Wednesday, November 14, 2007

Ki Moy


Suatu sore aku mampir ke wilayah Kali Besar Jakarta. Sekedar untuk memuaskan rasa kangen terhadap suasana kota tua, apalagi udara saat itu tidak terlalu panas. Sangat menyenangkan untuk sejenak lepas dari rutinitas dengan cara membuat sketsa. Maka jadilah, berbekal bangku kaki tiga yang bisa dilipat, beberapa lembar kertas sketsa, dan pensil tentunya, aku mencari posisi yang tepat.

Sejenak mata aku arahkan ke seluruh wilayah ini. Menatap deretan bangunan-bangunan tua di tepi jalan raya di sisi Timur dan Barat yang dipisahkan oleh sungai besar yang dulu dikenal sebagai Grootegracht. Airnya kotor berwarna hitam pekat. Pelan sekali alirannya, penuh sampah, dan berbau.

Dulu bangunan-bangunan ini berfungsi sebagai sentra perdagangan yang dikelola oleh para pedagang keturunan Cina, Eropa, dan Vereenigde Oostindische Compagnie. Sungai di depannya menjadi lalu-lintas kapal yang masuk melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, melewati ‘djembatan inten’ yang sosoknya masih bertengger sampai sekarang. Di masa jaya kala itu orang mengenal wilayah ini dengan nama Iacatra yang akhirnya berubah menjadi Batavia, Jayakarta, dan akhirnya Jakarta. Pelaut Portugis menamainya ‘Zamrud Asia’. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Gedung-gedung tua yang bahkan menurut para ahli sejarah Belanda tidak ada duanya di dunia bahkan di Eropa sekalipun, tidak berfungsi apa-apa. Diam tidak terawat. Beberapa ruangnya menyisakan tempat untuk para gelandangan, pengemis, dan pelacur yang menyediakan jasa bagi para pengemudi truk di dekat wilayah pergudangan untuk melepas lelah. Unloading. Beberapa bangunan lainnya difungsikan kembali sebagai kantor swasta dan pemerintah, juga tempat hiburan yang dikuasai oleh mafia kelas atas.

Suatu pagi di tempat yang sama bersama Pater Adolf Heuken kami melihat kerumunan di sekitar kali besar. Seseorang mengatakan ada bayi dibuang. Mendengar itu saya menoleh kepada Pastor Jesuit tersebut. Dia hanya bergumam lirih : “Ah, masih ada saja yang seperti ini”.

***
Pensil sudah di tangan. Aku mulai dengan menaksir bangunan. Tiba-tiba terdengar sebuah sapaan. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan tua sudah berdiri di sampingku. Badannya kecil, pakaiannya dekil. Rambutnya sedikit ikal. Dia mengatakan tertarik melihat aku melukis. Dia mengaku bernama Ki Moy. Wanita keturunan Cina. Semasa mudanya berprofesi sebagai tukang pijit berkelas, lady escort, dan cabo atau pelacur (mungkin diambil dari kata Ca Bau). Memang, jika diamati lebih jauh kekumalan tubuhnya tidak menutupi sisa kecantikannya. Dia mengaku berasal dari keluarga kaya.

“Wah, harusnya Ibu enak dong. ‘Kan keluarga Ibu kaya semua”, begitu saya menanggapi obrolannya.

“Ngga lah, mereka jahat. Mereka buang saya. Udah deh .. saya minta duitnya aja. Buat makan nasi kecap. Sepuluh rebu aja. Kalo ada lebih juga boleh .. he he .. Kalo nggak ada ya udah. Besok ketemu aja di sini. Besok ke sini ‘kan? Saya tiap hari liwat sini.”

“Memangnya Ibu tinggal dimana?”

“Di sana tuh … di kolong jembatan Inten. Di sana banyak cabonya lho. Duapuluh rebuan. Tapi Jelek-jelek. Yang cakep di sana no … di Petak Sembilan deket Gloria. Cabonya Cina. Cakep-cakep. Boleh buat situ deh. Situ apa tadi? Arsitek ya? Tukang ngitung bangunan ya? Kaya dong. Cocok deh buat situ”.

Selama obrolan berlangsung aku hanya bisa tertawa atau senyum. Uang sejumlah duapuluh ribu aku berikan, dan dengan ucapan terimakasih dia pergi dengan sebelumnya meninggalkan sebuah pesan : “Anak laki saya juga tukang ngitung bangunan. Tinggalnya di Cengkareng. Tolong temuin dia. Bilang dia saya sayang sama dia. Saya ngga minta dia harus ketemu saya. Besok kasih tahu saya ya. Kalau cari saya di kolong Jembatan Inten. Bilangin dia saya sayang sama dia”.

***
Saat itu senja hari sewaktu aku melihat sosoknya yang kecil pergi. Dalam hati aku berpikir bagaimana seseorang bisa dengan mudah percaya kepada orang yang baru dikenalnya. Dia juga percaya bahwa aku mengenal anaknya hanya karena kami sama-sama tukang ngitung bangunan. Kedengarannya bodoh. Tapi bisa jadi permintaannya adalah ungkapan kerinduan yang ingin disampaikan yang selama ini tidak tahu kepada siapa dia ingin sampaikan. Sebagai manusia saya hanya bisa terharu tetapi tidak bisa berbuat lebih banyak. Hanya ada rasa ingin bertemu dengannya lagi dan mengatakan : “Ibu, saya sudah bertemu dengan anak Ibu. Dan dia mengatakan bahwa sayang kepada Ibu”.

Dari situ saya hanya berharap, suatu ketika, siapa tahu, diakhir hidupnya dia tetap seorang cabo miskin yang kesepian, setidaknya bisa meninggal dengan hati tenang karena ‘tahu’ anaknya mencintainya.

Wednesday, October 31, 2007

Dr. Satrio - Rasuna Said

Kemarin malam saya berjalan kaki menyusuri jalan Dr. Satrio menuju Rasuna Said. Lalu lintas sangat padat. Awalnya tidak merasa heran karena sehari-hari kondisinya memang demikian. Tapi beda kali inisemua kendaraan berhenti. Kemudian, dalam jarak kira-kira 50 meter ke depan baru tampak kerumunan. Saya pikir sebuah kecelakaan. Ternyata benar. Orang ditabrak sepeda motor kata seorang tukang parkir. Di sebelah kanan di tengah jalan dua orang menebar pasir kesebuah genangan darah. Di sebelah kiri di tengah kerumunan seorang ustadz sedang berjongkok mendoakan korban ditemani dua orang polisi. Sesosok tubuh dengan posisi menelungkup di trotoir. Bagian kepala ditutup kertas koran. Tubuhnya kecil, pakaiannya dekil. Dia sudah mati.

Sebisa-bisanya saya berdoa. Tapi dalam hati lebih banyak dipenuhi rasa haru. Haru terhadap korban, haru terhadap penabrak yang dalam kondisi shock di bawa masuk ke mobil polisi, juga haru terhadap orang-orang yang menonton. Ada yang menaruh simpati, tapi (tanpa bermaksud buruk sangka) ada juga yang sekedar menganggap kejadian seru yang bisa dijadikan bahan cerita ke orang-orang. Muncul juga rasa aneh dalam hati demi membayangkan apa yang ada dibenak anak itu beberapa saat sebelum kematiannya. Mungkin dia punya banyak rencana, keinginan, dan berpikir ke depan tanpa pernah tahu sesaat lagi dirinya akan berpindah alam.Tapi ada lagi yang membuat hati saya terketuk : lelehan air mata seorang anak kecil di gendongan Ibunya. Sang Ibu tidak bereaksi sedih, bahkan berkesan biasa. Bisa dipastikan mereka bukan anggota keluarga. Anak itu tidak menangis keras, tapi mungkin merasakan kesedihan. Kesedihan itu seperti muncul secara spontan tanpa dirinyayang masih berusia sekitar 5 tahun mampu menalar lebih jauh apa yang terjadi. Di dalam pikiranku, spontanitas tersebut menyiratkan gerakan hati yang jujur, dalam, dan bersih. Saya yang selama berjalan dipenuhi pikiran dan kekhawatiran akan pekerjaan, kehidupan, keuangan, dan lain-lain yang membawa kepada sikap egois menjadi begitu ingin belajar lepas-bebas seperti anak itu. Sejenak berani untuk memberikan hati kepada orang lain tanpa buru-buru menilainya terlebih dahulu.

Saya percaya jiwa korban itu bahagia, seperti halnya saya percaya malam itu Tuhan berbicara kepada saya melalui lelehan air mataseorang anak. Memang Tuhan itu sangat lembut, tapi kehadiranNya kerapkali nyata dan meninggalkan sebuah tanda.

Friday, October 26, 2007

God Lives in The Details

Dulu, para guru dan mahaguruku sering menyatir kalimat seorang mahaguru arsitektur, yang mengatakan bahwa Tuhan hadir dalam setiap detail.

***

Dalam tubuh kota Jakarta yang porak-poranda terdapat sebuah detail, yakni kampung kecil yang mempunyai sebuah pelataran yang berfungsi sebagai open-public-space. Di tepian common space tersebut hadir sebuah rumah mungil nan asri dimana keluarga Yohanes Krisnawan hidup di dalamnya.

Saya membayangkan diriku duduk di pelataran tersebut, memandang teras dan ruang tamu yang terang benderang. Tentu, tak lain karena ada sebuah perhelatan, memperingati ulang tahun Kanya, puteri kedua pasangan Wawan-Nela. Dalam imajinasi, saya bayangkan kemeriahan tersebut membawa kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya, seperti halnya Kanya yang suatu saat saya temui sedang bergembira menjalin komunikasi dengan teman sekampungnya di balik pintu pagar. Padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tetapi suaranya yang ceria seakan menyusup koridor kampung, tanaman rambat, tiang-tiang jemuran, pintu-pintu rumah menularkan kegembiraan. Atau rengekan mesranya demi melihat sang Bapak mengeluarkan sepeda motornya. Atau juga sang kakak, Bening, yang dengan lembut-tak kentara menuliskan doa-doanya pada sesobek kecil kertas. Untuk teman, untuk sang adik, untuk burung piaraan, untuk Bapak dan Ibunya.

Memang, Tuhan selalu hadir menyusup dalam hal-hal terkecil dalam unsur kehidupan. Juga dalam sebuah rumah kecil nan asri, yang terletak dalam sebuah kampung yang mungkin dipandang sebelah mata. Dan saya percaya, selalu dimana Tuhan hadir, Dia mendirikan mezbahNya. Mendirikan altar bagi kita untuk memanjatkan doa-doa bagi sesama, bagi kota, bagi dunia.

***

dpersembahkan untuk Mas Wawan, Mbak Nela, Bening, dan Kanya

Monday, August 13, 2007

Tidur




Salah satu gejala yang dirasakan beberapa teman ketika menghadapi praktek kuliah kerja nyata adalah sulit tidur pada hari-hari pertama mereka tinggal di tempat yang bukan wilayah mereka. Mereka menjadi begitu kelelahan pada hari-hari berikutnya karena tidak mempunyai kesempatan secara utuh untuk melepaskan semua energi dalam tubuhnya yang saling berbenturan.

Ketika tidur manusia berada dalam titik apa adanya sebagai dirinya. Posisi tubuh, gerak, mimik wajah yang sesungguhnya tidak dapat ditutupi. Seorang teman, Andre namanya, yang ketika banjir datang melanda Jakarta segera mengemasi barang dan memindahkan ke sebuah kamar kosong di lantai dua. Sesampainya di kamar tersebut dirinya terbengong demi melihat Dinar, seorang teman kos yang berprofesi sebagai foto model tidur dengan mimik yang lucu dengan wajah tak karuan. "Wah, boleh jadi dia seorang model yang sehari-hari cantik. Tapi begitu tidur tetep aja ngowos", begitu komentar Andre. "Apa itu ngowos?" tanya Okky yang juga seorang foto model asal Bali. "Ya itulah. Lihat sendiri. Mulut menganga, suara dengkuran ngga karuan".
Ah, Okky yang cantik dan natural menjadi salah tingkah dan semakin cantik. Semoga kami tidak melihatnya ketika sedang tidur.


***


"Ah kalau aku hanya bisa tidur di kamarku sendiri, sejelek apapun kamarku itu", begitu kata Bernardus yang sehari-hari kami sapa wedhus (kambing). Rasanya Ben tidak sedang membanggakan kamarnya yang tidak mewah. Mungkin dia benar bahwa sebuah ruang kamar adalah cerminan pribadi penghuninya sehingga hanya kepada kamarnya dia bisa merasa nyaman dan aman. Bagaimana tidak? Kamar selalu memberikan dirinya untuk didandani sesuai keinginan penghuninya. Kamar juga menjadi saksi bisu tingkah laku dan ungkapan perasaan. Jadi, kalau ada orang bisa tidur di sembarang tempat tentu dia adalah sosok yang amat luwes dan mampu membuat dirinya berdamai dengan setiap ruang-waktu dan menjadikannya sebagai kamar.


"Orang macam ini mirip keong. Kemana-mana bawa kamarnya. Biasanya, orang macam ini hatinya gelisah. Manajemennya pasti jelek", begitu Ben berteori.
"Sembarangan. Jadi kamu pikir si Deni, Samuel, Eron, Aan tipe orang seperti itu? Menurut aku kok ngga. Apalagi Sam. Dia sangat rapi."
"Sam mungkin beda. Dia bisa tidur dengan enak di atas loker studio karena udah sering lembur di sini. Jadi udah kenal ruangannya dan merasa aman. Coba kamu suruh dia tidur di koridor deket tangga. Mana mau dia?".
"Huayah!! Siapa juga yang mau tidur di situ. Spooky Man!"

Tapi betul, suatu ketika aku melihat ada orang tidur di tangga. Anis Temi tidur dengan bibir mencium step tangga. Atau beberapa teman yang tidur nyenyak di lantai bordes sehingga membuat orang lain yang lewat harus bersikap seperti orang yang melewati makam. Mungkin betul bahwa mereka tipe orang yang bisa mempunyai perasaan damai di banyak tempat tapi bisa jadi material turut menyumbang kenyamanan yang membuat mereka rela bersikap macam gelandangan. Ubin lantai yang dingin misalnya mampu membuat orang luruh di atasnya.


***


Suatu hari di atas kereta Mutiara Selatan menuju Yogyakarta dari Bandung, aku duduk di bordes sembari menyesali diri kenapa tadi berangkat ke stasiun terlambat. Di sebelahku, dua orang laki-laki asyik tertidur. Badan mereka terlipat di ruang gerbong yang sempit. Melihat pemandangan tersebut, di tengah goncangan dan derak roda kereta yang keras aku berpikir bahwa struktur tubuh manusia begitu indah dan hebat. Mampu menyesuaikan diri dengan kondisi ruang meskipun dalam hatinya belum tentu ada perasaan nyaman. Data-data dan teori standar arsitektur yang dikemukakan oleh Neufert yang kami pelajari di sekolah rasanya menjadi hambar. Standar tersebut tentu baik diterapkan pada wadah kehidupan manusia di semua tempat. Sayangnya, dapat diterapkan jika suatu bangsa berada dalam kondisi sejahtera. Lantas, bagaimana dengan bangsa atau masyarakat yang karena banyak hal tidak kunjung sejahtera? Apakah harus dibumi hanguskan dan diganti dengan wadah yang sesuai standar atau mencoba berkompromi, setidaknya untuk sementara waktu ditetapkan standar yang sesuai kondisi? Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembuat keputusan seringkali menerapkan standar berdasarkan apa yang mereka pikir atau mengambil nilai dari budaya lain yang jelas belum tentu sesuai.

Menurut saya praktis saja. Sebuah standar harus dibaca bukan sebagai aturan baku tetapi sebuah guidance yang mampu menanggapi perkembangan manusia. Bukan seperti kitab suci yang dikunyah mentah karena pada akhirnya nilai manusia itu sendiri yang perlu diperhatikan. Saya percaya, ketika Ernst Neufert membuat standarisasi ruang dan Le Corbusier menemukan The Modulor dan The Golden Section, semua bermula dari unsur manusia. Memberi penghargaan kepada tubuh manusia untuk memperoleh kenyamanan dan ujung-ujungnya adalah membuat manusia bisa beristirahat dan tidur dengan tenang agar irama kehidupan bisa berjalan dengan seimbang. Sebaliknya dapat dibayangkan jika jutaan energi buruk muncul ketika manusia tidur memenuhi atmosfer.

Sunday, August 5, 2007

Aku Melihat Rosarioku Bertumpuk dengan Gumpalan Uang Kertas Limaribu dan Beberapa Receh Logam

Aku melihat rosarioku tergeletak di meja, bertumpuk menjadi satu dengan gumpalan uang kertas limaribu dan beberapa receh uang logam. Sebuah rosario kayu yang diberikan oleh seorang Pastor Diosesan kepada Ibu dengan sedikit cerita singkat tentang permohonannya kepada Kanjeng Ibu agar selalu memberi kekuatan kepada Ibu. Rosario yang dikirim melalui pos tersebut aku terima tepat tiga hari setelah Ibu dimakamkan.

Di dalam kebiasaanku, benda-benda yang kuletakkan bertumpuk berarti aku ambil dari satu tempat. Entah dari saku kemeja atau celana. Menurut kebiasaanku pula, rosario selalu aku letakkan pada tempat yang "terhormat", terpisah dengan benda-benda lainnya, dan mudah dicapai tangan. Tujuannya agar tidak rusak ketika "diambil paksa" atau putus karena terikat benda-benda lain tersebut. Tetapi dibalik itu sejak kecil aku memang memahami bahwa benda-benda seperti rosario, meskipun hanyalah sebuah benda atau alat, harus diletakkan secara hormat. Tak peduli dengan omongan yang mengatakan bida'ah dan penyembahan berhala. Yang jelas jiwaku tak tega untuk meletakkannya secara sembarangan. Secara jujur aku mengakuinya ada nilai kudus di dalamnya meskipun pemiliknya tak kunjung kudus.

Ketika aku melihatnya menggumpal menjadi satu bersama uang kertas dan beberapa receh logam hatiku mengatakan bahwa aku sedang terburu-buru. Terlalu sibuk. Baik hari ini atau bahkan beberapa hari sebelumnya. Ya, aku memang terlalu sibuk. Baik dalam urusan pekerjaan kantor atau pekerjaan lainnya yang bahkan penuh nilai religiositas dan kemanusiaan. Dan seperti halnya membiarkan rosarioku tergumpal bersama uang kertas limaribu dan beberapa receh logam, kesibukanku membuat aku membiarkan orang-orang yang seharusnya aku cintai dan aku perhatikan.

Thursday, July 5, 2007

Titip Refa

Tanggal 23 Juni 2007 aku menerima pesan dari Bapak melalui sms. Mengabarkan bahwa Norman adikku lulus ujian nasional. Bukan hanya itu. Dikatakan juga bahwa seratus persen murid di tempat dia bersekolah juga lulus. Dalam hati aku tersenyum. Ada rasa lega dan bangga yang besar demi mengingat perjuangan yang kami sekeluarga lalui bersama untuk bisa menyekolahkan adikku yang satu ini. Maklum, kami bukan dari kalangan berada.

Tahun 2003 yang lalu adalah tahun terburuk dalam karier Bapak. Peristiwa bom yang meluluhlantakkan Paddy's Restaurant di jalan Legian Bali sertamerta juga menghancurkan usaha perjalanan wisata yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun. Demikianlah saat itu, dengan kekuatan yang diperoleh entah darimana Bapak menjual semua asetnya demi bisa memberikan gaji terakhir bagi para karyawannya; mbak Yus sang sekretaris, Pak Min yang office boy, dan Pak Riniyanto sang pengemudi, yang telah mengabdi bahkan sejak aku dan kakak-kakakku masih kecil.

Usaha Bapak tidak berskala besar. Pas-pasan saja. Jadi tidak heran kalau tidak ada sisa harta yang bisa diandalkan saat itu kecuali sebuah sepeda motor yang dibeli dengan cara kredit dan uang tabungan yang kian menipis. Aku, saat itu masih bekerja di sebuah biro konsultan besar di Jakarta. Tapi apalah arti kata “besar” dalam kehidupan ekonomi di negara yang berantakan dan tidak mampu memberikan jaminan minimal untuk sebuah kehidupan yang layak. Serba sulit. Serba harus menahan diri. Ditambah bagi kaum urban seperti aku, kakak-kakakku, dan beberapa kawan yang betul-betul harus berdiri di atas kaki sendiri.

Tetapi hidup memang sebuah perhelatan akbar. Banyak tarian yang harus dimainkan. Dan apapun tariannya tentulah akan tampak indah jika digerakkan dengan sepenuh hati, bukan dengan keluhan. Maka jadilah, dengan semangat tersebut kami menambal “dinding yang berlubang” agar “kapal” tidak karam. Termasuk agenda saat itu adalah membantu Norman untuk dapat melanjutkan belajar di sekolah menengah pertama. Ah, tapi ini jangan dibaca sebagai kisah kepahlawanan. Bukan. Ini murni rasional : bahwa harus ada tali estafet yang harus terus bersambut agar kehidupan tidak luruh. Maka mengingat peristiwa itu semua patutlah kami saat ini bersyukur atas kelulusannya. Adikku memang bisa diandalkan. Setidaknya atas usaha terakhirnya yang membuahkan nilai baik dan sikap serta pola pikir yang membuatnya dengan mudah diterima di sebuah sekolah menengah umum swasta bermutu. Murah? Tentu tidak! Dan sekali lagi kami harus “menari” lagi. Ngamen.

Dibalik peristiwa syukur tersebut ada satu orang lagi yang perlu selalu kami ingat, yaitu Ibu. Tiga tahun yang lalu dia memainkan peran sebagai layaknya Ibu bagi Norman yang adalah saudara kandung bagi kami tetapi berlainan Ibu. Ibulah yang sejak awal mengingatkan Bapak dan kami semua dari sejak pengumuman penerimaan, jadwal pengembalian formulir, pengambilan nomor tes, dan lain sebagainya. Tetapi dari semua peran tersebut yang terpenting adalah posisi tawarnya yang masih baik sebagai bekas guru dan petugas unit kesehatan sekolah di tempat Norman akan bersekolah. Tentu hal ini sangat membantu kami yang harus mengakui secara jujur berada dalam situasi keuangan yang lemah. Masih segar dalam ingatanku saat dirinya lapor sesampainya aku di Jogja. Lapor atas usahanya menawar.

“Dik Wisnu, sebagai bekas guru di sini tawaranku masih dihargai atau tidak?”, tanyanya kepada Pak Wisnu, seorang teman baik, dan bekas guru kami yang masih setia mengabdi.
“Oh lha iya to Bu. Tapi buat siapa?”
“Ya buat anakku to”.
“Anakmu yang mana? Semua sudah pada lulus dan gede-gede to?”
“Anakku yang mana? Anakku ya anakku! Norman Mahardhika namanya. Dia yo anakku”. Ngotot

Ah, Ibu memang hanya seorang guru. Guru pelajaran menyanyi, koor, dan juga pencipta lagu yang tidak pernah komersil. Baik saat masih bertugas di sekolah ini, maupun ketika akhirnya memilih “pensiun” dirinyapun masih mengajar di sekolah lain, di Instansi Pemerintah Daerah yang getol kalau ada lomba tahunan antar departemen, bahkan pernah juga di Akademi Angkatan Udara. Untuk yang aku sebut terakhir ada kesan mendalam yang tampak dalam cerita-ceritanya; bagaimana dirinya selalu dijemput menggunakan bis besar berwarna biru tua. Sesampainya di lokasi langsung di sambut oleh Taruna tertua yang melaporkan bahwa mereka siap untuk berlatih. Diingatnya juga bagaimana mereka memberi hormat ketika Ibu masuk ke dalam ruangan. Dan hasilnya : sebuah paduan suara dengan semangat militer yang setiap bulan sekali mempersembahkan koor untuk upacara misa di gereja Kidul Lodji. Tetapi begitulah. Dirinya tetap seorang guru honorer yang penghasilan terakhir sekitar tiga tahun sebelum wafatnya hanya tigaratus ribu rupiah sebulan. Tetapi semua kekurangan itu tidak melunturkan jiwa pendidik dan kecintaannya terhadap anak-anak dan sebisa mungkin menolong mereka yang membutuhkan. Salahsatu anak yang dikasihinya adalah Refa. Nama lengkapnya adalah Yohanes Refa Cahyo Kurniawan.

***
Refa lahir dari pasangan Pak Sukar dan Mbak Ten. Wajahnya bersih dan tampan. Seumur dengan Norman adikku. Dia rajin mengaji, pintar, dan budi pekertinya halus. Sangat mengerti akan kondisi orangtuanya yang sangat miskin.

Mbak Ten, begitu kami memanggilnya, adalah perempuan sederhana yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Tulang punggung keluarga. Perawakannya kecil, penurut, tetapi kadangkala emosinya meledak-ledak. Mungkin hal tersebut disebabkan pendidikannya yang terbatas sehingga sulit mengolah kesulitan hidup yang dihadapi. Mbak Ten bekerja untuk keluarga kami, dalam hal ini membantu Ibu mengurus rumah dan menjaganya saat malam hari. Dahulu, sebelum kami mengambil perawat yang mengurus luka kanker payudara yang hinggap di tubuh Ibu, kalau terjadi sesuatu seperti jatuh dari tempat tidur atau pendarahan misalnya, mbak Tenlah satu-satunya orang yang bisa diandalkan. Berani melihat kanker, melihat bulir-bulir daging busuk dan darah yang mengucur serta membersihkannya. Ora jijikan. Tidak mudah jijik begitu kata Ibu mengomentari keteguhan dan kesetiaan mbak Ten. Begitu setianya sehingga mulutnyapun nyaris rapat sempurna, mematuhi pesan sang majikan untuk tidak menceriterakan kondisi yang sebenarnya jika anak-anak bertanya. Di mataku mbak Ten adalah seorang malaikat. Dirinya selalu menyiapkan teh hangat yang sangat nikmat kalau aku pulang ke rumah Ibu, atau air panas untuk mandi dengan tidak lupa kebiasaannya menaburkan daun sirih. Selalu, pada saat-saat seperti ini aku merasa menjadi raja.

Pak Sukar mempunyai wajah yang tampan. Perawakannya tidak tinggi tetapi cukup kekar. Sejak kecil kami sudah mengenalnya. Dahulu dia bekerja membantu Pakde Mardi, saudara iparnya, sebagai pengrajin logam sepuh. Membuat benda-benda seperti sendok, lambang garuda pancasila, logo kraton, dan lain sebagainya. Sering, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika hendak pergi ke warung Bu Muh, berhenti sejenak saat melewati bengkel milik mereka. Ruangannya kecil. Berukuran 2 x 3 meter dengan atap emplekan atau tambahan karena ruangan yang mereka gunakan untuk bekerja sebetulnya adalah pojok halaman. Ruangan ini cukup gelap. Lantainya tanah. Dindingnya hitam akibat hangus oleh api yang digunakan untuk mencairkan logam. Mereka bekerja dengan cara berjongkok atau duduk pada sebuah dhingklik. Sebagai anak kecil aku senang melihat api yang menyala-nyala tersebut. Membesar dan panas ketika Pak Sukar meniupkan udara dari mulutnya ke dalam tungku secara manual menggunakan pipa besi. Pekerjaan inilah yang akhirnya memberikan kebutaan pada kedua matanya. Saat ini, di dalam kegelapan dunia, dirinya masih berusaha mengais rejeki sebagai niyaga. Memainkan rebab dalam satu kelompok penabuh gamelan pada acara Sendra Tari Ramayana yang diadakan untuk menjamu wisatawan. Lokasinya tidak jauh dekat rumah kami. Sebagai niyaga dengan jadwal yang tidak sering penghasilannya sangatlah kecil. Sisa harinya selalu digunakan untuk memainkan rebab. Duduk di sebuah kursi di muka pintu kamar menghadap halaman yang berbatasan dengan rumah kami. Suara gesekannya rengeng-rengeng, pelan, kadang datar. Sendu, meditatif, menarik rasa dan emosi ke dalam situasi hening. Dia tahu bahwa aku dan Ibu suka mendengarkan permainannya.

Begitu miskin keluarga itu. Jika tidak dibantu oleh beberapa sanak, Refa tentu tidak dapat bersekolah. Keadaan mereka yang serba sulit dan sikap mereka yang baik menggerakkan hati Ibu untuk menjadikan mbak Ten sebagai pengurus rumahnya. Untuk memberi tambahan penghasilan.
“Untuk Refa. Anak itu baik. Bapak Ibunya ngga punya apa-apa. Kasihan kalau sampai ngga sekolah”, kata Ibu suatu hari. Aku hanya bisa mengangguk

***

Peristiwa itu kembali muncul dalam benakku ketika pelan-pelan kegembiraan hati atas kelulusan Norman mulai mengendap. Titip Refa. Kata-kata tiba-tiba itu muncul kembali. Pelan dan lirih, tetapi menghentakkan hati. Mengingatkan akan sesuatu yang terlupa. Kata-kata itu muncul dari mulut Ibu yang lemah, dalam pandangan mata yang nanar di sebuah kamar rumah sakit yang dingin dan temaram. Waktu itu bulan Maret menjelang April. Ibu sudah habis-habisan berjuang melawan kekuatan kanker yang sudah mencapai stadium terminal. Menggerogoti paru-paru dan jantungnya. Sudah hampir dua minggu kami menungguinya dalam kelelahan. Baik fisik maupun mental. Masih sempat sejenak melihat tawa dan semangatnya yang perlahan tapi pasti pudar berganti menjadi pikiran yang meracau, badan yang menolak makanan, bola mata yang memudar menjadi abu-abu, melihat bayang-bayang di balik kehidupan.

27 Maret 2006. Waktu kira-kira menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana sangat sepi dan dingin. Aku berjaga sendiri, duduk di samping Ibu yang tidur dengan posisi miring menghindari rasa sakit pada sisi kanan badannya. Tangannya merangkul guling dan telapaknya menggenggam pembatas tempat tidur. Kakinya bergerak secara berkala dengan irama yang tetap. Menurut suster yang merawatnya itu tanda bahwa dia begitu menahan sakit. Aku tidak percaya karena tidak keluar keluhan dari mulutnya. Hanya kadang kepanasan dan minta untuk digosok atau disejukkan. Tetapi kaki itu terus bergerak bahkan ketika matanya yang mulai nanar terpejam.

Aku menatap wajahnya. Dagu kusandarkan pada tepi kasur dekat tangan Ibu demi menahan badan yang mulai lelah. Tiba-tiba mata Ibu terbuka dan kamipun bertatapan. Aneh, tiba-tiba ada ketakutan bercampur kesedihan merayapi hatiku, demi melihat orang yang pernah mengandung aku. Perempuan keras dan kuat pendiriannya. Teguh dalam kemiskinan dan penderitaan. Rela memberikan bahu bagi anak-anaknya untuk berpijak di atasnya dan meraih bintang-bintang di langit. Hidup dalam kesendirian dan kesepian. Dan saat ini dia berada dalam kondisi sakratul.

“I love you Ma”.
“Love you too”. Suaranya lirih dan berat. Sembari mengusap kepalaku. Sesuatu hal yang lama tidak kurasakan. Belaian lembut seorang Ibu kepada anaknya.
“Maafin aku Ma”.
“Pasti”, jawabnya
“Kamu bangga?”, dia bertanya. Aku mengangguk tersenyum.
“Nanti kalau Mama sudah ngga ada, tolong kamu kasih uang ke Mbak Ten. Cincin Mama ada di lemari di bawah tumpukan baju. Kamu ambil. Koor nanti biar Mas Joko yang urus. Kalau sempet bawa Mama ke gereja dan mampir ke rumah." Dan berakhir pada satu permintaan : "Titip Refa”.

Saat itu mulutku seperti dibungkam. Dan aku seperti melihat sebilah pedang menancap di dadaku. Menembus pelan masuk ke badan inchi per inchi … terus … terus ke dalam Terasa sakitnya. Dan ketika mulutku bisa terbuka yang terlontar bukanlah kata-kata penghiburan tetapi sebuah kalimat “Ya”. Saat itu aku merasa berjabat tangan dengan kematian yang aura kehadirannya mulai terasa, pelan tapi pasti, merangkul Ibuku yang kembali memejamkan mata dengan tarikan nafas yang teduh. Aku menangis. Di dalam kegelapan dan dinginnya kamar lepas kendali seluruh kekuatan dan kesombonganku sebagai laki-laki, dan akhirnya aku tahu itulah saat terakhir kami bertatapan dan berbicara.

Monday, May 28, 2007

Eyang Waras

Bagi Wegig pulang ke Yogya adalah sebuah peristiwa yang menggairahkan. Bertemu dengan teman-teman lama, ngobrol dengan Bapak dan adik, jalan-jalan menikmati situasi kotagede yang magis, nyekar ke makam Ibu, dan juga seperti biasa; nyekar ke makam Eyang Waras. Yang terakhir ini adalah seseorang yang mempunyai kesan tersendiri dalam hatinya. Sebutan Eyang tidak lain karena usianya yang sudah tua sewaktu Wegig mengenalnya. Sekitar tujuhpuluh tahun waktu itu. Di masa mudanya Eyang Waras adalah seorang Soverdian. Hidup sebagai anggota tarekat dalam sebuah biara Katolik yang akhirnya harus rela meninggalkan status biarawan karena sadar bahwa dirinya adalah seorang homoseksual. Kehidupan selanjutnya selepas membiara dibaktikan sebagai guru dan pembimbing rohani di sebuah gereja tertua di kota Yogyakarta dimana Wegig terlibat aktif di dalamnya. Dari pertemuan dengan Eyang Waras dirinya memperoleh pengalaman religius dengan sangat sederhana namun berkesan: sebagai messdiener dan mulai menyukai lagu-lagu gregorian.

“Menjadi messdiener adalah menjadi pelayan”, begitu kata Eyang Waras suatu hari. “Beda kalau kamu ikut kegiatan lain yang penuh acara ini dan itu. Banyak dikenal, banyak yang suka. Lha kalau messdiener, sekali tampil di depan ya itu tadi. Melayani. Jadi pembantu. Yang jadi fokusnya adalah Imam. Tapi apapun itu menjadi seorang pelayan adalah sebuah tugas yang harus diterima dan dikerjakan dengan senang hati.”

Kalimat tersebut kembali terngiang dibenak Wegig ketika menyusuri trotoir di tepi taman kota. Seperti angin yang bertiup lembut. Tidak terasa kehadirannya tetapi mampu mengalihkan kesadarannya menuju masa lalu. Di sisi kanan sebuah bis melaju kencang disusul sepeda motor dan mobil yang berpacu menyambut traffic light yang menyala kuning. Anginnya menerpa badan, menggoyang tas bawaan yang menjadi semakin berat. Sekelompok pasukan brigade mobil berjaga-jaga di depan sebuah gedung berpagar tinggi lengkap dengan untaian kawat duri. Di sisi kiri, kelompok besar pepohonan rimbun terlihat memancarkan kesejukan. Tetapi hamparan panorama tersebut tidak mampu mencuri perhatiannya yang sedang berkelana ke masa duapuluh tahun silam, di dalam sebuah bangunan gereja tua dimana dirinya berkumpul setiap minggu bersama teman-teman messdiener di bawah bimbingan Eyang Waras. Sebuah gereja yang tidak besar tetapi tinggi dan panjang. Tiang-tiangnya berbalut logam berwarna merah maroon dengan ukiran klasik di ujung atas. Seringkali burung-burung gereja bersarang di sana. Diingatnya juga seluruh dinding altar berbalut pecahan genteng tanah liat yang mengkilap. Di sebelah kiri altar terdapat pintu masuk menuju sakristi, yaitu sebuah ruang persiapan bagi imam dan petugas upacara. Di tempat inilah baju-baju misdienaar, sang pelayan, digantung siap pakai dekat sebuah lemari yang mempunyai cermin di bagian luar daun pintunya. Di tempat ini pula Romo Kijm, seorang Imam Belanda yang gemar menghisap rokok commodore, suatu ketika dengan kedua telapak tangan memegang kepala Wegig dan mengarahkan ke muka cermin. “Kalau sisiran yang rapi. Jangan seperti jalan semut”, katanya sembari meletakkan jari telunjuk ke garis belahan rambut yang berkelok. Atau Romo Waskito, juga seorang Imam Belanda yang mempunyai nama asli Joseph Vossen, yang selalu mengingatkan untuk tidak mengikat lengan jubah pada pinggang. Suatu hal yang selalu dilakukan oleh messdiener berbadan besar untuk menyiasati jubah yang kekecilan sebelum ditutup dengan pakaian putih yang menutupi badan dari leher atas hingga batas lutut. Peraturan serba tertib, rapi, dan disiplin. Tampaknya di mata Romo-romo itu seorang pelayan bukanlah hamba. Pelayan adalah salahsatu jenis pekerjaan. Setara dengan pekerjaan sebagai arsitek yang dijalani Wegig saat ini.

Terdengar gema yang muncul dari sebuah pengeras suara di stasiun. Mengabarkan rangkaian kereta api yang baru datang. Wegig tersadar. Lamunannya buyar. "Ah, sudah hampir sampai rupanya", gumamnya. Di depannya tampak kesibukan sebuah stasiun. Diliriknya arloji. Masih lama. Kereta api yang ditumpanginya akan berangkat tiga jam lagi. Masih banyak waktu baginya untuk berjalan ke wilayah tua Menteng. Mampir ke sebuah kafe kecil bernuansa kolonial sembari meneguk coklat panas tanpa krim dengan dark chocolate di mulut sangat mengasyikkan. Tetapi entah kenapa dirinya lebih memilih menunggu di stasiun. Maka jadilah dia naik ke lantai atas menuju teras yang diperuntukkan bagi penumpang rangkaian kereta yang akan dinaikinya. Dipandangnya teras di seberang. Dulu, tempat dimana dia berdiri khusus diperuntukkan bagi penumpang eksekutif, dan yang diseberang diperuntukkan bagi penumpang dengan kelas di bawahnya. Sekarang sudah tidak lagi. Tetapi bukan berarti pemerataan sudah terjadi. Yang dia tahu penumpang dengan kelas di bawah eksekutif ditempatkan di stasiun lain di wilayah kecamatan Senen yang padat dan rawan. Bangunannyapun kusam dan tidak terawat. Terkesan miskin dan terlantar.

***
Pukul tiga lebih dini hari. Kereta baru melewati stasiun Purwokerto. Berhenti sebentar menurunkan penumpang dan memberi sedikit kesempatan kepada penjual makanan untuk sekedar melongokkan kepala melalui pintu gerbong. Tidak ada penumpang yang tertarik. Kebanyakan dari mereka masih tenggelam dalam selimut tipis masing-masing. Hanya beberapa orang yang terjaga termasuk Wegig. Duduk selonjoran di kursi. Setengah mukanya tertutup kain selimut yang melindungi hidungnya dari serbuan gas pengharum ruangan. Matanya menatap ke luar di balik kaca jendela, tetapi pikirannya tidak seirama dengan apa yang dilihatnya. Di otaknya masih terbayang Eyang Waras. Eyang yang sederhana dan saleh itu hidupnya tidak selalu indah dan beroleh penghormatan sebagai orang yang berbakti dengan tulus kepada gereja dan masyarakat. Sudah biasa didengarnya gunjingan yang mengatakan bahwa dirinya kerap mengundang para lelaki muda, termasuk para messdiener didikannya yang sedang tumbuh dewasa ke dalam kamarnya secara pribadi. Dalihnya adalah semacam memberi bekal kepada anak-anak yang sedang tumbuh agar lebih siap dalam menjalani dunia dewasa dengan lebih terbuka secara benar. Pun almarhumah Ibu Wegig yang sangat menyayangi, dan selalu memandang Eyang Waras secara positif sempat menanyakan hal itu suatu ketika.
“Tadi dipanggil Eyang?”
“Iya Bu. Dari jam tiga sore”.
“Oh. Ngobrol apa aja?” Ada seuntai senyum di bibirnya. Tampak santai, tetapi matanya yang teduh menyiratkan rasa takut bercampur sikap hati-hati demi menghormati Wegig, anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Atau masih ada harapan dalam hati yang membuat dirinya tetap percaya bahwa Eyang Waras tetap ‘waras’ dan bisa dia percaya.
“ngg … Eyang ngomong banyak soal psikologi. Eyang juga cerita bahwa Eyang Putri adalah istri yang baik dan seorang malaikat. Bisa memahami keadaannya. Tadi di kamarnya aku juga membaca kitab Talmud. Hebat!! Darimana Eyang bisa punya kitab itu ya ..”.
"Tapi kamu ... eh .. dia tidak minta macam-macam kan?". Seperti ada beban besar terangkat setelah berani mengungkapkan pertanyaan ini.
"Ah tidak Bu. Sejujurnya, Eyang Waras sempat meminta hal itu. Tapi aku tegas katakan tidak. Dan untuk itu dia sangat hormat dan berjanji untuk berbuat macam-macam". Lega.
"Syukur. Syukur kalau begitu. Ibu juga percaya bahwa Eyang itu baik. Yang penting kamu bisa jaga diri saja".

Eyang Waras adalah laki-laki pintar. Tutur katanya yang sopan selalu menarik hati orang yang mendengarnya. Dia fasih dalam ilmu psikologi dan seksologi. Menguasai lima bahasa dengan sempurna : Inggris, Jerman, Belanda, Jawa, dan Latin. Kemampuan ilmu filsafat dan teologinya? Sebagai bekas seminaris tak diragukan. Berbekal talenta tersebut dia mampu menjalankan peran sebagai guru dengan baik. Menjadi mata air bagi jiwa yang kering dan ketakutan. Sayang, hanya satu yang menjadi ganjalan dalam hidupnya. Dia seorang homoseksual dan tinggal di kampung yang masih memegang pandangan lama. Dan sebagai orang yang dekat dengannya Wegig tahu bahwa gunjingan itu memang benar adanya. Tetapi, untuk meyakinkan diri suatu kali dengan berani dia menanyakan secara langsung hal itu. Dan Eyang Waras dengan jujur menyatakan kebenaran berita tersebut.

Tak urung ada rasa khawatir juga dalam diri Wegig. Ada ketakutan jangan-jangan semua diskusi dengannya selama ini hanya sebuah perangkap meskipun hatinya tetap mengakui ada nilai-nilai positif di dalamnya dan sangat membantu dirinya yang sedang beranjak dewasa. Tak apalah. Toh dirinya sudah menunjukkan sikap. Lihat saja nanti apakah dalam perjumpaan berikutnya Eyang Waras konsisten dengan apa yang diucapkannya. Tapi satu sikap Eyang Waras yang sangat dipujinya; kerendahan hati untuk mengakui kelemahannya. Tidak menampik hujatan yang ditujukan kepadanya. Sebaliknya senyum selalu ada pada wajahnya dan konsisten betul akan pelayanan terhadap gereja dan Tuhan.

***
Di kerkop, begitu orang Yogya dulu menyebut kata kerkhoft, kompleks pemakaman dalam bahasa Belanda. Dengan hati-hati Wegig memegang duapuluhan batang dupa. Posisi tubuhnya sedikit meringkuk untuk melindungi api dari terpaan angin. Tak lama kemudian ujung batang-batang dupa tersebut cerah menjadi bara. Asapnya halus meliuk mengikuti aliran angin, dan aroma musk segera menyebar. Aroma yang sangat digemari oleh Ibu. Sekian detik dirinya dibawa mundur ke suatu sore hari ketika sedang memasukkan batang dupa pada sebuah dudukan terbuat dari belahan bambu dan kemudian diletakkan pada permukaan piano rusak yang difungsikan sebagai meja untuk menampung benda-benda dekorasi ruangan. Ibu duduk di sofa. Kami berbincang santai sembari menikmati suara rengeng-rengeng gesekan rebab Pak Sukar di rumah sebelah. Teduh sekali. Damai, pulang, menjadi murni dan apa adanya.
"Ah Ibu, aku kangen.", desahnya

Pemakaman ini ada sejak jaman Belanda. Kondisinya seperti pemakaman di Jawa pada umumnya. Ada makam yang cukup berbalut tanah, ada yang ditutup dengan nisan dengan bentuk yang beragam. Banyak pohon tua terutama jambu air dan pace. Tetapi dekat makam Ibu ada pohon kamboja yang tumbuh seperti tidak disengaja. Di bawahnya ada makam seorang pahlawan. Sederhana sekali. Hanya berupa gundukan tanah dengan penanda berupa tongkat bambu runcing dan bendera kecil yang selalu berkibar. Keduanya terbuat dari besi dan seng yang dicat dengan semacam cat minyak. Jalan setapak sulit ditemukan di sini. Mungkin dulu ada tetapi akhirnya digunakan untuk makam-makam baru. Sangat padat dan tidak teratur. Tetapi entah kenapa selalu ada rasa teduh ketika Wegig berada di dalamnya. Mungkin karena ada makam Ibu di sini, atau bisa juga karena dia sudah mengenal tempat ini sejak kecil. Bermain perang-perangan bersama Aditya, seorang sahabat yang sekarang menjadi seorang perwira polisi. Tempat persembunyiannya adalah gundukan makam, pohon, sumur, atau batu nisan. Senapannya adalah batang kayu dengan pelontar peluru terbuat dari tali karet. Pelurunya adalah potongan tangkai daun pepaya.

Hening. Angin bertiup terasa sejuk di muka membuat mata semakin ingin lama terpejam. Bau harum kamboja yang luruh ke tanah, berbaur dengan harum dupa, melati, dan kanthil. Tanah kering-panas yang baru saja disiram. Aromanya meneduhkan hati.

"Sendirian saja to Mas?"
Wegig sedikit terkejut tapi tak lama roman mukanya berubah cerah setelah mengetahui bahwa pemilik suara berat dengan nada sopan tersebut adalah Pak Bejo, seorang tukang becak bersahaja dari desa Sedayu Bantul yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarganya, terutama Ibu. Baginya, Pak Bejo sudah seperti saudara sendiri. Maka tidak ada rasa beban dalam hatinya ketika pengayuh becak tersebut undur diri setelah menyapa dan berbincang sejenak, sekedar untuk memberi kesempatan berdoa. Dan Wegig menjanjikan untuk bertemu sepulang dari nyekar nanti.

***
HERMAN sudah jauh-jauh hari berjanji kepada Wegig untuk bertemu di Yogya. Dan janji itu ditepati. Pukul lima lebih delapan menit dia datang ke pemakaman. "Walah aku telat!! Maaf maaf!!", teriaknya dari kejauhan sambil tergopoh-gopoh menyusuri jalan setapak makam. Raut mukanya terlihat gembira. Dengan sengaja diinjaknya beberapa nisan untuk memotong jalur sembari keluar kata maaf dari mulutnya. Kedua sahabat itu berjabat tangan. Sudah lama betul mereka tidak bertemu terlebih setelah Herman menikah dan bermukim di Semarang. Bagi Wegig Herman benar-benar sahabat. Tidak sekedar teman. Memang dulu semasa kuliah mereka sering mabuk dan bolos besama. Tapi sekarang Herman bekerja menangani pemukiman rakyat miskin sedang dirinya bekerja di sebuah konsultan yang menangani proyek-proyek besar. Sahabatnya itu sudah menikah dan dirinya belum. Pun kalau kebetulan berada dalam satu kota mereka belum tentu dapat bertemu dengan alasan kesibukan. Tapi satu hal yang dicatat oleh Wegig, yaitu ketika sekali waktu dapat bertemu, meskipun sejenak, mereka betul-betul berbagi dan saling menguatkan. Seperti juga saat ini dia seakan tahu apa yang menjadi kegelisahan Wegig dalam menjalani kehidupan sebagai arsitek di kota besar. Sarat dengan mengikuti nilai-nilai pasar. Pasar yang menciptakan persaingan dan membawa para arsitek berlomba untuk mencari popularitas. Pasar yang membawa arsitektur ( yang seharusnya mengemban nilai sosial, budaya, kemanusiaan secara jujur ) ke dalam satu nilai yang dibentuk oleh lifestyle model kapitalis. Pasar yang menempatkan orang-orang yang tidak mampu mengikuti pola permainnya berada di pinggir. Pasar yang ramai tetapi kehilangan semangat keramaian sesungguhnya.

"Nah, lantas kamu sendiri bagaimana? tanya Herman. Lanjutnya lagi, "Sama saja. Kamu pikir pekerjaanku yang seakan penuh nilai moral dan kemanusiaan menyenangkan? Sebaliknya Gig, tidak gampang kerja untuk orang-orang miskin. Di satu sisi mencoba untuk selalu mempunyai perhatian untuk mereka, tetapi kalau tidak hati-hati malah bisa membuat mereka manja, merasa selalu benar sebagai orang tertindas meskipun kenyataannya sering juga mereka nakal. Juga apakah kamu pikir dengan menyandang judul membantu orang kecil lantas beroleh ucapan terimakasih dengan tulus? Belum lagi masalah internal sesama tim. Dimanapun itu, apapun judulnya, pekerjaan pastilah sama. Kukira kamu tahu betul itu."

Sejenak diam.

Herman benar. Aku tidak ingin membandingkan secara hitam-putih. Kedua sisi itu sama-sama punya nilai positif. "Mungkin aku cuma lelah", katanya. Kecewa karena tidak mampu mengikuti mainstream. Yang bisa dilakukan adalah mengikuti logika aliran hidup; harus membiayai diri sendiri, juga Bapak dan Adik. Selebihnya, ibarat orang menunggu di halte bis, bertemu dan ngobrol dengan orang lain. Syukur bisa membantu kalau orang itu punya kesulitan. Pendeknya menjadi arsitek adalah membuat orang lain gembira. Tidak peduli apakah namanya muncul ke permukaan atau tidak. Sepertinya bodoh memang. Tetapi biarlah, masih banyak peran dalam hidup jika kita menyetel pada gelombang memberi kegembiraan untuk sesama.

Pernyataannya ini menimbulkan rasa lega dalam diri Wegig. Serasa ada beban besar yang terangkat. Merasa menjadi manusia baru nan segar dengan mau mengakui sebagaimana dirinya. Dan entah mengapa tiba-tiba muncul semangat baru untuk berani menghadapi arus hidup. Apapun itu.

Herman tersenyum. Pembicaraan kali ini tidak sertamerta dapat membuat semua masalah hilang. Tetapi bersama sahabatnya ini pembicaraan terasa seperti saling menguatkan. "Sudah sore. Kamu harus balik ke Jakarta to? Sampai ketemu lagi kalau begitu," Herman membuka suara.

Makam sebentar lagi tutup. Tapi Wegig belum sempat nyekar ke makam Eyang Waras. Tempatnya saja lupa. Seingatnya makamnya ada di barisan sebelah timur di dekat makam-makam tua yang tidak terurus. Tapi tak apalah. Lainkali saja, karena sore ini Wegig secara batin sudah bertemu dengannya. Belajar darinya untuk menerima diri apa adanya. Menjadi diri sendiri dan menghadapi hidup dengan senyum dan kerendahan hati. Menjadi pelayan.

Sejenak terbayang posturnya yang kecil dengan rambut putih berdiri dengan penuh percaya diri. Mengajarkan bagaimana mempersembahkan dupa di altar. "Pelan-pelan cah bagus ... ya, pegang rantainya dengan tangan kanan ... angkat tangan kananmu ke depan ... ayunkan pedupaan dengan pelan. Mata ke satu arah. Jangan jelalatan! Yang anggun ... bawa semua umat ke dalam hening kepada Tuhan ...".

Dan asap dupa yang harum itu membumbung tinggi ke langit-langit altar yang terbuat dari kayu berbentuk kubah.
Te Deum Laudamus
Te Dominum Confitemur
....