: sang brahmana menyetujuinya.


“Apa alasan dia menyetujui perceraian, anakku?”


“Menurut wisik yang didapat dalam samadi, beliau mengatakan layaklah laki-laki seperti Yudhistira diceraikan. Raja tidak tahu adat. Berani menyerahkan istri sebagai taruhan judi. Merelakan istri ditelanjangi. Tidakkah dia menghargai hamba yang selalu menyerahkan cinta dan diri sepenuhnya? Tidakkah dia terkenang saat indah penuh cinta dalam kama-ratih?”.


“Brahmana itu berkata begitu?”.


“Nun, inggih, Gusti”.


“Ah, tapi menurut rasaku, Wong Ayu. Semakin jauh dan dalam dasar kolam semakin tidak bisa kita putuskan wujudnya. Wajarlah brahmana mengatakan hal itu jika tidak melalui samadi. Tetapi dalam samadi ... yah sudahlah ... tujuan orang berbeda-beda. Tetapi sejauh kudengar dari adikku Wratsangka yang beroleh kabar dari Harjuna, anakku Draupadi selamat dari penghinaan di arena judi berkat kuasa Hyang Widhi”.


“Nun, inggih, Gusti Prabu. Entah ... hamba merasa gelap saat itu. Rasa malu dan terhina begitu besar membuat hamba pingsan. Tetapi menurut adik Harjuna kain penutup badan hamba seakan tidak lepas dari tubuh. Terurai menjadi demikian panjang. Semua kegilaan itu berhenti berkat turun-tangan Eyang Bhishma. Kabarnya beliau sangat murka kepada Suyudana dan adik-adiknya”.


“Ah ... Bhishma. Dia orang baik. Tentu dia tahu apa arti aturan yang harus diterima dalam sebuah perjudian. Tapi dia orang yang tidak pernah berhenti pada kebiasaan dan aturan. Ya, kebenaran baginya adalah kebenaran. Kebenaran adalah zat-milik Sang Hyang Widhi. Jika Sang Hyang Widhi sendiri adalah Zat Agung yang tidak bisa dipengaruhi zat-zat duniawi manapun, maka tentulah sebagai milik, kebenaran juga tidak bisa dipengaruhi oleh aturan apapun di dunia”.


Prabu Wirata diam. Dirasakannya semilir angin pada kulit tubuhnya yang mulai memiskin, lama tidak tersentuh berbagai ramuan istana. Di depannya, kira-kira selemparan batu, dilihatnya anak gembala bermain seruling di antara sapi-sapi. Anak itu memandang kepada sang Prabu. Dia berkulit hitam. Parasnya tampak cantik pada wujudnya yang laki-laki. Dia melepaskan seruling dari mulutnya dan tersenyum. Sang Prabu membalas dengan senyum. Teduh hatinya. Dia menarik nafas lembut dan dalam. Matanya setengah terpejam.


Akhirnya sang Prabu melepas kebisuannya.


“Begini saja, anakku Draupadi. Kau tentu lelah. Banyaklah makan dan istirahat dulu. [Nun inggih, Gusti Prabu. Tapi hati ini sakit sekali]. Saya mengerti, tapi sebaiknya jangan memutuskan apapun selama hatimu masih diselimuti galau. Nah, Dalam hening-wening di pedesaan ini aku tak bisa memberikan masukan apapun kecuali mengajakmu menghadap Sang Hyang Widhi. Dan biarlah Sang Hyang Widhi sendiri yang menyampaikan warta kepadamu, warta yang aku tidak tahu. Warta yang tidak bisa diukur oleh nalar kita, manusia. [Apa maksud Gusti?] Lha iya. Menurut rasaku, anakku wong ayu, kalau Sang Hyang Widhi sendiri menyelamatkanmu di arena judi tempo hari, maka aku kok merasa bahwa dirimu adalah kecintaanNya. Artinya, kau diciptakan secara pribadi dan selaras dengan Zat-Nya. Maka, hanya Dia yang bisa menjadi sumber pemecahan kegalauan hatimu".


Hari sudah sandikala. Prabu Wirata masih duduk di bawah naungan Latamaosandi. Dilihatnya anak gembala pergi dalam gembira bersama sapi-sapi. Dilihatnya juga beberapa rahib berjalan membawa kembang, air, dan dupa untuk doa malam. Dari hatinya, bersama dengan semilir angin barat, bergulirlah sebuah harapan: semoga, ya semogalah, Sang Hyang Widhi - Sang Sumber Cinta – yang melahirkan Draupadi dan memanggilnya dengan nama yang paling pribadi menaburkan cinta illahi. Suatu zat yang melampaui segala wujud yang ada di dunia, supaya Draupadipun tidak berhenti pada perkara-perkara dunia, namun sebaliknya mampu memberi cinta. Apapun keputusannya nanti. Dan dirinya sendiri? Ah, dirinya mengakui bahwa masih belajar menjejakkan kaki di dunia, agar bisa disebut dengan suatu nama, yang harapannya selaras dengan Sang Cinta Abadi dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti dirinya dan para rahib memanggil anak gembala cantik yang selalu gembira itu: Krishna!