Friday, December 7, 2007

Eyang Putri

*Mengenang 1000 hari wafatnya Ibu E. Surajinah

Tahun 1988. Saat itu saya kembali memulai kegiatan sebagai miesdinaar setelah sekitar 3 tahun meninggalkan kelompok ini. Wajah-wajah baru yang saya temui memberi kesan bahwa kelompok ini begitu hidup dan berkembang, dan wajah-wajah lama memberikan gambaran sebuah penerimaan kembali secara tulus. Membuat saya merasa seperti “pulang ke rumah”. Di antara wajah lama tersebut hadir seorang lelaki sepuh. Posturnya kecil dengan rambut putih. Parasnya ramah dengan senyum selalu mengembang. Kami memanggilnya Eyang Joko. Sosok inilah yang berperan dalam menjaga kemurnian dan eksistensi miesdinaar dengan tetap mengemban nilai-nilai luhur “Ad Maiorem Dei Gloriam”. Sungguh, Eyang Joko sangat memberi inspirasi dalam kehidupanku sampai saat ini. Masih ingat dalam benakku ketika bertandang ke rumahnya. Berbicara tentang Injil, Talmud, dan Khaballa, tentang para Santo, Bapa-bapa Gereja, para skolastikat dan religius, tentang musik Gregorians, bahkan berbicara menjadi manusia apa adanya yang menyadarkan saya bahwa Tuhan selalu hadir di dalam kesederhanaan dan kelemahan manusia yang bahkan jauh dari unsur religius. Semakin manusiawi semakin illahi.

Eyang Joko adalah sosok yang antusias dalam bercerita. Tetapi seperti halnya merasakan aliran angin yang lembut di antara gesekan bambu, ketika sedang berbincang saya selalu mencuri-curi pandang sosok lain yang sangat lembut dibalik ‘kekuatan’ seorang Eyang Joko, yaitu seorang perempuan yang hadir dengan senyum dan bahasa tubuh yang anggun. Kami memanggilnya Eyang Putri.

Sering kita dengar bahwa dalam kehidupan sebuah sistem tidak bisa berjalan tanpa dukungan sistem yang lain. Sebuah jembatan yang tampak kokoh dan megah tidak akan berfungsi baik kalau tidak didukung ikatan lainnya melalui unsur mekanik yang terkecil sekalipun. Rumpun bambu harus digerakkan oleh angin yang tak kentara agar berderak menyuarakan irama alam yang membius jiwa. Angin itu juga yang menghantar harum bambu dan diterima oleh indera yang menjadi teduh. Itulah Eyang Putri yang saya kenal. Seorang yang memberi dukungan dengan tidak terlihat.

“She is my Angel”, begitu kata Eyang Joko mengomentari sang Istri.
Bagi saya pribadi, seperti halnya sang suami, Eyang Putri adalah sosok yang memberi inspirasi. Tetapi lebih dari itu, dibalik kehadirannya berbalut busana Jawa sederhana yang membuat dirinya layak dipanggil Ibu dan Eyang, beliau adalah sebuah ‘rumah’ dan ‘rahim’ yang menyerap energi buruk penghuninya agar mampu berjalan lagi. Dalam parasnya saya mengerti akan makna keheningan, kedamaian, ketulusan, dan kesetiaan.

Saturday, December 1, 2007

Warung

Suatu malam di sebuah warung di wilayah Bendungan Hilir Jakarta.
Warung ini menyediakan ketan yang diurapi dengan srundeng kelapa, teh poci, mie rebus, aneka 'gorengan' dan minuman lainnya. Berukuran lebihkurang 6x8m warung ini terdiri dari beberapa fungsi ruang, yaitu tempat persiapan, area memasak, kamar mandi, meja saji, dan tentu saja bangku tamu. Tidak ada dinding yang membatasi ruang per ruang secara jelas, kecuali kamar mandi, yang pada sebagian dindingnya terdapat bukaan. Pembatas biasanya terbuat dari partisi kayu rendah, seperti halnya struktur penopang dinding dan atap yang semuanya terbuah dari kayu. Sambung-menyambung tanpa kaidah yang benar, menopang atap seng yang selalu bocor di kala hujan.

Ada beberapa lampu sebagai penerangan. Masing-masing lampu terangkai oleh kabel yang merayapi struktur bangunan yang warnanya hitam karena kusam atau jelaga. Tetapi yang menarik dari warung ini adalah aktifitasnya yang selalu hidup. 24 jam non-stop. Dilayani oleh beberapa pramusaji muda, rata-rata perempuan dan berasal dari kota-kota di wilayah pantai utara Jawa. Mereka, selain melayani dengan sigap, juga bercengkerama dengan para pembeli yang duduk berhimpitan di bangku kayu panjang menghadap meja besar berisikan makanan dan minuman. Seperti halnya para pembeli kelas atas menghadap sushi-bar. Mereka, para pembeli itu muncul dari beragam profesi dan strata : karyawan, tukang sol sepatu, sopir bajaj, kuli bangunan, sopir ojek, koster gereja, bahkan beberapa 'seniman kalah' yang cukup mempunyai nama, juga beberapa orang yang dianggap abnormal. Sebut saja Yanto, seorang penderita keterbelakangan mental yang sehari-hari bekerja mengatur lalu-lintas di persimpangan jalan. Atau Tante, sebut saja begitu, seorang perempuan setengah baya dan pemulung berparas ayu, atau entah siapa namanya, seorang gila yang fasih berbahasa Inggris yang sambil tertawa gemar mengatakan kepada orang-orang : "Jesus Christ ... Erlangga Kertapati from Yahudi he he he ...".

Suatu petang, aku minum teh poci di warung ini yang kebetulan saat itu agak sepi, sembari membaca sebuah buku religius.Tak lama muncul laki-laki kecil. Iwan namanya. Bekerja sebagai buruh proyek Departemen Pekerjaan Umum.

"Mas tahu Pasar Genjing' kan? Nah di situ ada proyek perbaikan saluran", katanya membuka percakapan.
"Mas Iwan kerja di situ?", balasku
"Ya".
"Lalu, tinggalnya dimana?"
"Lha di situ. Di bedeng di taman belakang warung ini. Mas sudah lama di Bendungan Hilir?"
"Kira-kira setahun. Di tempat yang ada mobil travelnya", jawabku.
"Oo ... Mas Sopir?"
"Bukan. Saya kerja di bangunan".
"Oooo .... ". Parasnya yang masih tampak bocah tampak berpikir. Manggut-manggut.
"Sering ke warung ini, Mas?" tanyanya lagi.
"Dulu, waktu masih sering pulang sore. Sekarang pulangnya malam. Jadi sudah jarang", jawabku sambil tertawa. Mencoba mencairkan suasana.

Salah seorang pramusaji perempuan menyajikan kopi susu baginya. Dibalas Iwan dengan candaan yang menyerempet, tapi halus dan tidak cabul.

"Mas asalnya mana?", Iwan bertanya lagi
"Jogja. Dan Mas?"
"Jombang. Mas tahu Jombang?".
"Hmmm ...", jawabku sambil mulutku tetap berkonsentrasi pada mie rebus. Dan dia melanjutkan ocehannya lagi :
"Sebenarnya saya cuma bingung aja. Kok ada orang top di sini?"
"Top? Top bagaimana?".
"Iya. Top. Orang seperti Mas kok mau makan di sini?", dia bertanya sembari cengar-cengir.

Sejenak aku menjadi salah tingkah. Terlebih saat dirinya mengatakan bahwa parasku bukan seperti orang Jawa, yang membuat diriku teringat seorang penjual bakso yang suatu malam mengatakan bahwa wajahku mirip orang India. Edan!!

Merasa mendapat teman bicara Iwan menanyakan buku apa yang aku baca. Jujur, aku menjadi semakin rikuh. Hendak menjelaskan apa kepadanya? Menjelaskan temanya bagiku membuat obrolan menjadi berat. Hanyalah membolak-balik buku dengan tidak jelas yang bisa kulakukan. Lagi-lagi salah tingkah seperti orang tertangkap basah selingkuh. Dan juga, lagi-lagi Iwan hanya berkata "Ooo...". Parasnya yang menandakan bahwa dirinya masih bocah berkesan berpikir sesuatu. Manggut-manggut.

***
Di dekat kantor tempat aku bekerja dahulu, di wilayah Sunter Jakarta Utara, ada sebuah warung tempat aku dan teman-teman biasa mangkal sore. Sekedar melepas penat. Memang, kantor kami saat itu mempunyai habit yang cukup aneh. Jam masuk kerja adalah jam 9.30. Dilanjutkan dengan makan siang pukul 11.00 siang sampai pukul 12.00, kadang sampai pukul 13.00. Dilanjutkan lagi dengan acara makan siomay di sore hari pukul 15.00, masuk kerja lagi sampai waktunya pulang, yaitu pukul 17.00. Aneh memang.

Warung tempat kami mangkal adalah warung kecil. Terbuat dari kayu dengan atap "emplekan" dari seng dengan sebuah jendela display. Di warung yang menyediakan berbagai makanan kecil, minuman, barang keperluan sehari-hari, dan mie rebus ini tinggal sebuah keluarga. Letaknya di sudut jalan sehingga memungkinkan untuk memiliki teras kecil yang diisi bangku di bawah kerindangan pohon carson.

Sang suami, pemilik warung ini, bekerja sebagai petugas keamanan sekolah yang berada di seberangnya. Anaknya satu orang. Setiap hari bermain keliling kompleks dan kampung bersama teman-teman sebayanya demi menghindari omelan Ibundanya, seorang wanita gemuk berambut keriting dan bermata juling ini yang senantiasa menemani kami. Masih segar dalam ingatanku bagaimana si Ibu ini meracik sayuran bagi keluarganya, meskipun katanya tidak pernah habis dan kemudian ditawarkan ke orang lain termasuk kami.

Masih ada lagi seorang tokoh yang kerap menemani kami di warung ini. Paijo namanya. Orang asal Klaten Jawa Tengah. Seorang penjual siomay yang selalu tersenyum. Menjajakan siomaynya menggunakan sepeda onthel. Siomaynya siomay kampung. Enak dan laris, sehingga lidahku yang kenyang dalam kesulitan ekonomi maupun lidah Evelyn, seorang teman kantor yang mirip aktris Gong-Li, sangat cantik, rela menikmatinya. Dan Paijo inilah yang selalu menemani kami bersama si Ibu gemuk keriting. Mereka mengenal kami, bercanda apa-adanya, selalu menanyakan jika salah satu dari kami tidak hadir, terutama Mbak Evelyn tentunya. Tentu, hati siapa yang tidak tersentuh demi melihat sang bintang yang menawan mau menyapa mereka dan duduk 'gelesotan' makan siomay di emperan? Pun mereka tercenung ketika mengetahui bahwa si Mbak Gong-Li ini hijrah ke London. Bekerja di sebuah konsultan ternama di sana dan belum lama ini namanya muncul sebagai tim desain di sebuah buku. Atau sebaliknya, begitu terharu kami ketika mendengar berita gempa di Jawa Tengah meluluhlantakkan rumah Mas Paijo.

***
Warung ada dimana-mana di setiap sudut kota di negeri ini. Seringkali kehadirannya tidak sekedar menandakan aktifitas ekonomi semata yang mengatakan "engkau adalah kawan jika engkau dan aku terlibat dalam perkara bisnis". Tidak! Warung malah seringkali hadir sebagai sebuah hati yang siap menerima, tidak peduli nilai ekonomi yang diperolehnya. Dan bersama mereka, para pemilik warung dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, jika kita mau membuka diri dan hati dengan sangat sederhana sekalipun kita akan merasakan sebuah "kehadiran" yang suatu saat akan bermakna ketika diri ini merasa kesepian. Menyadarkan bahwa kita ada untuk mereka, begitu juga sebaliknya. Menyadarkan bahwa setiap manusia tidak sendiri dalam berziarah di muka bumi. Seperti halnya berita yang kami terima dari London : "Ga gampang hidup sebagai perantauan di sini. Kangen kalian!!. Apa kabar Paijo? Kangen siomaynya nih". Dan kami yang membaca tertawa, menyeletuk :"Eh ... jangan-jangan si Paijo lama ngga kelihatan karena nyusul Evelyn ke London ya. Jualan siomay dia di sana ... ha ha ha ha!!!".

Sunday, November 25, 2007

Friend in The Lord




Sore itu saya tiba di sebuah tempat yang sangat luas, sepi, dan sejuk. Penuh pohon tua dengan ukuran yang besar di halaman yang terletak di antara dua buah bangunan. Masing-Masing bangunan mempunyai koridor panjang yang berfungsi sebagai teras dengan meja-bangku kayu model lama di beberapa tempat, berpadu dengan lantai ubin semen mengkilap.

Setelah memarkir sepeda motor saya masuk ke sebuah pintu di bawah tangga. Dan setelah pintu aku buka tampaklah sebuah halaman yang luas ditutupi rumput yang (lagi-lagi) diapit oleh dua bangunan panjang di sisi kiri dan kanannya. Masing-masing bangunan terdiri dari dua lantai dan mempunyai banyak pintu. Salahsatu dari pintu tersebut terbuka dan muncul seorang laki-laki agak gemuk dan berkulit putih. Sejenak memandang aku yang masih kebingungan.
"Baru pertama ya Mas? Ambil aja salah satu kamar", katanya menyapaku.
"Terimakasih. Oya, saya Seto."
"Leo". Kami berjabat tangan.

Aku ambil sebuah kamar.
Seperti bangunannya, pintu kamar ini tampaknya belum pernah diperbarui kecuali dicat ulang. Aku masuk, dan tampaklah sebuah suasana ruang yang sangat sederhana meskipun cukup luas. Lantainya terbuat dari ubin semen mengkilap dan ceilingnya berupa plat beton ekspos dengan tekstur anyaman bambu. Dua buah tempat tidur di sisi kiri dan kanan. Satu terbuat dari besi dan satu lagi dari kayu. Pada tempat tidur besi terdapat kasur berbalutkan sprei putih, dan pada tempat tidur kayu terdapat kasur berbalutkan sprei kain jarik. Aku letakkan tas di kasur. Sebuah Injil, buku doa, buku catatan, pena, dan I-Pod aku keluarkan dan tempatkan di meja kayu, berdekatan dengan cerek plastik berisi air putih dan sebuah gelas. Pakaian aku keluarkan, dan ah! aku melihat lemari kayu, sebuah gantungan baju pada permukaan pintu, dan sebuah washbasin. Di dekat washbasin bertengger tempat penjemur pakaian dan handuk.

Setelah tertata semuanya aku duduk. Merenung, merasakan harum ruangan yang aroma dan segala isinya mengingatkanku pada rumah lama Eyang. Seluruhnya. Material ruangnya, bangku-kursinya, lemarinya, juga pintu jendela model bangunan Jengki tahun 60-an.. dan ah ya ... panas sekali di sini. Untuk itu mataku mencari-cari penyegar udara dan akhirnya tertumbu pada sebuah kipas angin. Setelah kipas angin aku nyalakan, diriku yang masih gamang mencoba duduk-diam kembali. Merenung, dan dalam hati berkata "Tuhan, aku di sini."

***
Pukul 19.00 setelah makan malam yang penuh canda.
Puncta.
Dalam puncta, seorang biarawan muda menjelaskan bahan renungan yang bertajuk Friend in The Lord. Dia berbicara dengan pola kalimat yang melompat dan agak gagap. Suaranya lirih. Tapi semua kelemahannya itu diakuinya. Dan tentu saja bagi kami bukan kelemahannya yang pokok tetapi intisari materi yang disampaikannya dengan baik. Friend in The Lord menjabarkan konsep berkomunitas yang baik dan berpusat pada Allah. Didasarkan pada komunikasi yang jujur dan tulus. Sharing and loving yang tidak memusatkan diri kepada kebutuhan afeksi dan nostalgia, tetapi memberikan dirinya untuk sahabat, seperti halnya Isa Sang Putera memberikan diriNya bagi orang lain. Dan tema inilah yang menjadi bahan dasar renungan saat itu. Renungan yang dicari bukan dengan diskusi atau doa-doa permintaan, melainkan dengan silentium magnum. Keheningan yang absolut, seperti yang dijabarkan seorang biarawan muda lainnya : "Setelah puncta ini kita memasuki silentium sampai acara ini selesai. Bukan kita yang berbicara, tetapi biarkan Dia berkata-kata. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk merenung. Terserah. Dimana saja. Boleh di kamar, di taman, atau dimanapun. Usahakan tidak ada pembicaraan yang tidak perlu. Sekian, dan kita kumpul lagi dalam doa malam di kapel".
***


Meditasi malam selama satu jam, atau doa hadir pada subuh, misa pagi yang berbaur dengan penduduk setempat, pada waktu makan, aktifitas di kamar masing-masing, dan juga saat coloquiuum atau wawancara dengan seorang biarawan. Semuanya berbalut keheningan. Mereka, pada biarawan muda itu, dahulu juga manusia seperti kami. Manusia yang bekerja mencari uang, hidup dalam rutinitas pekerjaan, mempunyai karier dan jabatan, mempunyai keinginan untuk menikah. Manusia seutuhnya yang mencinta dan berseksual. Pun saat ini mereka tetap manusia apa adanya.

"Entahlah Frater. Saya sulit mempunyai gambaran sebuah pernikahan", kataku memulai percakapan.
"Mas, Saya dulu juga seperti anda. Ada ketakutan dan kekhawatiran. Tapi coba renungkan ini : Bayangkan sebuah perkawinan, tentu dengan pasangan yang ideal menurut Mas. Rasakan keindahan dan kesusahannya. Lalu bandingkan dengan kalau Mas memilih menjadi Imam dan hidup selibat. Mana yang lebih kuat. Tapi bukan itu pokoknya, melainkan kalau Mas merasa menikah dan berseksual adalah sesuatu yang indah, syukuri hal itu karena itu adalah sebuah anugerah. Justru dengan ini anda diajak untuk menyadari ketika anda memilih hidup selibat tidak lain karena kesadaran untuk sebuah tugas dan mengikuti Dia. Selibat jangan dilakukan karena pelarian atau karena ketidakmampuan mencinta dan berseksual."

Para biarawan muda itu. Mereka adalah manusia seperti kami dan akan tetap menjadi manusia apa adanya sampai kapanpun. Mereka telah, sedang, akan terus melewati tantangan sebagai selibater yang menyerahkan hidupnya pada sesuatu yang tidak tampak. Sesuatu yang lembut dan hening berlawanan dengan gemerlap dunia. Untuk itulah mereka hadir bagi kami yang mempunyai kegelisahan yang sama. Hadir untuk menemani. Bukan untuk menawarkan, terlebih memaksakan. Hadir untuk menjelaskan bahwa memilih hidup sebagai awam pada umumnya adalah sama baik dengan hidup selibat secara khusus demi Dia. Sama baik dan sama-sama terberkati. Sama-sama tidak ada yang salah. Dan ketika tiba saatnya menjatuhkan pilihan, apapun itu, mereka akan tetap bergembira bagi kami.

***
Di kamar yang sunyi aku kembali merenung dan bertanya :"lantas, kenapa aku ada di sini Tuhan? Aku tidak pernah meminta. Awalnya aku hanya mencoba membukakan pintu bagi tamu yang datang di malam-malam yang lalu. Kukira tamu itu adalah Ibuku yang sakit yang sempat aku temani hingga akhir hayatnya. Atau Ayahku yang di hari tuanya begitu sederhana dan penuh penyesalan atas kesombongan masa lalunya, dan saat ini begitu dekat denganku. Atau buruh-buruh di proyek yang senang aku berikan senyum dengan sedikit obrolan. Atau kukira Mbak Wartiyah dan Mang Uca yang mempunyai rumah di kolong jembatan, yang beberapa bulan lalu habis dibakar dan digusur.... Tetapi setelah pintu kubuka tak satupun dari mereka kulihat."

Sampai akhirnya aku begitu lelah. Ingin membuang semua persoalan ini. Sangat sadar dalam diriku bahwa aku masih harus berhadapan lagi dengan pekerjaanku besok, yaitu merenovasi gedung yang sangat menyita waktuku. Jangankan untuk berdoa, sekedar examen conscientiae atau memeriksa batinpun aku tak punya waktu. Aku memang lemah, rapuh, dan kotor. Tapi kenapa aku di sini? Entahlah. Aku lelah dan ingin tidur. Tetapi semakin memejamkan mata bait-bait nyanyian itu, meskipun sayup, tetap terdengar :

Take, O Lord, and receive my entire liberty,
my memory, my understanding and my whole will.
All that I am and all that I possess You have given me.
surrender it all to You to be disposed of according to Your will.
Give me only Your love and Your grace;
with these I will be rich enough,and will desire nothing more.

Monday, November 19, 2007

Bulan di Asia

Kemarin malam aku membongkar koleksi kaset lama. Banyak juga ... dan kotor. Satu persatu aku ambil dan bersihkan, sampai akhirnya jatuh pada salahsatu album yang aku suka, bertajuk Bulan di Asia yang dimainkan oleh kelompok JavaJazz. Ini sebuah grup jazz yang muncul pada tahun 90-an. Dengan memainkan nada kombinasi pentatonik-diatonik kelompok ini mampu menarik perhatian publik pada NorthSea Jazz Festival di Den Haag Belanda. Dan Bulan di Asia hadir dengan imaji yang kuat di antara alunan nada mainstream modern lainnya. Tidak hanya nada-nadanya tetapi juga judul yang diusung. Cantik, eksotis, genit, penuh warna, sekaligus agung dan mistis.

Yudi, seorang kawan sekaligus pianis suatu ketika menjelaskan bahwa seorang musisi jazz hidup-larut dalam ritme nada yang dimainkannya : improve, ekspresif, "melompat", nada sengau, sinkop, fretless, memainkan rasa. Mereka bagaikan berjalan beriringan tetapi masing-masing berdiri pada layer yang berbeda. Namun demikian ada unsur yang selalu menjaga agar tetap ada dialog dan harmoni. Dan tentang layer sendiri, aku mengenalnya kira-kira sepuluh tahun silam ketika masih belajar di fakultas arsitektur. Kami diajarkan bagaimana mengolah layer dalam proses perancangan. Kami diajak membaca data kehidupan : sejarah, aktifitas, budaya, filosofi, religi, fungsi, program, sirkulasi, dan masih banyak lainnya. Mengolahnya, meletakkan masing-masing unsur pada pola yang berbeda, dan di tempatkan dalam satu bidang. Mirip menjahit kain-kain perca menjadi satu selimut, sehingga terbentuklah ruang dan waktu yang baru.

***

Minggu, 18 November 2007. Waktu itu menunjukkan pukul 21.30 wib. Hujan turun deras di Jakarta Selatan. Masih dengan menggunakan raincoat aku mengetuk pintu sebuah rumah di Kampung Duku yang lampunya masih benderang. Terdengar suara ceria anak-anak di dalamnya. Masih ada kehidupan pikirku.

Tak lama kemudian muncul mas Wawan dari balik pintu, diikuti Bening yang mengenakan piyama. Keduanya tertawa. Ah, nyaman rasanya. Disambut dengan sebuah kegembiraan, dingin di badan tidak terasa.

Beberapa menit kemudian Bening yang anggun pamit tidur, dan berganti muncul sang adik, si genit Kanya yang juga mengenakan piyama. Dirinya mencuri perhatian kami yang sudah berbincang panjang -lebar. Tentang kegiatan akhir-akhir ini, tentang diriku yang jatuh cinta, tentang teman, tentang buruh-buruh proyek, tentang bagaimana saat ini beberapa dari antara kami menduduki posisi yang baik dalam pekerjaan. Seringkali di tengah pembicaraan, Kanya mencium pipi Bapaknya. Tanpa bermaksud memutuskan pembicaraan kami sang Bapak berganti mencium pipinya dan melontarkan rayuan mesra, dan kemudian obrolan berlanjut lagi. Aneh, aku tidak merasa terganggu. Bahkan merasa kehadirannya, meskipun dalam aras yang berbeda dengan pembicaraan kami terasa bagaikan sesuatu yang alami dan saling mengisi. Sulit bagiku untuk menjelaskannya.

Lagi.
Kanya merengek minta tidur dekat dengan Bapaknya. Jadilah si Nok ini tidur di sofa berbantalkan guling panjang dengan percaya akan satu janji: nanti tidur dengan Bapak.

Wedang Sekoteng bersama tempe dan tahu bacem disuguhkan. Tak lupa kacang kulit. Kami berbicara tentang silencium. Mengolah rencana-rencana dan berharap Tuhan berkenan akan rencana retret yang akan datang. Kami juga berbincang tentang arti komunitas, mengkritisi, mempertanyakan makna dibalik kata, pandangan positif akan para sahabat. Lagi-lagi si Nok yang genit duduk.

"Lho kok ngga tidur?", tanya sang Bapak. Dijawab dengan gelengan kepala, dan sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Nok Kanya tertawa. Aku menimpali : "lho kok oom Seto ngga dicium?". "Ayo cium Oom!," sang Bapak memprovokasi. Si Nok menggeleng. Tanpa persetujuan sebuah ciuman mendarat di pipinya. Kami tertawa.

Petir berkeliaran di udara. Masih hujan. Motorku tampak mengkilap gagah dibalik pintu. Mas Wawan mengucapkan sebuah kalimat yang malam itu bagiku terdengar bak kalimat samawi : "Kalau dipikir-pikir, apa artinya dia bagiku? Kenapa dia harus hadir di tengah keluargaku? Siapa dia?".

"Dan seorang individu dengan jatidiri yang berbeda," aku menimpali.

"Ya," jawabnya. Tangannya terus membelai si Nok yang mulai tertidur. Nyaman dan hangat. Menunggu janji sang Bapak yang akan mengajaknya tidur. Wajahnya terlihat cantik, seperti wajah bulan. Bulan dengan wajah yang sangat Asia. Ya, Bulan di Asia.

Wednesday, November 14, 2007

Ki Moy


Suatu sore aku mampir ke wilayah Kali Besar Jakarta. Sekedar untuk memuaskan rasa kangen terhadap suasana kota tua, apalagi udara saat itu tidak terlalu panas. Sangat menyenangkan untuk sejenak lepas dari rutinitas dengan cara membuat sketsa. Maka jadilah, berbekal bangku kaki tiga yang bisa dilipat, beberapa lembar kertas sketsa, dan pensil tentunya, aku mencari posisi yang tepat.

Sejenak mata aku arahkan ke seluruh wilayah ini. Menatap deretan bangunan-bangunan tua di tepi jalan raya di sisi Timur dan Barat yang dipisahkan oleh sungai besar yang dulu dikenal sebagai Grootegracht. Airnya kotor berwarna hitam pekat. Pelan sekali alirannya, penuh sampah, dan berbau.

Dulu bangunan-bangunan ini berfungsi sebagai sentra perdagangan yang dikelola oleh para pedagang keturunan Cina, Eropa, dan Vereenigde Oostindische Compagnie. Sungai di depannya menjadi lalu-lintas kapal yang masuk melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, melewati ‘djembatan inten’ yang sosoknya masih bertengger sampai sekarang. Di masa jaya kala itu orang mengenal wilayah ini dengan nama Iacatra yang akhirnya berubah menjadi Batavia, Jayakarta, dan akhirnya Jakarta. Pelaut Portugis menamainya ‘Zamrud Asia’. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Gedung-gedung tua yang bahkan menurut para ahli sejarah Belanda tidak ada duanya di dunia bahkan di Eropa sekalipun, tidak berfungsi apa-apa. Diam tidak terawat. Beberapa ruangnya menyisakan tempat untuk para gelandangan, pengemis, dan pelacur yang menyediakan jasa bagi para pengemudi truk di dekat wilayah pergudangan untuk melepas lelah. Unloading. Beberapa bangunan lainnya difungsikan kembali sebagai kantor swasta dan pemerintah, juga tempat hiburan yang dikuasai oleh mafia kelas atas.

Suatu pagi di tempat yang sama bersama Pater Adolf Heuken kami melihat kerumunan di sekitar kali besar. Seseorang mengatakan ada bayi dibuang. Mendengar itu saya menoleh kepada Pastor Jesuit tersebut. Dia hanya bergumam lirih : “Ah, masih ada saja yang seperti ini”.

***
Pensil sudah di tangan. Aku mulai dengan menaksir bangunan. Tiba-tiba terdengar sebuah sapaan. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan tua sudah berdiri di sampingku. Badannya kecil, pakaiannya dekil. Rambutnya sedikit ikal. Dia mengatakan tertarik melihat aku melukis. Dia mengaku bernama Ki Moy. Wanita keturunan Cina. Semasa mudanya berprofesi sebagai tukang pijit berkelas, lady escort, dan cabo atau pelacur (mungkin diambil dari kata Ca Bau). Memang, jika diamati lebih jauh kekumalan tubuhnya tidak menutupi sisa kecantikannya. Dia mengaku berasal dari keluarga kaya.

“Wah, harusnya Ibu enak dong. ‘Kan keluarga Ibu kaya semua”, begitu saya menanggapi obrolannya.

“Ngga lah, mereka jahat. Mereka buang saya. Udah deh .. saya minta duitnya aja. Buat makan nasi kecap. Sepuluh rebu aja. Kalo ada lebih juga boleh .. he he .. Kalo nggak ada ya udah. Besok ketemu aja di sini. Besok ke sini ‘kan? Saya tiap hari liwat sini.”

“Memangnya Ibu tinggal dimana?”

“Di sana tuh … di kolong jembatan Inten. Di sana banyak cabonya lho. Duapuluh rebuan. Tapi Jelek-jelek. Yang cakep di sana no … di Petak Sembilan deket Gloria. Cabonya Cina. Cakep-cakep. Boleh buat situ deh. Situ apa tadi? Arsitek ya? Tukang ngitung bangunan ya? Kaya dong. Cocok deh buat situ”.

Selama obrolan berlangsung aku hanya bisa tertawa atau senyum. Uang sejumlah duapuluh ribu aku berikan, dan dengan ucapan terimakasih dia pergi dengan sebelumnya meninggalkan sebuah pesan : “Anak laki saya juga tukang ngitung bangunan. Tinggalnya di Cengkareng. Tolong temuin dia. Bilang dia saya sayang sama dia. Saya ngga minta dia harus ketemu saya. Besok kasih tahu saya ya. Kalau cari saya di kolong Jembatan Inten. Bilangin dia saya sayang sama dia”.

***
Saat itu senja hari sewaktu aku melihat sosoknya yang kecil pergi. Dalam hati aku berpikir bagaimana seseorang bisa dengan mudah percaya kepada orang yang baru dikenalnya. Dia juga percaya bahwa aku mengenal anaknya hanya karena kami sama-sama tukang ngitung bangunan. Kedengarannya bodoh. Tapi bisa jadi permintaannya adalah ungkapan kerinduan yang ingin disampaikan yang selama ini tidak tahu kepada siapa dia ingin sampaikan. Sebagai manusia saya hanya bisa terharu tetapi tidak bisa berbuat lebih banyak. Hanya ada rasa ingin bertemu dengannya lagi dan mengatakan : “Ibu, saya sudah bertemu dengan anak Ibu. Dan dia mengatakan bahwa sayang kepada Ibu”.

Dari situ saya hanya berharap, suatu ketika, siapa tahu, diakhir hidupnya dia tetap seorang cabo miskin yang kesepian, setidaknya bisa meninggal dengan hati tenang karena ‘tahu’ anaknya mencintainya.

Wednesday, October 31, 2007

Dr. Satrio - Rasuna Said

Kemarin malam saya berjalan kaki menyusuri jalan Dr. Satrio menuju Rasuna Said. Lalu lintas sangat padat. Awalnya tidak merasa heran karena sehari-hari kondisinya memang demikian. Tapi beda kali inisemua kendaraan berhenti. Kemudian, dalam jarak kira-kira 50 meter ke depan baru tampak kerumunan. Saya pikir sebuah kecelakaan. Ternyata benar. Orang ditabrak sepeda motor kata seorang tukang parkir. Di sebelah kanan di tengah jalan dua orang menebar pasir kesebuah genangan darah. Di sebelah kiri di tengah kerumunan seorang ustadz sedang berjongkok mendoakan korban ditemani dua orang polisi. Sesosok tubuh dengan posisi menelungkup di trotoir. Bagian kepala ditutup kertas koran. Tubuhnya kecil, pakaiannya dekil. Dia sudah mati.

Sebisa-bisanya saya berdoa. Tapi dalam hati lebih banyak dipenuhi rasa haru. Haru terhadap korban, haru terhadap penabrak yang dalam kondisi shock di bawa masuk ke mobil polisi, juga haru terhadap orang-orang yang menonton. Ada yang menaruh simpati, tapi (tanpa bermaksud buruk sangka) ada juga yang sekedar menganggap kejadian seru yang bisa dijadikan bahan cerita ke orang-orang. Muncul juga rasa aneh dalam hati demi membayangkan apa yang ada dibenak anak itu beberapa saat sebelum kematiannya. Mungkin dia punya banyak rencana, keinginan, dan berpikir ke depan tanpa pernah tahu sesaat lagi dirinya akan berpindah alam.Tapi ada lagi yang membuat hati saya terketuk : lelehan air mata seorang anak kecil di gendongan Ibunya. Sang Ibu tidak bereaksi sedih, bahkan berkesan biasa. Bisa dipastikan mereka bukan anggota keluarga. Anak itu tidak menangis keras, tapi mungkin merasakan kesedihan. Kesedihan itu seperti muncul secara spontan tanpa dirinyayang masih berusia sekitar 5 tahun mampu menalar lebih jauh apa yang terjadi. Di dalam pikiranku, spontanitas tersebut menyiratkan gerakan hati yang jujur, dalam, dan bersih. Saya yang selama berjalan dipenuhi pikiran dan kekhawatiran akan pekerjaan, kehidupan, keuangan, dan lain-lain yang membawa kepada sikap egois menjadi begitu ingin belajar lepas-bebas seperti anak itu. Sejenak berani untuk memberikan hati kepada orang lain tanpa buru-buru menilainya terlebih dahulu.

Saya percaya jiwa korban itu bahagia, seperti halnya saya percaya malam itu Tuhan berbicara kepada saya melalui lelehan air mataseorang anak. Memang Tuhan itu sangat lembut, tapi kehadiranNya kerapkali nyata dan meninggalkan sebuah tanda.

Friday, October 26, 2007

God Lives in The Details

Dulu, para guru dan mahaguruku sering menyatir kalimat seorang mahaguru arsitektur, yang mengatakan bahwa Tuhan hadir dalam setiap detail.

***

Dalam tubuh kota Jakarta yang porak-poranda terdapat sebuah detail, yakni kampung kecil yang mempunyai sebuah pelataran yang berfungsi sebagai open-public-space. Di tepian common space tersebut hadir sebuah rumah mungil nan asri dimana keluarga Yohanes Krisnawan hidup di dalamnya.

Saya membayangkan diriku duduk di pelataran tersebut, memandang teras dan ruang tamu yang terang benderang. Tentu, tak lain karena ada sebuah perhelatan, memperingati ulang tahun Kanya, puteri kedua pasangan Wawan-Nela. Dalam imajinasi, saya bayangkan kemeriahan tersebut membawa kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya, seperti halnya Kanya yang suatu saat saya temui sedang bergembira menjalin komunikasi dengan teman sekampungnya di balik pintu pagar. Padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tetapi suaranya yang ceria seakan menyusup koridor kampung, tanaman rambat, tiang-tiang jemuran, pintu-pintu rumah menularkan kegembiraan. Atau rengekan mesranya demi melihat sang Bapak mengeluarkan sepeda motornya. Atau juga sang kakak, Bening, yang dengan lembut-tak kentara menuliskan doa-doanya pada sesobek kecil kertas. Untuk teman, untuk sang adik, untuk burung piaraan, untuk Bapak dan Ibunya.

Memang, Tuhan selalu hadir menyusup dalam hal-hal terkecil dalam unsur kehidupan. Juga dalam sebuah rumah kecil nan asri, yang terletak dalam sebuah kampung yang mungkin dipandang sebelah mata. Dan saya percaya, selalu dimana Tuhan hadir, Dia mendirikan mezbahNya. Mendirikan altar bagi kita untuk memanjatkan doa-doa bagi sesama, bagi kota, bagi dunia.

***

dpersembahkan untuk Mas Wawan, Mbak Nela, Bening, dan Kanya