Friday, October 22, 2010

Ciko

Hanya kucing kecil, budukan ... lagi tidak bersih. Kutemukan malam hari di pinggir jalan waktu hujan selesai mengguyur. Dia berteriak keras. Sangat keras. Awalnya tidak aku pedulikan, tapi teriakannya yang keras seakan melempar energi yang meruntuhkan kebekuan hati. Melampaui makna yang awalnya kulihat hanya sekedar kucing. Makna itu terus menampakkan dirinya yang sejati dan frekuensinya tersambung dengan pengalaman masa laluku. Tepat di titik itu aku seakan mengenali sesuatu lebih dari sekedar kucing; kepedihan, kesepian, dan ketakutan.

Maka, aku beranikan mengambilnya. Dia diam waktu aku meletakkan pada lengan, sedangkan aku berpikir, ‘’hendak di letakkan dimana di rumah nanti?” Rumah yang aku tempati adalah rumah komunitas. Meskipun aku tahu bahwa pada dasarnya teman-temanku baik adanya tetapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengurusnya. Kuputuskan memberinya tempat di pojok carport yang cukup hangat pada sebuah kardus dan kain dengan harapan sang induk datang mengambilnya. Semangkuk kecil susu kusorongkan, yang dibalas dengan tatapan dingin. Dia sepertinya tahu aku hendak masuk rumah lagi dan meninggalkan dirinya di carport. Dia berteriak. Suaranya terdengar dari dalam rumah.

Seorang teman memberi nama : Ciko. Barangkali untuk mengenang kucing kesayangannya dulu. Ciko selalu berteriak keras setiap mendengar suara. Seperti anak ketakutan yang ingin dipeluk. Tetapi yang unik, yaitu setiap aku datang untuk memberinya makan dia berlari mendekat. Dia hanya ingin mendekat dan berlari cepat mengejarku setiap kali aku meninggalkannya. Sesekali dia kubiarkan masuk rumah dan memanjati lenganku dengan kakinya yang gemetar. Pada saat seperti itu dia diam seribu bahasa. Sebaliknya berteriak keras ketika kutinggalkan di luar. Pernah sekali melalui jendela kulihat dia tetap setia duduk dalam waktu lama sambil berteriak keras dan memandangi pintu yang kututup; pintu tempat aku masuk. Selanjutnya, dalam kelelahan dia menyerah pergi ke kotak kardusnya. Entah kenapa suatu rasa terbersit dalam hatiku, ‘’aku menolaknya’’. Mungkin dia cuma kucing. Tapi perasaan yang melampaui keberadaannya sebagai kucing terus muncul.

Malam menjelang hari ketiga aku memindahkan Ciko ke Garasi. Kupikir agar lebih hangat dan aman dari ancaman luar dan badai. Tapi baik malam itu atau esok paginya dia tetap berteriak keras, menatap dengan dingin susu dan makanan yang kuberikan, dan tentu saja, mengejarku. Malam hari di hari ketiga teriakannya mulai berkurang. Kadang ada kadang berhenti. Ah, kupikir dia mulai tenang. Syukurlah.

Pagi hari keempat selesai ibadat pagi. Aku tidak mendengar suaranya. Di Garasi kulihat dia mendengkur tidur dalam kardusnya. Aku lega melihatnya bisa istirahat. Maka kuletakkan dengan hati-hati semangkuk susu menggantikan yang lama yang tidak pernah disentuhnya. Setelahnya aku kembali ke kamar.

Tetapi di dalam kamar hatiku mengatakan sesuatu. Kudatangi kembali Garasi. Aku memandangi kucing kecil tersebut dengan lebih jelas. Dia memang tidur tetapi bukan dalam sebuah istirahat tenang. Matanya yang terbuka menatap nanar. Tubuhnya lemas. Nafasnya pelan dan sesekali terdengar lengkingan lirih suaranya. Tidak ada reaksi apapun ketika tubuhnya kuangkat. Dia menjelang kematiannya ... dalam kesesakan, kesepian dan kesedihan. Dia sudah menyerah. Tidak didapatkannya tempat bersandar di bumi ini. Suatu tempat yang bisa memeluknya. Saat itu aku yang merasa hampa hati membawanya ke kamar. Memberinya tempat yang terbaik dan hangat selama menunggu kepergiannya. ‘’Sudah terlambat’’, seperti ada yang berbisik. Tapi tak apalah. Siang hari menjelang sore kucing kecil itu pergi selamanya. Bersama dengan tanah terakhir yang menutup kuburnya, aku teringat kembali saat dia berjuang mempertahankan harapan untuk beroleh kehangatan tapi harus kembali ke kardusnya dengan lengkingan kesedihan dan kesepian yang dalam. ‘’Ah, aku sudah menolaknya’’.

Barangkali hanya kucing kecil. Budukan lagi. Tapi kesepiannya menyebarkan sebuah tanda. Dalam frekuensi yang sama aku menangkap tanda itu, yang sepertinya pernah hadir dalam realita hidupku. Aneh, Ciko si kucing kecil itu pelan-pelan semakin menampakkan kejujurannya yang melampaui dirinya sebagai seekor kucing. Dia menampakkan diri sebagai anak kecil. Berawal dari satu orang, menjadi puluhan, ratusan dan ribuan. Semuanya berlari mengejar sambil berteriak. Menggapai harapan dalam ketakutan dan kesepian, tetapi berakhir dalam penolakan. Tiba-tiba terdengar bisikan, “jangan lagi menolak. Jangan!”. Tapi bagaimana mungkin? Ada ribuan anak! Aku lari menghindar dalam pelukan doa ibadat malam. Aneh, selama ini aku mencari makna dari doa-doa yang kudaraskan, dan malam itu semuanya bertemu dalam sebuah kesatuan penuh waktu aku mengucapkan; ’’untuk mereka yang sedih karena kesepian dan ditolak. Semoga Tuhan memberi damai kepada mereka ... damai yang tidak pernah diberikan oleh dunia’’. Aku menjadi tahu bahwa selalu ada rahmat bagi turunnya damai, tetapi rahmat itu membutuhkan banyak tangan yang rela untuk menyalurkannya. Meminta damai bagi mereka tidaklah cukup. Ketika teman-teman menyanyikan Kidung Maria, aku menangis. Hari itu Selasa malam, 19 Oktober 2010.

* Untuk anak-anak yang kesepian dan ditolak.

Monday, March 1, 2010

Love

Subuh dini hari aku bermimpi berjumpa almarhumah Ibu yang menjelang 4 tahun lalu berpulang. Ini mimpiku yang pertama sejak sekitar setahun lebih tidak pernah memimpikannya lagi. Mungkin karena aku tidak terlalu peduli dengan mimpi. Mimpi selalu aku anggap sebagai kembang tidur saja. Biasan perasaan-perasaan hati yang terpendam saja, termasuk pada awal kepergiannya.

Tapi ada yang menarik dari mimpi kali ini.

Dalam mimpi tersebut aku datang mengendarai sepeda ke sebuah rumah yang sedang mengadakan acara penghormatan kepergian seseorang, dan aku tahu seseorang yang berpulang itu adalah Ibuku. Uniknya, aku tidak melihat situasi atau gambaran jenazah dengan petinya. Hanya melihat kerumunan besar dan suara penata acara yang sebentar lagi akan mengucapkan kata perpisahan melepas jenazah.

Selepas memarkir sepeda aku melihat Ibu berdiri di depan pintu masuk. Wajahnya cerah dan rileks (berbeda dengan terakhir aku lihat, begitu menahan sakit karena kankernya). Beliau menungguku. Kami beranjak keluar bersama melewati beberapa pelayat. Sebelum melewati beberapa pelayat beliau menawarkan untuk berbincang sejenak dengan kondisi badan kami tidak terlihat oleh pelayat. Dan betul kami melihat mereka tapi mereka tidak melihat kami. Aku lihat juga Romo Prasetyo, seorang Imam yang selalu baik dengan keluarga kami.

Di tengah jalan aku bertanya kepada Ibu : "Aku rindu sekali. Apakah Ibu juga rindu sama aku?"

Dengan tenang beliau menjawab : tidak.

Mendengar jawaban itu hatiku menjadi sedih sekali. Dan demi melihat reaksi sedihku Ibu mengatakan lagi : "Tetapi itu di dalam nama Tuhan". Dijelaskan lebih lanjut karena aku masih tidak juga paham : "Ibu sudah ikut Tuhan". Mendengar itu aku menjawab : "maka itu sudah tidak ada lagi emosi ... barangkali ... semua menjadi penuh dan tertuju kepada Tuhan ... ". Sebuah jawaban yang kujawab atas pertanyaanku sendiri, dan tentu tidak memuaskanku.

Suara penata acara kembali kudengar memberangkatkan jenazah. Aku lihat para pelayat berduyun menuju pemakaman. Aku dan Ibu ada bersama mereka. Menjelang makam suasana mulai gelap dan aku tidak bisa melihat jauh ke depan. Tetapi aku tidak ngeri. Gelap yang kurasakan tidak lebih daripada sekedar datangnya maghrib. Tetapi satu hal yang kurasa jelas : langkah Ibu makin cepat dan pasti sedangkan sebaliknya langkah kakiku seperti ada yang membebani. Aku merasa ada tangan yang menghalangi menuju gelap tersebut.

Tiba-tiba aku sadar bahwa waktu kami tidak banyak. Kami akan segera berpisah. Hatiku gelisah karena masih dibebani pernyataan Ibu yang mengatakan tidak lagi rindu kepadaku. Aku berpikir apakah dengan demikian beliau tidak mencintaiku lagi? Maka, untuk menuntaskan pertanyaan tersebut aku berteriak kepada Ibu yang makin menjauh: "Ibu mencintai aku?". Kulihat Ibu mengangguk. Aku ulang pertanyaan sekali lagi dan beliau mengangguk. Dan setelahnya hilang ditelan gelap. Tetapi sebelum tubuhnya betul-betul hilang dalam kegelapan Ibu berteriak mengingatkanku : awas! sembari telunjuknya menunjuk satu titik di tepi jalan yang tiba-tiba menjadi terang. Maka terlihatlah seekor ular, yang siap menyerang. Aku mundur dan Ibu menghilang.

Hampir pukul 07.00 wib. aku terbangun. Mungkin aku tetap seperti biasa, tidak terlalu peduli dengan mimpi. Tetapi kurasakan ada kelegaan dihati karena merasa dicintai. Perasaan dicintai ini yang selalu aku yakin menjadi sumber kekuatan hidup dan kehadiran Tuhan yang lembut, selalu mengampuni dan menerima apa adanya.

Sunday, October 11, 2009

Lik Tarno Mencari Tuhan


Ini kisah sehari di hari Minggu 4 Oktober di Kampung Sawah. Kisah tentang menemani seorang penggiat sosial PPM Atmajaya Jakarta yang sedang membangun rumah. Mas Tarno namanya. Herman Yosef Sutarna lengkapnya. Aku mengenalnya lewat Lesnanto temanku yang tidak lain adalah kemenakannya.


Pertemuan kami sebetulnya sudah terjadi 2 minggu sebelumnya. Ketika itu Mas Tarno, yang mengakui bahwa dirinya jenis manusia yang tidak dekat dengan Gereja menceritakan keinginannya untuk memiliki sebuah rumah yang dekat dengan bangunan gereja. Tujuannya agar anak-anak - Oka dan Luhita - bisa terjaga keimanannya. Selama ini Mas Tarno merasa tidak memiliki waktu dan kemampuan untuk mendidik anak-anaknya dalam hal kerohanian. Untuk itu dia mempercayakan peran tersebut kepada "gereja" - entah melalui bentuk apa nantinya, bahkan mungkin lewat cara yang paling naif sekalipun : mencari lokasi rumah dekat dengan gereja.


Maka, sebagai ungkapan niat dia membeli sebidang tanah seluas 150 meterpersegi di Kampung Sawah tidak jauh dari gereja Servatius dan sesegera mungkin membangunnya, meskipun dengan metode rumah tumbuh untuk menghemat biaya.


Bersama Lesnanto kami bertiga sempat mendiskusikan konsep rumah mereka. Secara pribadi aku sangat tertarik dengan keinginannya untuk menjaga keimanan anak-anaknya. Tetapi, jujur juga kuungkapkan kepada Mas Tarno dan Les bahwa aku tidak terlalu percaya kepada lembaga gereja apalagi kalau hanya berwujud sebongkah gedung saja. Bagiku, awal pertumbuhan iman seseorang berawal dari keluarga yang secara fisik diwakili oleh rumah. Maka muncullah sebuah pandangan, yaitu untuk menjadikan rumah mereka sebagai gereja. Dan gereja Servatius, tentu kami masih menghormati keberadaannnya sebagai tanda hadir Tuhan, kami lihat bukan lagi sebagai datum (satu-satunya arah) melainkan sebagai teman seperjalanan dalam membangun sebuah Gereja. Gereja Servatius diharapkan mampu memberikan inspirasi melalui kegiatan dan peran sakramental di dalamnya, dan rumah Mas Tarno ... di luar ranah religius diharapkan mampu menjadi tanda kehadiran Tuhan dan Gereja melalui aktifitas penghuninya yang sangat nyata.


Terbersit juga ide untuk mewujudkan cita-cita tersebut dengan cara : menciptakan ruang yang hidup yang tidak berhenti dan selesai pada satu masa melainkan berkembang dan memiliki unsur fisik yang memungkinkan penghuninya ikut memberi sentuhan, ikut berkarya, ikut mewarnai, yang ujungnya diharapkan tercipta dialog antara Suami-Istri-Anak. Lewat dialog-dialog itu nantinya kami sadar pemahaman iman bisa dimasukkan. Dan rencana kami dimulai dari sebuah hari dimana seluruh keluarga bisa berkumpul bersama, melihat gereja Servatius, menyusuri jalan-jalan menuju lokasi, merasakan lingkungannya, berdialog tentang kenapa Ayah-Ibu memilih lokasi tersebut, memberi pengertian kepada anak-anak perihal pembangunan yang harus serba irit dan tidak langsung jadi. Dan untukku secara pribadi - seperti biasa - memberi mereka peluang untuk ikut menentukan ruang dan memilih material.


Pukul 08.30.

Aku dan Lesnanto tiba di Kampung Sawah. Sembari menunggu Mas Tarno yang baru tiba di Jakarta dari Muntilan memboyong tukang-tukang kami mengikuti perayaan Misa Kudus.


Selebran ketika itu adalah Romo Sarjumunarsa. Beliau memberikan kotbah yang menarik tentang kemiskinan. Lumayan, membangunkan aku yang sempet merem karena setiap 5 jam sebelumnya minum 2 butir pain-killer.


Menurut pandangan sang Pastor, seperti halnya agama lain, kemiskinan patut dihindari. Dan cara untuk menghindarinya tidak selalu harus menjadi orang kaya tetapi menjadi orang yang punya niat. Secara khusus kotbah ini menjadi inspirasi dalam diskusi-diskusi kami nantinya.


Selesai misa hujan turun deras sekali. Kami menunggu cukup lama, sampai akhirnya 1 jam kemudian Mas Tarno datang dengan sepeda motor berboncengan dengan Luhita dan seorang kerabat yang dipanggil Pakde, yang rencananya akan mengomandani pembangunan rumah. Kemudian kami berjalan bersama menyusuri kampung yang masih asri : hampir setiap rumah mempunyai teras, halaman, dan penghijauan. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan.


***


Lahan milik Mas Tarno diapit dua buah rumah sederhana. Posisinya lebih turun 50 cm dari muka jalan kampung. Di bagian belakang terdapat puluhan pohon nangka besar dan sebuah sumur. Di antara lahan dengan rumah tetangga di sebelah kiri terdapat jalan tanah selebar 1,5 m yang menerus menghubungkan rumah di belakang.


Kami juga bertemu dengan pemilik rumah sebelumnya. Bertandang di ruang tamu yang sederhana sembari minum kopi. Sungguh, sebuah rumah sederhana dan kecil. Lantainya terbuat dari semen yang di beberapa sudut mulai rusak. Biliknya terbuat dari plywood. Pintunya bukan berupa panel tetapi kain gordijn. Atap, seperti umumnya rumah kampung, terdiri dari rangkaian rangka kayu yang terekspos berbalutkan genteng tanah liat yang susunannya tidak terlalu rapat. Bersama pemilik rumah kami juga sempat mengukur ulang, mendirikan patok, dan membuat batas. Tidak profesional tetapi cukup bermodalkan kepercayaan.


Tidak lama kemudian Mbak Anti, istri Mas Tarno, datang bersama putera sulungnya dan 7 orang tukang. Mereka juga membawa plastik yang biasa dipakai untuk tenda dan beberapa peralatan. Entah, aku ngga tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan dengan barang-barang tsb. tapi untuk sementara aku sibuk di ruang tamu pemilik tanah sebelumnya. Menerangkan Mas Tarno, Luhita, dan Lesnanto foto contoh rumah yang bisa dijadikan referensi pada tahap pengembangan desain selanjutnya. Sempat juga ngobrol panjang lebar bersama tuan rumah yang adalah buruh serabutan.


Siang hari menjelang sore Lesnanto mengajak makan siang yang ternyata masakannya sudah disiapkan oleh Mbak Anti. Sebuah acara makan siang yang unik : duduk bersama di atas plastik tenda yang difungsikan sebagai tikar, digelar di atas rumput pada lahan yang akan dibangunan nantinya. Seperti model tamasya jaman dulu. Tetapi bagi calon pemilik rumah acara tersebut tidak lain sebagai selamatan. Maka akupun makan bersama mereka. Bersama keluarga calon penghuni rumah, juga bersama para tukang yang malu-malu, dalam suasana mendung di bawah naungan pohon-pohon nangka. Di sini aku belajar untuk mengatasi diri : meskipun kata orang aku jorok serba saru dan seru, tetapi sebetulnya jijikan juga, apalagi kalau harus makan di atas rumput dekat tanah yang basah penuh kotoran dan dekat kamar mandi pula. Oh my God! Hanya karena melihat semua yang hadir semangat maka akupun bertahan. Mereka begitu merayakan peristiwa ini.


Selesai makan kami sedikit berbincang dengan para tukang yang dikomandani Pakde. Membuat beberapa rencana berikutnya yang harus diawali dengan pembersihan lahan. Tidak ada gambar-gambar yang terlalu detail sebagai dasar pijakan. Cukup gambar skematik terukur skalatis, dan selebihnya adalah kepercayaan. Dalam hal ini aku juga tidak ingin mengunci mereka. Asalkan pijakannya sudah betul, yakni pondasi, konstruksi, dan ruang-ruangnya maka selebihnya biarlah mereka yang berperan menentukan perkembangan fisik bangunan, dengan harapan menemukan Tuhan dalam prosesnya yang terekam dalam dialog untuk menentukan segala hal yang terbaik bagi rumah yang akan dihuni. Baik bagi Mas Tarno dan keluarga, juga baik bagi keluarga terhadap lingkungan dan gereja Servatius. Ada keyakinan yang kuat dalam diriku bahwa proses membuat rumah ini akan menjadi sarana terjalinnya relasi antara keluarga Mas Tarno dengan tuhan mereka. Alasan apa yang membuat aku begitu yakin? Karena keluarga Mas Tarno kuihat mempunyai tujuan itu, membuka diri terhadap prosesnya, dan merayakannya.


Sayup-sayup masih kuingat kata-kata Romo Sarjumunarsa dalam kotbahnya tadi pagi :"kita mungkin tidak punya banyak harta benda. Tapi kita tidak miskin karena memiliki niat. Maka, marilah kita cari utangan, cari kredit. Kredit dalam bahasa latin, seperti Credo, berarti percaya".



Tuesday, September 29, 2009

Sang Pembawa Pesan


Dulu orang-orang selalu memanggilku dengan sebutan Dik. Kependekan dari kata Adik. Karena aku sempat terlahir sebagai anak ragil atau bungsu.


Tahun 1978 aku pernah mempunyai seorang adik laki-laki yang sekarang terbaring berbungkus kain kafan bersama jasad Ibu, bertetangga dengan para sesepuh dan kerabat. Kelahirannya nyaris membuatku urung menjadi anak bungsu. Dan setelah peristiwa kematiannya tidak terbayangkan olehku akan mempunyai seorang adik lagi. Maka dalam tahun-tahun selanjutnya aku tetaplah anak bungsu.


Tak disangka, pada tahun 1992 lahirlah seorang laki-laki. Dialah adikku sekarang. Lahir dari rahim yang berbeda dengan kami, ketiga saudaranya.


Dia diberi nama Norman Mahardika. Kata Mahardika diambil karena hari lahirnya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Tetapi untuk “Norman”, kali ini Bapakku tidak lagi berfilosofi seperti ketika memberikan aku dan kedua kakakku nama. Kata “Norman” diambil secara praktis saja : waktu itu Bapak yang sangat menyukai cerita kepahlawanan sedang gandrung dengan Jenderal Norman Schwarzkopf, serigala padang gurun di pertempuran Teluk.

Banyak pertanyaan muncul di seputar kelahiran Norman. Seperti disebut di atas, dia lahir dari rahim yang berbeda sehingga mereka yang melihatnya menyangsikan nilai harmoni di antara kami, dan tentu saja ketulusan kami terhadapnya. Pertanyaan itu secara tidak langsung rasanya lebih ditujukan kepada kami kakak-kakaknya, terutama aku yang selalu nyaris bungsu.

Kehidupan terus bergulir. Bersama kedua kakakku aku terus bertumbuh. Melewati masa sebagai pelajar SMU, hidup sebagai mahasiswa arsitektur, sebagai pekerja di bidang industri arsitektur. Kami juga melewati masa-masa ketegangan pencarian jati diri. Menjadi berjarak dengan Bapak-Ibu. Kadang menentang mereka tetapi juga belajar memahami dan menerima kemanusiaan mereka dengan segala potensi dan kerapuhannya.

Sampai akhirnya bisa berpijak di atas kaki sendiri dan merefleksikan kembali perjalanan hidup, aku melihat tidak ada yang janggal dalam hubungan kami dengan Norman. Ketidakharmonisan hubungan seperti yang ditakutkan oleh beberapa orang dulu hanyalah pikiran yang serba terbelenggu kebiasaan berpikir negatif. Sebaliknya, kuingat bahwa kami banyak terlibat peristiwa yang membuat saling menemani. Menemani dia bermain dan mengenal alam, bercerita tentang ragam keilmuan. Ketika dia beranjak dewasa kami berbagi tentang kehidupan yang lebih luas. Bahkan, yang lebih mengesankanku, dalam sebuah kesempatan aku diperkenankan menjadi wali dalam sakramen Krisma baginya. Menemaninya dalam sebuah peristiwa maha penting dalam kehidupannya sebagai seorang Katolik. Masih kuingat dan kusimpan dalam hati ketika tanganku memegang pundaknya dan di saat yang sama Monseigneur Ignatius Suharyo menumpangkan tangan di kepala Norman. “Terimalah Roh Kudus”, kata Sang Uskup, diiringi alunan lembut bait Veni Creator Spiritus yang berkumandang di sebuah gereja di lingkungan Biara Missionarium a Sacra Familia.

Saat aku menulis cerita ini Norman adalah seorang pemuda berumur 18 tahun. Menanti babak berikutnya sebagai seorang mahasiswa. Kulihat dia begitu gelisah menanti peristiwa-peristiwa yang akan terjadi nanti di depan. Sebagai orang yang pernah melewati masa-masanya aku bisa merasakan ketakutan, keraguan, semangat, dan kegembiraannya.

Dia juga cerdas dan sangat sensitif. Seorang pemaaf yang sejak kecil harus belajar menerima adanya dua Ibu. Dia sangat mencintai Ibu kandungnya dan Ibuku yang selalu kompak untuk urusan tarik suara ketika dirinya masih bergabung dengan kelompok paduan suara anak-anak.

Dia juga sangat bangga dengan sekolahnya – yang semuanya berisikan murid laki-laki – terutama dengan praktek ajaran mencari tuhan dalam kehidupan yang dijalani melalui penghayatan dalam pekerjaan sebagai buruh tambang kapur di Wonogiri, sebagai penjual bensin eceran, atau pencuci gerbong kereta api.

Tetapi bagiku, di antara rasa khawatir dan semangatnya dalam menapak masa depan, tersirat rasa percaya yang besar akan dirinya. Percaya bahwa kehadirannya di dunia bukan sekedar buah dari permainan asmara Kama-Ratih yang akhirnya lahir dalam sebuah keluarga yang rapuh. Pelan-pelan disingkapkan bagiku tentang peran seorang anak yang selama 18 tahun kami temani, yang sejak kecil sudah merasakan pahit-getir kehidupan. Bagiku dia seperti seorang malaikat yang harus hadir di tengah kerapuhan sebuah keluarga. Dia hadir untuk hidup berdua dengan Bapak. Menemani beliau yang saat ini kesepian dan jatuh di hari tuanya. Dia menggantikan peran kami - kakak-kakaknya yang harus pergi jauh.

Dia juga menjadi rahim bagi kami. Menjadi tanda agar selalu setia untuk menjalani kehidupan dengan rendah hati dan tidak keduniawian. Menjadi tanda bahwa hidup tidak melulu terarah bagi diri sendiri. Bagiku kehadiran Norman menjadi sebentuk alat yang melatih hati agar tetap dalam kondisi hening, agar mampu melihat apa yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan jalannya. Barangkali, kehadirannya dalam keluarga kami yang rapuh hanya sebagai persiapan untuk memasuki tugas-tugas yang diembankan kepadanya.

Friday, September 18, 2009

Mata Satya

Satya temanku. Dia teman sejak aku kecil, saat kami hidup sebagai anak kampung Prawirodirjan nun 25 tahun yang lalu. Dulu perawakannya kecil. Kami sering main perang-perangan bersama di kuburan Belanda, berenang di bendungan kali Code di wilayah Mergangsan atau kali Gajah Wong di Muja-muju. Kami juga sering mengunjungi museum pesawat di Maguwo sembari mimpi menjadi penerbang, atau mencuri-curi waktu naik kereta barang dari stasiun Lempuyangan ke stasiun Tugu.

Sampai studi di bangku universitas kami masih tetap awet berteman baik, bahkan sampai sekarang, meskipun tidak secara rutin bertemu dan bersapa. Tentu tidak lain karena kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan peranku sebagai arsitek dan dia sibuk sebagai seorang penulis lepas. Tetapi, dibanding aku yang arsitek, kuakui kemampuannya membuat sketsa tangan jauh lebih baik dariku.

Sudah lama kami tidak bertemu. Dan kemarin malam di dalam kamarku yang sepi menjelang Idul Fitri – tidak kusangka – aku dikejutkan dengan sms darinya. Ingin bertemu denganku katanya, mencuri waktu di sela kedatangannya di Jakarta yang hanya beberapa hari saja. Maka jadilah kami bertemu di sebuah gerai kopi di Jakarta Pusat.

Aku tertawa dan terpana waktu melihat dirinya masuk ke gerai kopi. Satya makin subur dan gemuk. Berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Tapi satu yang rasanya tetap, selalu setia dengan blue-jeans dan kaos polos lengan pendek. Sangat khas dirinya.

Dia masih setia juga dengan sketch-book. Bedanya dengan dulu dimana yang dibawa adalah sketch-book tebal dan besar, kali ini tampak lebih praktis, yaitu setengah folio. Cara menempatkan pena juga berubah : digenggam dalam tangan saja. Tidak lagi digantung di leher kaos yang sering meninggalkan noda tinta di dada.

Ditemani hot chocolate dan black coffee kesukannya kami berbincang, tetapi tidak selalu dipenuhi dengan pembicaraan yang panjang lebar serba kangen-kangenan. Kadang kami saling memandang saja sembari tersenyum. Ya, itu bahasa yang kami miliki sebagai sahabat. Dia memahamiku dengan segala tingkah-polahku. Begitupun aku memahami sifat pendiamnya di balik keriaanya. Banyak yang tidak tahu bahwa sebetulnya dia pendiam. Sangat pendiam. Hanyalah karena kebaikan hatinya yang selalu ingin membuat orang lain merasa nyaman maka dirinya bersikap luwes, dan kadang penuh banyolan yang membuat orang tertawa. Tapi sering dalam situasi tertentu aku melihatnya dalam ujud aslinya. Diam, merenung-hening. Sifat yang mungkin hanya diketahui oleh sedikit orang saja, dan kutebak : kekasihnyapun tidak tahu.

Sebagai sahabat kami merasa senang dengan sekedar ditemani. Misalnya malam itu sembari membuat sketsa dia berbicara sekelumit kalimat namun mengandung makna yang dalam. Kadang wajahnya tidak menatapku sama sekali melainkan sketch-book yang digores-goresnya dengan tinta seakan-akan lembaran kertas itu adalah diriku.

“Belum berniat menikah juga?”,tanyaku
“Belum. Kamu sendiri? Entahlah. Sering aku mencari-cari apa yang salah dalam diriku. Tapi semakin dicari tidak juga ketemu. Yang ada aku malah dihadapkan pada banyak peristiwa yang membuatku bingung untuk memilih. Tapi mungkin itu juga bias dari sifatku ya … kamu kan tahu aku peragu. Tapi ….”
“Tapi apa?”
“Hmm … kadang aku tidak terlalu merasa bersalah dengan keraguanku. Sering itu seperti sebuah insting yang sangat kuat dan akhirnya tetap berbuah pada kepastian yang baik yang justru akan menjadi tidak baik kalau aku tidak mengikuti keraguanku”.

Aku tertawa. Kubiarkan saja dirinya dengan pola pikirnya yang aneh untuk ukuran dunia modern. Tapi kuakui, Satya yang peragu dan hati-hati, Satya yang sederhana dan memiliki sifat generous sudah berulangkali melakukan kebaikan untuk orang lain dibanding dengan diriku. Tidak hanya kebaikan, bahkan dengan mataku sendiri kulihat Satya dengan mata hatinya menegakkan harkat hidup beberapa orang, yang bahkan jarang bisa dilakukan oleh para pemimpin modern saat ini. Beberapa orang besar yang kukenal melihat kemampuan Satya ini dan mereka ingin merengkuh dia. Tapi Satya tetap sosok yang kukenal. Dia lebih ingin tenggelam dan tidak tampak.

“Aku bertemu dengan mataku”, katanya lagi. Wajahnya semakin lekat menatap sketch-book dan jemarinya semakin menekan pena yang berbuah pada goresan-goresan tegas.
“Mata? Mata apa? Aku ngga paham?”
“Ingat 15 tahun yang lalu?” tanyanya mengingatkanku.
Ah, akhirnya kuingat. Pikiranku mundur ke masa lalu. Mungkin hanya beberapa detik tetapi sepertinya lama sekali.

Yang disebut mata itu adalah kekasihnya. Seorang perempuan Cina. Perempuan cantik yang sangat dicintai Satya, menurutnya, seumur hidupnya. Perempuan yang sangat fasih berbahasa inggris dan penuh ambisi untuk maju di tengah kemampuan finansial keluarganya yang tidak mendukung. Aku sangat tahu kisah percintaan mereka yang penuh perjuangan dan tantangan. Di mataku kehidupan mereka berdua lebih dari soal percintaan. Sebagai arsitek aku selalu mengibaratkan hubungan mereka sebagai proyek membangun menara. Ada sebuah kerjasama yang baik, tapi ada kalanya menara belum juga selesai tetapi mereka sudah berada di ketinggian. Di situlah mereka bisa memandang alam sekitar yang cantik yang tidak bisa dilihat ketika berada di bawah.

Hati manusia yang tertawan oleh keindahan yang lebih luas mengundang hasrat untuk terbang. Lepas bebas agar bisa terbang lebih jauh dan memandang alam di kejauhan lebih dekat. Dan itulah yang terjadi, setidaknya apa yang kutangkap dari pernyataan Satya menanggapi perpisahan dengan kekasihnya.

Mendengar berita itu aku tidak banyak komentar. Aku hanya menerima saja apa yang Satya ungkapkan kepadaku : bahwa dia, meskipun pedih, menerima dengan tulus kepergian kekasihnya – perempuan yang selalu diibaratkan mata baginya - demi kasihnya kepada perempuan itu. “Asal dia bahagia. Aku bahagia kalau dia bahagia”, katanya lirih.

Kumandang azan dari mesjid agung Kotagede mengiringi kalimatnya. Di kejauhan aku melihat orang-orang datang untuk sembahyang. Langit mulai gelap. Dan Satya, kulihat dia duduk bersila. Diam dan hening larut bersama suara azan. Dalam imajinasiku aku melihat seorang Samurai tegak diam menantang musuh yang akan merebut kekasihnya. Dia berdiri menghadang lawan, berkata kepada kekasihnya : lari! Mata hatiku melihat Satya menghadang lawan, tapi aku tidak melihat siapa lawannya. Orang lainkah … atau dirinya sendiri?

***

Harum aroma kopi menyadarkanku. Satya masih duduk di hadapanku tetapi matanya menoleh ke belakang. Melihat orang-orang bersorak, menonton pertandingan sepak bola melalui siaran televisi.

“Lantas, kamu melihatnya lagi? Dimana? Apa kabar dia?”. Aku mengawali pembicaraan setelah Satya berbalik lagi menghadapku.
“Umm … kemarin kami bertemu. Aku masih ngga habis pikir bagaimana dia bisa menemukan alamatku. Kau’kan tahu, setelah dia menikah aku memutuskan menyudahi kontak. Samasekali.”

“Dia dalam kondisi baik,” katanya lagi. “Hebat. Dia betul-betul mataku. Dia sudah berkeliling dan melihat kota-kota dunia. Suatu hal yang selalu kuimpikan tapi belum terlaksana. Tetapi tidak seperti orang lain yang sekedar mengatakan “aku pernah di sini”, dia bisa bercerita tentang kehidupan setiap kota dan negara yang disinggahinya lengkap dengan nilai-nilainya. Begitu hidup, sehingga mendengar ceritanya aku seperti menguyah makanan yang aku suka dan menikmatinya”.

Kubiarkan Satya bercerita seperti anak kecil yang gembira karena menemukan dunia baru. Biar saja. Kulihat dia sedang jatuh cinta. Kupahami itu dari penjelasannya tentang arti ‘mata’ yang baginya lebih dari sekedar pernah melihat kota-kota dunia. Baginya, perempuan mantan kekasihnya itu, masih seperti dulu mampu menumbuhkan semangat hidup Satya.

“Lantas, kenapa dia kembali mencarimu? Kamu bilang dia terkesan membenci dan menjauhimu waktu kalian putus dulu.”

Diam. Tidak ada jawaban. Dia seperti disadarkan oleh sesuatu. Kemudian dia berkata lagi. Lirih :”suaminya pasti hebat. Tentu dia seorang yang bisa memberikan dunia. Tidak seperti aku”.

“Ya, tidak seperti kamu. Orang gila yang sukanya main petak-umpet. Serba tidak mau kelihatan dan suka menghilang. Nah, kulihat dari nomor sms yang kamu kirim tadi … nomormu ganti lagi ya? Dasar sok misterius … incognito”.

Kami tertawa. Bebarengan dengan sorak-sorai goal penonton sepak bola.

Monday, August 31, 2009

Girisonta, Januari 2009

Langit masih gelap ketika taksi yang kutumpangi masuk ke sebuah pelataran luas penuh pohon-pohon besar. Harum rumput dan pohon pinus basah segera menyergap ketika kubuka pintu mobil. Saat itu pukul 03.00 dini hari. Masih terasa rintik kecil hujan sisa-sisa badai semalam yang menimbulkan banjir di seluruh dataran rendah Semarang.

Selepas membayar ongkos taksi mataku yang lelah menyapu permukaan bangunan kolonial besar penuh jendela besar, kira-kira 50 meter di hadapanku, yang hampir seluruh figurnya tertutup gelap, kecuali bagian pintu mukanya. Maka, aku mengarahkan diri menuju ke pintu itu. Dan benar, kulihat Jumeno, salahseorang Bruder di tempat ini menungguku sembari tersenyum. Tak banyak pembicaraan di antara kami yang masih mengantuk sepanjang perjalanan menuju kamar melewati Domus Patrum yang luas dan gelap. Tetapi kepadanya sempat kutanyakan apakah Wisnu dan Anton sudah tiba.

Di dalam kamar.
Kuamati kamar yang terasa dingin. Langit-langitnya cukup tinggi, kira-kira 4 meter. Sebuah tempat tidur berkelambu, sebuah meja kerja, dan sebuah lemari pendek. Aku membuka jendela besar dan segera udara dingin menyergap. Pakaian kutata di lemari. Begitu juga buku-buku segera kuletakkan di meja kerja. Sembari duduk di kasur yang dingin, untuk kesekiankalinya dan seperti biasa, aku mengucap :”Tuhan, aku disini”. Selanjutnya aku merebahkan diri. Tidur.

Pukul 05.00 wib.
Lonceng kapel berdentang keras, tetapi suaranya tidak mampu membuatku bangkit dari tidur. Sempat sayup-sayup mendengar suara-suara orang di luar. Sepertinya hendak ibadat pagi. Tapi aku betul-betul tidak tertarik dan lebih memilih masuk ke dalam selimut.

Sampai akhirnya terdengar suara ketok di pintu berulang-ulang.
Aku melirik arloji : Pukul 06.20 pagi. Segera aku melompat bangun, dan ketika pintu kubuka tampaklah Wisnu dengan gayanya yang khas.
“Kumpul di Refter jam 07.00”.
“Anton sudah datang?”
“Belum”.

Setengah hari yang cukup menyibukkan. Tidak banyak yang kami kerjakan untuk mengisi setengah hari itu sebetulnya selain berkenalan dengan para penghuni, yaitu para novice dan beberapa pastor pembimbing. Berbincang dan makan siang bersama mereka, sembari sesekali melihat suasana di tempat ini.

Pukul 3 sore kami bertiga dikumpulkan di ruang pertemuan. Seorang Pastor muda memperkenalkan diri sebagai seseorang yang akan menemani kami selama 3 hari ke depan. Wajahnya cukup tampan dengan garis mata sipit menunjukkan garis keturunan Tiong Hoa. Dari tutur katanya dia terlihat baik dan berkesan seorang pendengar. Tidak banyak yang dijelaskan kecuali sebuah metode yang disebutnya sebagai shalom. Dia juga meminta kami untuk taat dalam menjaga silentium, tidak berbicara selama 3 hari kecuali sungguh diperlukan. Selebihnya dia juga berpesan agar kami selalu berada dalam situasi santai dan membuka hati. Atentif, begitu dia menyebutnya. Memasang telinga dan mata hati karena Tuhan bisa berkata lewat apapun.

***

Girisonta, 15 Januari 2009, pukul 22.00 - Makam Gethsemani

Sudah 30 menit aku mondar-mandir di dalam makam yang gelap ini, di bawah naungan pohon-pohon besar. Udara dingin dan basah. Sudah berulangkali pula aku berjalan melintas di antara nisan-nisan dengan salib serba putih atau memandangi nisan-nisan yang terletak di dinding. Cukup lama sampai-sampai aku hampir hafal separuh nama yang dikuburkan di tempat ini. Joseph G. Beek, Schoonhoff, C. Kester, W. Daniels, A. Siswapranata, Br. Jak Van Zon, Carolus Orie, S. Beekman, J.M. Grounenwoud, C. Looymans, Guido Sabdautama, Al. Setiawan Gani, Chr. Melchers, Thomas Jacobs, F. de Van Der Schueren, dan … Th. Hendriks … ya, kuingat nama ini. Seorang imam Jesuit berkebangsaan Belanda yang pernah kukenal 25 tahun silam saat aku masih aktif melayani gereja sebagai mesdieneer atau pelayan altar, atau lebih tepatnya pelayan. Ya, pelayan atau abdi.

“Perjumpaan” kembali ini mengesankanku. Aku seperti disadarkan akan sebuah nilai kerendahan hati, yang menuntunku untuk berani menyelami sebuah tantangan : berani untuk menjadi abdi. Berani untuk menjadi bukan siapa-siapa. Hanya kosong belaka.

“Perjumpaan” kembali ini juga membuatku segera menyudahi perenungan malam dan bergegas kembali ke dunia yang hangat di kamarku dengan sebelumnya mengunjungi Kapel Domus, untuk sejenak menyampaikan penghormatan dan seserahan. Sesaji bagi Sang Adi Kodrati yang kukemas dalam kehidupanku hari ini.

***

Girisonta, 16 Januari 2009, pukul 10.30

Colloquiuum atau berbincang sejenak dengan Pastor Pembimbing.

“Jadi, apa yang ada di dalam benakmu berkaitan dengan peranmu di dunia? Katamu kamu enggan untuk menjadi seseorang yang mencolok.”
“Begitulah kira-kira. Entah kenapa hati saya tidak tergerak ketika membayangkan berperan menjadi seorang tokoh, atau seseorang mempunyai jabatan.”
“Selama proses perenungan semalam kamu memiliki tempat favourite? Atau … oh ya, kemarin saya meminta agar kamu membuat sebuah simbol yang menyiratkan jati dirimu. Sudah kau temukan simbolmu?
“Ah ya …. tentu. Kemarin saya melihat deretan sepeda tua yang sering dipakai para Novice untuk tugas keluar. Entah kenapa saya suka melihat figur sepeda-sepeda yang sederhana itu. Sudah berkarat dan lapuk di sana-sini memang, tetapi penuh energi. Saya membayangkan sesederhana itulah hidup saya. Tapi malam harinya, waktu merenung saya merasa simbol sepeda sepertinya terlalu romantis.”
“Mm. Kamu memilih merenung dimana? Kapel, teras, kamar, ruang doa?”.
“Tidak Romo. Tidak di Kapel, tidak juga di teras atau kamar atau ruang doa. Tetapi di makam. Ya, makam. Semalam saya berkunjung ke sana.”
“Kamu suka makam?”
“Ya”.
“Menarik sekali bahwa semua nilai kesederhanaan yang kamu ungkapkan sangat erat kaitannya dengan makam. Mungkin itulah simbolmu : makam”.
“Aduh, memelas sekali diriku disamakan dengan mayat dan tulang-tulang yang tinggal di jaratan itu”.

Tertawalah sang Pastor. Dia mengatakan justru aku harus mencari makna makam. Adakah nilai lain dibalik kematian serba ngeri di dalamnya? Dan untuk selanjutnya dia menyarankan agar aku sesering mungkin berkunjung makam karena katanya lagi : tuhanmu menunggumu di sana.

***

Girisonta, 17 Januari 2009

Aku merasa kering. Penuh pertanyaan atas apa yang kami, tepatnya aku lakukan di tempat ini. Untuk apa sebetulnya aku meluangkan waktu selama 3 hari, ijin meninggalkan pekerjaan. Toh pekerjaan yang kutinggal sejenak kusadari merupakan berkah dalam hidupku dan menjadi berkah juga untuk orang lain. Lantas apa yang kurang? Kenapa aku tidak focus saja kepada hidup dan pekerjaan yang sudah ada, bukan sebaliknya bergerak mencari bentuk yang lain, bahkan sampai menuju simbol makam atau kekosongan seperti yang dikatakan Pastor kemarin. Ah, tetapi toh itu cuma simbol belaka. Bukan sesuatu yang nalar tersentuh tangan dan kasat mata. Untuk apa dipusingkan?

Hari ini, seperti halnya kemarin, selalu diadakan ibadat ekaristi pada jam 6 sore. Khusus untuk kami berempat dan dipimpin sendiri oleh Pastor Pembimbing. Misa yang sangat intim di Kapel Maria yang sepi di tengah gerimis yang semakin meneguhkan dinginnya udara. Kami duduk merapat bersila melingkari altar kecil. Pastor dengan jubah putihnya seakan-akan mewakili sosok Guru yang sangat dekat murid-muridnya. Kadang kami bersama-sama melakukan sharing kecil atau mendengarkan khotbah yang diurai dengan sangat membumi seakan-akan kamilah pelaku di dalamnya. Atau kadang kami bermeditasi. Sekedar mencecapi perjalanan hidup dan menyadari kehadiran Seseorang yang sudah menemani kami sejak lahir di bumi – Seseorang yang sering kami lupakan ketika hidup menghirup hiruk-pikuk dunia.

Tetapi dari seluruh perayaan yang terangkum dalam misa itu ada hal yang selalu kami tunggu : secara intim kami memakan roti kecil dan minum anggur bersama. Roti selalu kami bagikan dengan penuh kasih dari satu orang ke yang lain. Begitupula anggur.

Roti yang berarti kemanusiaan kita yang hidup, yang terus dihidupkan dengan penuh jerih-payah melalui pekerjaan sehari-hari. Dalam roti yang sama itu pula Sang Adi Kodrati yang selalu menganggap manusia sebagai masterpiece, buah cintaNya yang dimerdekakan dengan cara diperkenankan hidup utuh dengan segala sisi kemanusiannya, rela untuk hadir dengan memakai pakaian yang sama dengan manusia, berbicara dengan manusia, menyentuh manusia. Untuk merayakan kehidupan kita. Berkenan merasakan apa yang manusia rasakan meskipun luka sekalipun. Berduka bersama manusia, tertawa bercanda bersama manusia.

Dan anggur, melambangkan darah, pengurbanan. Diminum setelah manusia memakan roti yang tak lain adalah Sang Adi Kodrati sendiri yang telah berkenan merasakan apa yang dirasakan manusia dalam seluruh sendi kehidupannya. Agar Dia bisa memeluk dan membawa segala sisi kemanusiaan kita yang bahkan penuh luka untuk kemudian dibersihkan dengan darahNya sendiri supaya manusia menjadi murni kembali, sama dengan diriNya.

Selalu saja peristiwa ini membawaku dan teman-teman lain ke dalam situasi berkanjang. Bukan sekedar perayaan, tetapi layaknya hadir di hadapan orang tua yang begitu merindukan kejujuran putera-puterinya. Di dalamnya tidaklah perlu suasana gegap gempita penuh sensasi sebetulnya.

Kejujuran seringkali berupa luka. Seringkali juga manusia bertingkah laku seperti anak yang menutupi luka karena takut terlihat oleh orang tuanya. Takut dimarahi karena dianggap melakukan perbuatan yang serba ngawur. Tetapi Gusti Allah itu orang tua yang gemar menyembuhkan. Menghukum tidak doyan Dia. Membuang waktu saja kataNya. Tetapi sesuatu hal bisa terjadi – termasuk proses penyembuhan luka - kalau ada kemauan dari kedua pihak. Maka, ada baiknya seorang anak yang terlukapun ikhlas memperlihatkan boroknya, bahkan kebodohannya.

***

Girisonta, 18 Januari 2009

Malam terakhir. Colloquiuum pk. 10.30

“Bagaimana Mas? Sehat?”
“Baik Romo. Sudah lebih bening-hening-wening hati ini. Saya banyak membuat sketsa sebagai proses doa hari ini. Sesuai pesanmu kemarin. Buatlah proses doa yang sangat aku banget. Kebetulan aku memang suka sketsa dan membawa sketch-book ke sini.”
“Menarik sekali. Bagaimana tentang makam? Tertuang juga dalam sketsa?”

Aku memperlihatkan sebuah sketsa yang menggambarkan situasi makam, yang kubuat dalam hati terdalam nan hening sebening Girisonta : menggambarkan ladang luas penuh tanaman dan hutan di kejauhan. Seberkas sinar matahari teduh-hangat menerangi ladang. Di tengahnya terlihat sosok anak berlari gembira.

“Jadi, bagimu makam bukan tempat yang mengerikan penuh kematian? [Bukan. Malah sebaliknya. Ada kehidupan di dalamnya] Apakah kamu pernah datang ke suatu tempat dimana ada kesunyian dan kesederhanaan? [Pernah. Waktu libur Idul Fitri tahun lalu. Kebetulan Bapak mengajak ziarah. Pilihannya ke Sendang sono atau ke satu tempat lagi di Jawa Tengah juga. Kebetulan kami belum pernah ke tempat yang satu itu, maka melajulah kami ke sana] Apa yang kamu rasakan sesampainya di tempat itu? [Saya merasa homy Romo] Ah”.

“Oh ya, satu pertanyaan lagi Romo”.
“Oh, silahkan”.
“Mengenai simbol. Sepenting apakah dia sehingga beberapa hari ini kita diminta untuk fokus kepadanya?”
“Kamu tahu kompas atau sextant? Ya, seperti itulah. Digunakan sebagai sarana saja untuk membaca arah hidup, atau yang lebih jauh lagi membaca disposisimu dengan tuhanmu. Memang betul tuhan kita satu dan sama. Tetapi setiap manusia diciptakan secara intim oleh penciptanya dengan tujuan yang berbeda dan khas, menjadi semacam rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Nah, kerapkali kita merasa sudah berbuat banyak hal bahkan yang baik-baik tapi kok masih saja ada yang kurang. Maka ada baiknya mengarahkan kepada tujuan kita diciptakan. Biar selaras. Tetapi bukan berarti perbuatan baik yang sudah dilakukan, meski tidak selaras, menjadi tidak baik. Tidak juga. Tetapi persis di sini bedanya makna antara percaya kepada Sing Murbeng Dumadi dengan ikut denganNya. Percaya kepadaNya adalah baik tetapi mau dan ikhlas dipakai sebagai alatNya, sesederhana apapun itu, adalah nilai yang lain lagi. Manunggaling kawula lan Gusti.”

***

Cukuplah tiga hari ini. Tiga hari yang menegangkan, melelahkan, sekaligus menyejukkan dan menguatkan. Dan yang menarik adalah awalnya kami berempat hadir untuk mencari disposisi diri masing-masing dalam kehidupan. Tetapi yang ditemukan adalah lebih dari itu : relasi dengan Tuhan. Melihat bahwa Dia begitu baik dan tidak memedulikan dosa dan keberdosaan manusia. Menyadari bahwa Dia selalu hadir bahkan pada situasi terburuk sekalipun. Hadir untuk menguatkan, atau dalam bentuk lain juga hadir untuk mengajarkan melalui sebuah pengalaman pahit di masa lalu agar suatu saat manusia bisa menjadi teman seperjalanan bagi orang lain yang berada dalam situasi yang pernah dialaminya. Di sini terlihat jelas bahwa melakukan refleksi dan mencecapi kembali pengalaman masa lalu selama tiga hari ini bukanlah perkara romantis belaka, tetapi layaknya menarik mundur tali busur untuk melesatkan anak panah jauh ke depan.

Wednesday, July 22, 2009

Rawaseneng, 12 Mei 2009


Ibadat invitatorium baru saja selesai dikumandangkan waktu aku menginjakkan kaki di pertapaan ini, sebuah biara yang jauh dari keramaian, pada sebuah dataran menghadap gunung Sumbing. Dalam lelahku sisa perjalanan semalam masih kuingat wajah-wajah yang menemaniku selama perjalanan : pengemudi bis asal Maron Temanggung yang menunjukkan dimana aku harus “mengambil” ojek. Juga wajah laki-laki tua yang duduk di sebelahku selama perjalanan - seorang pedagang kelontong di pasar Parakan, dan tukang ojek yang mengantarku melintasi hutan pinus berkabut tebal di wilayah Kandangan. Kuingat pula ekspresi wajah rahib yang menerimaku. Blasius namanya. Nama yang diberikan kepadanya menggantikan nama aslinya : Iwan. Ya, Iwan, atau tepatnya Mas Iwan. Demikian aku mengenalnya. Untuk beberapa saat dia termenung ketika kusebutkan nama itu. Kusebut juga nama kecilku, nama Eyang, dan sebuah alamat rumah di Yogyakarta. Tak berapa lama kemudian senyumnya mengembang. Seperti ada kegembiraan yang memecah kesunyian yang bertahun-tahun dijalani sebagai seorang rahib.

Menjelang pukul 6 pagi.
Lonceng angelus berdentang keras menandakan ibadat pagi di kapel hendak dimulai. Gemanya menembus lembah, menyusup di antara pepohonan, merobek kesunyian dan dingin. Dentangnya yang keras juga memenuhi kamarku yang sangat sederhana dan hening, sebuah kamar tamu bernomor “A” yang bersebelahan dengan “slot” yang menghubungkan kapel dengan hermitage. Sebetulnya aku masih lelah. Tetapi kukuatkan hati untuk bangun dan beranjak ke kamar mandi. Untunglah air hangat bersama udara dingin membangkitkan kesadaranku.

Kapel di pertapaan ini tidak besar. Sebuah kapel khas monastik. Berbeda dengan susunan gereja pada umumnya dimana bangku di letakkan menghadap altar, bangku-bangku atau stal yang digunakan oleh para rahib, yaitu semacam kubikel, tidak menghadap ke altar melainkan terletak di sisi kiri dan kanan ruangan saling berhadapan. Setiap sisi terdiri dari beberapa stal dengan 2 tingkat : satu deret di muka dan satu deret lagi di belakang dengan posisi yang lebih tinggi. Kubikel-kubikel itu tampaknya semacam properti pribadi bagi pemiliknya : tempat mereka bersamadi baik dalam posisi berlutut, bersila, duduk, maupun berdiri.

Di bagian muka adalah altar dengan sebuah tabernakel berhiaskan ukiran kayu di sekelilingnya yang menggambarkan Santa Perawan Maria. Sebuah tongkat salib di letakkan di muka mimbar. Di antara altar dan stal terlihat sebuah tali menjuntai dari plafond ke lantai yang ujungnya dikaitkan pada sebuah hook di dinding sebelah kanan. Tali itu yang menggerakkan lonceng di dalam cupola di atas altar.

Satu demi satu para rahib memasuki ruangan dan menempati stal masing-masing. Mereka memakai jubah putih dengan skapulir dan kerudung hitam. Sambil menunggu ibadat dimulai mereka bermeditasi atau berdoa. Tepat jam menunjukkan pukul 6 pagi secara serentak mereka dan kami semua yang ada berdiri, dan berkumandanglah kidung pembuka dalam alunanan nada gregorian.

Ya Tuhan, bersegeralah menolong aku.
Tuhan, perhatikan hambaMu ini.


Dan diikuti membungkukkan badan seraya berucap :

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.
Amin.


Kidung inilah yang selalu dikumandangkan pada setiap ibadat mengawali antifon dan mazmur.

***

Hari ini aku mengisi waktu dengan tidur atau sekedar mencecap keheningan. Betul-betul sunyi tempat ini. Di dalam kamar, kalau tidak terdengar suara senda gurau para karyawan pertapaan di luar, waktu rasanya seperti berada di titik nol.

Aku membolak-balik halaman beberapa buku yang kubawa. Tapi entah kenapa hatiku seperti menolak membaca. Ada perasaan ingin tinggal diam. Merasakan segala yang ada di tempat ini yang berbalut kesunyian. Berserah. Membiarkan diriku digerakkan oleh sebuah daya yang entah harus kusebut apa, tetapi kurasakan ada. Daya itu hadir seperti angin tetapi aku tidak tahu kemana dia datang atau pergi.

Kesunyian makin terasa karena saat ini memang tidak banyak orang luar yang datang ke tempat ini. Hanya beberapa kelompok kecil yang datang dan pergi. Selebihnya hanya tiga orang yang kutemui, dua di antaranya adalah seorang pastor dan seorang bruder dari sebuah konggregasi yang berbeda. Merekalah teman bicaraku di pertapaan ini, itupun kami lakukan hanya saat makan. Kami juga tidak banyak membicarakan hal-hal yang bersifat rohani, karena - meski aku tidak tahu persis - tetapi bisa menerka tujuan mereka tinggal di tempat ini selama satu bulan, yakni ingin hadir di dalam keheningan dan diterima seperti apa-adanya mereka dan bukan karena status yang mereka sandang.

Kusempatkan juga mengunjungi makam yang terletak di sebuah bukit. Entah mengapa makam selalu menawarkan sebuah nilai tersendiri bagiku. Di dalamnya seringkali bukan kengerian yang aku dapat melainkan kedamaian. Seperti halnya dini hari tadi waktu aku menginjakkan kaki di sini, sembari menunggu disediakannya kamar aku berkanjang ke makam. Dalam kegelapan dan dingin di bawah pohon-pohon besar nan tinggi aku duduk terpekur sendirian. Hening dan tenang sekali. Sejauh mata memandang yang tampak hanya nisan dan salib berwarna putih.

Aku juga mengisi hari dengan bercanda dengan tiga orang rahib dan berbincang cukup serius dengan Pastor Magister. Berbeda dengan tiga rahib yang gemar bercanda itu, yang ditugaskan – atau tepatnya diperbolehkan keluar dan menerima tamu, Pastor Magister yang berdarah Batak lebih berkesan serius. Simple, to the point, dan seperlunya. Sedikit sekali kulihat senyumnya. Tatapan matanya sangat tajam sedang kalimat yang keluar dari mulutnya jauh dari hal-hal romantis seakan mengatakan kepada semua orang yang ditemuinya :”Hey, bangun!! Jangan bermimpi terus!”.

Sesekali kulihat juga Romo Abbas atau pemimpin biara ini berbincang dengan para karyawan dengan bahasa Jawa, mengingatkanku akan sosok Mak Kuwat, Mbah Kasan, atau penduduk desa Gulurejo di Kulon Progo 10 tahun silam.

***

Blasius juga menemaniku. Beberapa kali dalam hari ini dia datang untuk memberikan beberapa informasi tentang kehidupan di pertapaan ini, yang berada di bawah panji sebuah tarekat atau ordo yang sudah berumur ratusan tahun. Mereka menamakan komunitas mereka Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae, tetapi orang-orang mengenalnya sebagai Trappist, sesuai nama tempat komunitas ini didirikan, yaitu di La Trappe Perancis.

Kehidupan para rahib Trappist itu biasa saja. Tidak ada yang sensasional di dalamnya. Tidak ada mujizat-mujizat atau penyembuhan, juga kekuatan-kekuatan supranatural. Yang ada hanyalah orang-orang yang bekerja di perkebunan, pembuatan roti, dan peternakan. Berkotor-kotor mereka. Lebih banyak melakukan pekerjaan tangan daripada bergelut dengan teknologi canggih. Dan di sela pekerjaan-pekerjaan untuk sekedar mempertahankan hidup tersebut mereka melakukan doa dan tapa yang mereka sebut sebagai tugas utama. 6 kali dalam sehari ditambah 1 kali ekaristi. Semuanya dilakukan dalam balutan kesunyian yang mereka katakan sebagai silentium magnum. Ini adalah metode askese. Salah satu cara untuk mengembangkan relasi manusia dengan penciptanya dengan memposisikan diri sebagai pendengar. Apa yang didengar? Adalah suara Sang Pencipta yang diyakini begitu lembut dan hanya bisa ditemukan didalam keheningan. Tetapi bagi para rahib, lebih dari mendengarkan, mereka merelakan diri untuk menjadi kosong agar bisa diisi oleh daya penciptanya. Secara bertahap, bersama kemanusiaannya yang tidak bisa disangkal dan juga terus hidup, mereka berupaya menjadi alat bagi Sang Adi Kodrati. Dan seringkali temuan atau lebih tepatnya tujuannya adalah menjadi sebentuk alat bagi kehidupan dunia yang begitu sederhana. Ibarat bunga di tengah belantara yang harus tetap tumbuh indah meskipun tidak ada yang melihat. Ibarat air sungai yang harus tetap mengalir agar sistem berjalan baik.

“Tidak selalu keheningan dan kesunyian di sini memberikan ketenangan jiwa kalau sang pelaku belum menerima diri apa-adanya sebagai seorang rahib. Menjadi seorang rahib tidak berarti menjadikan mereka suci”, demikian penjelasan Pastor Magister kepadaku.

Benar juga pikirku. Pun doa-doa yang didaraskan mungkin terasa indah bagi mereka yang sesekali mengunjungi tempat ini, terlebih bagi mereka yang mencari penghiburan. Tetapi sebaliknya bisa menjadi sebuah kebosanan bagi mereka yang melakukan secara berulang-ulang setiap hari. Mengulang. Melakukan hal yang sama setiap hari. Hening dan hemat bicara setiap hari, mendaraskan mazmur setiap hari, tidak keluar dari biara, bertemu orang yang itu-itu saja. Konflik antar anggota komunitas sangat dimungkinkan mengingat mereka adalah manusia biasa yang terus belajar. Dan kudengar pula ketika kesadaran itu muncul, yaitu kesadaran bahwa ternyata yang mereka lakukan (menjadi seorang rahib) adalah hal-hal lumrah, biasanya di titik ini rasa kering pada jiwa akan menyelinap. Bahkan yang lebih mengerikan adalah desolasi, sebuah perasaan yang jauh dari Sang Penciptanya.

***

Makan malam sebelum ibadat Completorium.
Seperti biasa, aku bertemu dengan kedua temanku. Bagaikan basa-basi kutanyakan apa perasaan mereka tinggal menyepi selama sebulan di tempat ini. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir mereka. Cukup jelas buatku. Dan pembicaraan kami berlanjut ke topik Blasius – si rahib yang selalu gembira itu :
“Siapapun yang datang kemari pasti kenal Blasius. Orang itu selalu gembira. Eh, dengar-dengar dulu dia kos tempat Kakekmu di Yogya?”. Bruder Thomas bertanya yang hanya kujawab dengan anggukan.

Tambahnya lagi :” Tadi siang dia sempat cerita tentang Kakekmu yang sederhana dan tegas dan Nenek yang pintar membuat bawang goreng. Dia juga cerita masa-masa kuliahnya. Ternyata dia seorang insinyur sipil ya? Teman wanitanya pun banyak katanya”.

Kami tertawa. Di tempat ini Blasius memang terkenal humoris dan apa-adanya. Dia suka mencandai tamu-tamu yang datang. Dia juga sigap dan cerewet seperti bebek. Kelakuannya seakan menjelaskan kepada kami bahwa pertapaan Trappist bukanlah tempat angker. Tapi satu yang mengesankanku yang melebih dari kesan umum yang kami tangkap tentang para rahib di sini adalah Blasius begitu menghayati perannya.

Seorang rahib pernah mengatakan bahwa hanya 20 persen rahib saja yang bisa bertahan di tempat ini. Sisanya memilih jalan hidup masing-masing di luar. Dan bagi mereka yang bertahan tidak berarti perjuangan selesai. Proses membentuk akan terus dialami dengan segala tegangannya yang kadang meluapkan semangat tetapi tidak sedikit menyesakkan. Di titik ini faktor penyerahan menjadi kata kunci dengan tetap mengindahkan sisi kemanusiaan yang meronta. Tentu ini tidak mudah, karena siapapun dia jika masih menganggap dirinya manusia tidak akan menipu diri bahwa menyerahkan dan mempercayakan diri kepada Daya Yang Tidak Tampak bukanlah persoalan mudah, semudah membuka pintu dan masuk ke ruang yang lain, atau semudah mengucapkan kalimat pujian yang indah.

Begitu juga dalam diri Blasius yang gembira dan humoris. Tidak dengan begitu saja kegembiraan dan kesadaran akan peran diraihnya. Dalam kerut wajahnya aku seakan melihat jejak-jejak pertarungan yang hebat antara dirinya dengan tuhannya yang bermuara kepada kekalahan dan sikap menyerah. Menyerah penuh kelelahan yang lambat-laun mengurai rasa amarah yang telah puas diledakkan menjadi api-api kecil yang tidak berarti, berganti menjadi udara sejuk yang menidurkan, memberi peluang kepada seseorang untuk menyelinap. Maka beruntunglah dirinya karena si penyelinap tak lain adalah seseorang yang telah bertarung dengannya. Yang tidak menjarah dan pergi melainkan menempati dan menaburkan benih-benihnya. Fiat Voluntas Tua!

Malam ini di kamar tidur seusai ibadat Completorium, setelah bersama para rahib menerima percikan air suci dari romo Abbas hatiku merasa segala sesuatu di tempat ini sangat biasa. Tidak ada gejolak yang membangkitkan gairah rohani. Tetapi kuingat juga saat masih kecil orangtuaku mengajarkan bahwa mensyukuri hidup yang sebenarnya bukanlah merayakan suatu peristiwa yang penuh sensasi tetapi merayakan segala peristiwa yang berlangsung biasa saja. Dan kuingat juga kehidupan bersama para rahib hari ini. Mereka tampak biasa saja. Bersama mereka tidak ada keinginan berlebih untuk membicarakan segala sesuatu yang bersifat rohani atau doa-doa yang berkesan magis. Tetapi jujur dalam hatiku kurasakan bahwa mereka adalah doa itu sendiri, sejauh aku mengimani bahwa doa bukan semata-mata meminta melainkan keberanian untuk bergumul bersama tuhanku dengan cara berani untuk setia menjawab persoalan hidup hari ini yang nyata.

***