Tuesday, September 6, 2011

Cika, Aku [Mencintaimu]: Dekonstruksi, Posmodernisme, dan Cinta

Manusia sekarang hidup dalam era posmodern. Posmodern hadir mengkritik paradigma modern yang hadir sebelumnya. Modernisme menciptakan kebenaran universal dengan sifatnya yang monoton, positivistik, rasionalistik, dan teknosentris. Hal ini sama saja dengan membelenggu kebebasan, dan oleh karenanya dianggap gagal menyelesaikan proyek pencerahan. [1]

Dekonstruksi, salah satu aliran filsafat posmodern yang dikembangkan oleh Jacques Derrida, memiliki watak yang bertolak belakang dari modernisme, yaitu lebih mementingkan emosi daripada rasio, mementingkan media daripada isi, tanda dan makna, kemungkinan daripada kepastian.[2] Dekonstruksi mengkritik modernisme, terutama dalam menciptakan kebenaran universal. Bagi Derrida dunia penuh ketidakpastian, sehingga tidak perlu ditentukan sebuah kebenaran. Ketidakpastian harus dirayakan dan digali lebih dalam makna-maknanya. Manusia berhak menafsirkan konteks kehidupannya secara bebas, guna menemukan makna baru sebagai alat untuk berhadapan dengan kehidupan yang selalu berubah. Sebagai upaya pembebasan, dekonstruksi hidup subur di tengah maraknya ketidakpastian dunia. Dengan dukungan kemajuan ekonomi dan media informasi, dekonstruksi mendapatkan wadah ‘menyuarakan asiprasinya’ lewat bidang-bidang yang bersifat kreatif dan ‘lentur’ dari kepastian, seperti seni, sastra, desain, dan arsitektur.

Dekonstruksi juga hadir dalam diri manusia yang bertanya akan dirinya dalam menghadapi ketidakpastian dunia. Dekonstruksi bermain dalam tataran refleksi dengan cara menunda kebenaran, dan menggali makna-makna baru dari sebuah pengalaman. Misalnya menggali makna cinta yang menjadi kegelisahan dan pertanyaan manusia posmodern. Hasilnya bukan sebuah kesimpulan. Dekonstruksi tidak menawarkan kesimpulan dan kepastian apapun, kecuali data berupa makna baru yang harus ditanggapi secara bebas. Melalui tulisan ini saya mencoba menjelaskan bagaimana dekonstruksi hidup dan bergerak memperbarui makna cinta.

Dekonstruksi

Sejarah filsafat barat menyebutkan orang-orang yang tidak pernah puas dengan kemapanan, baik sistem yang mengatur kehidupan maupun cara berpikir. Mereka mengkritik kemapanan, bahkan jika itu dikemas dalam wujud filsafat sekalipun. Dekonstruksi, sebuah teori yang dibentuk oleh Jacques Derrida, adalah salah satunya. Jacques Derrida lahir di Algerian, Perancis pada tahun 1930. Dia memperoleh pendidikan di Ecole Normale Superieure dan Harvard University. Pandangan filsafatnya dipengaruhi oleh Sartre, Husserl, Heiddeger, dan Saussure. [3]

Pengaruh Modernisme

Ketika teori ini muncul, Eropa sedang dilanda Postmodernism, di mana Derrida sendiri dikenal sebagai seorang salah seorang tokoh yang berpengaruh di dalamnya. Teori yang kemunculannya dipelopori oleh arsitektur ini mencoba menggali lagi identitas manusia yang sebelumnya, karena pengaruh modernisme, menjadi seragam. Perang dunia I dan II membuahkan kehancuran hampir di seluruh Eropa, termasuk kehancuran ekonomi, kota, serta ruang-ruang tempat manusia bekerja dan melangsungkan kehidupan.

Adalah Bauhaus, sebuah sekolah yang didirikan di Wiemar Jerman (1919), yang turut menyumbang konsep infrastruktur baru untuk membangun kembali tata kehidupan masyarakat Eropa yang hancur, terutama di Jerman. Dengan tetap mengedepankan semangat pencerahan yang menganggap manusia sebagai pusat dari alam, mereka berpendapat teknologi adalah alat terbaik untuk melangsungkan kehidupan. Segala hal di luar rasio dan bersifat romantis ditolak dengan alasan ekonomi, simbol, sejarah, dan identitas budaya. Mereka menciptakan ruang dan nilai-nilai dengan gaya layaknya mesin yang serba fungsional dengan gaya bercorak teknologis-matematis. Gaya tersebut dianggap yang paling benar dan layak diterapkan di belahan dunia manapun. [4]

Namun, tiba saatnya kondisi ekonomi mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat, begitu pula kemampuan apresiasi. Manusia mulai merindukan nilai-nilai yang tidak lagi sekedar fungsional. Di titik ini posmodernisme hadir dengan sikap mandiri. Berawal dari arsitektur, posmodern berkembang mempengaruhi sastra dan sendi-sendi kehidupan lainnya. Tetapi meskipun berupaya menggali kembali identitas, tampaknya posmodern tidak ‘melepaskan kedua kakinya’ dari paham modern, setidaknya pada nilai rasionalitas. Tetapi paham kebenaran yang bersifat universal ditolak. Sebagai gantinya kebenaran dianggap ada pada ruang pribadi masing-masing tanpa merasa perlu berdialog dengan perbedaan. Dengan demikian tercipta individualisme.

Identitas ditempatkan sebagai simbol belaka, tetapi dirinya tetap bentukan dari struktur modern. Maka tak heran, di mata para pembencinya, posmodern tidak lebih dari sekedar topeng dan fashion belaka. Dalam memandang fenomena empiris, para pemikir posmodern memandang rendah pengaruh dari luar diri manusia. Misalnya, ketika manusia berbicara, kata dan kalimat yang diucapkan hanya menjadi kata dan kalimat belaka. Tidak ada pengaruh apapun dari ruang dan waktu yang dilaluinya. Bahasa dan teks saling tumpang tindih. Tidak perlu ada sebuah ‘kesimpulan’.

Jadilah Bebas!

Di antara filsuf posmodern, Jacques Derrida termasuk salah seorang yang memberi pengaruh. Dengan menolak nilai transendental, Derrida bermaksud mengkritik filsafat metaphysics of presence (metafisika kehadiran) yang membungkus pemikiran filsafat barat. Metaphysics of presence adalah tradisi dalam filsafat yang berpikir akan sesuatu yang belum tentu ada, tetapi diyakini keberadaannya, bahkan dipastikan. Sikap memastikan ini yang ditolak oleh Derrida, yang dia katakan sebagai Logocentris. Kecenderungan metafisika barat adalah membangun sebuah kepastian. Bagi Derrida hal ini bertolak belakang dengan kenyataan, bahwa realitas selalu berubah dan bergerak. Dengan demikian Dekonstruksi tampil dengan wajah skeptis dan antifondasional, seperti halnya David Hume dan Nietzche. Namun demikian, Derrida menolak sikapnya disebut perusakan (destruction) seperti yang dilakukan oleh Heiddeger terhadap filsafat Hegel dan Husserl. Dia lebih memilih kata pembongkaran (deconstruction), di mana unsur metafisika tidak seluruhnya dihilangkan. [5]

Pada dasarnya Derrida adalah seorang pemikir konservatif yang menghormati sejarah dan tradisi dengan dasar sikap yang disebutnya sebagai double-gesture, yaitu semacam tegangan dalam diri sendiri, antara penghormatan dan pelecehan, kesetiaan dan pelanggaran, ikatan dan kemerdekaan, description dan transformation. Baginya kehidupan (politik, moral, etika, budaya, filsafat, bahasa, agama, nasionalisme, identitas, dan lain sebagainya) selalu bergerak dan berubah di antara tegangan atau double-gesture. [6]

Untuk itu manusia hendaknya bersikap bebas dalam menanggapinya, bahkan terbuka untuk memikirkan ulang maknanya. Bebas berarti boleh melakukan apapun, sejauh manusia tidak menolak kebebasan itu sendiri yang diberikan kepadanya. Dengan bersikap bebas manusia akan menemukan nilai-nilai baru. Bahkan, nilai baru yang ditemukan perlu dipikir ulang lagi, diperdalam lagi maknanya, sehingga kemudian ditemukan makna yang lebih baru lagi; sebuah pencerahan yang selalu baru (new enlightenment). [7]

Teks

Karya-karya Jacques Derrida difokuskan pada bahasa dan tulisan. Kebebasan dilakukan dengan mengkaji ulang teks. Derrida menolak anggapan bahwa teks adalah sekedar kata atau bahasa. Teks, dalam bahasa dekonstruksi, merupakan jalinan (diambil dari kata textere, bahasa latin; ‘tenunan’) yang memiliki banyak dimensi untuk dipahami. Teks adalah dampak dari rekam-jejak kehidupan (konteks). Di tangan dekonstruksi, teks menjadi demikian hidup dan jujur pada dirinya. [8]

Konteks

Dekonstruksi menempatkan konteks sebagai sistem yang berhubungan dengan teks dan memberinya perhatian secara tajam. Konteks adalah dasar yang membuat teks memiliki arti. Konteks adalah fondasi bagi struktur (teks) dan bangunan bahasa secara keseluruhan. Jika fondasi melenceng dari konsep yang sudah ‘’ditentukan’’ pada dirinya, maka struktur dan bangunan bahasa pun akan melenceng pula. Konteks adalah lebenswelt, dunia atau kehidupan dengan segala unsur pembentuknya: kehidupan, kenyataan, sejarah, obrolan, diskusi, dan lain sebagainya. Suatu konteks harus terus diteliti dan dijaga, agar tetap seperti apa adanya dirinya, juga dalam pengembangannya. Tidak boleh ada makna yang dibiarkan lepas dari konteks. Dengan tidak membiarkan konteks dipengaruhi nilai-nilai di luar dirinya, maka akan menjadi dasar yang kuat bagi munculnya teks yang jujur pada dirinya. [9]

Differance

Artinya adalah ‘kata dalam kata’, yang berasal dari bahasa Perancis, namun tidak terdapat dalam kamus. Derridalah penciptanya. Diambil dari kata dalam bahasa Inggris; difference, yang berarti perbedaan, dan kata differer. Kata differer memiliki dua arti; pertama bersifat intransitif, yang mempunyai arti ‘bertolak belakang’. Yang kedua bersifat transitif, yang berarti menunda atau menangguhkan. Kata differance merupakan penggabungan kedua kata asal tersebut, sehingga mengacu pada makna penangguhan dan pembedaan waktu. [10]

Differance juga berbicara tentang pembalikan sebagai konsekuensi menunda makna, seperti benar sekaligus salah, baik sekaligus jahat, dan hitam sekaligus putih. Dalam dekonstruksi gejala ini selalu hidup dan ada, tetapi tidak seperti konsep metafisika barat. Derrida melihat dua masalah dalam konsep ‘ada’ menurut metafisika barat (metaphysiscs of presence), yaitu :

  1. Pengertian ‘ada’ tidak semudah yang dibayangkan. Dia menolak gagasan ‘ada’ sebagai present. Present dalam pengertian ‘saat’ (here and now) mengandaikan, bahwa sesuatu bisa dikenali. Sedangkan bagi Derrida manusia tidak bisa mengenali secara pasti apa yang terjadi di masa lampau dan masa depan. Untuk memperoleh suatu pengetahuan, manusia mengandalkan pengalaman perseptual saat ini.
  2. Kedua, konsep ‘ada’ menimbulkan hirarki. Yang satu mendominasi yang lain, misal ‘yang-ada’ dibandingkan dengan ‘yang-tidak ada’. Melalui difference, dekonstruksi bermaksud meneliti apa yang tidak tampak dan disembunyikan, serta membalik atau memundurkan hirarki. [11]

Iterability

Iterability, berasal dari kata iter, latin; ‘again’ dan itara, sanskrit; ‘other’, yang berarti pengulangan. Atau dalam arti lain, iterability dalam dekonstruksi adalah struktur yang memungkinkan terjadinya pengulangan. Suatu kata atau tanda akan memperoleh makna barunya, jika terus diulang. Melalui pengulangan sebuah bahasa dimungkinkan menjadi kalimat-kalimat baru. Tetapi, meskipun terjadi pengulangan, kalimat tersebut haruslah tetap dapat ditelusuri asal kalimatnya, meskipun si penulis sudah tiada. [12]

Penciptaan Makna Baru

Derrida mendeskripsikan ulang teks yang ditelitinya, katakanlah tulisan yang tentang Plato misalnya, tetapi tidak berhenti pada pemaparan. Dia melakukan transformasi pada tulisan Plato tersebut untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dia meneliti kata dan memainkan bahasa dengan cara yang disebut ‘Free-play’. Dia memainkan bahasa, tetapi memainkan bahasa baginya berbeda arti dengan bermain dengan bahasa. Memainkan bahasa bagi Derrida bukan sebuah cara yang sederhana, seperti halnya permainan anak-anak, melainkan sebuah sikap ketertarikan akan kejujuran dalam menyelami bahasa, mendalaminya lebih dari sekedar yang tampak sebagai kata-kata. [13]

Pencarian makna bahasa tidak boleh berhenti pada keputusan akhir (yang pada paragraf sebelumnya di sebut logocentris). Dekonstruksi tidak mengenal titik akhir. Dekonstruksi selalu mempertanyakan secara kritis pendapat apapun yang bersifat dogma, baik agama maupun politik, di luar kekuatan manusia. Dalam kajian terhadap teks, ketika hal tersebut terjadi, yaitu ketika ada kata yang dicurigai akan mengarah pada suatu ‘dogma’, maka harus dilakukan ‘pengurungan’ (suspended) pada kata tersebut. Dibiarkan mengambang dalam ketidakpastian, diperdalam lagi maknanya sampai akhirnya menampakkan kebenarannya. Pun, ketika kebenarannya mulai tampak, harus dikurung dan dipertajam lagi, terus dan terus. Penciptaan makna baru ini akan menampakkan makna dan gaya yang luar biasa. Di tangan Derrida, sebuah teks akan menjadi hidup dan selalu memiliki makna baru. [14]

Keyakinan dalam Dekonstruksi

Derrida, melalui karya-karyanya, mencoba menjelaskan hasrat membaca dan menulis sebuah teks dengan cara yang baru, di mana dia memainkan bahasa, mengubah bahasa, untuk mencari makna yang tak terbatas dan tidak berhenti pada suatu kepastian atau dogmatisme. Tetapi pada waktu yang sama, dia tetap mempertahankan memory dan tradisi. Dia membuat ‘tegangan’ dan ketidakpastian pada teks dengan cara ‘mengurung’. Teks dibiarkan dalam ketidakpastian, bergerak-meronta, dan menampakkan dimensi lain pada dirinya. [15]

Dekonstruksi di Kehidupan Sehari-hari

Bermain di Ruang Antara

Ruang antara, atau sering disebut in-between, bukan sebuah ruang dalam arti sesungguhnya, melainkan sebuah situasi transisi, berada di antara dua atau lebih tegangan. Manusia posmodern berada di dalam tegangan itu. Jacques Derrida menyebutnya sebagai double-gesture; antara ingin bebas mandiri atau mengikuti tradisi, antara ingin menabung atau menyumbang orang tua yang sakit, antara menjadi seorang executive bergaji tinggi tetapi terikat atau menjadi pengusaha bebas yang dibebani bonus dan tunjangan, antara berpasangan bebas atau menikah, antara menikah atau selibat, antara ingin menjadi laki-laki atau perempuan, dan seterusnya.

Dalam menghadapi tegangan, manusia membutuhkan suatu pegangan, suatu kepastian. Tetapi di dunia tidak ada yang pasti. Manusia menjadi sceptic dan merasa terasing dalam keramaian. Untuk itu diciptakanlah kepastian menurut dirinya. Tetapi menciptakan suatu kepastian juga tidak memberikan pemecahan atas masalah. Misalnya, seseorang yang memutuskan untuk menikah karena ingin memperoleh ketenangan hidup, akan meralat pernyataannya tersebut beberapa tahun kemudian. Dalam beberapa kasus di kota-kota Metropolitan, pertanyaan seperti ini sering ‘dijawab’ melalui perselingkuhan, yang bahkan didasari kesadaran penuh. Selingkuh dijadikan alat untuk mencari jawaban atas ketidakpastian, baik dalam konteks relasi dengan pasangan atau diri sendiri, padahal dalam diri selingkuh sendiri tertanam ketidakpastian.

Dekonstruksi sangat menentang suatu struktur kepastian. Satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian, karena realitas selalu berubah. Seperti Herakleitos yang berpendapat kebenaran bersifat relatif, atau Nietzche yang sangat sceptic menghadapi kemapanan, maka dekonstruksi menjadi demikian hidup dalam ranah ruang antara (in-between) atau tegangan seperti yang dialami manusia posmodern. Menjadi demikian hidup artinya tidak sekedar berhenti pada scepticism, tetapi melalui tegangan ditemukan makna-makna baru

Memaknai [Cinta]

Salah satu topik yang digemari di kalangan manusia sekarang adalah pertanyaan tentang cinta dan relasi. Kedua kata itu memiliki hubungan yang erat dengan diri manusia, karena manusia adalah bagian dari person. Manusia disebut person karena dibentuk oleh kedua unsur tersebut, yaitu cinta, dan adanya cinta tidak lepas dari adanya relasi. Fenomena di masyarakat saat ini menunjukkan, bahwa cinta bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang tidak tersentuh, yang sangat dijaga dengan hati-hati pada awalnya dengan seperangkat norma, tetapi kesudahannya dibiarkan rusak. Orang muda mulai berani menentang paradigma lama, bahwa cinta berarti keseriusan hubungan, menyambangi kekasih hanya pada hari Sabtu malam, bercengkerama di ruang tamu, atau pergi bersama kekasih dan keluarganya. Cinta bukan lagi sebuah ‘benda sakral’, tetapi proses pencarian yang terus menerus digali maknanya. Kenyataan yang diperoleh dari proses pencarian itu hanya dapat dimaknai secara berbeda oleh tiap individu.

Demikian juga halnya manusia berada dalam tegangan, demikian juga cinta dan relasi berada dalam tegangan, sehingga muncul pertanyaan: Apakah cinta identik dengan suatu hubungan yang serius? Apakah berseksual tanpa hubungan serius meniadakan cinta? Apakah cinta sejatinya ada sebagai sebuah kenyataan yang membuka diri kepada siapapun atau harus diresmikan lewat pengakuan? Apakah sebuah pernikahan membuktikan kedalaman cinta?

Orang-orang Jawa lama bahkan memiliki keyakinan, bahwa pernikahan tidak perlu didasari cinta. Cinta akan datang dengan sendirinya kata mereka, dengan kata lain: karena terbiasa. Dekonstruksi ‘bermain’ dalam proses pencarian ini, mempertanyakan, dan memperdalam. Dekonstruksi akan mengambil cinta dari tempatnya yang sakral, dan meletakkan di tangan; dibolak-balik, diraba, dilihat jauh lebih dalam.

Dalam tulisan ini pencarian makna cinta ini akan saya coba jelaskan melalui sebuah pengalaman relasi dengan seorang perempuan. Cika namanya. Dikatakan relasi juga kurang tepat sebetulnya, karena tidak ada ikatan apapun di antara kami. Kami hanya bertemu sejenak, tetapi di dalam perjumpaan yang tanpa ikatan itu muncul rasa suka yang membuat kami ingin mengerti lebih dalam. Seperti ada misteri yang berulang memanggil, mengeluarkan beragam rasa yang saling berbenturan: antara rasa sayang dan baru kenal, antara hormat dan nafsu, antara ingin merengkuh dan tidak ingin terikat. Maka, setelah sekian janji yang tertunda kami berjumpa di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan.

“Kami memilih duduk di sudut yang tidak terlalu terang dan dindingnya penuh dengan foto black and white dan poster iklan kuno. Saya mengamati poster-poster. Ada beberapa gambar iklan lama itu yang saya suka. Entah kenapa gambar-gambar kuno itu berubah jadi eksotis dan mahal, apalagi dengan diterangi lampu berwarna lembut. Sebetulnya ini bukan kali pertama saya datang dan melihatnya. Jadi, batinku sulit menipu diri bahwa aku melihat gambar-gambar tersebut hanya sebagai upaya mengusir kegelisahan saja. Gelisah karena bingung bagaimana harus bersikap menghadapi perempuan di hadapanku. Mengobral cerita dan pamer diri? Apa yang bisa dipamerkan? Bersikap formal dan menjaga kesantunan? Aneh … jujur dalam hatiku aku ingin bersikap tidak santun. Dia cantik. Mata hati estetikaku tidak bisa menipu.

Cika juga mengamati gambar-gambar itu. Maka kami berbincang serius tentang estetika, desain, dan lain sebagainya. Sembari black coffee dihidangkan kami bertatap mata sambil tertawa. Tertawa mencairkan suasana. Tiba-tiba suasana mendadak hening lagi. Dan saya yang tidak suka dengan suasana janggal mengambil inisiatif membincangkan desain interior cafe ini, di mana kami mengenal desainernya. Kami berbicara tentang beberapa karyanya yang terkenal, pemikirannya, dan gosip-gosip di seputar kehidupannya. Sampai mata kamu bertemu agak lama dengan tatapan mata tajam, dan (lagi-lagi) hening … dan suatu enerji mengalir begitu saja ke dalam tanganku. Bukan, bukan ke tangan. Mungkin ke hati. Entah. Tapi senyatanya tanganku sudah menggenggam tangannya yang putih porselen Cina. Jantungku berdebar keras memicu adrenalin, menguatkan hati siap menerima tamparan penolakan. Tapi dia membalas dengan genggaman yang lebih dalam. Tidak hanya membalas, dia bahkan berinisiatif mengatakan : I love you. Dan aku membalas : aku juga. Setelah pertemuan itu kami jarang berjumpa, sampai akhirnya tidak sama sekali. Tanpa perasaan bersalah dan tuntutan apapun. Sering saya berpikir kenapa berani melakukan kontak fisik dan menyatakan cinta tanpa memutuskan apapun.”

Setiap saya merefleksikan peristiwa itu, yaitu waktu saya membalas mengatakan cinta dan memegang tangannya tanpa status di antara kami, terasa ada tegangan tarik-menarik dan saling berbenturan dibalik kata cinta yang terucap: antara cinta dan hasrat, antara sayang dan nafsu berseksual, antara paras malaikat dan bibir yang sensual, antara menikah dan tidak menikah, antara kebebasan dan ikatan tradisi. Tetapi saya menyukai tegangan ini. Seksi sekali. Seperti kenikmatan bungy jumping, seperti kenikmatan dihempas-pasrah ombak setinggi tiga meter tetapi tidak mati, seperti pertemuan yang nyaris terjadi antara bibir dua kekasih waktu tiba-tiba ibu sang kekasih masuk ke kamar dan menemukan mereka berdua dalam kondisi pakaian serba berantakan. Dekonstruksi bermain dalam ‘keseksian’ itu: samar, mengambang, dibiarkan tidak pasti, tetapi memberikan rasa penasaran, consciousness of intensionality[16] terhadap sesuatu ‘di balik sana’ yang serba misterius dan muncul sebagai fenomena yang menampakkan diri. Kata cinta dikurung: [cinta]. Melakukan kontak fisik tidak berarti cinta, atau sebaliknya cinta mengijinkan kontak fisik tanpa kejelasan status. Kata cinta ditunda kepastiannya, yang justru memberi keinginan untuk tahu dan mengenal lebih dalam: ada dimana cinta? Milik siapa? Mana batas dan perbedaan antara cinta, suka dan nafsu? Pertanyaan ini seperti sesuatu yang meronta dan bergerak, yaitu keinginan untuk menemukan makna-makna baru lagi. Tidak ada kepastian memang, tetapi akan berbeda situasinya, ketika cinta langsung dinyatakan dengan status yang lebih serius misalnya. Berkembang dan memiliki makna baru memang, tetapi barangkali penuh intervensi dari luar pada konteksnya. Cinta belum sempat mengeluarkan apa adanya dirinya. Cinta tidak menjadi dirinya. Dan kalau cinta adalah unsur pembentuk manusia, maka membiarkan cinta tidak menjadi dirinya sama saja membiarkan manusia tidak menjadi dirinya sendiri.

Berbicara tentang dekonstruksi berarti sepakat, bahwa tidak ada kesimpulan apapun. Satu-satunya kesimpulan adalah tidak ada kesimpulan. Kesimpulan dalam dekonstruksi, seperti halnya dialektika Hegel, bersifat sintesis yang nantinya berubah lagi menjadi thesis dan anti-thesis, dan memunculkan sintesis baru, dan seterusnya. Begitu juga dengan ‘pengalaman cinta’ di atas. Tidak ada kesimpulan darinya. Tetapi kalau pun diharuskan membuat sebuah kesimpulan atas pengalaman cinta yang singkat itu, jawabannya adalah saya [mencintainya]. Saya menyukainya, tetapi menjadikannya sebuah kepastian tampak sulit karena cinta itu seperti horizon. Dia ada tetapi ketika didekati dia menjauh. Bagi dekonstruksi lebih baik menyelami dan menggali maknanya cinta tersebut, daripada memberi kepastian. Kalaupun terjadi sebuah keputusan bukan karena sikap memastikan tetapi sebuah sintesis, menanggapi fenomena yang muncul dari cinta tersebut dan dari konteks kehidupan dan bermain di dalamnya.

Kata Penutup

Dekonstruksi, seperti halnya posmodern sendiri, bukanlah sebuah aliran. Dia adalah gabungan antara cara berpikir dan metode. Sebuah alat seperti mikroskop untuk melihat kedalaman manusia dan kehidupannya. Sebuah cara untuk melakukan refleksi kehidupan manusia. Dekonstruksi sebagai metode hanya akan berjalan, jika manusia jujur terhadap diri dan konteks hidupnya, dan membiarkan keduanya membuka diri.

Daftar Pustaka

  1. Brown, Stuart, One Hundred Twentieth-Century Philosophers, Routledge, 1998
  1. Gunana, S, Sri, “Gerakan Arsitektur Modern”, FT. Arsitektur Univ. Sumatera Utara, Medan, 2004.
  1. H. Istanto, Freddy, “Dekonstruksi dalam Desain Komunikasi Visual: Sebuah Penjelajahankemungkinan”, Nirmana Vol.5 no.1, Univ. Petra, Surabaya, 2003, hal. 54
  1. Magnis-Suseno, Franz, Pijar-pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Posmodernismee, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2005.
  1. Royle, Nicholas, Jacques Derrida, Routledge, 2003
  1. Siswanto, Joko, Sistem-sistem Metafisika Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

[1] S. Heryanto, “Tantangan Posmodern Terhadap Iman Kristen”, www.heryanto.com, 2010, hal 1

[2] Ibid., hal. 1

[3] Siswanto, Joko, Sistem-sistem Metafisika Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998

[4] Gunana, S, Sri, “Gerakan Arsitektur Modern”, FT. Arsitektur Univ. Sumatera Utara, Medan, 2004 hal. 6

[5] Royle, Nicholas, Jacques Derrida, Routledge, 2003, hal. 31 dan Brown, Stuart, One Hundred Twentieth-Century Philosophers, Routledge, 1998, hal. 41

[6] Royle, Nicholas, Jacques Derrida, hal. 31

[7] Ibid, hal. 34-35

[8] Royle, Nicholas, Jacques Derrida, Routledge, 2003, hal. 61

[9] Ibid, hal. 65

[10] H. Istanto, Freddy, “Dekonstruksi dalam Desain Komunikasi Visual: Sebuah Penjelajahankemungkinan”, Nirmana Vol.5 no.1, Univ. Petra, Surabaya, 2003, hal. 54

[11] Ibid, hal. 55

[12] Royle, Nicholas, Jacques Derrida, Routledge, 2003, hal. 67

[13] Id, hal. 33

[14] Ibid, hal. 33

[15] Royle, Nicholas, Jacques Derrida, Routledge, 2003, hal. 35

[16] Unsur kesadaran dalam fenomenologi Edmund Husserl

Tuesday, June 7, 2011

Mengenang Ibu

Lebih kurang 35 tahun aku hidup bersama Ibu. Dari sekian waktu yang terlewati bersama, hubungan kami yang paling intim ialah saat aku masih berada dalam kandungannya. Sejarah itu tentu tidak dapat aku ingat, tetapi aku bersyukur karena berkat catatan yang ditulis oleh Bapak aku bisa memperoleh sedikit gambaran tentang hubungan kami. Dalam catatannya Bapak menulis kira-kira demikian : sewaktu mengandung aku, wajah Ibu berseri dan sumeleh. Kasih sayangnya tertumpah pada Bapak.


Ibu adalah manusia berwatak keras. Perempuan bedhil dia. Seingatku, aku sulit memahami beberapa keputusannya. Terutama saat dia memilih mengisi hidup dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberi keuntungan besar. Hidup di kampung dan menjadi guru honorer bergaji rendah misalnya, atau membuat lagu-lagu rohani.


Pernah suatu malam, kira-kira 1 tahun sebelum wafatnya, Ibu dengan gembira menunjukkan kepadaku selembar sertifikat yang menyatakan bahwa dirinya menjuarai lomba cipta lagu rohani. Kutanya apa hadiahnya. Dengan gembira Ibu menjawab sejumlah rupiah yang tidak besar. Kutanya lagi mau apa dengan uang itu. Dijawabnya lagi, hendak disimpan. Barangkali bisa menutupi beberapa kebutuhan nanti, katanya.


Aku pandangi sertifikat dan master bertuliskan not angka dan syair yang dibuatnya dengan mesin ketik kuno. Tetapi pikiranku menggantung pada jawaban terakhirnya tadi. Jawaban yang membuatku malam itu tidak bisa tidur dan memilih duduk di lincak bambu di halaman, sembari memandangi Pakde Mardi, tetangga kami, yang setiap malam mondar-mandir di luar. Juga beberapa orang yang hilir mudik di gang depan rumah kami. Semua situasi malam itu dibalut menjadi satu bersama keheningan, udara dingin, dan harum melati. Pintu-pintu rumah tetangga sudah tertutup. Hanya lampu di dalam yang tampak dari luar. Kadang juga suara anak-anak di dalam rumah. Dalam hening aku berpikir, “unsur apakah yang ada di tempat ini? Di kota ini? Orang-orang dan lingkungannya, sehingga membentuk Ibu menjadi sosok yang memilih berkaul stabilitas seperti seorang rahib?”.


Ibu juga sosok yang setia. Setia dengan hidup apa adanya. Setia artinya bukan suatu sikap heroik melainkan mau menerima sebuah proses; dihancurkan sekaligus dibentuk menjadi baru. Bukan tanpa keluh kesah, tangisan, dan kemarahan tentunya. Dari semua proses yang dijalaninya, ada sikap kreatif dalam menghadapinya, yang diungkapkan dalam pekerjaan dan ruang tinggalnya. Maka tak heran, banyak simbol dan makna di rumahnya. Simbol dengan makna di dalamnya itulah yang selalu menjadi kerinduanku.


Stabilitas, setia, berproses, memaknai setiap kesulitan. Itu seperti menaiki sampan di lautan mengejar cakrawala. Tetapi, seperti yang pernah disampaikan oleh seorang Guruku, cakrawala atau horizon itu ada dan tiada. Dia harus ada agar manusia memiliki batas sehingga tidak hilang muspra di dalam kehidupan yang serba luas dan penuh misteri. Tetapi kemana pun manusia bergerak, cakrawala ikut bergerak dan tidak tersentuh.


Kupikir benar. Hidup Ibu, meskipun stabil menetap di suatu lingkungan yang membentuk karakternya, tetapi selalu bergerak, berubah, dan penuh ketidakpastian. Segala ketidakpastian itu seperti halnya teks not-not angka yang dibuatnya pada selembar kertas; ditulis, dinyanyikan, diuji dengan organ kecil, untuk kemudian dicoret, diperbaiki, dan dimaknai baru. Terus dan terus. Pada gilirannya lagu tersebut harus selesai, tampaknya hal itu tidak lebih dari sekedar target saja.


Ibu setia pada teks-teks itu. Dia tidak mencampuradukkan mazmur dan sinetron. Dan kesetiaanya pada teks-teks yang tidak pernah pasti sangat membantuku dalam memaknai hidup yang selalu bergerak, tidak pasti, dan yang memohon untuk selalu didefinisikan secara baru.


Kuingat waktu aku masih berumur 7 tahun, Ibu membawaku ke toko ‘Semangat’ yang menjual beragam barang. Di toko itu jiwa kecilku tertarik pada sebuah botol minum kecil berisi air jeruk. Aku menyukai botol itu karena bentuknya yang bulat, dan juga isinya yang bagiku sangat mewah. Keesokan hari, ketika air jeruk habis, jiwa kecilku sedih karena masih menganggap botol dan isinya yang kami beli semalam adalah satu makna yang sama. Air jeruk habis, pikirku, hilang pula makna botol itu. Padahal, betapa aku ingin membanggakannya di depan teman-teman.


Tetapi Ibu memasukkan air jeruk yang lain ke dalam botol minuman itu sembari mengatakan, “Tak apa. Yang penting bisa dipakai dan kamu bisa bawa ke sekolah untuk bekal dan ditunjukkan kepada teman-teman.” Aku menurut. Dan betul, dari hari ke hari botol itu selalu berguna sekaligus berubah makna: dari botol air jeruk menjadi botol air teh, bahkan tempat menyimpan koin uang.


Akhir-akhir ini, ketika hidupku semakin memohon untuk dimaknai secara baru, Ibu hadir dalam bayanganku. Dia hadir berdiri di sampingku. Telunjuknya menunjuk pada suatu berkas cahaya yang sangat terang, yang tidak terlihat bentuknya, tetapi seperti matahari. Ibu berkata kepadaku:


“Jangan kamu lihat telunjuk Ibu. Lihatlah cahaya yang terang itu”.


Aku menjawab,”Tapi, apa itu? Aku tidak mengerti apa yang bersinar seperti cahaya itu?”.


Katanya lagi, “dekati!”.


Kujawab lagi, “Aku takut. Aku tidak tahu apakah itu?”.


Untuk terakhir kali Ibu berkata, “Dekati! Bukan dengan pikiran duniawimu, tapi dengan cinta”.


Selanjutnya, Ibu hilang dari pandanganku. Tetapi samar kudengar suara lembut bernyanyi. Suara Ibu. Dia melantunkan kidung Maskumambang :


Jatining dumadi kan nuwuhken wiji

Muga tunggak rila

Yen palwa brangta wus wanci

Bebadreng bayu baskara.


(Hakikat semesta bila menunbuhkan benih

Semoga tonggak rela

Apabila biduk asmara sudah sampai saat

Mengembara di angin di matahari).

Wednesday, June 1, 2011

Kebebasan Krisharjanto

Ambrosius hari ini banyak merenung di dalam kelas. Matanya fokus pada kertas, jemarinya sibuk membuat sketsa, dan pikirannya pergi ke ‘suatu tempat’ entah dimana. Namun demikian sebagian kesadarannya terantuk pada sesuatu yang menarik hatinya, yaitu kalimat yang diucapkan temannya, Nino, yang sedang bercerita di depan kelas tentang Friedrich Wilhelm Nietzsche.

“Maka, Thus Spoke Zarathustra bercerita tentang Overman. Sang manusia super yang melampaui manusia. Manusia ideal yang menurut Nietzsche harus ada sebagai konsekuensi dari kematian Tuhan. Tuhan sudah mati! Kematian Tuhan harus terjadi jika manusia ingin menjadi mahluk yang utuh dan mulia; sang Overman, sang Superman. Ujung dari semua itu adalah freedom! Kebebasan!”, demikian Nino berapi-api.

Kebebasan, kebebasan, dan kebebasan ... kata-kata ini muncul berulang dalam di pikiran Ambrosius. Jika ada kebebasan lantas kenapa ada orang yang ‘tidak bebas’? Anak-anak pandai yang tidak bisa mengenyam pendidikan? Anak-anak yang terluka hati karena perceraian orang tua? Orang-orang yang disingkirkan? Memang bebaslah seorang anak untuk memperoleh pendidikan. Tapi toh kenyataannya banyak yang tersandung oleh beragam aturan. Aturan yang dibuat manusia untuk mengatur kebebasan demi menghormati kebebasan. Di kelas ini pun tidak semua muridnya pandai. Tetapi mereka seharusnya patut bersyukur bisa memperoleh kesempatan belajar lebih tinggi. Seharusnya .. ya seharusnya, mengingat di luar sana banyak anak-anak pandai terlantar begitu saja. Tetapi ‘seharusnya’ selalu berselisih pendapat dengan ‘kenyataannya’. Demikianlah hidup.

Memikirkan kebebasan dan anak-anak pandai yang tidak sempat mengenyam pendidikan, pikiran Ambrosius mundur ke beberapa tahun silam, saat dirinya masih duduk di bangku kuliah.

Saat itu siang hari menjelang sore, di sebuah bangunan sekolah tua sederhana yang sepi dia bertemu seorang teman lama; Krisharjanto. Kris, begitu teman itu biasa dipanggil, adalah teman sebangku Ambrosius waktu masih SMP. Dia adalah salah satu anak terpandai yang pernah dimiliki sekolah tempat mereka belajar dulu. Anak buruh tani dia. Ayahnya sehari-hari menggarap beberapa petak sawah yang terletak di samping sekolah mereka.

Layaknya anak petani, figur Kris sangat sederhana. Posturnya tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Bicaranya lantang dan keras seakan-akan ruang kelas adalah area persawahan. Kris selalu memakai seragam dari bahan sederhana. Sepatu bermerk ‘Warrior’ yang dipakainya tampak kusam, berpadu dengan kaos kaki tipis yang seakan tidak lekat pada kaki sehingga harus dikencangkan dengan karet gelang.

Tetapi Kris sangat pandai meskipun duduk di bangku paling belakang. Memang, deretan bangku paling belakang selalu diidentikkan dengan wilayah anak-anak bodoh dan bebal, sehingga guru kami menyebutnya: ‘anak-anak terbelakang’. Maksudnya adalah anak-anak bodoh bebal yang duduk di bangku paling belakang. Tetapi nilai itu tidak berlaku bagi Kris; sang ahli matematika, bahasa, dan sejarah.

Sore itu mereka berdua berbincang setelah hampir 10 tahun tidak berjumpa. Mereka bertukar pengalaman, bercerita perjalanan dan pergumulan hidup hampir 10 tahun terakhir. Ambrosius bangga bisa bercerita tentang pendidikan arsitektur yang hampir selesai dijalaninya. Tentang ilmu-ilmu yang diperolehnya. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman yang menggairahkan jiwa idealisme seorang anak muda. Semula dia juga berharap cerita yang sama menggairahkannya keluar dari mulut Kris; cerita tentang kehebatannya di seputar dunia akademik. Tentu pantaslah seorang Krisharjanto yang pandai hidup secara gemilang di dunia akademik.

Tetapi, cerita itu tidak keluar dari mulut Kris. Hanya ada senyum di wajahnya yang anak petani. Wajah yang makin keras dan kasar rautnya. Wajah yang hadir bersama rambutnya yang merah dan tak teratur. Bersama pula kaos oblong putih serba bolong, dan celana pendek lusuh yang menunjukkan betisnya yang jejeg sewarna gula-geseng. Dia hanya bercerita selepas SMP tidak ada lagi kesempatan melanjutkan studi. Ayahnya yang sekedar buruh tani tak sanggup membiayai. Adik-adiknya 3 orang. Maka kemudian kertas ijazahnya hanya menjadi pajangan; kertas yang menyatakan bahwa Kris adalah lulusan terbaik.

Tetapi Kris sempat berkata juga, tentang suatu hal yang tidak akan pernah dilupakan Ambrosius, yaitu kebebasan. Ya, kebebasan, atau tepatnya menyikapi keadaan yang diterimanya dengan sikap bebas dan lepas. Awalnya terdengar aneh bagi Ambrosius. Bagaimana mungkin menerima keadaan yang mengekang kesempatan untuk maju adalah suatu kebebasan? Tidakkah itu sekedar sikap menghibur diri belaka? Tetapi Kris memang anak petani tulen. Anak alam dia. Dia belajar bahwa alam selalu bergerak memberi kebaikan. Maka, pelajaran dari alam memberinya kesadaran bahwa memang betul setiap manusia memiliki kebebasan. Tetapi kebebasan haruslah mengarah kepada kebaikan. Karena kebebasan dan kebaikan sudah menjadi kodrat dalam diri manusia, seperti 2 sisi pada satu keping mata uang. Seperti alu yang bisa dipakai untuk menumbuk gabah sekaligus untuk memukul-membunuh. Nah, petani yang waras tentu akan memilih mempertemukan alu dengan lumpang pasangannya. Untuk menumbuk gabah. Kesadaran mempertemukan alu dengan lumpang inilah yang menjadikan dunia baik dan pada tempat semestinya. Mendaratkan kebebasan agar tidak berada di awang-awang.

Masih segar dalam pikiran Ambrosius tentang perjumpaan terakhir dengan Kris. Mereka pergi bersama dari sekolah tua di tepi sawah menuju jalan besar. Ambrosius mengendarai sepeda motor keluaran terbaru. Disampingnya Krisharjanto mengendarai sepeda bermerk Raleigh yang sudah kusam. Pada jok belakang ditumpuknya tumpukan gabah yang diikat dengan tali. Mereka tidak lagi membincangkan keramaian dunia akademik, tetapi tentang angin sore yang hangat semilir, harum tanah yang disiram air hujan, air teh tubruk dengan gula batu di warung pak Pujo.

Monday, April 4, 2011

Suatu Hari Sandikala

Syahdan pada masa Upanishad, Dewi Draupadi – istri Prabu Yudhistira - datang kepada Prabu Wirata yang sudah beberapa tahun ini meninggalkan tahtanya untuk menyerahkan diri kepada kesederhanaan hidup. Mereka berdua berbincang di bawah naungan pohon Latamaosandi. Dalam perbincangan, Draupadi meminta nasehat perihal perceraian. Kepada Prabu Wirata disampaikan pula bahwa dirinya sudah meminta pertimbangan kepada seorang brahmana. Prabu Wirata bertanya apa pendapat brahmana tersebut. Draupadi menjawab: sang brahmana menyetujuinya.


“Apa alasan dia menyetujui perceraian, anakku?”


“Menurut wisik yang didapat dalam samadi, beliau mengatakan layaklah laki-laki seperti Yudhistira diceraikan. Raja tidak tahu adat. Berani menyerahkan istri sebagai taruhan judi. Merelakan istri ditelanjangi. Tidakkah dia menghargai hamba yang selalu menyerahkan cinta dan diri sepenuhnya? Tidakkah dia terkenang saat indah penuh cinta dalam kama-ratih?”.


“Brahmana itu berkata begitu?”.


“Nun, inggih, Gusti”.


“Ah, tapi menurut rasaku, Wong Ayu. Semakin jauh dan dalam dasar kolam semakin tidak bisa kita putuskan wujudnya. Wajarlah brahmana mengatakan hal itu jika tidak melalui samadi. Tetapi dalam samadi ... yah sudahlah ... tujuan orang berbeda-beda. Tetapi sejauh kudengar dari adikku Wratsangka yang beroleh kabar dari Harjuna, anakku Draupadi selamat dari penghinaan di arena judi berkat kuasa Hyang Widhi”.


“Nun, inggih, Gusti Prabu. Entah ... hamba merasa gelap saat itu. Rasa malu dan terhina begitu besar membuat hamba pingsan. Tetapi menurut adik Harjuna kain penutup badan hamba seakan tidak lepas dari tubuh. Terurai menjadi demikian panjang. Semua kegilaan itu berhenti berkat turun-tangan Eyang Bhishma. Kabarnya beliau sangat murka kepada Suyudana dan adik-adiknya”.


“Ah ... Bhishma. Dia orang baik. Tentu dia tahu apa arti aturan yang harus diterima dalam sebuah perjudian. Tapi dia orang yang tidak pernah berhenti pada kebiasaan dan aturan. Ya, kebenaran baginya adalah kebenaran. Kebenaran adalah zat-milik Sang Hyang Widhi. Jika Sang Hyang Widhi sendiri adalah Zat Agung yang tidak bisa dipengaruhi zat-zat duniawi manapun, maka tentulah sebagai milik, kebenaran juga tidak bisa dipengaruhi oleh aturan apapun di dunia”.


Prabu Wirata diam. Dirasakannya semilir angin pada kulit tubuhnya yang mulai memiskin, lama tidak tersentuh berbagai ramuan istana. Di depannya, kira-kira selemparan batu, dilihatnya anak gembala bermain seruling di antara sapi-sapi. Anak itu memandang kepada sang Prabu. Dia berkulit hitam. Parasnya tampak cantik pada wujudnya yang laki-laki. Dia melepaskan seruling dari mulutnya dan tersenyum. Sang Prabu membalas dengan senyum. Teduh hatinya. Dia menarik nafas lembut dan dalam. Matanya setengah terpejam.


Akhirnya sang Prabu melepas kebisuannya.


“Begini saja, anakku Draupadi. Kau tentu lelah. Banyaklah makan dan istirahat dulu. [Nun inggih, Gusti Prabu. Tapi hati ini sakit sekali]. Saya mengerti, tapi sebaiknya jangan memutuskan apapun selama hatimu masih diselimuti galau. Nah, Dalam hening-wening di pedesaan ini aku tak bisa memberikan masukan apapun kecuali mengajakmu menghadap Sang Hyang Widhi. Dan biarlah Sang Hyang Widhi sendiri yang menyampaikan warta kepadamu, warta yang aku tidak tahu. Warta yang tidak bisa diukur oleh nalar kita, manusia. [Apa maksud Gusti?] Lha iya. Menurut rasaku, anakku wong ayu, kalau Sang Hyang Widhi sendiri menyelamatkanmu di arena judi tempo hari, maka aku kok merasa bahwa dirimu adalah kecintaanNya. Artinya, kau diciptakan secara pribadi dan selaras dengan Zat-Nya. Maka, hanya Dia yang bisa menjadi sumber pemecahan kegalauan hatimu".


Hari sudah sandikala. Prabu Wirata masih duduk di bawah naungan Latamaosandi. Dilihatnya anak gembala pergi dalam gembira bersama sapi-sapi. Dilihatnya juga beberapa rahib berjalan membawa kembang, air, dan dupa untuk doa malam. Dari hatinya, bersama dengan semilir angin barat, bergulirlah sebuah harapan: semoga, ya semogalah, Sang Hyang Widhi - Sang Sumber Cinta – yang melahirkan Draupadi dan memanggilnya dengan nama yang paling pribadi menaburkan cinta illahi. Suatu zat yang melampaui segala wujud yang ada di dunia, supaya Draupadipun tidak berhenti pada perkara-perkara dunia, namun sebaliknya mampu memberi cinta. Apapun keputusannya nanti. Dan dirinya sendiri? Ah, dirinya mengakui bahwa masih belajar menjejakkan kaki di dunia, agar bisa disebut dengan suatu nama, yang harapannya selaras dengan Sang Cinta Abadi dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti dirinya dan para rahib memanggil anak gembala cantik yang selalu gembira itu: Krishna!

Monday, December 20, 2010

Menemani

Seorang perempuan yang kutemui di angkot tadi siang bercerita tentang berita yang baru saja dibacanya di sebuah koran. Dia mencoba menjelaskan kembali apa yang ditulis pada berita tersebut dan mengomentarinya demikian: Seorang anak korban perceraian tampil di sebuah media massa. Dia ditanya perihal calon suami ibunya, yang menurut rencana akan menikah lagi. Tentu, kalau dia sayang kepada ayahnya, dia akan menjawab ayahnyalah yang terbaik. Barangkali, kalau ayahnya hendak menikah lagi nanti, dan sang anak menyayangi ibunya, dia juga akan menjawab ibunya yang terbaik. Kemudian dia menambahkan lagi, “Tapi itu wajar to, Mas. Bahwa ada seorang anak membela ayah atau ibunya karena dia mempunyai cinta. Tapi, apa yang dia rasakan waktu mengatakan mendukung apapun pilihan orang tuanya. Rak gendheng to, bocah seusia itu bisa omong begitu. Lha itu yang tua si anak atau bapak-ibunya?”. Aku cuma tersenyum mendengar itu. Mataku masih terpaku pada pengamen di dekat jendela sopir, yang penampilannya ngudubilahi serba asal-asalan.

Tapi tak urung terpikir juga kata-kata perempuan itu. “Apa yang Mbak bilang tadi? Mbak katakan si anak punya cinta? Alhamdulillah kalau begitu. Waras selaras dengan selera Zat yang melahirkannya. Tapi sayang cinta yang satu beda dengan cinta yang satunya. Maksudnya? Lha iya, cinta si anak waktu membela bapaknya itu cinta yang dipunyai seorang anak. Seorang anak yang sesungguhnya; yang masih suka dikeloni dan diciumi. Yang masih punya kejujuran seorang anak. Lha kalau sudah mendukung apapun pilihan orang tua, ya punten dalem sewu, betapa luhur hatinya, Mbak, tapi pedih juga. Anak mana yang mau orang tuanya cerai? Di mata anak dunia serba bagus. Seperti puzzle memang, tapi serba ketemu dan cocok. Tapi berani mendukung pilihan orang tua padahal dirinya masih ingin didekap dikeloni? Nah, nah ... hikiii ... mesti dudu jiwane bocah. Jiwane Wara Srikandi yang agung tapi penuh daya amuk kepada Resi Bisma. Agung tapi gamang. Satria dia. Tahu unggah-ungguh. Tapi kalau sudah tercubit prinsipnya, wah wah ... seorang Resi yang paling agung pun luruh ditangannya”.

“Betul, Mas. Semogalah jiwa anak-anak itu secantik Wara Srikandi, tapi pada keagungannya, dan bukan pada amuknya”.

"Bisa, Mbak. Insya Allah, Gusti Allah mboten sare. Tuhan tidak tidur".

"Lha, kalau Tuhan tidak tidur lantas siapa yang menemani?"

"Ya, mungkin kita-kita ini”.

Angkot bergerak berangkat. Langit senja terlihat jingga. Di sudut terminal orang-orang berkerumun beristirahat; ngopi sambil mengaso, main kartu menghilangkan penat. Sebisa mungkin patuh pada perintah alam yang menyampaikan pergeseran waktu, juga si pengamen yang ngudubilahi tadi. Di jalan mulai terlihat warna-warna Natal di papan-papan reklame yang diterangi lampu. Ratusan laron mengerumuni sinarnya. Indah dan mewah warna-warna itu. Tapi semogalah ... ya semoga, tidak menyilaukan kehadiran seorang Bayi yang kelahiranNya dirayakan oleh warna-warna itu. Seorang Bayi Agung yang nyaris tidak mempunyai seorang bapak. Hanya karena rahmat Allah maka sang bapak tidak menceraikan ibuNya. Tapi ya bukan rahmat Allah saja. Rahmat Allah bisa bekerja sempurna kalau manusia mau terbuka menerima. Dan si bapak memang cuma tukang kayu biasa saja. Ibunya juga; seperti mbok-mbok ndeso biasalah. Tapi yang biasa-biasa biasanya lebih gampang menerima warta, setidaknya dalam batinnya. Ora keminter. Gusti Allah memang tidak butuh yang pintar, tapi butuh yang mau menemaniNya. Ngancani.

Friday, October 22, 2010

Wira

Malam itu udara terasa gerah di Bali. Aku tidur dalam sebuah bilik kecil bersama seorang teman, Pak Artam namanya. Ya, kami lelah sekali malam itu setelah seharian penuh bergelut dengan proyek-proyek yang masih sangat membutuhkan perhatian. Tentu, sesuatu yang sejuk kami harapkan untuk memberi ketenangan. Cukuplah suhu udara yang nyaman sebetulnya. Tidak lebih. Sebagai orang-orang lapangan kami terbiasa tidur dalam kondisi seadanya. Tetapi udara di Sanglah malam itu tidak sedikitpun memberi perhatian kepada kami. Tiba-tiba, di sela gelisah, telfon selulerku berdering; panggilan dari Jakarta, dari seorang sahabat : Berna. Kulirik arloji. Pukul satu dini hari.

‘’Mas, sudah tidur?’’

‘’Yup. Kenapa, Nduk?’’, jawabku dengan suara yang kubuat semerdu mungkin. Pikirku; apa dia tidak sadar sudah pukul berapa sekarang?

‘’Ngga. Cuma mau minta bantuan. Kenal orang-orang yang sedia jadi donor darah?’’

‘’Malam ini?’’

‘’Ya. Buat seorang bayi. Anaknya temenku. Sudah kritis’’.

Selebihnya dia bercerita panjang lebar tentang kondisi anak tersebut, yang ternyata belum sempat diberi nama. Aku yang hampir memejamkan mata hampir tidak mendengar semua yang dikatakannya. Akhirnya dia menyudahi pembicaraan dan mengatakan akan menunggu kabar dariku.Duh,Gusti Allah, aku capek sekali. Besok saja cari bantuan, pikirku. Lagi pula malam seperti ini? Bukankah hampir semua orang terlelap? Tapi tak urung hatiku gelisah. Berkali-kali bantal kubalik, sampai tiba-tiba seperti ada sebentuk pikiran merasuki otakku dan mengatakan alangkah lebih baik diselesaikan sekarang sehingga besok tidak terlalu menjadi beban pikiran. Maka jadilah. Beberapa nama kuhubungi dan ... sangat mengejutkan ... dalam waktu tak kurang dari tigapuluh menit tiga orang sudah menyatakan kesediaannya. Yang lain memberi nomor lembaga-lembaga yang layak dimintakan tolong. Dengan semangat aku mengabari Berna. Kuminta agar dia menghubungi lembaga dan para pendonor yang sudah bersedia. Selanjutnya, tak lebih dari dua puluh menit dia menghubungiku lagi. Dengan nada suara gembira dia mengatakan bahwa para pendonor siap dan untuk sementara semua cukup. Dia juga berkali-kali mengucapkan terimakasih.

‘’Mas, tahu’kan. Ibu anak itu sahabatku. Terimakasih!’’.

‘’Ya, ya’’, kataku. Di otakku saat itu cuma ada satu kata : tidur.

Legian Bali, hari keempat setelah Berna menghubungiku. Aku tiba-tiba ingin tahu perkembangan anak itu. Kutanyakan kepada Berna. Dia mengatakan bahwa anak itu sudah pergi untuk selamanya. Sing Murbeng Dumadi, Allah maha pengasih punya cara yang lebih baik untuk menyatakan cintaNya.

‘’Sempat transfusi darah?’’, tanyaku.

‘’Sempat, Mas. Tapi lumayan terlambat. Duh, maaf aku ngga sempat kasih kabar’’. Dan selanjutnya kudengar dia menangis. Juga minta doa.

Meskipun hatiku haru, tapi entah kenapa aku selalu memandang bahwa kematian adalah kehidupan itu sendiri. Menangis dalam kesedihan adalah sebentuk ungkapan cinta, tetapi lambat laun cinta itu juga yang akan menjadikannya sebuah senyum. Bukan, bukan kematian itu yang terus menjadi pikiranku, melainkan aku teringat akan seseorang, Wira namanya.

Di malam yang panas itu, sesaat setelah Berna meminta informasi tentang para pendonor, aku menghubungi Wira. Wira adalaha sahabatku di Jogja. Dia memberi cukup banyak informasi tentang pendonor golongan darah AB seperti yang diminta. Informasinya sangat berguna dan membantu. Tapi setelah beroleh kabar tentang kepergian anak itu, dia mengaku bahwa sebetulnya dirinya juga bergolongan darah AB. Menjadi sebuah penyesalan baginya karena sebetulnya mampu untuk menyumbang darah dalam waktu cepat. Baik si Anak maupun Wira ada dalam satu kota yang sama. Apalah arti waktu bagi orang Jogja terlebih di malam hari. Semua bisa ditempuh sesegera mungkin. ‘’Kalau saja aku mau lebih peduli, barangkali anak itu masih hidup ...’’, sesalnya. ‘’Aku terlalu menggampangkan. Aku cuma merasa cukup dengan memberi banyak informasi dan percaya Gusti Allah sendiri yang akan melanjutkan. Duh, Gusti, nyuwun pangapunten ...’’

Aku tersenyum mendengar penyesalannya. Tentu bukan karena aku senang bahwa Wira menyesal. Tidak begitu. Kok seperti orang suci saja. Senyumku senyum getir sebetulnya. Hanya aku merasa akhirnya sampai juga pada pemahaman bahwa Gusti Allah bisa melakukan apa saja termasuk bertindak sendiri menyembuhkan si Anak. Tapi tak urung Dia juga selalu membutuhkan bantuan manusia. Ah, konsep macam apa lagi ini; menganggap Tuhan tidak kuasa tanpa peran manusia? Memang Actus-puruslah Dia. The unmoved-moverkata Aristoteles; penggerak yang tak bergerak. Yang adi-kodrati dan kekal. Sangcausa-prima. Tapi kalau sang pimpinan yang serba bisa membutuhkan bantuan bawahan, maka pertanyaannya : apa dan siapakah sang bawahan itu sehingga sang pemimpin membutuhkan bantuannya? Begitu spesialkah dia? Entahlah.

Pak Artam memanggil dari kejauhan. Dari bahasa tubuhnya kutahu ada yang harus cepat diputuskan di lapangan. Maka aku segera membayar makanan, kemudian berlari dalam hiruk-pikuk jalan Padma. Kepada Wira hanya kukirimkan sebuah pesan singkat : thank you, Brother.

Ciko

Hanya kucing kecil, budukan ... lagi tidak bersih. Kutemukan malam hari di pinggir jalan waktu hujan selesai mengguyur. Dia berteriak keras. Sangat keras. Awalnya tidak aku pedulikan, tapi teriakannya yang keras seakan melempar energi yang meruntuhkan kebekuan hati. Melampaui makna yang awalnya kulihat hanya sekedar kucing. Makna itu terus menampakkan dirinya yang sejati dan frekuensinya tersambung dengan pengalaman masa laluku. Tepat di titik itu aku seakan mengenali sesuatu lebih dari sekedar kucing; kepedihan, kesepian, dan ketakutan.

Maka, aku beranikan mengambilnya. Dia diam waktu aku meletakkan pada lengan, sedangkan aku berpikir, ‘’hendak di letakkan dimana di rumah nanti?” Rumah yang aku tempati adalah rumah komunitas. Meskipun aku tahu bahwa pada dasarnya teman-temanku baik adanya tetapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengurusnya. Kuputuskan memberinya tempat di pojok carport yang cukup hangat pada sebuah kardus dan kain dengan harapan sang induk datang mengambilnya. Semangkuk kecil susu kusorongkan, yang dibalas dengan tatapan dingin. Dia sepertinya tahu aku hendak masuk rumah lagi dan meninggalkan dirinya di carport. Dia berteriak. Suaranya terdengar dari dalam rumah.

Seorang teman memberi nama : Ciko. Barangkali untuk mengenang kucing kesayangannya dulu. Ciko selalu berteriak keras setiap mendengar suara. Seperti anak ketakutan yang ingin dipeluk. Tetapi yang unik, yaitu setiap aku datang untuk memberinya makan dia berlari mendekat. Dia hanya ingin mendekat dan berlari cepat mengejarku setiap kali aku meninggalkannya. Sesekali dia kubiarkan masuk rumah dan memanjati lenganku dengan kakinya yang gemetar. Pada saat seperti itu dia diam seribu bahasa. Sebaliknya berteriak keras ketika kutinggalkan di luar. Pernah sekali melalui jendela kulihat dia tetap setia duduk dalam waktu lama sambil berteriak keras dan memandangi pintu yang kututup; pintu tempat aku masuk. Selanjutnya, dalam kelelahan dia menyerah pergi ke kotak kardusnya. Entah kenapa suatu rasa terbersit dalam hatiku, ‘’aku menolaknya’’. Mungkin dia cuma kucing. Tapi perasaan yang melampaui keberadaannya sebagai kucing terus muncul.

Malam menjelang hari ketiga aku memindahkan Ciko ke Garasi. Kupikir agar lebih hangat dan aman dari ancaman luar dan badai. Tapi baik malam itu atau esok paginya dia tetap berteriak keras, menatap dengan dingin susu dan makanan yang kuberikan, dan tentu saja, mengejarku. Malam hari di hari ketiga teriakannya mulai berkurang. Kadang ada kadang berhenti. Ah, kupikir dia mulai tenang. Syukurlah.

Pagi hari keempat selesai ibadat pagi. Aku tidak mendengar suaranya. Di Garasi kulihat dia mendengkur tidur dalam kardusnya. Aku lega melihatnya bisa istirahat. Maka kuletakkan dengan hati-hati semangkuk susu menggantikan yang lama yang tidak pernah disentuhnya. Setelahnya aku kembali ke kamar.

Tetapi di dalam kamar hatiku mengatakan sesuatu. Kudatangi kembali Garasi. Aku memandangi kucing kecil tersebut dengan lebih jelas. Dia memang tidur tetapi bukan dalam sebuah istirahat tenang. Matanya yang terbuka menatap nanar. Tubuhnya lemas. Nafasnya pelan dan sesekali terdengar lengkingan lirih suaranya. Tidak ada reaksi apapun ketika tubuhnya kuangkat. Dia menjelang kematiannya ... dalam kesesakan, kesepian dan kesedihan. Dia sudah menyerah. Tidak didapatkannya tempat bersandar di bumi ini. Suatu tempat yang bisa memeluknya. Saat itu aku yang merasa hampa hati membawanya ke kamar. Memberinya tempat yang terbaik dan hangat selama menunggu kepergiannya. ‘’Sudah terlambat’’, seperti ada yang berbisik. Tapi tak apalah. Siang hari menjelang sore kucing kecil itu pergi selamanya. Bersama dengan tanah terakhir yang menutup kuburnya, aku teringat kembali saat dia berjuang mempertahankan harapan untuk beroleh kehangatan tapi harus kembali ke kardusnya dengan lengkingan kesedihan dan kesepian yang dalam. ‘’Ah, aku sudah menolaknya’’.

Barangkali hanya kucing kecil. Budukan lagi. Tapi kesepiannya menyebarkan sebuah tanda. Dalam frekuensi yang sama aku menangkap tanda itu, yang sepertinya pernah hadir dalam realita hidupku. Aneh, Ciko si kucing kecil itu pelan-pelan semakin menampakkan kejujurannya yang melampaui dirinya sebagai seekor kucing. Dia menampakkan diri sebagai anak kecil. Berawal dari satu orang, menjadi puluhan, ratusan dan ribuan. Semuanya berlari mengejar sambil berteriak. Menggapai harapan dalam ketakutan dan kesepian, tetapi berakhir dalam penolakan. Tiba-tiba terdengar bisikan, “jangan lagi menolak. Jangan!”. Tapi bagaimana mungkin? Ada ribuan anak! Aku lari menghindar dalam pelukan doa ibadat malam. Aneh, selama ini aku mencari makna dari doa-doa yang kudaraskan, dan malam itu semuanya bertemu dalam sebuah kesatuan penuh waktu aku mengucapkan; ’’untuk mereka yang sedih karena kesepian dan ditolak. Semoga Tuhan memberi damai kepada mereka ... damai yang tidak pernah diberikan oleh dunia’’. Aku menjadi tahu bahwa selalu ada rahmat bagi turunnya damai, tetapi rahmat itu membutuhkan banyak tangan yang rela untuk menyalurkannya. Meminta damai bagi mereka tidaklah cukup. Ketika teman-teman menyanyikan Kidung Maria, aku menangis. Hari itu Selasa malam, 19 Oktober 2010.

* Untuk anak-anak yang kesepian dan ditolak.