Thursday, July 5, 2007

Titip Refa

Tanggal 23 Juni 2007 aku menerima pesan dari Bapak melalui sms. Mengabarkan bahwa Norman adikku lulus ujian nasional. Bukan hanya itu. Dikatakan juga bahwa seratus persen murid di tempat dia bersekolah juga lulus. Dalam hati aku tersenyum. Ada rasa lega dan bangga yang besar demi mengingat perjuangan yang kami sekeluarga lalui bersama untuk bisa menyekolahkan adikku yang satu ini. Maklum, kami bukan dari kalangan berada.

Tahun 2003 yang lalu adalah tahun terburuk dalam karier Bapak. Peristiwa bom yang meluluhlantakkan Paddy's Restaurant di jalan Legian Bali sertamerta juga menghancurkan usaha perjalanan wisata yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun. Demikianlah saat itu, dengan kekuatan yang diperoleh entah darimana Bapak menjual semua asetnya demi bisa memberikan gaji terakhir bagi para karyawannya; mbak Yus sang sekretaris, Pak Min yang office boy, dan Pak Riniyanto sang pengemudi, yang telah mengabdi bahkan sejak aku dan kakak-kakakku masih kecil.

Usaha Bapak tidak berskala besar. Pas-pasan saja. Jadi tidak heran kalau tidak ada sisa harta yang bisa diandalkan saat itu kecuali sebuah sepeda motor yang dibeli dengan cara kredit dan uang tabungan yang kian menipis. Aku, saat itu masih bekerja di sebuah biro konsultan besar di Jakarta. Tapi apalah arti kata “besar” dalam kehidupan ekonomi di negara yang berantakan dan tidak mampu memberikan jaminan minimal untuk sebuah kehidupan yang layak. Serba sulit. Serba harus menahan diri. Ditambah bagi kaum urban seperti aku, kakak-kakakku, dan beberapa kawan yang betul-betul harus berdiri di atas kaki sendiri.

Tetapi hidup memang sebuah perhelatan akbar. Banyak tarian yang harus dimainkan. Dan apapun tariannya tentulah akan tampak indah jika digerakkan dengan sepenuh hati, bukan dengan keluhan. Maka jadilah, dengan semangat tersebut kami menambal “dinding yang berlubang” agar “kapal” tidak karam. Termasuk agenda saat itu adalah membantu Norman untuk dapat melanjutkan belajar di sekolah menengah pertama. Ah, tapi ini jangan dibaca sebagai kisah kepahlawanan. Bukan. Ini murni rasional : bahwa harus ada tali estafet yang harus terus bersambut agar kehidupan tidak luruh. Maka mengingat peristiwa itu semua patutlah kami saat ini bersyukur atas kelulusannya. Adikku memang bisa diandalkan. Setidaknya atas usaha terakhirnya yang membuahkan nilai baik dan sikap serta pola pikir yang membuatnya dengan mudah diterima di sebuah sekolah menengah umum swasta bermutu. Murah? Tentu tidak! Dan sekali lagi kami harus “menari” lagi. Ngamen.

Dibalik peristiwa syukur tersebut ada satu orang lagi yang perlu selalu kami ingat, yaitu Ibu. Tiga tahun yang lalu dia memainkan peran sebagai layaknya Ibu bagi Norman yang adalah saudara kandung bagi kami tetapi berlainan Ibu. Ibulah yang sejak awal mengingatkan Bapak dan kami semua dari sejak pengumuman penerimaan, jadwal pengembalian formulir, pengambilan nomor tes, dan lain sebagainya. Tetapi dari semua peran tersebut yang terpenting adalah posisi tawarnya yang masih baik sebagai bekas guru dan petugas unit kesehatan sekolah di tempat Norman akan bersekolah. Tentu hal ini sangat membantu kami yang harus mengakui secara jujur berada dalam situasi keuangan yang lemah. Masih segar dalam ingatanku saat dirinya lapor sesampainya aku di Jogja. Lapor atas usahanya menawar.

“Dik Wisnu, sebagai bekas guru di sini tawaranku masih dihargai atau tidak?”, tanyanya kepada Pak Wisnu, seorang teman baik, dan bekas guru kami yang masih setia mengabdi.
“Oh lha iya to Bu. Tapi buat siapa?”
“Ya buat anakku to”.
“Anakmu yang mana? Semua sudah pada lulus dan gede-gede to?”
“Anakku yang mana? Anakku ya anakku! Norman Mahardhika namanya. Dia yo anakku”. Ngotot

Ah, Ibu memang hanya seorang guru. Guru pelajaran menyanyi, koor, dan juga pencipta lagu yang tidak pernah komersil. Baik saat masih bertugas di sekolah ini, maupun ketika akhirnya memilih “pensiun” dirinyapun masih mengajar di sekolah lain, di Instansi Pemerintah Daerah yang getol kalau ada lomba tahunan antar departemen, bahkan pernah juga di Akademi Angkatan Udara. Untuk yang aku sebut terakhir ada kesan mendalam yang tampak dalam cerita-ceritanya; bagaimana dirinya selalu dijemput menggunakan bis besar berwarna biru tua. Sesampainya di lokasi langsung di sambut oleh Taruna tertua yang melaporkan bahwa mereka siap untuk berlatih. Diingatnya juga bagaimana mereka memberi hormat ketika Ibu masuk ke dalam ruangan. Dan hasilnya : sebuah paduan suara dengan semangat militer yang setiap bulan sekali mempersembahkan koor untuk upacara misa di gereja Kidul Lodji. Tetapi begitulah. Dirinya tetap seorang guru honorer yang penghasilan terakhir sekitar tiga tahun sebelum wafatnya hanya tigaratus ribu rupiah sebulan. Tetapi semua kekurangan itu tidak melunturkan jiwa pendidik dan kecintaannya terhadap anak-anak dan sebisa mungkin menolong mereka yang membutuhkan. Salahsatu anak yang dikasihinya adalah Refa. Nama lengkapnya adalah Yohanes Refa Cahyo Kurniawan.

***
Refa lahir dari pasangan Pak Sukar dan Mbak Ten. Wajahnya bersih dan tampan. Seumur dengan Norman adikku. Dia rajin mengaji, pintar, dan budi pekertinya halus. Sangat mengerti akan kondisi orangtuanya yang sangat miskin.

Mbak Ten, begitu kami memanggilnya, adalah perempuan sederhana yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Tulang punggung keluarga. Perawakannya kecil, penurut, tetapi kadangkala emosinya meledak-ledak. Mungkin hal tersebut disebabkan pendidikannya yang terbatas sehingga sulit mengolah kesulitan hidup yang dihadapi. Mbak Ten bekerja untuk keluarga kami, dalam hal ini membantu Ibu mengurus rumah dan menjaganya saat malam hari. Dahulu, sebelum kami mengambil perawat yang mengurus luka kanker payudara yang hinggap di tubuh Ibu, kalau terjadi sesuatu seperti jatuh dari tempat tidur atau pendarahan misalnya, mbak Tenlah satu-satunya orang yang bisa diandalkan. Berani melihat kanker, melihat bulir-bulir daging busuk dan darah yang mengucur serta membersihkannya. Ora jijikan. Tidak mudah jijik begitu kata Ibu mengomentari keteguhan dan kesetiaan mbak Ten. Begitu setianya sehingga mulutnyapun nyaris rapat sempurna, mematuhi pesan sang majikan untuk tidak menceriterakan kondisi yang sebenarnya jika anak-anak bertanya. Di mataku mbak Ten adalah seorang malaikat. Dirinya selalu menyiapkan teh hangat yang sangat nikmat kalau aku pulang ke rumah Ibu, atau air panas untuk mandi dengan tidak lupa kebiasaannya menaburkan daun sirih. Selalu, pada saat-saat seperti ini aku merasa menjadi raja.

Pak Sukar mempunyai wajah yang tampan. Perawakannya tidak tinggi tetapi cukup kekar. Sejak kecil kami sudah mengenalnya. Dahulu dia bekerja membantu Pakde Mardi, saudara iparnya, sebagai pengrajin logam sepuh. Membuat benda-benda seperti sendok, lambang garuda pancasila, logo kraton, dan lain sebagainya. Sering, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika hendak pergi ke warung Bu Muh, berhenti sejenak saat melewati bengkel milik mereka. Ruangannya kecil. Berukuran 2 x 3 meter dengan atap emplekan atau tambahan karena ruangan yang mereka gunakan untuk bekerja sebetulnya adalah pojok halaman. Ruangan ini cukup gelap. Lantainya tanah. Dindingnya hitam akibat hangus oleh api yang digunakan untuk mencairkan logam. Mereka bekerja dengan cara berjongkok atau duduk pada sebuah dhingklik. Sebagai anak kecil aku senang melihat api yang menyala-nyala tersebut. Membesar dan panas ketika Pak Sukar meniupkan udara dari mulutnya ke dalam tungku secara manual menggunakan pipa besi. Pekerjaan inilah yang akhirnya memberikan kebutaan pada kedua matanya. Saat ini, di dalam kegelapan dunia, dirinya masih berusaha mengais rejeki sebagai niyaga. Memainkan rebab dalam satu kelompok penabuh gamelan pada acara Sendra Tari Ramayana yang diadakan untuk menjamu wisatawan. Lokasinya tidak jauh dekat rumah kami. Sebagai niyaga dengan jadwal yang tidak sering penghasilannya sangatlah kecil. Sisa harinya selalu digunakan untuk memainkan rebab. Duduk di sebuah kursi di muka pintu kamar menghadap halaman yang berbatasan dengan rumah kami. Suara gesekannya rengeng-rengeng, pelan, kadang datar. Sendu, meditatif, menarik rasa dan emosi ke dalam situasi hening. Dia tahu bahwa aku dan Ibu suka mendengarkan permainannya.

Begitu miskin keluarga itu. Jika tidak dibantu oleh beberapa sanak, Refa tentu tidak dapat bersekolah. Keadaan mereka yang serba sulit dan sikap mereka yang baik menggerakkan hati Ibu untuk menjadikan mbak Ten sebagai pengurus rumahnya. Untuk memberi tambahan penghasilan.
“Untuk Refa. Anak itu baik. Bapak Ibunya ngga punya apa-apa. Kasihan kalau sampai ngga sekolah”, kata Ibu suatu hari. Aku hanya bisa mengangguk

***

Peristiwa itu kembali muncul dalam benakku ketika pelan-pelan kegembiraan hati atas kelulusan Norman mulai mengendap. Titip Refa. Kata-kata tiba-tiba itu muncul kembali. Pelan dan lirih, tetapi menghentakkan hati. Mengingatkan akan sesuatu yang terlupa. Kata-kata itu muncul dari mulut Ibu yang lemah, dalam pandangan mata yang nanar di sebuah kamar rumah sakit yang dingin dan temaram. Waktu itu bulan Maret menjelang April. Ibu sudah habis-habisan berjuang melawan kekuatan kanker yang sudah mencapai stadium terminal. Menggerogoti paru-paru dan jantungnya. Sudah hampir dua minggu kami menungguinya dalam kelelahan. Baik fisik maupun mental. Masih sempat sejenak melihat tawa dan semangatnya yang perlahan tapi pasti pudar berganti menjadi pikiran yang meracau, badan yang menolak makanan, bola mata yang memudar menjadi abu-abu, melihat bayang-bayang di balik kehidupan.

27 Maret 2006. Waktu kira-kira menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana sangat sepi dan dingin. Aku berjaga sendiri, duduk di samping Ibu yang tidur dengan posisi miring menghindari rasa sakit pada sisi kanan badannya. Tangannya merangkul guling dan telapaknya menggenggam pembatas tempat tidur. Kakinya bergerak secara berkala dengan irama yang tetap. Menurut suster yang merawatnya itu tanda bahwa dia begitu menahan sakit. Aku tidak percaya karena tidak keluar keluhan dari mulutnya. Hanya kadang kepanasan dan minta untuk digosok atau disejukkan. Tetapi kaki itu terus bergerak bahkan ketika matanya yang mulai nanar terpejam.

Aku menatap wajahnya. Dagu kusandarkan pada tepi kasur dekat tangan Ibu demi menahan badan yang mulai lelah. Tiba-tiba mata Ibu terbuka dan kamipun bertatapan. Aneh, tiba-tiba ada ketakutan bercampur kesedihan merayapi hatiku, demi melihat orang yang pernah mengandung aku. Perempuan keras dan kuat pendiriannya. Teguh dalam kemiskinan dan penderitaan. Rela memberikan bahu bagi anak-anaknya untuk berpijak di atasnya dan meraih bintang-bintang di langit. Hidup dalam kesendirian dan kesepian. Dan saat ini dia berada dalam kondisi sakratul.

“I love you Ma”.
“Love you too”. Suaranya lirih dan berat. Sembari mengusap kepalaku. Sesuatu hal yang lama tidak kurasakan. Belaian lembut seorang Ibu kepada anaknya.
“Maafin aku Ma”.
“Pasti”, jawabnya
“Kamu bangga?”, dia bertanya. Aku mengangguk tersenyum.
“Nanti kalau Mama sudah ngga ada, tolong kamu kasih uang ke Mbak Ten. Cincin Mama ada di lemari di bawah tumpukan baju. Kamu ambil. Koor nanti biar Mas Joko yang urus. Kalau sempet bawa Mama ke gereja dan mampir ke rumah." Dan berakhir pada satu permintaan : "Titip Refa”.

Saat itu mulutku seperti dibungkam. Dan aku seperti melihat sebilah pedang menancap di dadaku. Menembus pelan masuk ke badan inchi per inchi … terus … terus ke dalam Terasa sakitnya. Dan ketika mulutku bisa terbuka yang terlontar bukanlah kata-kata penghiburan tetapi sebuah kalimat “Ya”. Saat itu aku merasa berjabat tangan dengan kematian yang aura kehadirannya mulai terasa, pelan tapi pasti, merangkul Ibuku yang kembali memejamkan mata dengan tarikan nafas yang teduh. Aku menangis. Di dalam kegelapan dan dinginnya kamar lepas kendali seluruh kekuatan dan kesombonganku sebagai laki-laki, dan akhirnya aku tahu itulah saat terakhir kami bertatapan dan berbicara.

Monday, May 28, 2007

Eyang Waras

Bagi Wegig pulang ke Yogya adalah sebuah peristiwa yang menggairahkan. Bertemu dengan teman-teman lama, ngobrol dengan Bapak dan adik, jalan-jalan menikmati situasi kotagede yang magis, nyekar ke makam Ibu, dan juga seperti biasa; nyekar ke makam Eyang Waras. Yang terakhir ini adalah seseorang yang mempunyai kesan tersendiri dalam hatinya. Sebutan Eyang tidak lain karena usianya yang sudah tua sewaktu Wegig mengenalnya. Sekitar tujuhpuluh tahun waktu itu. Di masa mudanya Eyang Waras adalah seorang Soverdian. Hidup sebagai anggota tarekat dalam sebuah biara Katolik yang akhirnya harus rela meninggalkan status biarawan karena sadar bahwa dirinya adalah seorang homoseksual. Kehidupan selanjutnya selepas membiara dibaktikan sebagai guru dan pembimbing rohani di sebuah gereja tertua di kota Yogyakarta dimana Wegig terlibat aktif di dalamnya. Dari pertemuan dengan Eyang Waras dirinya memperoleh pengalaman religius dengan sangat sederhana namun berkesan: sebagai messdiener dan mulai menyukai lagu-lagu gregorian.

“Menjadi messdiener adalah menjadi pelayan”, begitu kata Eyang Waras suatu hari. “Beda kalau kamu ikut kegiatan lain yang penuh acara ini dan itu. Banyak dikenal, banyak yang suka. Lha kalau messdiener, sekali tampil di depan ya itu tadi. Melayani. Jadi pembantu. Yang jadi fokusnya adalah Imam. Tapi apapun itu menjadi seorang pelayan adalah sebuah tugas yang harus diterima dan dikerjakan dengan senang hati.”

Kalimat tersebut kembali terngiang dibenak Wegig ketika menyusuri trotoir di tepi taman kota. Seperti angin yang bertiup lembut. Tidak terasa kehadirannya tetapi mampu mengalihkan kesadarannya menuju masa lalu. Di sisi kanan sebuah bis melaju kencang disusul sepeda motor dan mobil yang berpacu menyambut traffic light yang menyala kuning. Anginnya menerpa badan, menggoyang tas bawaan yang menjadi semakin berat. Sekelompok pasukan brigade mobil berjaga-jaga di depan sebuah gedung berpagar tinggi lengkap dengan untaian kawat duri. Di sisi kiri, kelompok besar pepohonan rimbun terlihat memancarkan kesejukan. Tetapi hamparan panorama tersebut tidak mampu mencuri perhatiannya yang sedang berkelana ke masa duapuluh tahun silam, di dalam sebuah bangunan gereja tua dimana dirinya berkumpul setiap minggu bersama teman-teman messdiener di bawah bimbingan Eyang Waras. Sebuah gereja yang tidak besar tetapi tinggi dan panjang. Tiang-tiangnya berbalut logam berwarna merah maroon dengan ukiran klasik di ujung atas. Seringkali burung-burung gereja bersarang di sana. Diingatnya juga seluruh dinding altar berbalut pecahan genteng tanah liat yang mengkilap. Di sebelah kiri altar terdapat pintu masuk menuju sakristi, yaitu sebuah ruang persiapan bagi imam dan petugas upacara. Di tempat inilah baju-baju misdienaar, sang pelayan, digantung siap pakai dekat sebuah lemari yang mempunyai cermin di bagian luar daun pintunya. Di tempat ini pula Romo Kijm, seorang Imam Belanda yang gemar menghisap rokok commodore, suatu ketika dengan kedua telapak tangan memegang kepala Wegig dan mengarahkan ke muka cermin. “Kalau sisiran yang rapi. Jangan seperti jalan semut”, katanya sembari meletakkan jari telunjuk ke garis belahan rambut yang berkelok. Atau Romo Waskito, juga seorang Imam Belanda yang mempunyai nama asli Joseph Vossen, yang selalu mengingatkan untuk tidak mengikat lengan jubah pada pinggang. Suatu hal yang selalu dilakukan oleh messdiener berbadan besar untuk menyiasati jubah yang kekecilan sebelum ditutup dengan pakaian putih yang menutupi badan dari leher atas hingga batas lutut. Peraturan serba tertib, rapi, dan disiplin. Tampaknya di mata Romo-romo itu seorang pelayan bukanlah hamba. Pelayan adalah salahsatu jenis pekerjaan. Setara dengan pekerjaan sebagai arsitek yang dijalani Wegig saat ini.

Terdengar gema yang muncul dari sebuah pengeras suara di stasiun. Mengabarkan rangkaian kereta api yang baru datang. Wegig tersadar. Lamunannya buyar. "Ah, sudah hampir sampai rupanya", gumamnya. Di depannya tampak kesibukan sebuah stasiun. Diliriknya arloji. Masih lama. Kereta api yang ditumpanginya akan berangkat tiga jam lagi. Masih banyak waktu baginya untuk berjalan ke wilayah tua Menteng. Mampir ke sebuah kafe kecil bernuansa kolonial sembari meneguk coklat panas tanpa krim dengan dark chocolate di mulut sangat mengasyikkan. Tetapi entah kenapa dirinya lebih memilih menunggu di stasiun. Maka jadilah dia naik ke lantai atas menuju teras yang diperuntukkan bagi penumpang rangkaian kereta yang akan dinaikinya. Dipandangnya teras di seberang. Dulu, tempat dimana dia berdiri khusus diperuntukkan bagi penumpang eksekutif, dan yang diseberang diperuntukkan bagi penumpang dengan kelas di bawahnya. Sekarang sudah tidak lagi. Tetapi bukan berarti pemerataan sudah terjadi. Yang dia tahu penumpang dengan kelas di bawah eksekutif ditempatkan di stasiun lain di wilayah kecamatan Senen yang padat dan rawan. Bangunannyapun kusam dan tidak terawat. Terkesan miskin dan terlantar.

***
Pukul tiga lebih dini hari. Kereta baru melewati stasiun Purwokerto. Berhenti sebentar menurunkan penumpang dan memberi sedikit kesempatan kepada penjual makanan untuk sekedar melongokkan kepala melalui pintu gerbong. Tidak ada penumpang yang tertarik. Kebanyakan dari mereka masih tenggelam dalam selimut tipis masing-masing. Hanya beberapa orang yang terjaga termasuk Wegig. Duduk selonjoran di kursi. Setengah mukanya tertutup kain selimut yang melindungi hidungnya dari serbuan gas pengharum ruangan. Matanya menatap ke luar di balik kaca jendela, tetapi pikirannya tidak seirama dengan apa yang dilihatnya. Di otaknya masih terbayang Eyang Waras. Eyang yang sederhana dan saleh itu hidupnya tidak selalu indah dan beroleh penghormatan sebagai orang yang berbakti dengan tulus kepada gereja dan masyarakat. Sudah biasa didengarnya gunjingan yang mengatakan bahwa dirinya kerap mengundang para lelaki muda, termasuk para messdiener didikannya yang sedang tumbuh dewasa ke dalam kamarnya secara pribadi. Dalihnya adalah semacam memberi bekal kepada anak-anak yang sedang tumbuh agar lebih siap dalam menjalani dunia dewasa dengan lebih terbuka secara benar. Pun almarhumah Ibu Wegig yang sangat menyayangi, dan selalu memandang Eyang Waras secara positif sempat menanyakan hal itu suatu ketika.
“Tadi dipanggil Eyang?”
“Iya Bu. Dari jam tiga sore”.
“Oh. Ngobrol apa aja?” Ada seuntai senyum di bibirnya. Tampak santai, tetapi matanya yang teduh menyiratkan rasa takut bercampur sikap hati-hati demi menghormati Wegig, anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Atau masih ada harapan dalam hati yang membuat dirinya tetap percaya bahwa Eyang Waras tetap ‘waras’ dan bisa dia percaya.
“ngg … Eyang ngomong banyak soal psikologi. Eyang juga cerita bahwa Eyang Putri adalah istri yang baik dan seorang malaikat. Bisa memahami keadaannya. Tadi di kamarnya aku juga membaca kitab Talmud. Hebat!! Darimana Eyang bisa punya kitab itu ya ..”.
"Tapi kamu ... eh .. dia tidak minta macam-macam kan?". Seperti ada beban besar terangkat setelah berani mengungkapkan pertanyaan ini.
"Ah tidak Bu. Sejujurnya, Eyang Waras sempat meminta hal itu. Tapi aku tegas katakan tidak. Dan untuk itu dia sangat hormat dan berjanji untuk berbuat macam-macam". Lega.
"Syukur. Syukur kalau begitu. Ibu juga percaya bahwa Eyang itu baik. Yang penting kamu bisa jaga diri saja".

Eyang Waras adalah laki-laki pintar. Tutur katanya yang sopan selalu menarik hati orang yang mendengarnya. Dia fasih dalam ilmu psikologi dan seksologi. Menguasai lima bahasa dengan sempurna : Inggris, Jerman, Belanda, Jawa, dan Latin. Kemampuan ilmu filsafat dan teologinya? Sebagai bekas seminaris tak diragukan. Berbekal talenta tersebut dia mampu menjalankan peran sebagai guru dengan baik. Menjadi mata air bagi jiwa yang kering dan ketakutan. Sayang, hanya satu yang menjadi ganjalan dalam hidupnya. Dia seorang homoseksual dan tinggal di kampung yang masih memegang pandangan lama. Dan sebagai orang yang dekat dengannya Wegig tahu bahwa gunjingan itu memang benar adanya. Tetapi, untuk meyakinkan diri suatu kali dengan berani dia menanyakan secara langsung hal itu. Dan Eyang Waras dengan jujur menyatakan kebenaran berita tersebut.

Tak urung ada rasa khawatir juga dalam diri Wegig. Ada ketakutan jangan-jangan semua diskusi dengannya selama ini hanya sebuah perangkap meskipun hatinya tetap mengakui ada nilai-nilai positif di dalamnya dan sangat membantu dirinya yang sedang beranjak dewasa. Tak apalah. Toh dirinya sudah menunjukkan sikap. Lihat saja nanti apakah dalam perjumpaan berikutnya Eyang Waras konsisten dengan apa yang diucapkannya. Tapi satu sikap Eyang Waras yang sangat dipujinya; kerendahan hati untuk mengakui kelemahannya. Tidak menampik hujatan yang ditujukan kepadanya. Sebaliknya senyum selalu ada pada wajahnya dan konsisten betul akan pelayanan terhadap gereja dan Tuhan.

***
Di kerkop, begitu orang Yogya dulu menyebut kata kerkhoft, kompleks pemakaman dalam bahasa Belanda. Dengan hati-hati Wegig memegang duapuluhan batang dupa. Posisi tubuhnya sedikit meringkuk untuk melindungi api dari terpaan angin. Tak lama kemudian ujung batang-batang dupa tersebut cerah menjadi bara. Asapnya halus meliuk mengikuti aliran angin, dan aroma musk segera menyebar. Aroma yang sangat digemari oleh Ibu. Sekian detik dirinya dibawa mundur ke suatu sore hari ketika sedang memasukkan batang dupa pada sebuah dudukan terbuat dari belahan bambu dan kemudian diletakkan pada permukaan piano rusak yang difungsikan sebagai meja untuk menampung benda-benda dekorasi ruangan. Ibu duduk di sofa. Kami berbincang santai sembari menikmati suara rengeng-rengeng gesekan rebab Pak Sukar di rumah sebelah. Teduh sekali. Damai, pulang, menjadi murni dan apa adanya.
"Ah Ibu, aku kangen.", desahnya

Pemakaman ini ada sejak jaman Belanda. Kondisinya seperti pemakaman di Jawa pada umumnya. Ada makam yang cukup berbalut tanah, ada yang ditutup dengan nisan dengan bentuk yang beragam. Banyak pohon tua terutama jambu air dan pace. Tetapi dekat makam Ibu ada pohon kamboja yang tumbuh seperti tidak disengaja. Di bawahnya ada makam seorang pahlawan. Sederhana sekali. Hanya berupa gundukan tanah dengan penanda berupa tongkat bambu runcing dan bendera kecil yang selalu berkibar. Keduanya terbuat dari besi dan seng yang dicat dengan semacam cat minyak. Jalan setapak sulit ditemukan di sini. Mungkin dulu ada tetapi akhirnya digunakan untuk makam-makam baru. Sangat padat dan tidak teratur. Tetapi entah kenapa selalu ada rasa teduh ketika Wegig berada di dalamnya. Mungkin karena ada makam Ibu di sini, atau bisa juga karena dia sudah mengenal tempat ini sejak kecil. Bermain perang-perangan bersama Aditya, seorang sahabat yang sekarang menjadi seorang perwira polisi. Tempat persembunyiannya adalah gundukan makam, pohon, sumur, atau batu nisan. Senapannya adalah batang kayu dengan pelontar peluru terbuat dari tali karet. Pelurunya adalah potongan tangkai daun pepaya.

Hening. Angin bertiup terasa sejuk di muka membuat mata semakin ingin lama terpejam. Bau harum kamboja yang luruh ke tanah, berbaur dengan harum dupa, melati, dan kanthil. Tanah kering-panas yang baru saja disiram. Aromanya meneduhkan hati.

"Sendirian saja to Mas?"
Wegig sedikit terkejut tapi tak lama roman mukanya berubah cerah setelah mengetahui bahwa pemilik suara berat dengan nada sopan tersebut adalah Pak Bejo, seorang tukang becak bersahaja dari desa Sedayu Bantul yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarganya, terutama Ibu. Baginya, Pak Bejo sudah seperti saudara sendiri. Maka tidak ada rasa beban dalam hatinya ketika pengayuh becak tersebut undur diri setelah menyapa dan berbincang sejenak, sekedar untuk memberi kesempatan berdoa. Dan Wegig menjanjikan untuk bertemu sepulang dari nyekar nanti.

***
HERMAN sudah jauh-jauh hari berjanji kepada Wegig untuk bertemu di Yogya. Dan janji itu ditepati. Pukul lima lebih delapan menit dia datang ke pemakaman. "Walah aku telat!! Maaf maaf!!", teriaknya dari kejauhan sambil tergopoh-gopoh menyusuri jalan setapak makam. Raut mukanya terlihat gembira. Dengan sengaja diinjaknya beberapa nisan untuk memotong jalur sembari keluar kata maaf dari mulutnya. Kedua sahabat itu berjabat tangan. Sudah lama betul mereka tidak bertemu terlebih setelah Herman menikah dan bermukim di Semarang. Bagi Wegig Herman benar-benar sahabat. Tidak sekedar teman. Memang dulu semasa kuliah mereka sering mabuk dan bolos besama. Tapi sekarang Herman bekerja menangani pemukiman rakyat miskin sedang dirinya bekerja di sebuah konsultan yang menangani proyek-proyek besar. Sahabatnya itu sudah menikah dan dirinya belum. Pun kalau kebetulan berada dalam satu kota mereka belum tentu dapat bertemu dengan alasan kesibukan. Tapi satu hal yang dicatat oleh Wegig, yaitu ketika sekali waktu dapat bertemu, meskipun sejenak, mereka betul-betul berbagi dan saling menguatkan. Seperti juga saat ini dia seakan tahu apa yang menjadi kegelisahan Wegig dalam menjalani kehidupan sebagai arsitek di kota besar. Sarat dengan mengikuti nilai-nilai pasar. Pasar yang menciptakan persaingan dan membawa para arsitek berlomba untuk mencari popularitas. Pasar yang membawa arsitektur ( yang seharusnya mengemban nilai sosial, budaya, kemanusiaan secara jujur ) ke dalam satu nilai yang dibentuk oleh lifestyle model kapitalis. Pasar yang menempatkan orang-orang yang tidak mampu mengikuti pola permainnya berada di pinggir. Pasar yang ramai tetapi kehilangan semangat keramaian sesungguhnya.

"Nah, lantas kamu sendiri bagaimana? tanya Herman. Lanjutnya lagi, "Sama saja. Kamu pikir pekerjaanku yang seakan penuh nilai moral dan kemanusiaan menyenangkan? Sebaliknya Gig, tidak gampang kerja untuk orang-orang miskin. Di satu sisi mencoba untuk selalu mempunyai perhatian untuk mereka, tetapi kalau tidak hati-hati malah bisa membuat mereka manja, merasa selalu benar sebagai orang tertindas meskipun kenyataannya sering juga mereka nakal. Juga apakah kamu pikir dengan menyandang judul membantu orang kecil lantas beroleh ucapan terimakasih dengan tulus? Belum lagi masalah internal sesama tim. Dimanapun itu, apapun judulnya, pekerjaan pastilah sama. Kukira kamu tahu betul itu."

Sejenak diam.

Herman benar. Aku tidak ingin membandingkan secara hitam-putih. Kedua sisi itu sama-sama punya nilai positif. "Mungkin aku cuma lelah", katanya. Kecewa karena tidak mampu mengikuti mainstream. Yang bisa dilakukan adalah mengikuti logika aliran hidup; harus membiayai diri sendiri, juga Bapak dan Adik. Selebihnya, ibarat orang menunggu di halte bis, bertemu dan ngobrol dengan orang lain. Syukur bisa membantu kalau orang itu punya kesulitan. Pendeknya menjadi arsitek adalah membuat orang lain gembira. Tidak peduli apakah namanya muncul ke permukaan atau tidak. Sepertinya bodoh memang. Tetapi biarlah, masih banyak peran dalam hidup jika kita menyetel pada gelombang memberi kegembiraan untuk sesama.

Pernyataannya ini menimbulkan rasa lega dalam diri Wegig. Serasa ada beban besar yang terangkat. Merasa menjadi manusia baru nan segar dengan mau mengakui sebagaimana dirinya. Dan entah mengapa tiba-tiba muncul semangat baru untuk berani menghadapi arus hidup. Apapun itu.

Herman tersenyum. Pembicaraan kali ini tidak sertamerta dapat membuat semua masalah hilang. Tetapi bersama sahabatnya ini pembicaraan terasa seperti saling menguatkan. "Sudah sore. Kamu harus balik ke Jakarta to? Sampai ketemu lagi kalau begitu," Herman membuka suara.

Makam sebentar lagi tutup. Tapi Wegig belum sempat nyekar ke makam Eyang Waras. Tempatnya saja lupa. Seingatnya makamnya ada di barisan sebelah timur di dekat makam-makam tua yang tidak terurus. Tapi tak apalah. Lainkali saja, karena sore ini Wegig secara batin sudah bertemu dengannya. Belajar darinya untuk menerima diri apa adanya. Menjadi diri sendiri dan menghadapi hidup dengan senyum dan kerendahan hati. Menjadi pelayan.

Sejenak terbayang posturnya yang kecil dengan rambut putih berdiri dengan penuh percaya diri. Mengajarkan bagaimana mempersembahkan dupa di altar. "Pelan-pelan cah bagus ... ya, pegang rantainya dengan tangan kanan ... angkat tangan kananmu ke depan ... ayunkan pedupaan dengan pelan. Mata ke satu arah. Jangan jelalatan! Yang anggun ... bawa semua umat ke dalam hening kepada Tuhan ...".

Dan asap dupa yang harum itu membumbung tinggi ke langit-langit altar yang terbuat dari kayu berbentuk kubah.
Te Deum Laudamus
Te Dominum Confitemur
....

Monday, April 9, 2007

Langit


MENJELANG hari kelahiranmu kota Yogyakarta sedang dalam situasi mencekam. Seluruh mahasiswa di Indonesia, juga yang ada di Yogyakarta berdemonstrasi, meminta agar Presiden Indonesia kedua, Soeharto, turun dari kekuasaanya.

Waktu itu aku masih menjalani proses tugas akhir untuk yang ketiga kalinya, setelah duakali sebelumnya tidak lulus. Pagi itu aku dapat kabar dari Eyang Kung dan Eyang Ani bahwa Bu Ayik yang sedang mengandung kamu masuk Rumah Sakit Panti Rapih. Pak Mok, aku dengar juga sudah datang ke Yogya. Jadilah sore itu aku jalan kaki sejauh kira-kira dua kilometer dari kampusku di daerah Klitren ke Panti Rapih. Kondisi jalanan cukup santai, meskipun kebanyakan orang baik yang berjalan kaki, naik mobil atau sepeda motor pergi dengan terburu-buru, karena pada masa demonstrasi seperti itu setiapkali senja turun sering diadakan sweeping oleh aparat keamanan. Itu juga yang bikin aku akhirnya meninggalkan sepeda motor Suzuki Crystal di parkiran kampus. Aku titipkan ke Pak Satpam. Pak Sartono dan Pak Eko.

Sore itu udara cerah dan hangat. Aku memilih untuk berjalan lewat depan Rumah Sakit Bethesda di jalan Jenderal Sudirman yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Nyaman sekali. Lebar jalannya sekitar duabelas meter, dan trotoir atau tempat pejalan kaki sekitar tiga meter. Selain banyak pohon bangunan-bangunannya juga tertata baik. Beberapa di antaranya adalah bangunan lama peninggalan jaman Kolonial Belanda. Kalau malam hari banyak penjual makanan yang menggelar dagangannya di dalam tenda. Orang-orang biasa menyebutnya warteg, singkatan dari Warung Tegal. Kok ada kata Tegal? Aneh ya .. ha ha …. Memang sih, menurut cerita orang istilah “tegal” diambil dari orang-orang dari wilayah Tegal, Pekalongan, Pemalang, dan wilayah Pantai Utara lainnya yang gemar berjualan makanan murah di pinggir jalan. Akhirnya, siapapun yang berjualan makanan di pinggir jalan di sebut warteg.

Mereka membuka warungnya di atas trotoir. Seringkali memakan badan jalan sehingga pejalan kaki sulit lewat. Di depan Rumah Sakit Bethesda ada dua warteg yang selalu aku ingat. Pertama, warteg “ Tiga Saudara” yang menjual Sop Kaki Kambing. Dulu Pak Mok, Bude Lala, aku sering diajak Eyang Kung makan di tempat ini. Kita mesti ambil mangkok beling dan memilih lauk yang disajikan dalam sebuah baskom kaleng. Lauknya macam-macam. Ada telinga, hidung, lidah, kaki dan semua bagian badan kambing. Setelah kita pilih sang juru masak akan mencampurkan lauk dengan kuah yang diambil dari panci besar, diaduk sebentar, kemudian kuahnya dikembalikan lagi ke panci. Mungkin biar kuahnya meresap ke dalam daging. Baru setelah itu mentega nabati minyak samin Cap Onta dicampurkan sekalian dengan irisan daun bawang, garam, merica, atau bumbu lainnya, dan terakhir campur lagi dengan kuah tadi. Disajikan dengan emping mlinjo atau kalau suka boleh dicampur dengan pula dengan acar timun yang disimpan dalam toples plastik. Enak sekali. Oya, selain daging dan “teman-temannya”, ada juga lauk istimewa, yaitu otak yang disajikan dalam bungkusan daun. Makanan ini enak sekali. Tapi karena waktu itu harganya mahal Eyang Kung hanya mengijinkan satu orang yang beli, Bude Lala misalnya, kemudian dibagi-bagi … ha ha ha ….

Warung kedua adalah sebuah warung rokok berukuran sekitar satu meter kali dua meter. Bisa dipindah dengan cara didorong, seperti yang banyak kamu lihat di Jakarta. Kalau sempat ngintip, warung rokok ini di dalamnya cuma bisa muat untuk dua orang yang tiduran atau duduk dengan posisi selonjoran. Sangat sempit dan terbatas karena dipakai juga untuk menyimpan barang-barang dagangan dan tape-recorder. Kadang yang jaga warung satu orang, kadang dua orang. Biasanya mereka bergantian. Ada juga yang membawa anaknya yang kalau ngantuk ditidurkan di dalam di atas gelaran kardus atau tikar dan berselimutkan selendang atau jaket. Sebagai alat penerangan mereka memakai lampu petromaks atau lampu pijar yang listriknya diambil dari bangunan sekitarnya. Di dekat Rumah Sakit Bethesda ada juga warung seperti ini. Yang punya dan tinggal di dalamnya seorang Ibu sepuh seumuran Eyang Ning. Sederhana sekali penampilannya. Waktu terjadi kepanikan lantaran ratusan orang lari akibat saling lempar batu antara demonstran dan tentara, Ibu itu hanya bisa teriak histeris. Panik, takut, dan bingung karena tubuhnya yang lemah tidak mampu menyelamatkan diri. Waktu itu dia hanya bisa jongkok sambil menangis di antara ratusan orang yang lari sambil teriak. Untung ada orang baik yang menarik tangannya, menyuruh Ibu itu untuk menyelamatkan diri masuk ke dalam warung lewat pintu warung yang sempit. Sementara itu orang-orang masih teriak dan Ibu tua itu hanya bisa menangis pasrah di dalam.

Di halaman Rumah Sakit Panti Rapih aku masih lihat tentara berjaga-jaga di sekitar bunderan Universitas Gadjah Mada, tempat Bu Ayik sekolah dulu. Aku masuk lewat pintu depan, terus lewat taman dan corridor yang menghubungkan bangunan di sebelah utara dan selatan. Aku suka suasana corridor ini. Lantainya terbuat dari ubin semen yang semakin sering dilewati orang akan semakin mengkilap. Tiang terbuat dari kayu menopang rangka-rangka kayu atap yang kelihatan. Tidak banyak dinding penutup sehingga bisa melihat taman dan membuat suasana yang akrab dan nggak ngeri. Beberapa tahun kemudian sewaktu menunggu Eyang Ani yang sakit, setiap malam aku sering sendirian lewat corridor ini untuk beli teh di warung angkringan di depan Rumah Sakit. Setelah melewati beberapa corridor aku sampai di sebuah taman, dan melihat Pak Mok duduk termenung ditemani Oom Andi. Di tengah taman itu ada pohon Palem yang masih kecil. Bentuknya seperti botol. Aku Tanya ke Pak Mok “Siapa nama anakmu nanti?” Pak Mok dengan bercanda menjawab : Palem Botol. Aku dan Oom Andi tertawa.

Tidak lama kemudian seorang bayi lahir. Mungil dan lucu sekali. Aku menciumnya dan terasa harum alami bayi yang meneduhkan hati.
“Sapa jenenge?”
“Langit. Langit Bijak”.



***

Hari ini, tepatnya tanggal 9 April 2007 aku memperoleh sebuah puisi dari Langit yang dikirim Pak Mok lewat email. Sebuah puisi pendek. Begini bunyinya :

BUNGA

Bunga kau sunguh harum
Warnamu indah
Banyak jenismu
Ada Mawar,Melati,Anggerek dan lain-lain

Indah sekali dirimu
Pemandangan tak indah tanpamu
Ku suka bunga
KU ingin Bunga ku selalu merawatmu
taman di Indonesia banyak bunganya

Bunga....
Ku janji akan merawatmu
Ku sangat menyayangimu

LANGIT 8 APRIL 2007 MINGGU



***
Kamu menyebut bunga.
Dalam kehidupan manusia senang menggunakan kata bunga untuk mengungkapkan sesuatu hal yang mencitrakan semangat cinta, sesuatu yang dianggap menguntungkan, menggembirakan, atau sesuatu yang tumbuh dari pokoknya, membuat segala hal menjadi berkembang dan mampu melihat segala tersebut dengan indah.

Bunga adalah kasih.
Paus Johannes Paulus II sering meletakkan karangan bunga di hadapan lukisan Bunda Maria yang dibuat pada jaman Byzantium atau di bawah patung Maria Immaculatta sebagai penghormatan kepada Ibu Maria. Doa Rosario yang diberikan Bunda Maria kepada Santo Dominikus Guzman mempunyai arti mawar, dan mawar adalah bunga. Sewaktu seseorang memberikan bunga kepada seseorang yang lain, saat itu juga dia mengucapkan kasih yang mungkin tidak bisa dikatakan lewat kata-kata. Itu berarti bunga selain bermakna kasih juga bermakna doa, sepertinya halnya kita menaburkan bunga di pusara orang yang kita cintai sebagai ungkapan doa dan kasih, atau penduduk beragama Hindu di Bali yang selalu menyertakan bunga sebagai sajian kepada Yang Maha Kuasa dalam upacara keagamaannya. Tanpa disadari bunga mempunyai makna yang indah dan berharga.

Teruslah merawat bunga dan menyayanginya sampai hatimu menyatu dan kamu menjadi bunga bagi dunia. Seorang bijak mengatakan ketika melihat bunga yang indah di tumpukan sampah orang enggan untuk membuang sampah tersebut karena takut akan melukai dan mencabut bunga itu. Karena bunga tersebut tumpukan sampah menjadi sangat berharga. Ketika kamu tumbuh dewasa dan melihat segala sesuatu di dunia tidak semuanya indah dan menyenangkan : orang-orang miskin dan terlantar, pemukiman yang kumuh, dan lain sebagainya, jadilah bunga bagi mereka agar keindahanmu membuka hati banyak orang untuk tidak membuang “sampah” tersebut, tetapi menjadikannya baik. Jadilah menyatu dengan mereka agar mereka tidak tercabut karena bunga adalah milik Tuhan, sehingga tidak seorangpun berhak untuk mencabutnya. Dan melalui dirimu doa-doa setiap orang dipersembahkan.

Dipersembahkan untuk keponakan tercinta : Alesandra Langit Bijak

Wednesday, March 7, 2007

Kampung Alun-alun di Kotagede

KATA alun-alun berasal dari bahasa Belanda, aloon-aloon, yang berarti lapangan. Sangat kontras dengan ruang yang dimaknainya. Sedikit pun tidak ada lapangan pada kampung ini, selain deretan rumah berhadapan yang dipisahkan jalan selebar sekitar tiga meter.

Kampung ini merupakan bagian kecil dari wilayah Kotagede, sebuah kota tua di tenggara Yogyakarta. Lebih dari kota penghasil kerajinan perak, Kotagede menyimpan banyak misteri sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Seperti pola beberapa kampung di Kotagede yang mengingatkan kita pada ghetto, Kampung Alun-alun dilingkupi dinding (benteng) yang memisahkannya dari kampung lainnya. Hanya dua pintu gerbang di sisi timur dan barat yang menghubungkannya dengan dunia luar, dan gerbang kecil yang mempertemukannya dengan gang-gang sempit sunyi meditatif penghubung antarkampung.

Kampung Alun-alun berada di sisi selatan "pusat" keramaian, yaitu Pasar Kotagede melalui jalan utama Pasareyan. Tidak seperti penggalan beberapa wilayah di Kotagede lainnya, suasana ruang pada jalur pencapaian ini terasa lebih magis. Pepohonan tua yang rindang, reruntuhan dinding tebal berlumut yang memperlihatkan struktur bata pembentuknya, mengiringi perjalanan menuju tempat ini. Di situs sakral Kompleks Mesjid Agung Mataram terdapat dua kolam yaitu Sendang Seliran dan Sendang Kemuning, makam Panembahan Senopati, makam keluarga Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, memperkuat nilai magis dan menegaskan wilayah selatan adalah wilayah sakral.


***
MEMASUKI Kampung Alun-alun, terasa suasana hangat, akrab, dan bersih. Rumah-rumah tersebut bersusun berjajar arah timur-barat, saling berhadapan dengan ruang memanjang di tengah sebagai pemisah, yang juga berfungsi sebagai jalan umum. Skala bangunan terasa rendah dan akrab layaknya permukiman rakyat Jawa tradisional. Rasa akrab akan semakin terasa dengan mudahnya mata "menangkap" tritisan (atap pendek pelindung wajah bangunan) dan badan atap seolah begitu dekat, yang dibungkus genteng tanah warna terakota.
Beberapa bangunan masih menyimpan detail yang dalam pola pikir perancangannya sangat menghargai pertemuan antarelemen struktur dengan memberikan ornamen. Misalnya, tritisan yang menjadi penutup teras, disangga konsol kayu yaitu sistem struktur penyangga atap (yang menjadi perantara peyaluran gaya vertikal dari atap ke tiang), diukir dengan pola klasik Jawa yang jarang ditemui di rumah-rumah umumnya.

Kulit muka pada beberapa bangunan bersifat ambigu. Terdiri dari beberapa modul panel kayu fleksibel yang bisa dibongkar pasang. Suatu saat tampak tertutup masif yang hanya menyisakan sedikit lubang kecil sebagai jendela. Sebaliknya, kadang bersifat cair ketika semua modul panel kayu tersebut dibuka sehingga tampak ruang di baliknya yang bersifat semi-publik. Dalam konsep rumah Jawa, ruang ini biasa berfungsi sebagai ruang tamu atau menampung aktivitas yang sifatnya publik formal, di mana penghuni akan menunjukkan statusnya sebagai yang berkuasa. Masyarakat menyebutnya pendopo. Di sisi selatan, bangunan tidak selalu berfungsi sebagai rumah tinggal. Beberapa di antaranya adalah pelataran, ruang terbuka bersifat semi-publik dengan struktur atap berbentuk joglo. Ada yang masih asli, tetapi ada juga yang sudah dimodifikasi dengan gaya eklektik dan menyatu dengan bangunan.

Posisi lapangan ini tidak jauh dari Kampung Alun-alun. Secara logika, adanya bangunan pendopo bersifat publik di sisi selatan Kampung Alun-alun, menandakan lapangan tersebut pernah menjadi sesuatu yang penting yang menjadi fokus bagi penataan ruang keseluruhan di sekitarnya, sehingga jika ada bangunan di sekelilingnya mereka akan menempatkan area publik atau area depannya pada sisi selatan. Perlakuan ini tampaknya hendak memaknai wilayah kepemilikan masing-masing rumah tersebut. Di muka rumah yang satu kita merasakan sentuhan susunan batu kali berbentuk bujur sangkar berukuran 30X 30 cm. Di muka rumah lain terasa tatanan batu koral hitam atau semen plester abu-abu khas bangunan Kolonial, dan masih banyak lagi. Ketika terdengar bunyi dering telepon di rumah sisi selatan, dering itu disambut dengan munculnya orang dari rumah sisi utara berlari menuju rumah selatan menyeberangi jalur pemisah kampung. Seorang laki-laki menerangkan kepada kami, bahwa dulu setiap rumah berhadapan di dalam kampung ini mempunyai satu pemilik, dan penggalan jalan yang terbuka ini dapat dikatakan sebagai halaman tengah yang sebenarnya bersifat privat dan berfungsi sebagai penghubung antarbangunan. Ruas jalan ini menyatu dengan teras yang mempunyai ukuran beragam. Ada yang bisa menampung seperangkat kursi tamu dan menampung manusia cukup banyak, beratapkan kanopi cukup luas pula sehingga ruang yang dinaunginya terasa dingin dan sejuk. Beberapa lainnya lebih sederhana, hanya berbentuk pembatas samping badan jalan (buk) setinggi 40 cm dan beratapkan tritisan pendek.
Pada bagian muka bangunan dengan teras besar terdapat pintu ganda berukir pada daunnya, yang merupakan pintu masuk utama ke rumah induk. Seperti ornamen yang memberi makna lebih pada elemen struktur, ukiran pada pintu menunjukkan bangunan ini menyandang strata penting pemiliknya. Barangkali dulu merupakan rumah tinggal pembesar. Hal itu dipertegas dengan pemakaian atap joglo. Pada konsep rumah Jawa hanya bangunan pentinglah yang memakai atap joglo.

Sore hari, aktivitas beristirahat berganti menjadi aktivitas keluar yang lebih sibuk. Serombongan orang dari luar kampung melintas, beberapa sambil menuntun sepeda motor. Sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai toko kerajinan perak di sisi timur mulai berkemas tutup. Sebaliknya, rumah yang berdekatan dengan pintu masuk kampung sebelah barat yang berfungsi sebagai biro jasa pemotretan tetap menjalankan aktivitasnya. Tampak bahwa kampung ini sering dijadikan jalur pintas bagi penduduk sekitarnya. Dan halaman tengah yang privat memang telah berubah menjadi jalan umum. Tidak heran jika beberapa penduduknya tanggap untuk menjadikan area komersial.

Terlepas dari ikatan sejarah yang mengiringinya, saat ini Kampung Alun-alun merupakan sosok yang mampu menjadi penyeimbang bagi perubahan budaya yang semakin global. Eksistensi ruang dan bangunan di dalamnya adalah museum yang menjadi wacana bagi perkembangan arsitektur. Di dalam kebisuan itulah terdapat kesadaran dan penghargaan yang tinggi terhadap hasil budaya masa lalu dan lingkungan. Dengan bertahannya eksistensi bangunan lama berikut kehidupan di dalamnya, saat ini ketika masyarakat dibingungkan dengan wacana arsitektur dengan simbol-simbol yang semakin global bahkan nyaris kehilangan identitas, Kampung Alun-alun muncul untuk menjelaskan pentingnya identitas yang berakar dari budaya sendiri. Sebuah budaya yang telah mengalami proses panjang pematangan yang bermuara pada keharmonisan antara manusia pengguna dan lingkungannya. Antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sebuah produk arsitektur yang sarat dengan nilai kemanusiaan.


---
dimuat di Koran Kompas Minggu, 30 Juni 2002 - http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/30/iptek/kamp15.htm

Paham Modern dan Arsitektur Indonesia

KALAU saat ini membaca literatur mengenai perancangan arsitektur di Indonesia dan beberapa bidang perancangan lainnya akan sering ditemui dua kata ini : klasik dan modern. Dua kata itu begitu sering muncul, seakan sudah mewakili nilai-nilai arsitektur yang ada saat ini. Khususnya tentang paham modern dalam arsitektur. Nilai ini begitu diagungkan oleh mereka yang menyakininya dan dianggap sebagai tolok ukur lifestyle dan kreatifitas. Berbekal keyakinan tersebut mereka melontarkan kritik terhadap nilai yang dianggap berseberangan, yaitu klasik, tradisional, atau berbagai aliran yang bagi mereka tidak mengikuti jaman. Seperti kita tahu, modernisme lahir dari situasi yang penuh keprihatinan dan keterpurukan akibat perang Dunia I dan II di Eropa. Hancurnya kota-kota dan rusaknya sistem perekonomian membuat masyarakat mengubah pandangannya dalam mempertahankan dan membangun kembali tatanan kehidupan. Kata-kata seperti simple, efisiensi, fungsional, fleksibilitas, anti-ornamen dipahami sebagai konsep dalam berarsitektur yang ‘harus’ ditaati para arsitek. Bentuk dan estetika hanyalah akibat yang diolah berdasarkan kemampuan material. Bukan yang bersifat tempelan atau kosmetik. Dengan demikian terbaca bahwa apa yang menjadi dasar pemikiran mereka adalah sistem, bukan estetika, yang diungkapkan melalui teknologi bahan dan konstruksi, mekanikal-elektrikal, ukuran, fungsi, sekuens ruang, furniture, dan beragam lainnya. Dengan instrumen tersebut arsitektur dijaga agar tetap menjalankan perannya sebagai wadah aktifitas dalam konteks hemat biaya sesuai dengan tuntutan jaman saat itu. Modernisme juga sering dikaitkan dengan Jepang. Bangsa ini pernah mengalami keterpurukan yang sama dengan Eropa. Dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang yaitu teknologi yang sangat maju, etos kerja dan tingkat kompetisi yang tinggi, mandiri dan percaya diri, efisien dalam memanfaatkan waktu dan tempat. Pada dekade 90-an dunia arsitektur mengenal nama seperti Tadao Ando, Kazuyo Sejima, Kengo Kuma, dan beberapa arsitek modern Jepang lainnya sejajar dengan nama-nama dari benua lain yang muncul lebih dahulu, seperti Mies Van De Rohe dan Le Corbusier. Di Indonesia para arsitek tersebut mempunyai tempat di hati praktisi dan pemerhati arsitektur.

Karya-karya mereka yang sering disebut berjiwa Zen, hening, dingin, puitis mengilhami banyak arsitek modernis. Karya-karya yang mencerminkan budaya disiplin tinggi dan presisi. Dengan karya-karyanya tersebut mereka dianggap mewakili keberadaan Jepang di dunia dalam bidang rancang-bangun yang oleh para kritikus sering disebut bergaya modern-minimalis. Berabad-abad yang lalu, jauh sebelum Jepang tumbuh menjadi modern seperti sekarang spirit Zen sudah mengakar di kehidupan mereka dalam lingkungan yang tumbuh secara tradisional. Mereka tinggal dalam naungan bangunan-bangunan berukir indah dengan beragam tatacara kehidupan. Jika dilihat lebih dalam spirit Zen ini (yang dikaitkan dengan karakter modern seperti yang muncul pada buah karya arsitek Tadao Ando dan kawan-kawan) sejatinya tidak hadir melalui rupa bentuk tetapi lebih kepada sistem kehidupan spiritual yang menjaga keseimbangan tatanan kehidupan terhadap sesama dan lingkungan yang lebih besar. Begitu juga dengan keharusan beradaptasi dengan kondisi alam yang cukup keras. Masyarakat Jepang sudah mempunyai bibit tersebut selama berabad-abad yang semakin tumbuh dengan adanya peristiwa pada akhir perang dunia II. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa modernisme tidak selalu identik dengan sesuatu yang simple secara visual, tetapi lagi-lagi harus dipahami sebagai sebuah sistem. Hal ini juga ditunjukkan dengan keragaman bahasa dan gaya pada arsitektur modern, baik di Jepang maupun di negara Barat. Setelah masa krisis berhasil dilalui terjadi pergeseran pemahaman tentang konsep modern. Kondisi ekonomi yang membaik menumbuhkan kembali apresiasi masyarakat akan arsitektur yang sebelumnya sempat hilang. Modernitas tidak lagi dianggap sebagai nilai yang paling benar. Sebaliknya apresiasi terhadap yang irasional yang diungkapkan melalui estetika, unsur dekoratif dan ornamental yang membangkitkan kenangan dan sejarah juga dianggap perlu. Tetapi di dalam pergeseran tersebut tetap ada yang tertinggal dari semangat modern, misalnya kesederhanaan, efisiensi, dan ketepatan yang justru semakin eksis dengan didukung teknologi maju. Dasar-dasar semangat modernisme tetap terjaga dan mengakar dalam kehidupan.

Kembali ke dunia arsitektur di Indonesia.
Dalam diskusi-diskusi yang terjadi baik di kalangan masyarakat awam maupun praktisi arsitektur, pengucapan kata modern lebih sering terjadi pada lingkup pemahaman estetika. Para arsitek modernis juga sering ‘terjebak’ dalam pemahaman ini. Membuat dan menjelaskan ide-ide modernitas tanpa diikuti dengan semangat yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Karena sejujurnya masyarakat Indonesia belum pernah merasakan kehancuran seperti yang dialami masyarakat Eropa dan Jepang. Sebuah peristiwa yang membangkitkan pola pikir rasional dan sistematis yang menempatkan kebutuhan sebagai nilai utama dan bukan keinginan. Salahsatu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami pemikiran modern dalam konteks kondisi Republik ini adalah dengan mengambil nilai dasar pemikirannya yaitu kebutuhan, yang begitu erat hubungannya dengan masyarakat marjinal, yaitu mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam merekalah banyak kebutuhan mendasar yang harus dipecahkan termasuk melalui media arsitektur, ialah mencukupi hunian murah pada lahan yang terbatas. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia dua tahun yang lalu, arsitek Han Awal menjelaskan bahwa dalam perkembangan pasca-modern begitu banyak arsitek muncul dengan beragam bahasa masing-masing. Tetapi, di dalam keberagaman tersebut tetap ada sebuah benang merah yang menyatukan yaitu paham modernisme yang awalnya disampaikan oleh para pengajar di Bauhaus kepada para mahasiswanya menular sampai kepada para arsitek generasi berikutnya baik di Jerman sendiri maupun di beberapa negara lainnya, bahkan di negara yang belum banyak terkena arus modernisasi sekalipun. Para arsitek generasi baru tersebut tentu lahir dalam situasi yang berbeda. Yang terlahir di negara modernpun merasakan nilai-nilai tersebut sebagai turunan kesekian dari nilai modern yang sesungguhnya. Modernisme diadopsi sesuai dengan kondisi kultur masing-masing, sehingga muncul gejala-gejala baru. Sebagai contoh adalah Art-Deco yang muncul di era Rationalism pada tahun 1920-an. Di Indonesia dikenal sebagai langgam Kolonial karena kehadirannya berkaitan dengan masa-masa kolonialisme. Beberapa bahkan menyebut klasik karena jelas sekali penggunaan kaidah-kaidah klasik dalam pengaturan komposisi dan skala bangunan. Semua gejala tersebut meyakinkan bahwa paham modern ‘hanya’ sebuah konsep. Sebuah solusi bagi permasalahan yang dipecahkan secara efisien dan cerdik. Ketika para arsitek meletakkan asas-asas tersebut ke dalam nilai-nilai lokal akan terjadi sebuah bentuk baru. Modernitas tidak lagi dipahami secara murni, tetapi lebih kepada perannya sebagai ‘penyegar’, sehingga muncul berbagai langgam seperti modern-classic, modern-ethnic, neo-modern, dan beberapa langgam lainnya. Itulah yang terjadi di dunia, dan tumbuh subur terutama di negara yang belum memiliki budaya modern dalam arti sesungguhnya, seperti di Indonesia misalnya. Setiap bangsa mempunyai keunikan budaya dengan permasalahannya. Sudah selayaknya jika arsitektur tidak sekedar dijadikan ajang perdebatan paham terlebih pada level estetika. Alangkah lebih baik energi yang ada dipakai untuk mengembangkan keunikan nilai-nilai lokal dan mengolah sensitifitas terhadap kebutuhan masyarakat saat ini, sehingga arsitektur lebih mempunyai peran bagi kota bagi dunia.
---

Fungsi pada Rumah Tinggal

FUNGSI. Kata ini sangat erat dengan pandangan modern yang lahir di Eropa akibat perang dunia I dan II. Hancurnya kota, hunian, fasilitas umum, dan perekonomian membuat masyarakat Eropa harus berhitung secara cermat dalam membangunnya kembali. Fungsi menjadi salahsatu dasar utama dalam perancangan.

Di dalam dunia akademik di Indonesia pada akhir 1980-an, functionalism sering menjadi bahan ejekan karena dianggap mematikan kreatifitas. Kritik terhadap paham ini adalah dinilai tidak memberi ruang gerak bagi sisi lain kehidupan seperti identitas budaya untuk diterjemahkan dalam arsitektur. Produk yang dihasilkan berupa ruang terkotak-kotak dengan bentuk yang terjadi akibat susunan ruang yang diatur seperlunya. Di Indonesia kesalahpahaman akan functionalism terjadi akibat kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai intelektual pada arsitektur. Bagi kebanyakan orang arsitektur dipandang sebagai produk teknis-konstruktif sarat dengan perhitungan matematis. Dan fungsi tidak dipandang dari sudut lain kecuali sekedar mewadahi kebutuhan dasar seperti tidur, makan, berkumpul, dan lain-lain. Hanya beberapa saja yang mengerti bahwa dibalik beban konstruktif yang disandang arsitektur mengemban nilai humaniora yang besar dimana setiap kebutuhan harus ditelaah lebih dalam dari segala sisi kehidupan yang dimiliki pengguna. Booming real estate turut memperkuat anggapan keliru tersebut. Banyak rumah dibangun sebagai komoditas bisnis dengan modul dan program ruang standar, juga estetika bersifat kosmetik sekedar tampil menawan. Hal itu dilakukan tentu dengan tujuan mencari keuntungan. Ironisnya, cara tersebut menjadi acuan bagi masyarakat dalam memandang sebuah rumah tinggal. Fungsi yang sebenarnya menjadi dasar pemikiran dalam sebuah proses perancangan menjadi rendah kedudukannya.

Tetapi benarkah fungsi tidak memberi ruang gerak kepada kreatifitas? Rasanya tidak. Lihatlah beberapa pemikiran arsitek seperti Alvar Aalto misalnya yang sangat memikirkan secara matang fungsi dan program ruang pada karyanya. Bahkan, dalam sebuah pengantar untuk beberapa karyanya yang dipamerkan di Museum Nasional Jakarta akhir-akhir ini disebutkan bahwa jika kita termasuk orang yang menghargai fungsi akan mudah menyerap pemikiran pada karya-karya arsitek Finlandia tersebut.

Tidak berhenti di situ. Keindahan alam Finlandia pada proyek Villa Mairea misalnya, disikapi sebagai unsur positif untuk memperkaya fungsi yang ada sehingga muncul penataan ruang yang tidak sekedar terkotak tetapi mempunyai dialog dengan alam dengan alur dan suasana ruang yang kaya.

Seperti layaknya bangsa Eropa yang terbentuk atas perkembangan budaya yang intens sejak ribuan tahun yang lalu Alto memiliki semangat craftmanship. Baginya estetika dan detail harus dimaknai secara mendalam dan diolah dengan serius. Hal tersebut tercermin dari caranya mengolah elemen struktur, detail tangga, pintu, dinding, dan lainnya secara artistic dan spesifik.

Dengan cara yang tidak jauh berbeda arsitek Eko Prawoto pada proyek rumah tinggal bagi pasangan seniman tari di Yogyakarta ‘mempertanyakan kembali’ makna ruang tamu yang dalam pandangan masyarakat umum selama ini selalu berada di bagian depan rumah di antara beberapa ruang seperti ruang tidur utama dan ruang keluarga. Ruang tamu dirancang sebagai sesuatu yang luwes mudah berganti peran menjadi aula untuk menari atau tempat berkumpul dan berdiskusi. Suasananyapun berkesan informal. Sebagian dilingkupi dinding masif namun masih menyisakan celah sehingga memungkinkan kontak visual dan suara dengan lingkungan luar. Ruang tidur bahkan tidak terdapat di lantai dasar. Semua ruang yang bersifat pribadi di tempatkan di lantai atas yang dihubungkan dengan sebuah koridor menghadap lingkungan pedesaan di sekelilingnya.

Contoh di atas menjelaskan bahwa fungsi bukan sebuah benda mati. Dia adalah syarat dasar dari arsitektur sebagai produk desain yang harus mampu mewadahi kebutuhan penghuninya. Dan kebutuhan sebagai unsur pembentuk fungsi sebetulnya menawarkan keunikan yang lahir dari karakter manusia penggunanya yang selalu berbeda pada setiap individu, sehingga jelas tidak mungkin diperlakukan secara kaku.

Indonesia sebagai bagian dari bangsa Asia mempunyai kualitas pemahaman filosofi dan etetika yang tinggi. Segala hal disikapi secara hati-hati dan penuh makna sehingga seringkali mengaburkan rasionalitas. Seperti saat ini misalnya, dalam konteks yang berbeda dengan yang dialami masyarakat Eropa setelah perang dunia, Indonesia bisa dikatakan tengah mengalami proses modernisme sesungguhnya akibat tekanan ekonomi dimana banyak sisi kehidupan harus dirasionalisasi dan dihitung cermat. Begitu juga dalam merancang hunian, khususnya bagi pengguna yang memiliki lahan dan dana terbatas. Untuk mengemas agar huniannya tampak lebih indah seringkali menggunakan cara mengutamakan estetika dan menganggap kebutuhan serta fungsi ruang cukup seadanya. Produk yang dihasilkan tampak indah tetapi kurang mewadahi kebutuhan sebagai personal yang unik. Gejala yang cukup memprihatinkan saat ini adalah pemahaman akan kemewahan sebuah rumah dinilai dari penampilan dan mahalnya material yang digunakan demi sebuah status. Persepsi ini seharusnya dibalik. Kebutuhan harus diutamakan, kemudian ditelaah sesuai kehidupan saat ini dan mendatang. Dikaji apakah sesuatu yang diinginkan merupakan kebutuhan ataukah keinginan? Diperlukan atau tidak diperlukan? Sehingga memberikan pandangan akan fungsi ruang yang tidak kaku namun sesuai dengan karakter penghuni. Seperti halnya rumah sepasang penari karya Eko Prawoto. Jika berbagai kebutuhan dapat dikemas dalam satu fungsi kenapa tidak, sehingga lahan yang terbatas tidak habis dan masih tersisa untuk meletakkan unsur lain yang memperkaya ruang. Estetika, pada akhirnya nanti ketika kondisi keuangan semakin membaik dapat diterapkan. Tetapi suasana ruang dengan fungsi yang mewadahi karakteristik penghuni sudah benar dahulu. Untuk mencapai itu semua dibutuhkan keberanian dan kejujuran terhadap diri sendiri akan kebutuhan, pemahaman akan kehidupan manusia bahkan terhadap diri sendiri.

---


Tuesday, March 6, 2007

Puri Brata

Awalnya, di tanah tempat kompleks ini didirikan berdiri sebuah ndalem, yaitu bangunan rumah tinggal tradisional Jawa lengkap milik keluarga Brotosoedibjo. Atas gagasan Romo Rohadi Widagdo, seorang Rohaniwan Katolik yang juga merupakan kerabat keluarga, ndalem yang ada dikembangkan menjadi sebuah ‘area meditatif’ untuk menampung kegiatan rohani yang terbuka untuk semua agama, kegiatan spiritual lainnya, atau bahkan seperti hal yang sederhana, yaitu memberi tempat bagi seseorang yang sekedar membutuhkan keheningan. Semua dikemas dalam konsep Back to Nature. Di tempat ini pula masyarakat setempat akan diberi kesempatan untuk bekerja dan mengembangkan diri. Mereka berperan sebagai tukang, sebagai waiter, dan sebagai pengrajin dimana mereka diberi kesempatan menjual hasil kerajinan di Gallery yang sudah disediakan dengan sebelumnya diberi pembinaan dahulu tentunya.

Ruang dan Bentuk

Dalam rancangannya, di dalam lahan seluas lebihkurang 6000 m2 ini arsitek menetapkan pembagian area yang diatur berdasarkan pemahaman masyarakat tradisional akan arsitektur. Tentang hubungannya dengan Tuhan, alam, dan sesama sesuai dengan jiwa kegiatan rohani yang dikandungnya. Bagi tim perancang tampaknya tidak terlalu sulit menerjemahkan filosofi tersebut ke dalam rancangan mengingat sebelumnya mereka pernah hidup dan berkarya dalam kurun waktu cukup lama di Pulau Bali, sebuah tempat yang dikenal masih memegang akar budaya tradisional dengan kuat termasuk dalam penataan lingkungan binaan. Dan mengenai Bali ini cukup membuat salah seorang dari tim arsitek khawatir. Sempat terlontar pertanyaan apakah proyek yang dikerjakannya ini terlalu ke-Bali-balian, mengingat beberapa unsur fisik arsitektur Bali jelas tampil dalam rancangannya. Seperti adanya Kul-kul, sistem terasering yang digunakan untuk menciptakan perbedaan ruang dan privacy melalui permainan ketinggian lantai, atau beberapa unsur yang mempunyai kaitan dengan karakter tradisional Bali lainnya sedangkan lahan dimana proyek mereka kali ini berpijak mempunyai nafas budaya yang berbeda. Dengan demikian mereka lebih bersikap untuk memadukan kedua unsur budaya tersebut dan mempertegas suasana alami sebagai benang merah karena unsur alam Bali maupun Jawa tidak terlalu berbeda.

Ada tiga hirarki ruang dalam kompleks ini yang mengatur tingkat privacy. Pertama, ruang dengan tema Hubungan Manusia dengan Manusia. Di tempat ini interaksi antar penghuni atau penghuni dengan pengguna lainnya mempunyai prosentase yang lebih besar dibanding dua ruang setelahnya. Di ruang ini juga terdapat fasilitas publik seperti Gallery cinderamata, Amphitheatre, dan Restaurant. Kedua, ruang dengan tema Hubungan Manusia dengan Alam; dan ketiga, Manusia dengan Tuhan. Di dalam kedua area ini suasana hening lebih terasa.

Material

Hunian pada kompleks ini dirancang berbentuk bungalow dengan tipe standar dan family. Beberapa di antaranya terdiri dari dua lantai. Dibentuk dengan gaya tradisional, menggunakan teknologi tradisional, memanfaatkan material lokal dengan pemecahan detail tradisional pula. Seluruh badan bangunan seakan ‘terukir’ oleh material alam layaknya bangunan klasik. Jarang sekali ada bidang polos-kosong sebagai penyeimbang. Dari cara-cara tersebut terbaca cara pandang perancang dalam memaknai keseimbangan pada estetika arsitektur yaitu penyatuan total terhadap lingkungan.

Dua statement terbaca pada bahasa material yang disampaikan, baik dalam pemanfaatan, pengolahan, dan perlakuannya yang terjaga konsistensi ide-ide dialogisnya terhadap masyarakat dan lingkungan. Pertama, penggunaan material lokal seperti bambu, kayu, batu kapur, genteng tanah liat memberi kesan membumi, mengakar pada karakter geografis dimana bangunan tersebut berdiri, menimbulkan harmoni bagi masyarakat sekitar; kedua, melalui karakter material yang rustic arsitek memberikan ruang gerak bagi pekerja-pekerja bangunan yang berasal dari penduduk setempat. Mereka, pada umumnya adalah pekerja tradisional yang tidak terbiasa dengan pekerjaan dengan tingkat presisi yang cukup tinggi. Sesuai dengan sifatnya yang alami dan didukung dengan konsep yang menempatkan bangunan secara kontekstual, material-material tersebut jika disandingkan dengan kemampuan tukang yang terbatas bisa menjadi ‘benar’.

Beberapa material yang digunakan, meskipun merupakan material lokal, dalam penerapannya tampaknya dipandang sesuatu yang baru oleh para pekerja setempat.Teraso digunakan sebagai bahan penutup lantai kamar tidur dan meja wastafel di kamar mandi. Bukan berbentuk tile tetapi dibuat dengan sistem cor seperti lazimnya orang membuat lantai dari semen. Begitu pula dengan material yang digunakan sebagai penutup area outdoor seperti tangga dan teras dibuat dengan sistem cetak negatif dengan cara memasukkan campuran bubuk batu dengan semen dan air pada cetakan berukuran 30 x 30 cm dengan sebelumnya memberikan daun, akar, atau benda lain yang ingin ditampilkan sebagai pola pada permukaannya. Kedua teknik tersebut merupakan ilmu baru yang mereka peroleh, sedangkan paduan batu candi dan batu koral yang digunakan sebagai penutup dinding dan lantai kamar mandi, dan pancuran bambu pada kamar mandi memberikan wacana baru dari segi estetika penataan material dan alternatif material pembentuk ruangan yang berbeda dengan yang mereka kenal selama ini.

Tinggal di Puri Brata berarti harus paham betul akan misi yang dibawanya, yaitu ketenangan yang menyatu dengan lingkungan. Tidak ada fasilitas layaknya penginapan mewah, seperti kolam renang atau televisi misalnya, termasuk makanan yang disediakan. Semua tampil sederhana. Teh tubruk dan pisang goreng, menu tradisional untuk makan pagi, atau menikmati nasi goreng di sebuah rumah makan desa di malam hari. Sangat khas.

Secara keseluruhan atmosfer di dalam kompleks ini terasa sangat eklektik dan romantis. Tetapi dibalik itu tercermin sikap positif arsitek yang dengan hati-hati mencoba melakukan dialog atas apa yang dipahaminya selama ini dengan budaya baru yang ditemuinya. Hal ini perlu dilakukan agar karya yang terbangun tidak menjadi benda yang asing bagi lingkungannya. Lebih dari itu, ada sikap pembelajaran kepada masyarakat setempat mengenai makna sebuah rumah, manfaat material lokal, dan nilai tradisional bagi konteks saat ini karena sejujurnya, apa yang dibuat oleh tim arsitek ini bukan hal yang baru bagi masyarakat setempat. Mandi di pancuran di lingkungan alami atau tinggal di rumah yang menyatu dengan alam, dan berbahankan material alami pula. Tetapi, kadangkala hal seperti ini perlu dibuat (tentu dengan beberapa pembaruan di dalamnya) untuk mengingatkan kembali kebanyakan masyarakat terutama masyarakat pedesaan yang saat ini tidak lagi memandang bangunan tradisional sebagai sesuatu yang berkualitas. Mereka lebih menginginkan tinggal di omah gedhong. Rumah berdinding bata, pilar Yunani, dengan jumlah, ukuran, dan posisi ruang seperti yang ditawarkan pada perumahan umum standar.

Tradisional tidak selalu identik dengan masa lalu dan kuno. Selalu ada informasi di dalamnya yang bisa dikembangkan untuk disesuai dengan fungsi yang dibutuhkan saat ini. Dan ini sudah dilakukan oleh beberapa negara maju. Mengembangkan teknologi, kekuatan material, sense of space arsitektur tradisional, sampai perilaku manusianya untuk diterapkan dalam sistem kehidupan yang lebih moderen. Keduanya merupakan satu rangkaian proses. Nilai arsitektur lama akan terus melengkapi dan memperkaya perkembangan arsitektur selanjutnya karena arsitektur tradisionalpun pernah menjadi moderen di jamannya.

---