<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781</id><updated>2012-02-07T02:23:38.556-08:00</updated><category term='Gallery'/><category term='arsitektur'/><category term='Filsafat'/><category term='cerita'/><title type='text'>paramartha</title><subtitle type='html'>by yulius seto parama artho</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7108178019346990607</id><published>2012-01-28T08:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T08:32:54.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Rayakan Rumahmu</title><content type='html'>&lt;div&gt;Lima tahun lalu seorang teman di Yogyakarta minta dibuatkan rumah yang menurut rencana akan ditempati oleh ayahnya. Sebelumnya, ayah temanku itu menumpang di rumah seorang kerabat mereka. Semuanya berjalan lancar sampai suatu saat sang pemilik rumah mengeluh. Dia berencana menjual rumahnya tetapi niatnya selalu tertunda karena tidak tega 'mengusir' ayah temanku ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah rumah temanku selesai dibangun sang  ayah tidak kunjung menempati. Hanya sesekali menengok untuk membersihkan. Temanku ini jadi kesal hati. Sudah dibuatkan rumah tapi masih memilih merepotkan orang lain. Tempo hari di Yogya dia menengok rumah tersebut. Sesampainya di sana dia disambut tetangga yang bertanya, "Bapak menika kok lucu to mas? Wonten griyo tenang ngeten niku kok mboten dinggeni? Nggih kala wingi nika kulo ketingal wonten langit-langit retak-retak, padahal griyo nika gadhah jiwo lho mas, menawi griyo nika suwung nggih mung marai risak sedaya". [Bapak itu kok lucu to mas? Punya rumah tenang tapi tidak ditempati. Kemarin saya perhatikan ada langit-langit yang retak, padahal rumah punya jiwa. Kalau rumah dibiarkan kosong maka akan rusak].&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tertegun mendengar cerita itu. Pikiranku mencatat hubungan antara rumah, jiwa, kekosongan, dan kerusakan. Antara benda mati dan unsur metafisik. Menjadi suatu pertanyaan: bagaimana sebuah rumah bisa memiliki jiwa?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Masyarakat tradisional yang sangat dekat dengan alam tidak pusing dengan pertanyaan itu, yaitu bagaimana sebuah benda mati bisa memiliki jiwa. Contohnya adalah penduduk yang tinggal sekitar lereng gunung Merapi. Mereka menganggap gunung tersebut layaknya manusia. Mereka berdialog dengan sang Merapi, menghaturkan sesaji sebagai wujud terimakasih atas rejeki yang diberikan oleh sang gunung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku pun pernah memiliki pengalaman yang berhubungan dengan jiwa rumah. Waktu itu, menjelang kematian Ibu, aku datang ke rumah yang sehari-hari Ibu tempati di wilayah Prawirodirjan. Sekedar untuk membersihkan setelah hampir sebulan tidak di tempati pemiliknya yang  sedang dirawat di rumah sakit. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu itu hujan turun sangat deras. Aku melihat tetesan air di dalam rumah dalam jumlah banyak. Bocor. Dimana pun hingga menimbulkan genangan yang parah termasuk di kasur Ibu. Aneh. Tidak pernah ada kejadian separah ini di rumah ini sebelumnya. Tiba-tiba hatiku berdesir, seperti ada bisikan yang mengatakan bahwa rumah ini menangis. Kosong, karena Ibu tidak akan pernah lagi pulang. Dan benar, esok harinya, Ibu yang menurut rencana diperbolehkan pulang mendadak pendarahan disusul koma. Tiga hari setelahnya beliau wafat tanpa pernah kembali ke rumah. Jika teman-temanku yang berprofesi sebagai dokter mencatat kejadian di luar nalar yang mereka jumpai dalam praktek profesi sehari-hari mereka yang sangat berdimensi sains, demikian juga aku mencatat peristiwa itu dalam hati sebagai seorang insinyur bangunan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rumah memiliki jiwa. Ungkapan ini sebetulnya adalah simbol yang menunjuk pada seseorang yang tak lain adalah si pemilik yang 'meletakkan' jiwanya pada rumah yang ditempatinya. Rumah menjadi semacam titisan manusia. Menjadi tubuh kedua di dunia sebagai penjamin rasa aman dan hangat.  Rumah menjadi wadah bagi manusia dalam meletakkan seluruh rahasia terdalam dirinya yang tidak ingin diketahui orang lain, tempat merenung dan merencanakan masa depan, berdialog dengan orang terdekat dan tuhannya. Maka pantaslah jika orang  mengeluarkan energi besar untuk sebuah rumah, mengupayakan segala cara untuk merayakannya, bahkan jika perlu dengan berhutang. Sebuah peristiwa sakral dalam hidup. Maka, membiarkan rumah dalam situasi 'kosong' sama dengan membiarkan jiwa kita berkelana tanpa tujuan, dalam malam-malam kelam melelahkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pulanglah ke rumah. Sempatkan waktu mengisi ruang- ruang di dalamnya; merefleksikan kehidupan, berdialog dengan anggota keluarga, dan beristirahat. Jangan biarkan kekosongan menguasai hingga akhirnya menimbulkan kerusakan. Kerusakan yang bukan sekedar fisik rumah tetapi juga jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7108178019346990607?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7108178019346990607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7108178019346990607' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7108178019346990607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7108178019346990607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2012/01/rayakan-rumahmu.html' title='Rayakan Rumahmu'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2421379756837896038</id><published>2012-01-21T22:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T22:53:50.562-08:00</updated><title type='text'>Perginya seorang Abdi</title><content type='html'>&lt;div&gt;Sering kudengar orang-orang mengeluh tentang pembantu di jaman ini. Keluhan yang paling umum adalah tidak adanya sikap pengabdian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pagi ini aku beroleh berita tentang kepergian seorang pembantu keluarga besar kami. Namanya unik untuk telinga orang Jawa: Maria Uwuh. Maria adalah nama baptis sejak dia menjadi Katolik, dan Uwuh berarti sampah. Tapi kami cukup menyapa Mbok Adi atau disingkat saja: Simbok. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mbok Adi berasal dari Plered Bantul. Jauh di sebelah Selatan Yogyakarta. Bisa jadi dia adalah salah satu keturunan keluarga Tepasana di jaman pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, kala kerajaan Islam Mataram belum pecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Atau bisa jadi juga moyangnya adalah orang-orang yang ikut membangun dan menjaga waduk Segarayasa. Itu, waduk yang sangar terkenal. Indah mengelilingi kraton Mataram. Jiwa Mataram ini yang tertanam sangat kuat dalam diri Mbok Adi, yakni sikap seorang Abdi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata abdi sering dikaitkan dengan pembantu. Tapi kata abdi sebetulnya lebih kepada melayani dalam arti yang dalam, yaitu setiawan dan yang dipercaya. Jauh dari sekedar kata pembantu dalam pandangan umum yang berkonotasi objek belaka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para Abdi Dalem kraton sangat bangga dengan perannya sebagai abdi. Dia adalah objek sekaligus subjek. Dua hal yang sebetulnya satu, seperti dua sisi pada satu mata uang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menjadi objek adalah suatu cara menjadikan diri rendah. Menjadi subjek adalah suatu kemenangan. Dalam hal ini apa kemenangannya? Ialah kesadaran untuk menjadi rendah. Kesadaran adalah salah satu tanda kemenangan manusia sebagai mahluk yang luhur. Dan kesadaran menjadi objek sekali-kali bukan suatu kebodohan melainkan sikap rendah hati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara khusus aku mencatat sikap Mbok Adi sebagai cara beriman yang khas, yaitu orang yang melayani dengan gembira. Dengan demikian dia  menjalankan tugas dengan sungguh hati dan sadar. Cara beriman seperti ini buatku tampak hidup karena menghadirkan Tuhan  sesuai kemampuan manusia, pada hal-hal yang riil  melalui orang-orang dan tugas -tugas yang kita abdi sehari- hari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selamat jalan, Mbok Adi. Kelak jika dunia semakin muram dan penuh perhitungan, aku bisa bercerita kepada generasi penerusku jika mereka bertanya," pernahkah ada pengabdian yang tulus dari seorang abdi di dunia ini?". Maka aku bisa menjawab karena aku sudah melihat, bercakap, dan bersentuhan dengannya. Dan seandainya Tuhan sendiri yang hadir dalam wujud abdi itu, maka beruntungnya aku bisa melihat, bercakap, dan bersentuhan denganNya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2421379756837896038?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2421379756837896038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2421379756837896038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2421379756837896038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2421379756837896038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2012/01/perginya-seorang-abdi.html' title='Perginya seorang Abdi'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2683553789601881131</id><published>2011-09-25T15:17:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T15:20:41.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Sang Arsitek</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Sore hari itu di studio, ketika selesai mengajar dan  sejenak membereskan beberapa buku, seorang mahasiswi mendekati Domi.  Dia bertanya, “Pak, apa arti menjadi seorang arsitek?”. Mendengar itu  Domi tersenyum dan menyelesaikan pekerjaannya memasukkan buku ke dalam  tas. Kemudian dia duduk di meja di hadapan si mahasiswi. Matanya  menyipit, memandang ke satu titik. Dia menghela nafas sebentar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kalau saya harus menafsir peran arsitek maka akan  banyak sekali ditemukan ragam tafsiran. Tetapi kamu tentu tahu apa  pekerjaan seorang arsitek, bukan?”, jawab Domi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ya. Biro konsultan dimana saya melakukan magang bulan lalu memberi  saya gambaran yang jelas bagaimana para arsitek menjalankan roda  industri bangunan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan kamu sempat hadir juga dalam pertemuan kelompok arsitek muda?”, tanya Domi lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ya. Saya senang bisa berkenalan, berbincang, dan melihat karya-karya mereka”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Mereka memang orang-orang hebat. Maka, melalui perjumpaan  dengan mereka akhirnya kamu tentu tahu apa pekerjaan seorang arsitek?  Juga beragam bidang yang digeluti”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Tentu … tentu … tetapi, banyak di antara mereka yang saya  temui akhirnya tidak menjadi arsitek. Apakah mereka bisa dikatakan  gagal? Lantas, untuk apa mereka melakukan studi?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Lantas menurut kamu apakah dia masih bisa disebut arsitek?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hmm … sejujurnya, dulu saya selalu mengejek para arsitek yang tidak  berprofesi sebagai arsitek. Tetapi, dalam beberapa diskusi, mereka juga  mampu bercerita tentang kehidupan dengan begitu dalam, sedalam  karya-karya arsitektur Le Corbusier atau Louis Khan, dan menginspirasi  banyak orang”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Domi tersenyum dan bercerita:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dulu, dalam sidang tugas akhir, seorang professor  bertanya kepada saya demikian: Menurutmu, Domi, apa arti arsitek?  Sungguh, itu sebuah pertanyaan penutup yang kecil namun sulit. Saya  ingin menjawab membangun gedung, menciptakan lingkungan, merencanakan  ruang …. tetapi hati saya yang terdalam seperti tertawa mengejek. Saya  ingat mulut saya hanya mengeluarkan suara lirih penuh ketidakpastian.  Dan sang professor … dia hanya tersenyum sembari mengatakan selamat Domi  … selamat memulai pencarian. Akhirnya saya berjalan keluar ruang sidang  tidak segagah ketika saya masuk karena merasa nilai A yang saya peroleh  belum berarti apa-apa”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Domi masih melanjutkan, “Setelah lulus saya bekerja pada  sebuah konsultan yang sangat terkenal yang memiliki 200 orang karyawan.  Saya mengenal secara pribadi pemilikinya, seorang arsitek yang sangat  dihormati. Tetapi yang menarik, sejauh saya mengenalnya, dia lebih  banyak bercerita tentang kehidupan. Tentang nilai-nilai dan semangat  suatu bangsa dan budaya. Dia juga mempunyai seorang asisten yang sangat  pintar dalam hal merancang bangunan. Kepadaku orang kepercayaan itu  bercerita bahwa saat itu dirinya tidak lagi memiliki banyak kesempatan  merancang. Alasannya adalah karena dia diberi tugas untuk memangku  jabatan direktur yang membuatnya harus memikirkan banyak hal. Lantas aku  bertanya apakah tugas itu tidak membuatnya kecewa karena dengan  demikian dia harus meninggalkan dunia desain? Dia menjawab: memang ada  rasa kecewa. Tetapi semua rasa itu terhapus ketika setiap pagi dia  bangun, dia teringat bahwa ada 199 orang bergantung di kakinya: para  karyawan yang harus menghidupi diri dan keluarga mereka”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masih lanjut Domi, “Kalau itu yang kamu maksudkan, anakku,  maka pertanyaanmu bukan semata tentang siapakah arsitek melainkan lebih  dari itu: siapakah aku, manusia?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Domi mengeluarkan 2 sachet kopi kapal api dan menyeduhnya.  Sembari menghirup aromanya dia berkata, “Kalau saya boleh bertanya:  siapakah kamu?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Saya? Hmm … saya Fitriana. Saya mahasiswi arsitektur. Rambutku keriting, keturunan Banten, single …”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ah, ya. Keberadaan kamu diakui karena kamu mahasiswi  arsitektur, calon arsitek ternama. Tetapi, seandainya kamu bukan lagi  mahasiswi arsitektur, apakah kamu bukan lagi Fitriana. Jika kamu tidak  lagi keriting dan single apakah kamu menjadi orang lain. Aku tetaplah  aku. Bukan begitu?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fitriana, sang mahasiswi itu tersenyum. Masih didengarnya  Domi menguraikan panjang lebar bahwa arsitek, seperti halnya ‘rambut  keriting’ dan ‘mahasiswi arsitektur’, dia tidak lebih dari sebuah nama  yang diberikan oleh mahluk yang bernama manusia. Sebuah atribut yang  ditempelkan pada diri manusia. Maka, manusialah yang menentukan  keberadaan arsitek dan bukan sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Tetapi, kata arsitek juga punya kesejatian”, sanggah  Fitri, “jika tidak dia tidak lebih dari sekedar tempelan tanpa nilai.  Bukankah dibalik kata itu tercermin suatu tanggungjawab yang mulia?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kata arsitek memang mengemban tanggungjawab yang mulia”,  sanggah balik Domi, “sebagai pembangun lingkungan buatan. Tetapi sebuah  lingkungan buatan  sejatinya hanya sarana dalam kehidupan manusia. Dia  adalah objek dan manusialah subjeknya. Maka, manusia harus menjadi  tujuan utama. Dan siapakah manusia? Ah, dia bukan mahluk sekedar fisik,  tetapi lebih dari itu adalah juga jiwa yang memiliki unsur adi-kodrati.  Jadi, kalau arsitek ingin memiliki nilai maka dia pun harus melampaui  maknanya lebih dari sekedar pembangun fisik”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kopi belum lagi dingin, tetapi hari menjelang malam dan  mereka segera ingin kembali ke rumah masing-masing. Sembari keluar  studio mereka membantu satpam mematikan lampu dan membersihkan sisa-sisa  potongan maket. Fitriana mengucapkan terimakasih dan basa-basi bertanya  apakah sang penjaga keamanan itu sempat mudik pada libur lebaran lalu?  Dijawab: tidak. Alasannya demi keamanan dan uang lembur lebih yang cukup  untuk menutupi beberapa kebutuhan keluarga. Fitriana menanggapi dengan  senyum, tetapi dalam hatinya ada kesejukan karena mulai mampu melihat  beberapa hal dalam realitas secara arif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2683553789601881131?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2683553789601881131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2683553789601881131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2683553789601881131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2683553789601881131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/09/sang-arsitek.html' title='Sang Arsitek'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1285591204865046471</id><published>2011-09-21T09:03:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T15:24:40.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Merayakan Kegilaan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Baru-baru ini seorang teman menuliskan statusnya pada sebuah situs jaringan sosial di internet. Demikian dia menulis: “Melepaskan segala hal. Masuk dalam zona ketidaknyamanan”. Tidak lama kemudian muncul banyak tanggapan. Banyak yang mempertanyakan kenapa harus keluar sedangkan banyak orang sangat menginginkan berada dalam zona tersebut. Tentu, ini hanya status yang barangkali ditulis sebagai keisengan belaka. Tetapi ada yang menarik dari beberapa tanggapan yang saya baca, yaitu mereka menyebut teman saya gila. Sebuah kegilaan ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;Definisi Gila&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Kata ‘gila’, menurut pandangan umum psikologi memiliki arti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;schizofrenia&lt;/i&gt; atau kepribadian yang terpecah. Ada ketidaksesuaian antara yang dipikirkan dengan realitas. Tetapi ada juga definisi gila pada versi populer. Misalnya dalam industri periklanan, kata gila sering dipakai oleh para &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;copywriters&lt;/i&gt; untuk memberi tekanan pada produk yang diiklankan. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, kata gila dipakai untuk menjelaskan suatu perilaku yang melampaui perilaku umum dengan tetap sadar. Ada pelampauan makna kata gila dari arti yang sesungguhnya menjadi kata yang bisa disandangkan pada siapapun yang sehat secara mental. Sebagai contoh, kita sering mendengar ungkapan “gila kamu!”. Kata gila disandangkan pada orang yang tidak mengidap schizofrenia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Permainan bahasa seperti itu berkesan sembrono. Tetapi, jika dilihat dari sudut pandang yang lain, ini adalah sebuah karikatur yang sebetulnya hendak mengatakan bahwa banyak manusia sekarang yang “tidak waras” meskipun secara fisik dan nalar terlihat sehat. Kalau memang demikian yang terjadi, rasanya wajar saja, mengingat manusia postmodern di jaman ini hidup dalam ketidakpastian yang membuat jiwa terpecah. Hidup dalam tegangan antara dua atau lebih nilai yang berlawanan pada satu tubuh, yang dalam bahasa Jacques Derrida disebut &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;double-gesture&lt;/i&gt;: rajin beribadah tetapi selingkuh, rajin berderma tetapi melakukan korupsi, merasa diri laki-laki sekaligus perempuan, memilih selibat tanpa bisa menolak hasrat, dan lain sebagainya. Manusia hidup dalam situasi yang serba tidak pasti. Masih menurut Derrida dan juga Nietzsche, ketidakpastian harus ditunda dan disikapi dengan terbuka, dan dimaknai sebagai bagian dari menerima kehidupan secara nyata. Terburu-buru menentukan sebuah kepastian bukanlah cara yang tepat karena dikhawatirkan akan terjebak pada sikap melarikan diri dari kenyataan. Ketidakpastian harus dirayakan. Atau dengan kata lain kegilaan harus dirayakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;Merayakan Kegilaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Ini adalah suatu sikap optimis dalam menghadapi realitas yang selalu berubah. Sikap optimis di sini tidak merujuk kepada keyakinan akan masa depan yang pasti melainkan keberanian untuk tetap memiliki cita-cita dan menghadapi situasi yang tidak pasti di depan. Kata kuncinya adalah pengosongan diri. Artinya, dengan sadar membuka diri terhadap kenyataan dunia yang terus berubah, dan menafsirkannya. Menafsir tidak sekedar menerima data-data yang diberikan oleh kenyataan dan mengartikannya, tetapi juga meramunya dengan cita-cita yang dipunyai, sesederhana apapun itu. Keduanya dibenturkan, dan hasilnya adalah sebuah sintesis yang harus diterima dengan terbuka juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Sebagian besar manusia hidup dalam ketidakpastian. Banyak yang hidup dalam situasi tidak ideal (secara ekonomi, status sosial, kegembiraan dalam bekerja). Karena tidak ada pilihan lain maka dia harus bertahan agar dapat terus hidup. Menghadapi situasi seperti ini banyak di antaranya yang menerima hidup &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sumarah&lt;/i&gt; pada situasi yang ada, tetapi ada juga yang dengan sadar berani “menantang badai” demi mempertahankan cita-citanya, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang. Figur-figur seperti ini bisa ditemukan, misalnya pada diri beberapa orang yang bekerja di luar negeri sebagai buruh. Cita-cita mereka mungkin sederhana, yaitu ingin hidup layak. Karena sulit memperoleh kesempatan di Indonesia maka mereka pergi ke luar negeri, meskipun harus berhadapan dengan ketidakpastian seperti tidak diberikan pelatihan, birokrasi yang rumit dan memakan biaya, kesulitan dalam mengurus surat. Tidak hanya ketidakpastian tetapi juga penyiksaan dan pelecehan, misalnya penyiksaan fisik, pemerkosaan, gaji tidak dibayar. Namun demikian banyak yang tetap tidak jera dan memilih untuk terjun bebas kembali lagi. Atau cerita tentang kesetiaan orang-orang yang dengan jujur bekerja untuk mengangkat eksistensi dan keselamatan orang-orang yang terpinggirkan. Seperti Teresa dari Kalkuta misalnya, dimana melalui pekerjaannya dia berhadapan dengan banyak ketidakpastian dalam hidup, bahkan relasi antara dirinya dengan tuhannya, yang dia sebut sebagai 50 tahun kekeringan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Contoh di atas tidak dimaksudkan untuk mengatakan suatu kebenaran, tetapi untuk memberi gambaran bahwa ada orang-orang yang berani terjun ke dalam ketidakpastian. Di dalam ketidakpastian itu mereka bertahan dengan cara membuka diri kepada kenyataan yang terus berubah, menafsir, dan meramu menjadi sebuah sintesis yang pada gilirannya akan dipertanyakan dan ditafsir lagi. Mungkin mereka tidak menolak kemapanan, bahkan merindukan. Tetapi kesadaran untuk masuk dalam ketidakpastian dengan sendirinya membuat mereka tidak mapan. Orang akan mengatakan mereka : GILA! Orang mengatakan mereka bodoh karena hanya mengikuti arus ketidakpastian. Tetapi berani memilih masuk dalam ketidakpastian dengan sadar, bukankah ini menandakan mereka sebagai subyek yang mandiri? Buah dari &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;renaissance&lt;/i&gt;. Dan diakui banyak dari mereka yang menyumbang perubahan dunia. Kita bisa belajar dari kasus Galileo Galilei, Christopher Columbus, dan masih banyak lagi. Untuk mengubah dunia memang dibutuhkan orang gila yang berani melihat kenyataan jauh ke dalam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;(Tulisan untuk buletin Cogito 2011)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:black;"   &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto;text-align:justify;text-indent:-18.0pt;line-height:115%; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="line-height:115%;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Georgia;mso-bidi-font-family:Georgia;font-size:100%;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;1.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;a href="http://www.indonesiango.org/id/nasional/laporan-khusus/502-tenaga-kerja-indonesia-di-luar-negeri-sumber-devisa-yang-malang"&gt;&lt;span style="text-decoration:none;text-underline:nonecolor:black;" &gt;http://www.indonesiango.org/id/nasional/laporan-khusus/502-tenaga-kerja-indonesia-di-luar-negeri-sumber-devisa-yang-malang&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:EN-USfont-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:black;"   &gt;. Diunduh: 24 desember 2010, pk.18.05 wib. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto;text-align:justify;line-height:115%"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto;text-align:justify;text-indent:-18.0pt;line-height:115%; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="line-height:115%;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Georgia;mso-bidi-font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;2.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Magnis-Suseno, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Franz, Pijar-pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme&lt;/i&gt;, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2005.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto;text-align:justify;text-indent:-18.0pt;line-height:115%; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="line-height:115%;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Georgia;mso-bidi-font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;3.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Royle, Nicholas, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Jacques Derrida&lt;/i&gt;, Routledge, &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:EN-USfont-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;New York, &lt;/span&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;2003&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:EN-USfont-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style=" line-height:150%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;mso-add-space:auto;text-align:justify;text-indent:-18.0pt;line-height: 115%;mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="line-height:115%;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Georgia;mso-bidi-font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;4.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%; Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language:EN-USfont-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Woodruff S,ith, David, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Husserl&lt;/i&gt;, Routledge, New York, 2007.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast"&gt;&lt;span style=" line-height:150%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify"&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:EN-USfont-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:115%;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1285591204865046471?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1285591204865046471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1285591204865046471' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1285591204865046471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1285591204865046471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/09/merayakan-kegilaan.html' title='Merayakan Kegilaan'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-438861715204937779</id><published>2011-09-07T00:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-07T01:05:09.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Lentera di Pagi Hari</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:20pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Belum lama Domi tiba di Jogja. Dia datang bersama keluarganya. Selepas meletakkan barang di rumah dan sejenak mengaso, dicarinya penjual gudeg di wilayah dimana dia pernah merayakan masa kecilnya dulu. Diketahuinya bahwa Bu Muh masih berjualan gudeg di tempat itu. Dari penjual gudeg itu dia ingin membeli sarapan untuk Langit, anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tempat itu adalah tempat dimana terdapat jalan lurus membentang dengan jajaran pepohonan di sisi kiri-kanannya. Suasana di tempat itu masih terasa nyaman karena tinggi bangunan yang ada di sana tidak lebih dari dua lantai. Jika pagi menjelang wilayah ini menjadi ramai dengan orang-orang yang membeli sarapan. Mereka datang kepada salah satu penjual makanan yang mangkal di tempat ini. Mereka, para pembeli itu, seringkali tampak sebagai orang yang sejenak merayakan kebebasannya sebelum masuk dalam lingkaran rutinitas kerja atau sekolah. Ada yang masih mengenakan kaos tidur lusuh, pakaian kerja lengkap atau seragam sekolah tetapi bersandal jepit. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Mereka berdiri berkerumun di sekeliling penjual makanan yang duduk pada meja bambu rendah dengan beberapa panci di hadapan, celemek di pangkuan dan daun pisang lengkap dengan pisau di sisi kiri atau kanan. Mata para pembeli itu lahap menikmati tangan pedagang yang lihai mengambil daun pisang dan mengelapnya, mengorek gudeg, mengambil lauk yang kadang dipotong atau di&lt;i style=""&gt;suwir&lt;/i&gt; menjadi beberapa bagian kecil sesuai pesanan. Seringkali, bahkan bisa dipastikan, seluruh kegiatan itu disanding dengan obrolan; penjual dengan pembeli atau pembeli dengan pembeli. Sebuah keriuhan kecil yang kadang membantu para pembeli dalam merayakan kebebasannya sejenak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Adalah Bu Muh, salah satu dari penjual makanan yang ada di tempat itu. Hampir duapuluh tahun dia berjualan. Dan sejauh diketahui Domi, porsi yang dijual Bu Muh tidaklah besar. Memang ada patokan porsi dan harga tetapi para penjual tradisional seperti Bu Muh selalu terbuka pada apa yang dibutuhkan pembeli. Bahkan pembeli yang hanya membutuhkan sebutir telur dengan kuah areh pun akan dilayani dengan senang hati layaknya seorang raja. Domi pernah merasakan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tetapi Domi yang sekarang hidup dengan gaji cukup di kota besar sudah terlalu lama membiasakan dirinya membeli tanpa berhitung. Dia berpikir bahwa dengan membeli lebih dia bisa memberi kepada orang banyak. Orang-orang di rumah menjadi tidak kekurangan makanan. Begitu pula para penjual pun akan memperoleh banyak keuntungan. Memanglah demikian yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang memiliki uang berlebih; menyalurkan rejekinya kepada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tetapi juga, pagi itu Domi mendapat pengalaman yang mengesan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Bu Muh tentu saja senang mendapat pesanan porsi besar dari Domi. Dan perempuan yang gemar bercanda dengan pembelinya itu secara kebetulan bertanya untuk siapa porsi makanan sebanyak ini? Apakah keluarga besar sedang berkumpul? Maka Domi yang sudah mengenal Bu Muh sejak kecil menjawab, “Tidak. Yang di rumah hanya bapak, istri dan anakku si Langit. Aku beli bubur buat si Langit saja. Aku dan istriku tidak pernah sarapan. Sedangkan Bapak, ibu tahu sendiri, beliau kalau pagi lebih suka ngopi”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Bu Muh tertawa. Sembari berbincang tangannya masih menyiapkan pesanan Domi. “Ah, ya ... bapak memang doyan ngopi sejak dulu ya. &lt;i style=""&gt;Lha&lt;/i&gt; kalau Langit sekarang umur berapa?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Dijawab Domi, “tiga tahun”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tiba-tiba hening. Tangan Bu Muh berhenti bekerja. Suara kernet di seberang yang sebelumnya terabaikan tiba-tiba jelas terdengar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Tidak lama Bu Muh berkata lagi, “Kau dan istrimu benar tidak ingin sarapan? Jikalau benar demikian sebaiknya buburnya setengah saja. Juga telurnya. Bolehlah ditambah tahu atau &lt;i style=""&gt;suwir&lt;/i&gt; ayam secukupnya. Bagaimana? Sayang kalau tidak habis”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Semula Domi terkejut juga. Dia terbiasa membayar tanpa penolakan. Tetapi ketulusan Bu Muh menyentuh hatinya dan membiarkan dirinya menerima tawarannya. Ketulusan yang bukan baru kali ini dikenalnya. Ada faktor sejarah dan kesejarahan yang melibatkan Bu Muh dengan Domi. Domi tahu perempuan ini betul-betul tulus. Perempuan yang hidupnya sederhana ini betul-betul ikhlas dalam melayani. Tidak hanya kepada Domi dan keluarga tetapi juga kepada para pembeli yang setiap hari dilayaninya. Bahkan Bu Amin, seorang perempuan miskin yang tinggal tidak jauh dari tempat ini pun dilayaninya dengan senyum. Padahal yang dibelinya hanya nasi dibalur areh dan tahu sepotong.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Pagi itu langit cerah di atas Jogja. Tetapi Domi merasa dirinya melihat terang di antara cerah pagi. Terang yang muncul dari lentera batin yang sangat sederhana. Memang tidak salah jika dirinya sering membeli sesuatu secara berlebih yang barangkali bisa berguna untuk orang lain. Tetapi lentera Bu Muh memperkaya batinnya pada sisi lain : ada kalanya sesuatu yang secukupnya diperlukan untuk membantu manusia melihat sesuatu secara jujur, jernih, dan pas pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-438861715204937779?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/438861715204937779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=438861715204937779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/438861715204937779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/438861715204937779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/09/lentera-di-pagi-hari.html' title='Lentera di Pagi Hari'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3914064186830282698</id><published>2011-09-06T20:32:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T11:06:29.707-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Cika, Aku [Mencintaimu]: Dekonstruksi, Posmodernisme, dan Cinta</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Manusia  sekarang hidup dalam era posmodern. Posmodern hadir mengkritik  paradigma modern yang hadir sebelumnya. Modernisme menciptakan kebenaran  universal dengan sifatnya yang monoton, positivistik, rasionalistik,  dan teknosentris. Hal ini sama saja dengan membelenggu kebebasan, dan  oleh karenanya dianggap gagal menyelesaikan proyek pencerahan. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn1" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi,  salah satu aliran filsafat posmodern yang dikembangkan oleh Jacques  Derrida, memiliki watak yang bertolak belakang dari modernisme, yaitu  lebih mementingkan emosi daripada rasio, mementingkan media daripada  isi, tanda dan makna, kemungkinan daripada kepastian.&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn2" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;  Dekonstruksi mengkritik modernisme, terutama dalam menciptakan  kebenaran universal. Bagi Derrida dunia penuh ketidakpastian, sehingga  tidak perlu ditentukan sebuah kebenaran. Ketidakpastian harus dirayakan  dan digali lebih dalam makna-maknanya. Manusia berhak menafsirkan  konteks kehidupannya secara bebas, guna menemukan makna baru sebagai  alat untuk berhadapan dengan kehidupan yang selalu berubah.  Sebagai  upaya pembebasan, dekonstruksi hidup subur di tengah maraknya  ketidakpastian dunia. Dengan dukungan kemajuan ekonomi dan media  informasi, dekonstruksi mendapatkan wadah ‘menyuarakan asiprasinya’  lewat bidang-bidang yang bersifat kreatif dan ‘lentur’ dari kepastian,  seperti seni, sastra, desain, dan arsitektur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi  juga hadir dalam diri manusia yang bertanya akan  dirinya dalam  menghadapi ketidakpastian dunia. Dekonstruksi bermain dalam tataran  refleksi dengan cara menunda kebenaran, dan menggali makna-makna baru  dari sebuah pengalaman. Misalnya menggali makna cinta yang menjadi  kegelisahan dan pertanyaan manusia posmodern. Hasilnya bukan sebuah  kesimpulan. Dekonstruksi tidak menawarkan kesimpulan dan kepastian  apapun, kecuali data berupa makna baru yang harus ditanggapi secara  bebas. Melalui tulisan ini saya mencoba menjelaskan bagaimana  dekonstruksi hidup dan bergerak  memperbarui makna cinta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sejarah  filsafat barat menyebutkan orang-orang yang tidak pernah puas dengan  kemapanan, baik sistem yang mengatur kehidupan maupun cara berpikir.  Mereka mengkritik kemapanan, bahkan jika itu dikemas dalam wujud  filsafat sekalipun. Dekonstruksi, sebuah teori yang dibentuk oleh &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, adalah salah satunya. Jacques Derrida lahir di Algerian, Perancis pada tahun 1930. Dia memperoleh pendidikan di &lt;em&gt;Ecole Normale Superieure&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Harvard University&lt;/em&gt;. Pandangan filsafatnya dipengaruhi oleh Sartre, Husserl, Heiddeger, dan Saussure. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn3" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Pengaruh Modernisme&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Ketika teori ini muncul, Eropa sedang dilanda &lt;em&gt;Postmodernism&lt;/em&gt;,  di mana Derrida sendiri dikenal sebagai seorang salah seorang tokoh  yang berpengaruh di dalamnya. Teori yang kemunculannya dipelopori oleh  arsitektur ini mencoba menggali lagi identitas manusia yang sebelumnya,  karena pengaruh &lt;em&gt;modernisme&lt;/em&gt;, menjadi seragam. Perang dunia I dan  II membuahkan kehancuran hampir di seluruh Eropa, termasuk kehancuran  ekonomi, kota, serta ruang-ruang tempat manusia bekerja dan  melangsungkan kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Adalah &lt;em&gt;Bauhaus&lt;/em&gt;, sebuah sekolah yang didirikan di &lt;em&gt;Wiemar&lt;/em&gt;  Jerman (1919), yang turut menyumbang konsep infrastruktur baru  untuk  membangun kembali tata kehidupan masyarakat Eropa yang hancur, terutama  di Jerman. Dengan tetap mengedepankan semangat pencerahan yang  menganggap manusia sebagai pusat dari alam, mereka berpendapat teknologi  adalah alat terbaik untuk melangsungkan kehidupan. Segala hal di luar  rasio dan bersifat romantis ditolak dengan alasan ekonomi, simbol,  sejarah, dan identitas budaya. Mereka menciptakan ruang dan nilai-nilai  dengan gaya layaknya mesin yang serba fungsional dengan gaya bercorak  teknologis-matematis. Gaya tersebut dianggap yang paling benar dan layak  diterapkan di belahan dunia manapun. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn4" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Namun,  tiba saatnya kondisi ekonomi mulai membaik. Daya beli masyarakat  meningkat, begitu pula kemampuan apresiasi. Manusia mulai merindukan  nilai-nilai yang tidak lagi sekedar fungsional. Di titik ini  posmodernisme hadir dengan sikap mandiri. Berawal dari arsitektur,  posmodern berkembang mempengaruhi sastra dan sendi-sendi kehidupan  lainnya. Tetapi meskipun berupaya menggali kembali identitas, tampaknya  posmodern tidak ‘melepaskan kedua kakinya’ dari paham modern, setidaknya  pada nilai rasionalitas. Tetapi paham kebenaran yang bersifat universal  ditolak. Sebagai gantinya kebenaran dianggap ada pada ruang pribadi  masing-masing tanpa merasa perlu berdialog dengan perbedaan. Dengan  demikian tercipta individualisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Identitas  ditempatkan sebagai simbol belaka, tetapi dirinya tetap bentukan dari  struktur modern. Maka tak heran, di mata para pembencinya, posmodern  tidak lebih dari sekedar topeng dan &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt; belaka. Dalam  memandang fenomena empiris, para pemikir posmodern memandang rendah  pengaruh dari luar diri manusia. Misalnya, ketika manusia berbicara,  kata dan kalimat yang diucapkan hanya menjadi kata dan kalimat belaka.  Tidak ada pengaruh apapun dari ruang dan waktu yang dilaluinya. Bahasa  dan teks saling tumpang tindih. Tidak perlu ada sebuah ‘kesimpulan’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Jadilah Bebas!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Di antara filsuf &lt;em&gt;posmodern&lt;/em&gt;,  Jacques Derrida termasuk salah seorang yang memberi pengaruh. Dengan  menolak nilai transendental, Derrida bermaksud mengkritik filsafat &lt;em&gt;metaphysics of presence&lt;/em&gt; (metafisika kehadiran) yang membungkus pemikiran filsafat barat. &lt;em&gt;Metaphysics of presence&lt;/em&gt;  adalah tradisi dalam filsafat  yang berpikir akan sesuatu yang belum  tentu ada, tetapi diyakini keberadaannya, bahkan dipastikan. Sikap  memastikan ini yang ditolak oleh Derrida, yang dia katakan sebagai &lt;em&gt;Logocentris&lt;/em&gt;.  Kecenderungan metafisika barat adalah membangun sebuah kepastian. Bagi  Derrida hal ini bertolak belakang dengan kenyataan, bahwa realitas  selalu berubah dan bergerak. Dengan demikian Dekonstruksi tampil dengan  wajah &lt;em&gt;skeptis&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;antifondasional&lt;/em&gt;, seperti halnya David Hume dan Nietzche. Namun demikian, Derrida menolak sikapnya disebut perusakan (&lt;em&gt;destruction&lt;/em&gt;) seperti yang dilakukan oleh Heiddeger terhadap filsafat Hegel dan Husserl. Dia lebih memilih kata pembongkaran (&lt;em&gt;deconstruction&lt;/em&gt;), di mana unsur metafisika tidak seluruhnya dihilangkan. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn5" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pada  dasarnya Derrida adalah seorang pemikir konservatif yang menghormati  sejarah dan tradisi dengan dasar sikap yang disebutnya sebagai &lt;em&gt;double-gesture&lt;/em&gt;,  yaitu semacam tegangan dalam diri sendiri, antara penghormatan dan  pelecehan, kesetiaan dan pelanggaran, ikatan dan kemerdekaan, &lt;em&gt;description&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;transformation&lt;/em&gt;.  Baginya kehidupan (politik, moral, etika, budaya, filsafat, bahasa,  agama, nasionalisme, identitas, dan lain sebagainya) selalu bergerak dan  berubah di antara tegangan atau &lt;em&gt;double-gesture&lt;/em&gt;. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn6" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Untuk  itu manusia hendaknya bersikap bebas dalam menanggapinya, bahkan  terbuka untuk  memikirkan ulang maknanya. Bebas berarti boleh melakukan  apapun, sejauh manusia tidak menolak kebebasan itu sendiri yang  diberikan kepadanya. Dengan bersikap bebas manusia akan menemukan  nilai-nilai baru. Bahkan, nilai baru yang ditemukan perlu dipikir ulang  lagi, diperdalam lagi maknanya, sehingga kemudian ditemukan makna yang  lebih baru lagi; sebuah pencerahan yang selalu baru (&lt;em&gt;new enlightenment&lt;/em&gt;). &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn7" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Teks&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Karya-karya  Jacques Derrida difokuskan pada bahasa dan tulisan. Kebebasan dilakukan  dengan mengkaji ulang teks. Derrida menolak anggapan bahwa teks adalah  sekedar kata atau bahasa. Teks, dalam bahasa dekonstruksi, merupakan  jalinan (diambil dari kata &lt;em&gt;textere&lt;/em&gt;, bahasa latin; ‘tenunan’)  yang memiliki banyak dimensi untuk dipahami. Teks adalah dampak dari  rekam-jejak kehidupan (konteks). Di tangan dekonstruksi, teks menjadi  demikian hidup dan jujur pada dirinya. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn8" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Konteks&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi  menempatkan konteks sebagai sistem yang berhubungan dengan teks dan  memberinya perhatian secara tajam. Konteks adalah dasar yang membuat  teks memiliki arti. Konteks adalah fondasi bagi struktur (teks) dan  bangunan bahasa secara keseluruhan.  Jika fondasi melenceng dari konsep  yang sudah ‘’ditentukan’’ pada dirinya, maka struktur dan bangunan  bahasa pun akan melenceng pula.  Konteks adalah &lt;em&gt;lebenswelt&lt;/em&gt;,  dunia atau kehidupan dengan segala unsur pembentuknya: kehidupan,  kenyataan, sejarah, obrolan, diskusi, dan lain sebagainya. Suatu konteks  harus terus diteliti dan dijaga, agar tetap seperti apa adanya dirinya,  juga dalam pengembangannya. Tidak boleh ada makna yang dibiarkan lepas  dari konteks. Dengan tidak membiarkan konteks dipengaruhi nilai-nilai di  luar dirinya, maka akan menjadi dasar yang kuat bagi munculnya teks  yang jujur pada dirinya. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn9" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Differance&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Artinya  adalah ‘kata dalam kata’, yang berasal dari bahasa Perancis, namun  tidak terdapat dalam kamus. Derridalah penciptanya. Diambil dari kata  dalam bahasa Inggris; &lt;em&gt;difference&lt;/em&gt;, yang berarti perbedaan, dan kata &lt;em&gt;differer&lt;/em&gt;. Kata &lt;em&gt;differer&lt;/em&gt;  memiliki dua arti; pertama bersifat intransitif, yang mempunyai arti  ‘bertolak belakang’. Yang kedua bersifat transitif, yang berarti menunda  atau menangguhkan. Kata &lt;em&gt;differance&lt;/em&gt; merupakan penggabungan kedua kata asal tersebut, sehingga mengacu pada makna penangguhan dan pembedaan waktu. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn10" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Differance&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;  juga berbicara tentang pembalikan sebagai konsekuensi menunda makna,  seperti benar sekaligus salah, baik sekaligus jahat, dan hitam sekaligus  putih. Dalam dekonstruksi gejala ini selalu hidup dan ada, tetapi tidak  seperti  konsep metafisika barat. Derrida melihat dua masalah dalam  konsep ‘ada’ menurut metafisika barat (&lt;em&gt;metaphysiscs of presence&lt;/em&gt;), yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Pengertian ‘ada’ tidak semudah yang dibayangkan. Dia      menolak gagasan ‘ada’ sebagai &lt;em&gt;present&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Present&lt;/em&gt; dalam      pengertian ‘saat’ (&lt;em&gt;here and&lt;/em&gt; &lt;em&gt;now&lt;/em&gt;)  mengandaikan, bahwa sesuatu      bisa dikenali. Sedangkan bagi Derrida  manusia tidak bisa mengenali secara      pasti apa yang terjadi di masa  lampau dan masa depan. Untuk memperoleh      suatu pengetahuan, manusia  mengandalkan pengalaman perseptual saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Kedua,  konsep ‘ada’ menimbulkan hirarki. Yang satu      mendominasi yang lain,  misal ‘yang-ada’ dibandingkan dengan ‘yang-tidak      ada’. Melalui &lt;em&gt;difference,&lt;/em&gt; dekonstruksi bermaksud meneliti apa yang      tidak tampak dan disembunyikan, serta membalik atau memundurkan hirarki. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn11" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Iterability&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Iterability&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, berasal dari kata  &lt;em&gt;iter&lt;/em&gt;, latin; ‘again’  dan  &lt;em&gt;itara&lt;/em&gt;, sanskrit; &lt;em&gt;‘other’&lt;/em&gt;, yang berarti pengulangan. Atau dalam arti lain, &lt;em&gt;iterability&lt;/em&gt;  dalam dekonstruksi adalah struktur yang memungkinkan terjadinya  pengulangan. Suatu kata atau tanda akan memperoleh makna barunya, jika  terus diulang. Melalui pengulangan sebuah bahasa dimungkinkan menjadi  kalimat-kalimat baru. Tetapi, meskipun terjadi pengulangan, kalimat  tersebut haruslah tetap dapat ditelusuri asal kalimatnya, meskipun si  penulis sudah tiada. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn12" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Penciptaan Makna Baru&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Derrida  mendeskripsikan ulang teks yang ditelitinya, katakanlah tulisan yang  tentang Plato misalnya, tetapi tidak berhenti pada pemaparan. Dia  melakukan transformasi pada tulisan Plato tersebut  untuk menciptakan  sesuatu yang baru. Dia meneliti kata dan memainkan bahasa dengan cara  yang disebut ‘&lt;em&gt;Free-play’&lt;/em&gt;. Dia memainkan bahasa, tetapi  memainkan bahasa baginya berbeda arti dengan bermain dengan bahasa.  Memainkan bahasa bagi Derrida bukan sebuah cara yang sederhana, seperti  halnya permainan anak-anak, melainkan sebuah sikap ketertarikan akan  kejujuran dalam menyelami bahasa, mendalaminya lebih dari sekedar yang  tampak sebagai kata-kata. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn13" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pencarian  makna bahasa tidak boleh berhenti pada keputusan akhir (yang pada  paragraf sebelumnya di sebut logocentris). Dekonstruksi tidak mengenal  titik akhir. Dekonstruksi selalu mempertanyakan secara kritis pendapat  apapun yang bersifat dogma, baik agama maupun politik, di luar kekuatan  manusia. Dalam kajian terhadap teks, ketika hal tersebut terjadi, yaitu  ketika ada kata yang dicurigai akan mengarah pada suatu ‘dogma’, maka  harus dilakukan ‘pengurungan’ (&lt;em&gt;suspended&lt;/em&gt;) pada kata tersebut.  Dibiarkan mengambang dalam ketidakpastian, diperdalam lagi maknanya  sampai akhirnya menampakkan kebenarannya. Pun, ketika kebenarannya mulai  tampak, harus dikurung dan dipertajam lagi, terus dan terus. Penciptaan  makna baru ini akan menampakkan makna dan gaya yang luar biasa. Di  tangan Derrida, sebuah teks akan menjadi hidup dan selalu memiliki makna  baru. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn14" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Keyakinan dalam Dekonstruksi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Derrida,  melalui karya-karyanya, mencoba menjelaskan hasrat membaca dan menulis  sebuah teks dengan cara yang baru, di mana dia memainkan bahasa,  mengubah bahasa, untuk mencari makna yang tak terbatas dan tidak  berhenti pada suatu kepastian atau dogmatisme. Tetapi pada waktu yang  sama, dia tetap mempertahankan &lt;em&gt;memory&lt;/em&gt; dan tradisi. Dia membuat  ‘tegangan’ dan ketidakpastian pada teks dengan cara ‘mengurung’. Teks  dibiarkan dalam ketidakpastian, bergerak-meronta, dan menampakkan   dimensi lain pada dirinya. &lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn15" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi di Kehidupan Sehari-hari &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Bermain di Ruang Antara&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Ruang antara, atau sering disebut &lt;em&gt;in-between&lt;/em&gt;,  bukan sebuah ruang dalam arti sesungguhnya, melainkan sebuah situasi  transisi, berada di antara dua atau lebih tegangan. Manusia posmodern  berada di dalam tegangan itu. Jacques Derrida menyebutnya sebagai &lt;em&gt;double-gesture&lt;/em&gt;;  antara ingin bebas mandiri atau mengikuti tradisi, antara ingin  menabung atau menyumbang orang tua yang sakit, antara menjadi seorang &lt;em&gt;executive&lt;/em&gt;  bergaji tinggi tetapi terikat atau menjadi pengusaha bebas yang  dibebani bonus dan tunjangan, antara berpasangan bebas atau menikah,  antara menikah atau selibat, antara ingin menjadi laki-laki atau  perempuan, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dalam  menghadapi tegangan, manusia membutuhkan suatu pegangan, suatu  kepastian. Tetapi di dunia tidak ada yang pasti. Manusia menjadi &lt;em&gt;sceptic&lt;/em&gt;  dan merasa terasing dalam keramaian. Untuk itu diciptakanlah kepastian  menurut dirinya. Tetapi menciptakan suatu kepastian juga tidak  memberikan pemecahan atas masalah. Misalnya, seseorang yang memutuskan  untuk menikah karena ingin memperoleh ketenangan hidup, akan meralat  pernyataannya tersebut beberapa tahun kemudian. Dalam beberapa kasus di  kota-kota Metropolitan, pertanyaan seperti ini sering ‘dijawab’ melalui  perselingkuhan, yang bahkan didasari kesadaran penuh. Selingkuh  dijadikan alat untuk mencari jawaban atas ketidakpastian, baik dalam  konteks relasi dengan pasangan atau diri sendiri, padahal dalam diri  selingkuh sendiri tertanam ketidakpastian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi  sangat menentang suatu struktur kepastian. Satu-satunya kepastian  adalah ketidakpastian, karena realitas selalu berubah. Seperti  Herakleitos yang berpendapat kebenaran bersifat relatif, atau Nietzche  yang sangat &lt;em&gt;sceptic&lt;/em&gt; menghadapi kemapanan, maka dekonstruksi menjadi demikian hidup dalam ranah ruang antara (&lt;em&gt;in-between&lt;/em&gt;) atau tegangan seperti yang dialami manusia posmodern. Menjadi demikian hidup artinya tidak sekedar berhenti pada &lt;em&gt;scepticism,&lt;/em&gt; tetapi melalui tegangan ditemukan makna-makna baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Memaknai [Cinta]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Salah  satu topik yang digemari di kalangan manusia sekarang adalah pertanyaan  tentang cinta dan relasi. Kedua kata itu memiliki hubungan yang erat  dengan diri manusia, karena manusia adalah bagian dari &lt;em&gt;person.&lt;/em&gt; Manusia disebut &lt;em&gt;person&lt;/em&gt;  karena dibentuk oleh kedua unsur tersebut, yaitu cinta, dan adanya  cinta tidak lepas dari adanya relasi. Fenomena di masyarakat saat ini  menunjukkan, bahwa cinta bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang tidak  tersentuh, yang sangat dijaga dengan hati-hati pada awalnya dengan  seperangkat norma, tetapi kesudahannya dibiarkan rusak.  Orang muda  mulai berani menentang paradigma lama, bahwa cinta berarti keseriusan  hubungan, menyambangi kekasih hanya pada hari Sabtu malam, bercengkerama  di ruang tamu, atau pergi bersama kekasih dan keluarganya. Cinta bukan  lagi sebuah ‘benda sakral’, tetapi proses pencarian yang terus menerus  digali maknanya. Kenyataan yang diperoleh dari proses pencarian itu  hanya dapat dimaknai secara berbeda oleh tiap individu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Demikian  juga halnya manusia berada dalam tegangan, demikian juga cinta dan  relasi berada dalam tegangan, sehingga muncul pertanyaan: Apakah cinta  identik dengan suatu hubungan yang serius? Apakah berseksual tanpa  hubungan serius meniadakan cinta? Apakah cinta sejatinya ada sebagai  sebuah kenyataan yang membuka diri kepada siapapun atau harus diresmikan  lewat pengakuan? Apakah sebuah pernikahan membuktikan kedalaman cinta?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Orang-orang  Jawa lama bahkan memiliki keyakinan, bahwa pernikahan tidak perlu  didasari cinta. Cinta akan datang dengan sendirinya kata mereka, dengan  kata lain: karena terbiasa. Dekonstruksi ‘bermain’ dalam proses  pencarian ini, mempertanyakan, dan memperdalam. Dekonstruksi akan  mengambil cinta dari tempatnya yang sakral, dan meletakkan di tangan;  dibolak-balik, diraba, dilihat jauh lebih dalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dalam  tulisan ini pencarian makna cinta ini akan saya coba jelaskan melalui  sebuah pengalaman relasi dengan seorang perempuan. Cika namanya.  Dikatakan relasi juga kurang tepat sebetulnya, karena tidak ada ikatan  apapun di antara kami. Kami hanya bertemu sejenak, tetapi di dalam  perjumpaan yang tanpa ikatan itu muncul rasa suka yang membuat kami  ingin mengerti lebih dalam. Seperti ada misteri yang berulang memanggil,  mengeluarkan beragam rasa yang saling berbenturan: antara rasa sayang  dan baru kenal, antara hormat dan nafsu, antara ingin merengkuh dan  tidak ingin terikat. Maka, setelah sekian janji yang tertunda kami  berjumpa di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Kami  memilih duduk di sudut yang tidak terlalu terang dan dindingnya penuh  dengan foto black and white dan poster iklan kuno. Saya mengamati  poster-poster. Ada beberapa gambar iklan lama itu yang saya suka. Entah  kenapa gambar-gambar kuno itu berubah jadi eksotis dan mahal, apalagi  dengan diterangi lampu berwarna lembut. Sebetulnya ini bukan kali  pertama saya datang dan melihatnya. Jadi, batinku sulit menipu diri  bahwa aku melihat gambar-gambar tersebut hanya sebagai upaya mengusir  kegelisahan saja. Gelisah karena bingung bagaimana harus bersikap  menghadapi perempuan di hadapanku. Mengobral cerita dan pamer diri? Apa  yang bisa dipamerkan? Bersikap formal dan menjaga kesantunan? Aneh …  jujur dalam hatiku aku ingin bersikap tidak santun. Dia cantik. Mata  hati estetikaku tidak bisa menipu.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Cika  juga mengamati gambar-gambar itu. Maka kami berbincang serius tentang  estetika, desain, dan lain sebagainya. Sembari black coffee dihidangkan  kami bertatap mata sambil tertawa. Tertawa mencairkan suasana. Tiba-tiba  suasana mendadak hening lagi. Dan saya yang tidak suka dengan suasana  janggal mengambil inisiatif membincangkan desain interior cafe ini, di  mana kami mengenal desainernya. Kami berbicara tentang beberapa karyanya  yang terkenal, pemikirannya, dan gosip-gosip di seputar kehidupannya.  Sampai mata kamu bertemu agak lama dengan tatapan mata tajam, dan  (lagi-lagi) hening … dan suatu enerji mengalir begitu saja ke dalam  tanganku. Bukan, bukan ke tangan. Mungkin ke hati. Entah. Tapi  senyatanya tanganku sudah menggenggam tangannya yang putih porselen  Cina. Jantungku berdebar keras memicu adrenalin, menguatkan hati siap  menerima tamparan penolakan. Tapi dia membalas dengan genggaman yang  lebih dalam. Tidak hanya membalas, dia bahkan berinisiatif mengatakan : I  love you. Dan aku membalas : aku juga. Setelah pertemuan itu kami  jarang berjumpa, sampai akhirnya tidak sama sekali. Tanpa perasaan  bersalah dan tuntutan apapun. Sering saya berpikir kenapa berani  melakukan kontak fisik dan menyatakan cinta tanpa memutuskan apapun.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Setiap  saya merefleksikan peristiwa itu, yaitu waktu saya membalas mengatakan  cinta dan memegang tangannya tanpa status di antara kami, terasa ada  tegangan tarik-menarik dan saling berbenturan dibalik kata cinta yang  terucap: antara cinta dan hasrat, antara sayang dan nafsu berseksual,  antara paras malaikat dan bibir yang sensual, antara menikah dan tidak  menikah, antara kebebasan dan ikatan tradisi. Tetapi saya menyukai  tegangan ini. Seksi sekali. Seperti kenikmatan &lt;em&gt;bungy jumping&lt;/em&gt;,  seperti kenikmatan dihempas-pasrah ombak setinggi tiga meter tetapi  tidak mati, seperti pertemuan yang nyaris terjadi antara bibir dua  kekasih waktu tiba-tiba ibu sang kekasih masuk ke kamar dan menemukan  mereka berdua dalam kondisi pakaian serba berantakan. Dekonstruksi  bermain dalam ‘keseksian’ itu: samar, mengambang, dibiarkan tidak pasti,  tetapi memberikan rasa penasaran, &lt;em&gt;consciousness of intensionality&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftn16" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;  terhadap sesuatu ‘di balik sana’ yang serba misterius dan muncul  sebagai fenomena yang menampakkan diri. Kata cinta dikurung: [cinta].  Melakukan kontak fisik tidak berarti cinta, atau sebaliknya cinta  mengijinkan kontak fisik tanpa kejelasan status. Kata cinta ditunda  kepastiannya, yang justru memberi keinginan untuk tahu dan mengenal  lebih dalam: ada dimana cinta? Milik siapa? Mana batas dan perbedaan  antara cinta, suka dan nafsu? Pertanyaan ini seperti sesuatu yang  meronta dan bergerak, yaitu keinginan untuk menemukan makna-makna baru  lagi. Tidak ada kepastian memang, tetapi akan berbeda situasinya, ketika  cinta langsung dinyatakan dengan status yang lebih serius misalnya.  Berkembang dan memiliki makna baru memang, tetapi barangkali penuh  intervensi dari luar pada konteksnya. Cinta belum sempat mengeluarkan  apa adanya dirinya. Cinta tidak menjadi dirinya. Dan kalau cinta adalah  unsur pembentuk manusia, maka membiarkan cinta tidak menjadi dirinya  sama saja membiarkan manusia tidak menjadi dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Berbicara  tentang dekonstruksi berarti sepakat, bahwa tidak ada kesimpulan  apapun. Satu-satunya kesimpulan adalah tidak ada kesimpulan. Kesimpulan  dalam dekonstruksi, seperti halnya dialektika Hegel, bersifat sintesis  yang nantinya berubah lagi menjadi thesis dan anti-thesis, dan  memunculkan sintesis baru, dan seterusnya. Begitu juga dengan  ‘pengalaman cinta’ di atas. Tidak ada kesimpulan darinya. Tetapi kalau  pun diharuskan membuat sebuah kesimpulan atas pengalaman cinta yang  singkat itu, jawabannya adalah saya [mencintainya]. Saya menyukainya,  tetapi menjadikannya sebuah kepastian tampak sulit karena cinta itu  seperti horizon. Dia ada tetapi ketika didekati dia menjauh. Bagi  dekonstruksi lebih baik menyelami dan menggali maknanya cinta tersebut,  daripada memberi kepastian. Kalaupun terjadi sebuah keputusan bukan  karena sikap memastikan tetapi sebuah sintesis, menanggapi fenomena yang  muncul dari cinta tersebut dan dari konteks kehidupan dan bermain di  dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Kata Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span&gt;Dekonstruksi,  seperti halnya posmodern sendiri, bukanlah sebuah aliran. Dia adalah  gabungan antara cara berpikir dan metode. Sebuah alat seperti mikroskop  untuk melihat kedalaman manusia dan kehidupannya. Sebuah cara untuk  melakukan refleksi kehidupan manusia. Dekonstruksi sebagai metode hanya  akan berjalan, jika manusia jujur terhadap diri dan konteks hidupnya,  dan membiarkan keduanya membuka diri. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Brown, Stuart, &lt;em&gt;One Hundred Twentieth-Century      Philosophers&lt;/em&gt;, Routledge, 1998&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Gunana, S, Sri, “&lt;em&gt;Gerakan Arsitektur Modern”&lt;/em&gt;, FT.      Arsitektur Univ. Sumatera Utara, Medan, 2004.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;H. Istanto, Freddy, “&lt;em&gt;Dekonstruksi dalam Desain      Komunikasi Visual: Sebuah Penjelajahankemungkinan”&lt;/em&gt;, Nirmana Vol.5      no.1, Univ. Petra, Surabaya, 2003, hal. 54&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Magnis-Suseno, &lt;em&gt;Franz, Pijar-pijar Filsafat: Dari      Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Posmodernismee&lt;/em&gt;,      Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2005.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, Routledge,      2003&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span&gt;Siswanto, Joko, &lt;em&gt;Sistem-sistem Metafisika Barat&lt;/em&gt;,      Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span&gt;  &lt;hr size="1" width="100%"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref1" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; S. Heryanto, “&lt;em&gt;Tantangan Posmodern Terhadap Iman Kristen”&lt;/em&gt;, &lt;a href="http://www.heryanto.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;www.heryanto.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, 2010, hal 1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref2" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;., hal. 1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref3" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Siswanto, Joko, &lt;em&gt;Sistem-sistem Metafisika Barat&lt;/em&gt;, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref4" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Gunana, S, Sri, “&lt;em&gt;Gerakan Arsitektur Modern”&lt;/em&gt;, FT. Arsitektur Univ. Sumatera Utara, Medan, 2004 hal. 6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref5" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, Routledge, 2003, hal. 31 dan Brown, Stuart, &lt;em&gt;One Hundred Twentieth-Century Philosophers&lt;/em&gt;, Routledge, 1998, hal. 41&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref6" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, hal. 31&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref7" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;, hal. 34-35&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref8" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, Routledge, 2003, hal. 61&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref9" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;, hal. 65&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref10" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; H. Istanto, Freddy, “&lt;em&gt;Dekonstruksi dalam Desain Komunikasi Visual: Sebuah Penjelajahankemungkinan”&lt;/em&gt;, Nirmana Vol.5 no.1, Univ. Petra, Surabaya, 2003, hal. 54&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref11" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;, hal. 55&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref12" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, Routledge, 2003, hal. 67&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref13" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Id&lt;/em&gt;, hal. 33&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref14" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;, hal. 33&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref15" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Royle, Nicholas, &lt;em&gt;Jacques Derrida&lt;/em&gt;, Routledge, 2003, hal. 35&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: normal;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://www.dapunta.com/Data%20buat%20Kerja/Tulisan%20lepas/Dekonstruksi%20Seto.doc#_ftnref16" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Unsur kesadaran dalam fenomenologi Edmund Husserl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3914064186830282698?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3914064186830282698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3914064186830282698' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3914064186830282698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3914064186830282698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/09/cika-aku-mencintaimu.html' title='Cika, Aku [Mencintaimu]: Dekonstruksi, Posmodernisme, dan Cinta'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-8950725438001868133</id><published>2011-06-07T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T20:36:38.607-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Mengenang Ibu</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lebih kurang 35 tahun aku hidup bersama Ibu. Dari sekian waktu yang terlewati bersama, hubungan kami yang paling intim ialah saat aku masih berada dalam kandungannya. Sejarah itu tentu  tidak dapat aku ingat, tetapi aku bersyukur karena berkat catatan yang ditulis oleh Bapak aku bisa memperoleh sedikit gambaran tentang hubungan kami. Dalam catatannya Bapak menulis kira-kira demikian : sewaktu mengandung aku, wajah Ibu berseri dan &lt;em&gt;sumeleh&lt;/em&gt;. Kasih sayangnya tertumpah pada Bapak.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Ibu adalah manusia berwatak keras. Perempuan &lt;em&gt;bedhil&lt;/em&gt; dia. Seingatku, aku sulit memahami beberapa keputusannya. Terutama saat dia memilih mengisi hidup dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberi keuntungan besar. Hidup di kampung dan menjadi guru honorer bergaji rendah misalnya, atau membuat lagu-lagu rohani.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Pernah suatu malam, kira-kira 1 tahun sebelum wafatnya, Ibu dengan gembira menunjukkan kepadaku selembar sertifikat yang menyatakan bahwa dirinya menjuarai lomba cipta lagu rohani. Kutanya apa hadiahnya. Dengan gembira Ibu menjawab sejumlah rupiah yang tidak besar. Kutanya lagi mau apa dengan uang itu. Dijawabnya lagi, hendak disimpan. Barangkali bisa menutupi beberapa kebutuhan nanti, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Aku pandangi sertifikat dan &lt;em&gt;master&lt;/em&gt; bertuliskan not angka dan syair yang dibuatnya dengan mesin ketik kuno. Tetapi pikiranku menggantung pada jawaban terakhirnya tadi. Jawaban yang membuatku malam itu tidak bisa tidur dan memilih duduk di &lt;em&gt;lincak&lt;/em&gt; bambu di halaman, sembari  memandangi Pakde Mardi, tetangga kami, yang setiap malam mondar-mandir di luar. Juga beberapa orang yang hilir mudik di gang depan rumah kami. Semua situasi malam itu dibalut menjadi satu bersama keheningan, udara dingin, dan harum melati. Pintu-pintu rumah tetangga sudah tertutup. Hanya lampu di dalam yang tampak dari luar. Kadang juga suara anak-anak di dalam rumah. Dalam hening aku berpikir, “unsur apakah yang ada di tempat ini? Di kota ini? Orang-orang dan lingkungannya, sehingga membentuk Ibu menjadi sosok yang memilih berkaul &lt;em&gt;stabilitas&lt;/em&gt; seperti seorang rahib?”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Ibu juga sosok yang setia. Setia dengan hidup apa adanya. Setia artinya bukan suatu sikap heroik melainkan mau menerima sebuah proses; dihancurkan sekaligus dibentuk menjadi baru. Bukan tanpa keluh kesah, tangisan, dan kemarahan tentunya. Dari semua proses yang dijalaninya, ada sikap kreatif dalam menghadapinya, yang diungkapkan dalam pekerjaan dan ruang tinggalnya. Maka tak heran, banyak simbol dan makna di rumahnya. Simbol dengan makna di dalamnya itulah yang selalu menjadi kerinduanku.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Stabilitas, setia, berproses, memaknai setiap kesulitan. Itu seperti menaiki sampan di lautan mengejar cakrawala. Tetapi, seperti yang pernah disampaikan oleh seorang Guruku, cakrawala atau horizon itu ada dan tiada. Dia harus ada agar manusia memiliki batas sehingga tidak hilang &lt;em&gt;muspra&lt;/em&gt; di dalam kehidupan yang serba luas dan penuh misteri. Tetapi kemana pun manusia bergerak, cakrawala ikut bergerak dan tidak tersentuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Kupikir benar. Hidup Ibu, meskipun stabil menetap di suatu lingkungan yang membentuk karakternya, tetapi selalu bergerak, berubah, dan penuh ketidakpastian. Segala ketidakpastian itu seperti halnya teks not-not angka yang dibuatnya pada selembar kertas; ditulis, dinyanyikan, diuji dengan organ kecil, untuk kemudian dicoret, diperbaiki, dan dimaknai baru. Terus dan terus. Pada gilirannya lagu tersebut harus selesai, tampaknya hal itu tidak lebih dari sekedar target saja.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Ibu setia pada teks-teks itu. Dia tidak mencampuradukkan mazmur dan sinetron. Dan kesetiaanya pada teks-teks yang tidak pernah pasti sangat membantuku dalam memaknai hidup yang selalu bergerak, tidak pasti, dan yang memohon untuk selalu didefinisikan secara baru.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Kuingat waktu aku masih berumur 7 tahun, Ibu membawaku ke toko ‘Semangat’ yang menjual beragam barang. Di toko itu jiwa kecilku tertarik pada sebuah botol minum kecil berisi air jeruk. Aku menyukai botol itu karena bentuknya yang bulat, dan juga isinya yang bagiku sangat mewah. Keesokan hari, ketika air jeruk habis, jiwa kecilku sedih karena masih menganggap botol dan isinya yang kami beli semalam adalah satu makna yang sama. Air jeruk habis, pikirku, hilang pula makna botol itu. Padahal, betapa aku ingin membanggakannya di depan teman-teman.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Tetapi Ibu memasukkan air jeruk yang lain ke dalam botol minuman itu sembari mengatakan, “Tak apa. Yang penting bisa dipakai dan kamu bisa bawa ke sekolah untuk bekal dan ditunjukkan kepada teman-teman.” Aku menurut. Dan betul, dari hari ke hari botol itu selalu berguna sekaligus berubah makna: dari botol air jeruk menjadi botol air teh, bahkan tempat menyimpan koin uang.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Akhir-akhir ini, ketika hidupku semakin memohon untuk dimaknai secara baru, Ibu hadir dalam bayanganku. Dia hadir berdiri di sampingku. Telunjuknya menunjuk pada suatu berkas cahaya yang sangat terang, yang tidak terlihat bentuknya, tetapi seperti matahari. Ibu berkata kepadaku:&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            “Jangan kamu lihat telunjuk Ibu. Lihatlah cahaya yang terang itu”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Aku menjawab,”Tapi, apa itu? Aku tidak mengerti apa yang bersinar seperti cahaya itu?”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Katanya lagi, “dekati!”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Kujawab lagi, “Aku takut. Aku tidak tahu apakah itu?”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Untuk terakhir kali Ibu berkata, “Dekati! Bukan dengan pikiran duniawimu, tapi dengan cinta”.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Selanjutnya, Ibu hilang dari pandanganku. Tetapi samar kudengar suara lembut bernyanyi. Suara Ibu. Dia melantunkan kidung &lt;em&gt;Maskumambang&lt;/em&gt; :&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            &lt;em&gt;Jatining dumadi kan nuwuhken wiji&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;            Muga tunggak rila&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;            Yen palwa brangta wus wanci&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;            Bebadreng bayu baskara.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            (Hakikat semesta bila menunbuhkan benih&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Semoga tonggak rela&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Apabila biduk asmara sudah sampai saat&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;            Mengembara di angin di matahari).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-8950725438001868133?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/8950725438001868133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=8950725438001868133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8950725438001868133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8950725438001868133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/06/mengenang-ibu.html' title='Mengenang Ibu'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-8903397644315769201</id><published>2011-06-01T07:40:00.001-07:00</published><updated>2011-06-08T02:21:18.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Kebebasan Krisharjanto</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;Ambrosius hari ini banyak merenung di dalam kelas. Matanya fokus pada kertas,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;jemarinya sibuk membuat sketsa, dan pikirannya pergi ke ‘suatu tempat’ entah dimana. Namun demikian sebagian kesadarannya terantuk pada sesuatu yang menarik hatinya, yaitu kalimat yang diucapkan temannya, Nino, yang sedang bercerita di depan kelas tentang &lt;i&gt;Friedrich Wilhelm Nietzsche&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;“Maka, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thus Spoke Zarathustra&lt;/i&gt; bercerita tentang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Overman&lt;/i&gt;. Sang manusia super yang melampaui manusia. Manusia ideal yang menurut &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Nietzsche&lt;/i&gt; harus ada sebagai konsekuensi dari kematian Tuhan. Tuhan sudah mati! Kematian Tuhan harus terjadi jika manusia ingin menjadi mahluk yang utuh dan mulia; sang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Overman&lt;/i&gt;, sang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Superman&lt;/i&gt;. Ujung dari semua itu adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;freedom&lt;/i&gt;! Kebebasan!”, demikian Nino berapi-api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Kebebasan, kebebasan, dan kebebasan ... kata-kata ini muncul berulang dalam di pikiran Ambrosius. Jika ada kebebasan lantas kenapa ada orang yang ‘tidak bebas’? Anak-anak pandai yang tidak bisa mengenyam pendidikan? Anak-anak yang terluka hati karena perceraian orang tua? Orang-orang yang disingkirkan? Memang bebaslah seorang anak untuk memperoleh pendidikan. Tapi toh kenyataannya banyak yang tersandung oleh beragam aturan. Aturan yang dibuat manusia untuk mengatur kebebasan demi menghormati kebebasan. Di kelas ini pun tidak semua muridnya pandai. Tetapi mereka seharusnya patut bersyukur bisa memperoleh kesempatan belajar lebih tinggi. Seharusnya .. ya seharusnya, mengingat di luar sana banyak anak-anak pandai terlantar begitu saja. Tetapi ‘seharusnya’ selalu berselisih pendapat dengan ‘kenyataannya’. Demikianlah hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Memikirkan kebebasan dan anak-anak pandai yang tidak sempat mengenyam pendidikan, pikiran Ambrosius mundur ke beberapa tahun silam, saat dirinya masih duduk di bangku kuliah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Saat itu siang hari menjelang sore, di sebuah bangunan sekolah tua sederhana yang sepi dia bertemu seorang teman lama; Krisharjanto. Kris, begitu teman itu biasa dipanggil, adalah teman sebangku Ambrosius waktu masih SMP. Dia adalah salah satu anak terpandai yang pernah dimiliki sekolah tempat mereka belajar dulu. Anak buruh tani dia. Ayahnya sehari-hari menggarap beberapa petak sawah yang terletak di samping sekolah mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Layaknya anak petani, figur Kris sangat sederhana. Posturnya tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Bicaranya lantang dan keras seakan-akan ruang kelas adalah area persawahan. Kris selalu memakai seragam dari bahan sederhana. Sepatu bermerk ‘&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Warrior&lt;/i&gt;’ yang dipakainya tampak kusam, berpadu dengan kaos kaki tipis yang seakan tidak lekat pada kaki sehingga harus dikencangkan dengan karet gelang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi Kris sangat pandai meskipun duduk di bangku paling belakang. Memang, deretan bangku paling belakang selalu diidentikkan dengan wilayah anak-anak bodoh dan bebal, sehingga guru kami menyebutnya: ‘anak-anak terbelakang’. Maksudnya adalah anak-anak bodoh bebal yang duduk di bangku paling belakang. Tetapi nilai itu tidak berlaku bagi Kris; sang ahli matematika, bahasa, dan sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Sore itu mereka berdua berbincang setelah hampir 10 tahun tidak berjumpa. Mereka bertukar pengalaman, bercerita perjalanan dan pergumulan hidup hampir 10 tahun terakhir. Ambrosius bangga bisa bercerita tentang pendidikan arsitektur yang hampir selesai dijalaninya. Tentang ilmu-ilmu yang diperolehnya. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman yang menggairahkan jiwa idealisme seorang anak muda. Semula dia juga berharap cerita yang sama menggairahkannya keluar dari mulut Kris; cerita tentang kehebatannya di seputar dunia akademik. Tentu pantaslah seorang Krisharjanto yang pandai hidup secara gemilang di dunia akademik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi, cerita itu tidak keluar dari mulut Kris. Hanya ada senyum di wajahnya yang anak petani. Wajah yang makin keras dan kasar rautnya. Wajah yang hadir bersama rambutnya yang merah dan tak teratur. Bersama pula kaos oblong putih serba bolong, dan celana pendek lusuh yang menunjukkan betisnya yang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;jejeg&lt;/i&gt; sewarna &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;gula-geseng&lt;/i&gt;. Dia hanya bercerita selepas SMP tidak ada lagi kesempatan melanjutkan studi. Ayahnya yang sekedar buruh tani tak sanggup membiayai. Adik-adiknya 3 orang. Maka kemudian kertas ijazahnya hanya menjadi pajangan; kertas yang menyatakan bahwa Kris adalah lulusan terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Tetapi Kris sempat berkata juga, tentang suatu hal yang tidak akan pernah dilupakan Ambrosius, yaitu kebebasan. Ya, kebebasan, atau tepatnya menyikapi keadaan yang diterimanya dengan sikap bebas dan lepas. Awalnya terdengar aneh bagi Ambrosius. Bagaimana mungkin menerima keadaan yang mengekang kesempatan untuk maju adalah suatu kebebasan? Tidakkah itu sekedar sikap menghibur diri belaka? Tetapi Kris memang anak petani tulen. Anak alam dia. Dia belajar bahwa alam selalu bergerak memberi kebaikan. Maka, pelajaran dari alam memberinya kesadaran bahwa memang betul setiap manusia memiliki kebebasan. Tetapi kebebasan haruslah mengarah kepada kebaikan. Karena kebebasan dan kebaikan sudah menjadi kodrat dalam diri manusia, seperti 2 sisi pada satu keping mata uang. Seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;alu&lt;/i&gt; yang bisa dipakai untuk menumbuk gabah sekaligus untuk memukul-membunuh. Nah, petani yang waras tentu akan memilih mempertemukan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;alu&lt;/i&gt; dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;lumpang&lt;/i&gt; pasangannya. Untuk menumbuk gabah. Kesadaran mempertemukan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;alu&lt;/i&gt; dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;lumpang&lt;/i&gt; inilah yang menjadikan dunia baik dan pada tempat semestinya. Mendaratkan kebebasan agar tidak berada di awang-awang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Masih segar dalam pikiran Ambrosius tentang perjumpaan terakhir dengan Kris. Mereka pergi bersama dari sekolah tua di tepi sawah menuju jalan besar. Ambrosius mengendarai sepeda motor keluaran terbaru. Disampingnya Krisharjanto mengendarai sepeda bermerk &lt;i&gt;Raleigh&lt;/i&gt; yang sudah kusam. Pada jok belakang ditumpuknya tumpukan gabah yang diikat dengan tali. Mereka tidak lagi membincangkan keramaian dunia akademik, tetapi tentang angin sore yang hangat semilir, harum tanah yang disiram air hujan, air teh tubruk dengan gula batu di warung pak Pujo. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-8903397644315769201?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/8903397644315769201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=8903397644315769201' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8903397644315769201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8903397644315769201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/06/kebebasan-krisharjanto.html' title='Kebebasan Krisharjanto'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-8526099375614074088</id><published>2011-04-04T12:33:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T01:59:36.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Suatu Hari Sandikala</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Syahdan pada masa Upanishad, Dewi Draupadi – istri Prabu Yudhistira - datang kepada Prabu Wirata yang sudah beberapa tahun ini meninggalkan tahtanya untuk menyerahkan diri kepada kesederhanaan hidup. Mereka berdua berbincang di bawah naungan pohon Latamaosandi. Dalam perbincangan, Draupadi meminta nasehat perihal perceraian. Kepada Prabu Wirata disampaikan pula bahwa dirinya sudah meminta pertimbangan kepada seorang brahmana. Prabu Wirata bertanya apa pendapat brahmana tersebut. Draupadi menjawab: sang brahmana menyetujuinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Apa alasan dia menyetujui perceraian, anakku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Menurut wisik yang didapat dalam samadi, beliau mengatakan layaklah laki-laki seperti Yudhistira diceraikan. Raja tidak tahu adat. Berani menyerahkan istri sebagai taruhan judi. Merelakan istri ditelanjangi. Tidakkah dia menghargai hamba yang selalu menyerahkan cinta dan diri sepenuhnya? Tidakkah dia terkenang saat indah penuh cinta dalam kama-ratih?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Brahmana itu berkata begitu?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“&lt;em&gt;Nun, inggih,&lt;/em&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Gusti”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Ah, tapi menurut rasaku, Wong Ayu. Semakin jauh dan dalam dasar kolam semakin tidak bisa kita putuskan wujudnya. Wajarlah brahmana mengatakan hal itu jika tidak melalui samadi. Tetapi dalam samadi ... yah sudahlah ... tujuan orang berbeda-beda. Tetapi sejauh kudengar dari adikku Wratsangka yang beroleh kabar dari Harjuna, anakku Draupadi selamat dari penghinaan di arena judi berkat kuasa Hyang Widhi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“&lt;em&gt;Nun, inggih&lt;/em&gt;, Gusti Prabu. Entah ... hamba merasa gelap saat itu. Rasa malu dan terhina begitu besar membuat hamba pingsan. Tetapi menurut adik Harjuna kain penutup badan hamba seakan tidak lepas dari tubuh. Terurai menjadi demikian panjang. Semua kegilaan itu berhenti berkat turun-tangan Eyang Bhishma. Kabarnya beliau sangat murka kepada Suyudana dan adik-adiknya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Ah ... Bhishma. Dia orang baik. Tentu dia tahu apa arti aturan yang harus diterima dalam sebuah perjudian. Tapi dia orang yang tidak pernah berhenti pada kebiasaan dan aturan. Ya, kebenaran baginya adalah kebenaran. Kebenaran adalah zat-milik Sang Hyang Widhi. Jika Sang Hyang Widhi sendiri adalah Zat Agung yang tidak bisa dipengaruhi zat-zat duniawi manapun, maka tentulah sebagai milik, kebenaran juga tidak bisa dipengaruhi oleh aturan apapun di dunia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Prabu Wirata diam. Dirasakannya semilir angin pada kulit tubuhnya yang mulai memiskin, lama tidak tersentuh berbagai ramuan istana. Di depannya, kira-kira selemparan batu, dilihatnya anak gembala bermain seruling di antara sapi-sapi. Anak itu memandang kepada sang Prabu. Dia berkulit hitam. Parasnya tampak cantik pada wujudnya yang laki-laki. Dia melepaskan seruling dari mulutnya dan tersenyum. Sang Prabu membalas dengan senyum. Teduh hatinya. Dia menarik nafas lembut dan dalam. Matanya setengah terpejam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Akhirnya sang Prabu melepas kebisuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Begini saja, anakku Draupadi. Kau tentu lelah. Banyaklah makan dan istirahat dulu. [Nun inggih&lt;em&gt;, Gusti Prabu. Tapi hati ini sakit sekali&lt;/em&gt;]. Saya mengerti, tapi sebaiknya jangan memutuskan apapun selama hatimu masih diselimuti galau. Nah, Dalam hening-wening di pedesaan ini aku tak bisa memberikan masukan apapun kecuali mengajakmu menghadap Sang Hyang Widhi. Dan biarlah Sang Hyang Widhi sendiri yang menyampaikan warta kepadamu, warta yang aku tidak tahu. Warta yang tidak bisa diukur oleh nalar kita, manusia. [&lt;em&gt;Apa maksud Gusti?&lt;/em&gt;]&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;iya. Menurut rasaku, anakku wong ayu, kalau Sang Hyang Widhi sendiri menyelamatkanmu di arena judi tempo hari, maka aku&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;kok &lt;/em&gt;merasa bahwa dirimu adalah kecintaanNya. Artinya, kau diciptakan secara pribadi dan selaras dengan Zat-Nya. Maka, hanya Dia yang bisa menjadi sumber pemecahan kegalauan hatimu".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height:150%"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hari sudah&lt;span class="apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;sandikala&lt;/em&gt;. Prabu Wirata masih duduk di bawah naungan Latamaosandi. Dilihatnya anak gembala pergi dalam gembira bersama sapi-sapi. Dilihatnya juga beberapa rahib berjalan membawa kembang, air, dan dupa untuk doa malam. Dari hatinya, bersama dengan semilir angin barat, bergulirlah sebuah harapan: semoga, ya semogalah, Sang Hyang Widhi - Sang Sumber Cinta – yang melahirkan Draupadi dan memanggilnya dengan nama yang paling pribadi menaburkan cinta illahi. Suatu zat yang melampaui segala wujud yang ada di dunia, supaya Draupadipun tidak berhenti pada perkara-perkara dunia, namun sebaliknya mampu memberi cinta. Apapun keputusannya nanti. Dan dirinya sendiri? Ah, dirinya mengakui bahwa masih belajar menjejakkan kaki di dunia, agar bisa disebut dengan suatu nama, yang harapannya selaras dengan Sang Cinta Abadi dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti dirinya dan para rahib memanggil anak gembala cantik yang selalu gembira itu: Krishna!&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-8526099375614074088?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/8526099375614074088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=8526099375614074088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8526099375614074088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8526099375614074088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2011/04/suatu-hari-sandikala.html' title='Suatu Hari Sandikala'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1120754442153252403</id><published>2010-12-20T08:27:00.001-08:00</published><updated>2011-06-08T02:31:31.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Menemani</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;line-height: 115%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Seorang perempuan yang kutemui di angkot tadi siang bercerita tentang berita yang baru saja dibacanya di sebuah koran. Dia mencoba menjelaskan kembali apa yang ditulis pada berita tersebut dan mengomentarinya demikian: Seorang anak korban perceraian tampil di sebuah media massa. Dia ditanya perihal calon suami ibunya, yang menurut rencana akan menikah lagi. Tentu, kalau dia sayang kepada ayahnya, dia akan menjawab ayahnyalah yang terbaik. Barangkali, kalau ayahnya hendak menikah lagi nanti, dan sang anak menyayangi ibunya, dia juga akan menjawab ibunya yang terbaik. Kemudian dia menambahkan lagi, “Tapi itu wajar &lt;i&gt;to&lt;/i&gt;, Mas. Bahwa ada seorang anak membela ayah atau ibunya karena dia mempunyai cinta. Tapi, apa yang dia rasakan waktu mengatakan mendukung apapun pilihan orang tuanya. &lt;i&gt;Rak gendheng to&lt;/i&gt;, bocah seusia itu bisa omong begitu. &lt;i&gt;Lha &lt;/i&gt;itu yang tua si anak atau bapak-ibunya?”. Aku cuma tersenyum mendengar itu. Mataku masih terpaku pada pengamen di dekat jendela sopir, yang penampilannya &lt;i&gt;ngudubilahi&lt;/i&gt; serba asal-asalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tapi tak urung terpikir juga kata-kata perempuan itu. “Apa yang Mbak bilang tadi? Mbak katakan si anak punya cinta? Alhamdulillah kalau begitu. Waras selaras dengan selera Zat yang melahirkannya. Tapi sayang cinta yang satu beda dengan cinta yang satunya. Maksudnya? &lt;i&gt;Lha iya&lt;/i&gt;, cinta si anak waktu membela bapaknya itu cinta yang dipunyai seorang anak. Seorang anak yang sesungguhnya; yang masih suka dikeloni dan diciumi. Yang masih punya kejujuran seorang anak. &lt;i&gt;Lha&lt;/i&gt; kalau sudah mendukung apapun pilihan orang tua, ya &lt;i&gt;punten dalem sewu&lt;/i&gt;, betapa luhur hatinya, Mbak, tapi pedih juga. Anak mana yang mau orang tuanya cerai? Di mata anak dunia serba bagus. Seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;puzzle&lt;/i&gt; memang, tapi serba ketemu dan cocok. Tapi berani mendukung pilihan orang tua padahal dirinya masih ingin didekap &lt;i&gt;dikeloni&lt;/i&gt;? Nah, nah ... &lt;i&gt;hikiii&lt;/i&gt; ... mesti &lt;i&gt;dudu jiwane bocah&lt;/i&gt;. Jiwane Wara Srikandi yang agung tapi penuh daya amuk kepada Resi Bisma. Agung tapi gamang. Satria dia. Tahu &lt;i&gt;unggah-ungguh&lt;/i&gt;. Tapi kalau sudah tercubit prinsipnya, wah wah ... seorang Resi yang paling agung pun luruh ditangannya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Betul, Mas. Semogalah jiwa anak-anak itu secantik Wara Srikandi, tapi pada keagungannya, dan bukan pada amuknya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;"Bisa, Mbak. &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;, Gusti Allah &lt;i&gt;mboten sare&lt;/i&gt;. Tuhan tidak tidur". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;"Lha&lt;/i&gt;, kalau Tuhan tidak tidur lantas siapa yang menemani?" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;"Ya, mungkin kita-kita ini”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Angkot bergerak berangkat. Langit senja terlihat jingga. Di sudut terminal orang-orang berkerumun beristirahat; ngopi sambil mengaso, main kartu menghilangkan penat. Sebisa mungkin patuh pada perintah alam yang menyampaikan pergeseran waktu, juga si pengamen yang &lt;i&gt;ngudubilahi&lt;/i&gt; tadi. Di jalan mulai terlihat warna-warna Natal di papan-papan reklame yang diterangi lampu. Ratusan laron mengerumuni sinarnya. Indah dan mewah warna-warna itu. Tapi semogalah ... ya semoga, tidak menyilaukan kehadiran seorang Bayi yang kelahiranNya dirayakan oleh warna-warna itu. Seorang Bayi Agung yang nyaris tidak mempunyai seorang bapak. Hanya karena rahmat Allah maka sang bapak tidak menceraikan ibuNya. Tapi ya bukan rahmat Allah saja. Rahmat Allah bisa bekerja sempurna kalau manusia mau terbuka menerima. Dan si bapak memang cuma tukang kayu biasa saja. Ibunya juga; seperti &lt;i&gt;mbok-mbok ndeso&lt;/i&gt; biasalah. Tapi yang biasa-biasa biasanya lebih gampang menerima warta, setidaknya dalam batinnya. &lt;i&gt;Ora keminter&lt;/i&gt;. Gusti Allah memang tidak butuh yang pintar, tapi butuh yang mau menemaniNya. &lt;i&gt;Ngancani&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, serif; "&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1120754442153252403?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1120754442153252403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1120754442153252403' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1120754442153252403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1120754442153252403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2010/12/menemani.html' title='Menemani'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2246806741833968864</id><published>2010-10-22T07:06:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T02:08:58.591-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Wira</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Malam itu udara terasa gerah di Bali. Aku tidur dalam sebuah bilik kecil bersama seorang teman, Pak Artam namanya. Ya, kami lelah sekali malam itu setelah seharian penuh bergelut dengan proyek-proyek yang masih sangat membutuhkan perhatian. Tentu, sesuatu yang sejuk kami harapkan untuk memberi ketenangan. Cukuplah suhu udara yang nyaman sebetulnya. Tidak lebih. Sebagai orang-orang lapangan kami terbiasa tidur dalam kondisi seadanya. Tetapi udara di Sanglah malam itu tidak sedikitpun memberi perhatian kepada kami. Tiba-tiba, di sela gelisah, telfon selulerku berdering; panggilan dari Jakarta, dari seorang sahabat : Berna. Kulirik arloji. Pukul satu dini hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Mas, sudah tidur?’’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’&lt;i&gt;Yup&lt;/i&gt;. Kenapa, &lt;i&gt;Nduk&lt;/i&gt;?’’, jawabku dengan suara yang kubuat semerdu mungkin. Pikirku; apa dia tidak sadar sudah pukul berapa sekarang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’&lt;i&gt;Ngga&lt;/i&gt;. Cuma mau minta bantuan. Kenal orang-orang yang sedia jadi donor darah?’’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Malam ini?’’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Ya. &lt;i&gt;Buat&lt;/i&gt; seorang bayi. Anaknya temenku. Sudah kritis’’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Selebihnya dia bercerita panjang lebar tentang kondisi anak tersebut, yang ternyata belum sempat diberi nama. Aku yang hampir memejamkan mata hampir tidak mendengar semua yang dikatakannya. Akhirnya dia menyudahi pembicaraan dan mengatakan akan menunggu kabar dariku.&lt;i&gt;Duh,Gusti Allah&lt;/i&gt;, aku capek sekali. Besok saja cari bantuan, pikirku. Lagi pula malam seperti ini? Bukankah hampir semua orang terlelap? Tapi tak urung hatiku gelisah. Berkali-kali bantal kubalik, sampai tiba-tiba seperti ada sebentuk pikiran merasuki otakku dan mengatakan alangkah lebih baik diselesaikan sekarang sehingga besok tidak terlalu menjadi beban pikiran. Maka jadilah. Beberapa nama kuhubungi dan ... sangat mengejutkan ... dalam waktu tak kurang dari tigapuluh menit tiga orang sudah menyatakan kesediaannya. Yang lain memberi nomor lembaga-lembaga yang layak dimintakan tolong. Dengan semangat aku mengabari Berna. Kuminta agar dia menghubungi lembaga dan para pendonor yang sudah bersedia. Selanjutnya, tak lebih dari dua puluh menit dia menghubungiku lagi. Dengan nada suara gembira dia mengatakan bahwa para pendonor siap dan untuk sementara semua cukup. Dia juga berkali-kali mengucapkan terimakasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Mas, tahu’&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;. Ibu anak itu sahabatku. Terimakasih!’’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Ya, ya’’, kataku. Di otakku saat itu cuma ada satu kata : tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Legian Bali, hari keempat setelah Berna menghubungiku. Aku tiba-tiba ingin tahu perkembangan anak itu. Kutanyakan kepada Berna. Dia mengatakan bahwa anak itu sudah pergi untuk selamanya. &lt;i&gt;Sing Murbeng Dumadi&lt;/i&gt;, Allah maha pengasih punya cara yang lebih baik untuk menyatakan cintaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Sempat transfusi darah?’’, tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;‘’Sempat, Mas. Tapi &lt;i&gt;lumayan&lt;/i&gt; terlambat. &lt;i&gt;Duh&lt;/i&gt;, maaf aku &lt;i&gt;ngga&lt;/i&gt; sempat kasih kabar’’. Dan selanjutnya kudengar dia menangis. Juga minta doa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Meskipun hatiku haru, tapi entah kenapa aku selalu memandang bahwa kematian adalah kehidupan itu sendiri. Menangis dalam kesedihan adalah sebentuk ungkapan cinta, tetapi lambat laun cinta itu juga yang akan menjadikannya sebuah senyum. Bukan, bukan kematian itu yang terus menjadi pikiranku, melainkan aku teringat akan seseorang, Wira namanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Di malam yang panas itu, sesaat setelah Berna meminta informasi tentang para pendonor, aku menghubungi Wira. Wira adalaha sahabatku di Jogja. Dia memberi cukup banyak informasi tentang pendonor golongan darah AB seperti yang diminta. Informasinya sangat berguna dan membantu. Tapi setelah beroleh kabar tentang kepergian anak itu, dia mengaku bahwa sebetulnya dirinya juga bergolongan darah AB. Menjadi sebuah penyesalan baginya karena sebetulnya mampu untuk menyumbang darah dalam waktu cepat. Baik si Anak maupun Wira ada dalam satu kota yang sama. Apalah arti waktu bagi orang Jogja terlebih di malam hari. Semua bisa ditempuh sesegera mungkin. ‘’Kalau saja aku mau lebih peduli, barangkali anak itu masih hidup ...’’, sesalnya. ‘’Aku terlalu menggampangkan. Aku &lt;i&gt;cuma&lt;/i&gt; merasa cukup dengan memberi banyak informasi dan percaya Gusti Allah sendiri yang akan melanjutkan. &lt;i&gt;Duh&lt;/i&gt;, Gusti, &lt;i&gt;nyuwun pangapunten&lt;/i&gt; ...’’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Aku tersenyum mendengar penyesalannya. Tentu bukan karena aku senang bahwa Wira menyesal. Tidak begitu. Kok seperti orang suci saja. Senyumku senyum &lt;i&gt;getir&lt;/i&gt; sebetulnya. Hanya aku merasa akhirnya sampai juga pada pemahaman bahwa Gusti Allah bisa melakukan apa saja termasuk bertindak sendiri menyembuhkan si Anak. Tapi tak urung Dia juga selalu membutuhkan bantuan manusia. Ah, konsep macam apa lagi ini; menganggap Tuhan tidak kuasa tanpa peran manusia? Memang &lt;i&gt;Actus-purus&lt;/i&gt;lah Dia. &lt;i&gt;The unmoved-mover&lt;/i&gt;kata Aristoteles; penggerak yang tak bergerak. Yang adi-kodrati dan kekal. Sang&lt;i&gt;causa-prima&lt;/i&gt;. Tapi kalau sang pimpinan yang serba bisa membutuhkan bantuan bawahan, maka pertanyaannya : apa dan siapakah sang bawahan itu sehingga sang pemimpin membutuhkan bantuannya? Begitu spesialkah dia? Entahlah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Pak Artam memanggil dari kejauhan. Dari bahasa tubuhnya kutahu ada yang harus cepat diputuskan di lapangan. Maka aku segera membayar makanan, kemudian berlari dalam hiruk-pikuk jalan Padma. Kepada Wira hanya kukirimkan sebuah pesan singkat : thank you, Brother.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color: black; font-size: 12pt; "&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2246806741833968864?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2246806741833968864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2246806741833968864' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2246806741833968864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2246806741833968864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2010/10/wira.html' title='Wira'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3812702403745980073</id><published>2010-10-22T07:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T02:27:41.063-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Ciko</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Hanya kucing kecil, budukan ... lagi tidak bersih. Kutemukan malam hari di pinggir jalan waktu hujan selesai mengguyur. Dia berteriak keras. Sangat keras. Awalnya tidak aku pedulikan, tapi teriakannya yang keras seakan melempar energi yang meruntuhkan kebekuan hati. Melampaui makna yang awalnya kulihat hanya sekedar kucing. Makna itu terus menampakkan dirinya yang sejati dan frekuensinya tersambung dengan pengalaman masa laluku. Tepat di titik itu aku seakan mengenali sesuatu lebih dari sekedar kucing; kepedihan, kesepian, dan ketakutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Maka, aku beranikan mengambilnya. Dia diam waktu aku meletakkan pada lengan, sedangkan aku berpikir, ‘’hendak di letakkan dimana di rumah nanti?” Rumah yang aku tempati adalah rumah komunitas. Meskipun aku tahu bahwa pada dasarnya teman-temanku baik adanya tetapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengurusnya. Kuputuskan memberinya tempat di pojok &lt;i&gt;carport&lt;/i&gt; yang cukup hangat pada sebuah kardus dan kain dengan harapan sang induk datang mengambilnya. Semangkuk kecil susu kusorongkan, yang dibalas dengan tatapan dingin. Dia sepertinya tahu aku hendak masuk rumah lagi dan meninggalkan dirinya di &lt;i&gt;carport&lt;/i&gt;. Dia berteriak. Suaranya terdengar dari dalam rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Seorang teman memberi nama : Ciko. Barangkali untuk mengenang kucing kesayangannya dulu. Ciko selalu berteriak keras setiap mendengar suara. Seperti anak ketakutan yang ingin dipeluk. Tetapi yang unik, yaitu setiap aku datang untuk memberinya makan dia berlari mendekat. Dia hanya ingin mendekat dan berlari cepat mengejarku setiap kali aku meninggalkannya. Sesekali dia kubiarkan masuk rumah dan memanjati lenganku dengan kakinya yang gemetar. Pada saat seperti itu dia diam seribu bahasa. Sebaliknya berteriak keras ketika kutinggalkan di luar. Pernah sekali melalui jendela kulihat dia tetap setia duduk dalam waktu lama sambil berteriak keras dan memandangi pintu yang kututup; pintu tempat aku masuk. Selanjutnya, dalam kelelahan dia menyerah pergi ke kotak kardusnya. Entah kenapa suatu rasa terbersit dalam hatiku, ‘’aku menolaknya’’. Mungkin dia cuma kucing. Tapi perasaan yang melampaui keberadaannya sebagai kucing terus muncul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Malam menjelang hari ketiga aku memindahkan Ciko ke Garasi. Kupikir agar lebih hangat dan aman dari ancaman luar dan badai. Tapi baik malam itu atau esok paginya dia tetap berteriak keras, menatap dengan dingin susu dan makanan yang kuberikan, dan tentu saja, mengejarku. Malam hari di hari ketiga teriakannya mulai berkurang. Kadang ada kadang berhenti. Ah, kupikir dia mulai tenang. Syukurlah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Pagi hari keempat selesai ibadat pagi. Aku tidak mendengar suaranya. Di Garasi kulihat dia mendengkur tidur dalam kardusnya. Aku lega melihatnya bisa istirahat. Maka kuletakkan dengan hati-hati semangkuk susu menggantikan yang lama yang tidak pernah disentuhnya. Setelahnya aku kembali ke kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Tetapi di dalam kamar hatiku mengatakan sesuatu. Kudatangi kembali Garasi. Aku memandangi kucing kecil tersebut dengan lebih jelas. Dia memang tidur tetapi bukan dalam sebuah istirahat tenang. Matanya yang terbuka menatap nanar. Tubuhnya lemas. Nafasnya pelan dan sesekali terdengar lengkingan lirih suaranya. Tidak ada reaksi apapun ketika tubuhnya kuangkat. Dia menjelang kematiannya ... dalam kesesakan, kesepian dan kesedihan. Dia sudah menyerah. Tidak didapatkannya tempat bersandar di bumi ini. Suatu tempat yang bisa memeluknya. Saat itu aku yang merasa hampa hati membawanya ke kamar. Memberinya tempat yang terbaik dan hangat selama menunggu kepergiannya. ‘’Sudah terlambat’’, seperti ada yang berbisik. Tapi tak apalah. Siang hari menjelang sore kucing kecil itu pergi selamanya. Bersama dengan tanah terakhir yang menutup kuburnya, aku teringat kembali saat dia berjuang mempertahankan harapan untuk beroleh kehangatan tapi harus kembali ke kardusnya dengan lengkingan kesedihan dan kesepian yang dalam. ‘’Ah, aku sudah menolaknya’’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Barangkali hanya kucing kecil. Budukan lagi. Tapi kesepiannya menyebarkan sebuah tanda. Dalam frekuensi yang sama aku menangkap tanda itu, yang sepertinya pernah hadir dalam realita hidupku. Aneh, Ciko si kucing kecil itu pelan-pelan semakin menampakkan kejujurannya yang melampaui dirinya sebagai seekor kucing. Dia menampakkan diri sebagai anak kecil. Berawal dari satu orang, menjadi puluhan, ratusan dan ribuan. Semuanya berlari mengejar sambil berteriak. Menggapai harapan dalam ketakutan dan kesepian, tetapi berakhir dalam penolakan. Tiba-tiba terdengar bisikan, “jangan lagi menolak. Jangan!”. Tapi bagaimana mungkin? Ada ribuan anak! Aku lari menghindar dalam pelukan doa ibadat malam. Aneh, selama ini aku mencari makna dari doa-doa yang kudaraskan, dan malam itu semuanya bertemu dalam sebuah kesatuan penuh waktu aku mengucapkan; ’’untuk mereka yang sedih karena kesepian dan ditolak. Semoga Tuhan memberi damai kepada mereka ... damai yang tidak pernah diberikan oleh dunia’’. Aku menjadi tahu bahwa selalu ada rahmat bagi turunnya damai, tetapi rahmat itu membutuhkan banyak tangan yang rela untuk menyalurkannya. Meminta damai bagi mereka tidaklah cukup. Ketika teman-teman menyanyikan Kidung Maria, aku menangis. Hari itu Selasa malam, 19 Oktober 2010.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;* Untuk anak-anak yang kesepian dan ditolak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3812702403745980073?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3812702403745980073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3812702403745980073' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3812702403745980073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3812702403745980073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2010/10/ciko.html' title='Ciko'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1216548860551658077</id><published>2010-03-01T07:16:00.000-08:00</published><updated>2011-06-09T02:28:35.749-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Love</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Subuh dini hari aku bermimpi berjumpa almarhumah Ibu yang menjelang 4 tahun lalu berpulang. Ini mimpiku yang pertama sejak sekitar setahun lebih tidak pernah memimpikannya lagi. Mungkin karena aku tidak terlalu peduli dengan mimpi. Mimpi selalu aku anggap sebagai kembang tidur saja. Biasan perasaan-perasaan hati yang terpendam saja, termasuk pada awal kepergiannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Tapi ada yang menarik dari mimpi kali ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Dalam mimpi tersebut aku datang mengendarai sepeda ke sebuah rumah yang sedang mengadakan acara penghormatan kepergian seseorang, dan aku tahu seseorang yang berpulang itu adalah Ibuku. Uniknya, aku tidak melihat situasi atau gambaran jenazah dengan petinya. Hanya melihat kerumunan besar dan suara penata acara yang sebentar lagi akan mengucapkan kata perpisahan melepas jenazah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Selepas memarkir sepeda aku melihat Ibu berdiri di depan pintu masuk. Wajahnya cerah dan rileks (berbeda dengan terakhir aku lihat, begitu menahan sakit karena kankernya). Beliau menungguku. Kami beranjak keluar bersama melewati beberapa pelayat. Sebelum melewati beberapa pelayat beliau menawarkan untuk berbincang sejenak dengan kondisi badan kami tidak terlihat oleh pelayat. Dan betul kami melihat mereka tapi mereka tidak melihat kami. Aku lihat juga Romo Prasetyo, seorang Imam yang selalu baik dengan keluarga kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Di tengah jalan aku bertanya kepada Ibu : "Aku rindu sekali. Apakah Ibu juga rindu sama aku?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Dengan tenang beliau menjawab : tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Mendengar jawaban itu hatiku menjadi sedih sekali. Dan demi melihat reaksi sedihku Ibu mengatakan lagi : "Tetapi itu di dalam nama Tuhan". Dijelaskan lebih lanjut karena aku masih tidak juga paham : "Ibu sudah ikut Tuhan". Mendengar itu aku menjawab : "maka itu sudah tidak ada lagi emosi ... barangkali ... semua menjadi penuh dan tertuju kepada Tuhan ... ". Sebuah jawaban yang kujawab atas pertanyaanku sendiri, dan tentu tidak memuaskanku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Suara penata acara kembali kudengar memberangkatkan jenazah. Aku lihat para pelayat berduyun menuju pemakaman. Aku dan Ibu ada bersama mereka. Menjelang makam suasana mulai gelap dan aku tidak bisa melihat jauh ke depan. Tetapi aku tidak ngeri. Gelap yang kurasakan tidak lebih daripada sekedar datangnya maghrib. Tetapi satu hal yang kurasa jelas : langkah Ibu makin cepat dan pasti sedangkan sebaliknya langkah kakiku seperti ada yang membebani. Aku merasa ada tangan yang menghalangi menuju gelap tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Tiba-tiba aku sadar bahwa waktu kami tidak banyak. Kami akan segera berpisah. Hatiku gelisah karena masih dibebani pernyataan Ibu yang mengatakan tidak lagi rindu kepadaku. Aku berpikir apakah dengan demikian beliau tidak mencintaiku lagi? Maka, untuk menuntaskan pertanyaan tersebut aku berteriak kepada Ibu yang makin menjauh: "Ibu mencintai aku?". Kulihat Ibu mengangguk. Aku ulang pertanyaan sekali lagi dan beliau mengangguk. Dan setelahnya hilang ditelan gelap. Tetapi sebelum tubuhnya betul-betul hilang dalam kegelapan Ibu berteriak mengingatkanku : awas! sembari telunjuknya menunjuk satu titik di tepi jalan yang tiba-tiba menjadi terang. Maka terlihatlah seekor ular, yang siap menyerang. Aku mundur dan Ibu menghilang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;Hampir pukul 07.00 wib. aku terbangun. Mungkin aku tetap seperti biasa, tidak terlalu peduli dengan mimpi. Tetapi kurasakan ada kelegaan dihati karena merasa dicintai. Perasaan dicintai ini yang selalu aku yakin menjadi sumber kekuatan hidup dan kehadiran Tuhan yang lembut, selalu mengampuni dan menerima apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1216548860551658077?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1216548860551658077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1216548860551658077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1216548860551658077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1216548860551658077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2010/03/love.html' title='Love'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1021096524373144433</id><published>2009-10-11T23:00:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T08:18:31.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Lik Tarno Mencari Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/StLM-4dx0bI/AAAAAAAAAMY/8Po2tiMX4xM/s1600-h/corridor.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 165px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/StLM-4dx0bI/AAAAAAAAAMY/8Po2tiMX4xM/s320/corridor.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391597084597146034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; font: 10.0px Times New Roman"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; text-align: justify; font: 12.0px Georgia"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Ini kisah sehari di hari Minggu 4 Oktober di Kampung Sawah. Kisah tentang menemani seorang penggiat sosial PPM Atmajaya Jakarta yang sedang membangun rumah. Mas Tarno namanya. Herman Yosef Sutarna lengkapnya. Aku mengenalnya lewat Lesnanto temanku yang tidak lain adalah kemenakannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Pertemuan kami sebetulnya sudah terjadi 2 minggu sebelumnya. Ketika itu Mas Tarno, yang mengakui bahwa dirinya jenis manusia yang tidak dekat dengan Gereja menceritakan keinginannya untuk memiliki sebuah rumah yang dekat dengan bangunan gereja. Tujuannya agar anak-anak - Oka dan Luhita - bisa terjaga keimanannya. Selama ini Mas Tarno merasa tidak memiliki waktu dan kemampuan untuk mendidik anak-anaknya dalam hal kerohanian. Untuk itu dia mempercayakan peran tersebut kepada "gereja" - entah melalui bentuk apa nantinya, bahkan mungkin lewat cara yang paling naif sekalipun : mencari lokasi rumah dekat dengan gereja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Maka, sebagai ungkapan niat dia membeli sebidang tanah seluas 150 meterpersegi di Kampung Sawah tidak jauh dari gereja Servatius dan sesegera mungkin membangunnya, meskipun dengan metode rumah tumbuh untuk menghemat biaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Bersama Lesnanto kami bertiga sempat mendiskusikan konsep rumah mereka. Secara pribadi aku sangat tertarik dengan keinginannya untuk menjaga keimanan anak-anaknya. Tetapi, jujur juga kuungkapkan kepada Mas Tarno dan Les bahwa aku tidak terlalu percaya kepada lembaga gereja apalagi kalau hanya berwujud sebongkah gedung saja. Bagiku, awal pertumbuhan iman seseorang berawal dari keluarga yang secara fisik diwakili oleh rumah. Maka muncullah sebuah pandangan, yaitu untuk menjadikan rumah mereka sebagai gereja. Dan gereja Servatius, tentu kami masih menghormati keberadaannnya sebagai tanda hadir Tuhan, kami lihat bukan lagi sebagai datum (satu-satunya arah) melainkan sebagai teman seperjalanan dalam membangun sebuah Gereja. Gereja Servatius diharapkan mampu memberikan inspirasi melalui kegiatan dan peran sakramental di dalamnya, dan rumah Mas Tarno ... di luar ranah religius diharapkan mampu menjadi tanda kehadiran Tuhan dan Gereja melalui aktifitas penghuninya yang sangat nyata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Terbersit juga ide untuk mewujudkan cita-cita tersebut dengan cara : menciptakan ruang yang hidup yang tidak berhenti dan selesai pada satu masa melainkan berkembang dan memiliki unsur fisik yang memungkinkan penghuninya ikut memberi sentuhan, ikut berkarya, ikut mewarnai, yang ujungnya diharapkan tercipta dialog antara Suami-Istri-Anak. Lewat dialog-dialog itu nantinya kami sadar pemahaman iman bisa dimasukkan. Dan rencana kami dimulai dari sebuah hari dimana seluruh keluarga bisa berkumpul bersama, melihat gereja Servatius, menyusuri jalan-jalan menuju lokasi, merasakan lingkungannya, berdialog tentang kenapa Ayah-Ibu memilih lokasi tersebut, memberi pengertian kepada anak-anak perihal pembangunan yang harus serba irit dan tidak langsung jadi. Dan untukku secara pribadi - seperti biasa - memberi mereka peluang untuk ikut menentukan ruang dan memilih material.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Pukul 08.30.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Aku dan Lesnanto tiba di Kampung Sawah. Sembari menunggu Mas Tarno yang baru tiba di Jakarta dari Muntilan memboyong tukang-tukang kami mengikuti perayaan Misa Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Selebran ketika itu adalah Romo Sarjumunarsa. Beliau memberikan kotbah yang menarik tentang kemiskinan. Lumayan, membangunkan aku yang sempet merem karena setiap 5 jam sebelumnya minum 2 butir pain-killer.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Menurut pandangan sang Pastor, seperti halnya agama lain, kemiskinan patut dihindari. Dan cara untuk menghindarinya tidak selalu harus menjadi orang kaya tetapi menjadi orang yang punya niat. Secara khusus kotbah ini menjadi inspirasi dalam diskusi-diskusi kami nantinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Selesai misa hujan turun deras sekali. Kami menunggu cukup lama, sampai akhirnya 1 jam kemudian Mas Tarno datang dengan sepeda motor berboncengan dengan Luhita dan seorang kerabat yang dipanggil Pakde, yang rencananya akan mengomandani pembangunan rumah. Kemudian kami berjalan bersama menyusuri kampung yang masih asri : hampir setiap rumah mempunyai teras, halaman, dan penghijauan. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Lahan milik Mas Tarno diapit dua buah rumah sederhana. Posisinya lebih turun 50 cm dari muka jalan kampung. Di bagian belakang terdapat puluhan pohon nangka besar dan sebuah sumur. Di antara lahan dengan rumah tetangga di sebelah kiri terdapat jalan tanah selebar 1,5 m yang menerus menghubungkan rumah di belakang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kami juga bertemu dengan pemilik rumah sebelumnya. Bertandang di ruang tamu yang sederhana sembari minum kopi. Sungguh, sebuah rumah sederhana dan kecil. Lantainya terbuat dari semen yang di beberapa sudut mulai rusak. Biliknya terbuat dari plywood. Pintunya bukan berupa panel tetapi kain gordijn. Atap, seperti umumnya rumah kampung, terdiri dari rangkaian rangka kayu yang terekspos berbalutkan genteng tanah liat yang susunannya tidak terlalu rapat. Bersama pemilik rumah kami juga sempat mengukur ulang, mendirikan patok, dan membuat batas. Tidak profesional tetapi cukup bermodalkan kepercayaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Tidak lama kemudian Mbak Anti, istri Mas Tarno, datang bersama putera sulungnya dan 7 orang tukang. Mereka juga membawa plastik yang biasa dipakai untuk tenda dan beberapa peralatan. Entah, aku ngga tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan dengan barang-barang tsb. tapi untuk sementara aku sibuk  di ruang tamu pemilik tanah sebelumnya. Menerangkan Mas Tarno, Luhita, dan Lesnanto foto contoh rumah yang bisa dijadikan referensi pada tahap pengembangan desain selanjutnya. Sempat juga ngobrol panjang lebar bersama tuan rumah yang adalah buruh serabutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Siang hari menjelang sore Lesnanto mengajak makan siang yang ternyata masakannya sudah disiapkan oleh Mbak Anti. Sebuah acara makan siang yang unik : duduk bersama di atas plastik tenda yang difungsikan sebagai tikar, digelar di atas rumput pada lahan yang akan dibangunan nantinya. Seperti model tamasya jaman dulu. Tetapi bagi calon pemilik rumah acara tersebut tidak lain sebagai selamatan. Maka akupun makan bersama mereka. Bersama keluarga calon penghuni rumah, juga bersama para tukang yang malu-malu, dalam suasana mendung di bawah naungan pohon-pohon nangka. Di sini aku belajar untuk mengatasi diri : meskipun kata orang aku jorok serba saru dan seru, tetapi sebetulnya jijikan juga, apalagi kalau harus makan di atas rumput dekat tanah yang basah penuh kotoran dan dekat kamar mandi pula. Oh my God! Hanya karena melihat semua yang hadir semangat maka akupun bertahan. Mereka begitu merayakan peristiwa ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Selesai makan kami sedikit berbincang dengan para tukang yang dikomandani Pakde. Membuat beberapa rencana berikutnya yang harus diawali dengan pembersihan lahan. Tidak ada gambar-gambar yang terlalu detail sebagai dasar pijakan. Cukup gambar skematik terukur skalatis, dan selebihnya adalah kepercayaan. Dalam hal ini aku juga tidak ingin mengunci mereka. Asalkan pijakannya sudah betul, yakni pondasi, konstruksi, dan ruang-ruangnya maka selebihnya biarlah mereka yang berperan menentukan perkembangan fisik bangunan, dengan harapan menemukan Tuhan dalam prosesnya yang terekam dalam dialog untuk menentukan segala hal yang terbaik bagi rumah yang akan dihuni. Baik bagi Mas Tarno dan keluarga, juga baik bagi keluarga terhadap lingkungan dan gereja Servatius. Ada keyakinan yang kuat dalam diriku bahwa proses membuat rumah ini akan menjadi sarana terjalinnya relasi antara keluarga Mas Tarno dengan tuhan mereka. Alasan apa yang membuat aku begitu yakin? Karena keluarga Mas Tarno kuihat mempunyai tujuan itu, membuka diri terhadap prosesnya, dan merayakannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sayup-sayup masih kuingat kata-kata Romo Sarjumunarsa dalam kotbahnya tadi pagi :"kita mungkin tidak punya banyak harta benda. Tapi kita tidak miskin karena memiliki niat. Maka, marilah kita cari utangan, cari kredit. Kredit dalam bahasa latin, seperti Credo, berarti percaya".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; font: normal normal normal 12px/normal Geneva; min-height: 16px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1021096524373144433?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1021096524373144433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1021096524373144433' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1021096524373144433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1021096524373144433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/10/lik-tarno-mencari-tuhan.html' title='Lik Tarno Mencari Tuhan'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/StLM-4dx0bI/AAAAAAAAAMY/8Po2tiMX4xM/s72-c/corridor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3624032940324249286</id><published>2009-09-29T18:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T18:38:54.570-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Sang Pembawa Pesan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SsK0t2KGraI/AAAAAAAAAMQ/4fIOF4-RWy0/s1600-h/6917_141593544946_544699946_2683544_6151280_n.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387066804013542818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 266px; CURSOR: hand; HEIGHT: 170px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SsK0t2KGraI/AAAAAAAAAMQ/4fIOF4-RWy0/s320/6917_141593544946_544699946_2683544_6151280_n.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dulu orang-orang selalu memanggilku dengan sebutan Dik. Kependekan dari kata Adik. Karena aku sempat terlahir sebagai anak ragil atau bungsu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1978 aku pernah mempunyai seorang adik laki-laki yang sekarang terbaring berbungkus kain kafan bersama jasad Ibu, bertetangga dengan para sesepuh dan kerabat. Kelahirannya nyaris membuatku urung menjadi anak bungsu. Dan setelah peristiwa kematiannya tidak terbayangkan olehku akan mempunyai seorang adik lagi. Maka dalam tahun-tahun selanjutnya aku tetaplah anak bungsu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, pada tahun 1992 lahirlah seorang laki-laki. Dialah adikku sekarang. Lahir dari rahim yang berbeda dengan kami, ketiga saudaranya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dia diberi nama Norman Mahardika. Kata Mahardika diambil karena hari lahirnya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Tetapi untuk “Norman”, kali ini Bapakku tidak lagi berfilosofi seperti ketika memberikan aku dan kedua kakakku nama. Kata “Norman” diambil secara praktis saja : waktu itu Bapak yang sangat menyukai cerita kepahlawanan sedang gandrung dengan Jenderal Norman Schwarzkopf, serigala padang gurun di pertempuran Teluk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Banyak pertanyaan muncul di seputar kelahiran Norman. Seperti disebut di atas, dia lahir dari rahim yang berbeda sehingga mereka yang melihatnya menyangsikan nilai harmoni di antara kami, dan tentu saja ketulusan kami terhadapnya. Pertanyaan itu secara tidak langsung rasanya lebih ditujukan kepada kami kakak-kakaknya, terutama aku yang selalu nyaris bungsu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kehidupan terus bergulir. Bersama kedua kakakku aku terus bertumbuh. Melewati masa sebagai pelajar SMU, hidup sebagai mahasiswa arsitektur, sebagai pekerja di bidang industri arsitektur. Kami juga melewati masa-masa ketegangan pencarian jati diri. Menjadi berjarak dengan Bapak-Ibu. Kadang menentang mereka tetapi juga belajar memahami dan menerima kemanusiaan mereka dengan segala potensi dan kerapuhannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sampai akhirnya bisa berpijak di atas kaki sendiri dan merefleksikan kembali perjalanan hidup, aku melihat tidak ada yang janggal dalam hubungan kami dengan Norman. Ketidakharmonisan hubungan seperti yang ditakutkan oleh beberapa orang dulu hanyalah pikiran yang serba terbelenggu kebiasaan berpikir negatif. Sebaliknya, kuingat bahwa kami banyak terlibat peristiwa yang membuat saling menemani. Menemani dia bermain dan mengenal alam, bercerita tentang ragam keilmuan. Ketika dia beranjak dewasa kami berbagi tentang kehidupan yang lebih luas. Bahkan, yang lebih mengesankanku, dalam sebuah kesempatan aku diperkenankan menjadi wali dalam sakramen Krisma baginya. Menemaninya dalam sebuah peristiwa maha penting dalam kehidupannya sebagai seorang Katolik. Masih kuingat dan kusimpan dalam hati ketika tanganku memegang pundaknya dan di saat yang sama Monseigneur Ignatius Suharyo menumpangkan tangan di kepala Norman. “Terimalah Roh Kudus”, kata Sang Uskup, diiringi alunan lembut bait Veni Creator Spiritus yang berkumandang di sebuah gereja di lingkungan Biara Missionarium a Sacra Familia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat aku menulis cerita ini Norman adalah seorang pemuda berumur 18 tahun. Menanti babak berikutnya sebagai seorang mahasiswa. Kulihat dia begitu gelisah menanti peristiwa-peristiwa yang akan terjadi nanti di depan. Sebagai orang yang pernah melewati masa-masanya aku bisa merasakan ketakutan, keraguan, semangat, dan kegembiraannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dia juga cerdas dan sangat sensitif. Seorang pemaaf yang sejak kecil harus belajar menerima adanya dua Ibu. Dia sangat mencintai Ibu kandungnya dan Ibuku yang selalu kompak untuk urusan tarik suara ketika dirinya masih bergabung dengan kelompok paduan suara anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dia juga sangat bangga dengan sekolahnya – yang semuanya berisikan murid laki-laki – terutama dengan praktek ajaran mencari tuhan dalam kehidupan yang dijalani melalui penghayatan dalam pekerjaan sebagai buruh tambang kapur di Wonogiri, sebagai penjual bensin eceran, atau pencuci gerbong kereta api.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tetapi bagiku, di antara rasa khawatir dan semangatnya dalam menapak masa depan, tersirat rasa percaya yang besar akan dirinya. Percaya bahwa kehadirannya di dunia bukan sekedar buah dari permainan asmara Kama-Ratih yang akhirnya lahir dalam sebuah keluarga yang rapuh. Pelan-pelan disingkapkan bagiku tentang peran seorang anak yang selama 18 tahun kami temani, yang sejak kecil sudah merasakan pahit-getir kehidupan. Bagiku dia seperti seorang malaikat yang harus hadir di tengah kerapuhan sebuah keluarga. Dia hadir untuk hidup berdua dengan Bapak. Menemani beliau yang saat ini kesepian dan jatuh di hari tuanya. Dia menggantikan peran kami - kakak-kakaknya yang harus pergi jauh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dia juga menjadi rahim bagi kami. Menjadi tanda agar selalu setia untuk menjalani kehidupan dengan rendah hati dan tidak keduniawian. Menjadi tanda bahwa hidup tidak melulu terarah bagi diri sendiri. Bagiku kehadiran Norman menjadi sebentuk alat yang melatih hati agar tetap dalam kondisi hening, agar mampu melihat apa yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan jalannya. Barangkali, kehadirannya dalam keluarga kami yang rapuh hanya sebagai persiapan untuk memasuki tugas-tugas yang diembankan kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3624032940324249286?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3624032940324249286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3624032940324249286' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3624032940324249286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3624032940324249286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/09/pembawa-pesan.html' title='Sang Pembawa Pesan'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SsK0t2KGraI/AAAAAAAAAMQ/4fIOF4-RWy0/s72-c/6917_141593544946_544699946_2683544_6151280_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1067811158521480688</id><published>2009-09-18T01:23:00.000-07:00</published><updated>2009-09-18T01:49:41.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Mata Satya</title><content type='html'>Satya temanku. Dia teman sejak aku kecil, saat kami hidup sebagai anak kampung Prawirodirjan nun 25 tahun yang lalu. Dulu perawakannya kecil. Kami sering main perang-perangan bersama di kuburan Belanda, berenang di bendungan kali Code di wilayah Mergangsan atau kali Gajah Wong di Muja-muju. Kami juga sering mengunjungi museum pesawat di Maguwo sembari mimpi menjadi penerbang, atau mencuri-curi waktu naik kereta barang dari stasiun Lempuyangan ke stasiun Tugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai studi di bangku universitas kami masih tetap awet berteman baik, bahkan sampai sekarang, meskipun tidak secara rutin bertemu dan bersapa. Tentu tidak lain karena kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan peranku sebagai arsitek dan dia sibuk sebagai seorang penulis lepas. Tetapi, dibanding aku yang arsitek, kuakui kemampuannya membuat sketsa tangan jauh lebih baik dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kami tidak bertemu. Dan kemarin malam di dalam kamarku yang sepi menjelang Idul Fitri – tidak kusangka – aku dikejutkan dengan sms darinya. Ingin bertemu denganku katanya, mencuri waktu di sela kedatangannya di Jakarta yang hanya beberapa hari saja. Maka jadilah kami bertemu di sebuah gerai kopi di Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa dan terpana waktu melihat dirinya masuk ke gerai kopi. Satya makin subur dan gemuk. Berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Tapi satu yang rasanya tetap, selalu setia dengan blue-jeans dan kaos polos lengan pendek. Sangat khas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih setia juga dengan sketch-book. Bedanya dengan dulu dimana yang dibawa adalah sketch-book tebal dan besar, kali ini tampak lebih praktis, yaitu setengah folio. Cara menempatkan pena juga berubah : digenggam dalam tangan saja. Tidak lagi digantung di leher kaos yang sering meninggalkan noda tinta di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani hot chocolate dan black coffee kesukannya kami berbincang, tetapi tidak selalu dipenuhi dengan pembicaraan yang panjang lebar serba kangen-kangenan. Kadang kami saling memandang saja sembari tersenyum. Ya, itu bahasa yang kami miliki sebagai sahabat. Dia memahamiku dengan segala tingkah-polahku. Begitupun aku memahami sifat pendiamnya di balik keriaanya. Banyak yang tidak tahu bahwa sebetulnya dia pendiam. Sangat pendiam. Hanyalah karena kebaikan hatinya yang selalu ingin membuat orang lain merasa nyaman maka dirinya bersikap luwes, dan kadang penuh banyolan yang membuat orang tertawa. Tapi sering dalam situasi tertentu aku melihatnya dalam ujud aslinya. Diam, merenung-hening. Sifat yang mungkin hanya diketahui oleh sedikit orang saja, dan kutebak : kekasihnyapun tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sahabat kami merasa senang dengan sekedar ditemani. Misalnya malam itu sembari membuat sketsa dia berbicara sekelumit kalimat namun mengandung makna yang dalam. Kadang wajahnya tidak menatapku sama sekali melainkan sketch-book yang digores-goresnya dengan tinta seakan-akan lembaran kertas itu adalah diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum berniat menikah juga?”,tanyaku&lt;br /&gt;“Belum. Kamu sendiri? Entahlah. Sering aku mencari-cari apa yang salah dalam diriku. Tapi semakin dicari tidak juga ketemu. Yang ada aku malah dihadapkan pada banyak peristiwa yang membuatku bingung untuk memilih. Tapi mungkin itu juga bias dari sifatku ya … kamu kan tahu aku peragu. Tapi ….”&lt;br /&gt;“Tapi apa?”&lt;br /&gt;“Hmm … kadang aku tidak terlalu merasa bersalah dengan keraguanku. Sering itu seperti sebuah insting yang sangat kuat dan akhirnya tetap berbuah pada kepastian yang baik yang justru akan menjadi tidak baik kalau aku tidak mengikuti keraguanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Kubiarkan saja dirinya dengan pola pikirnya yang aneh untuk ukuran dunia modern. Tapi kuakui, Satya yang peragu dan hati-hati, Satya yang sederhana dan memiliki sifat generous sudah berulangkali melakukan kebaikan untuk orang lain dibanding dengan diriku. Tidak hanya kebaikan, bahkan dengan mataku sendiri kulihat Satya dengan mata hatinya menegakkan harkat hidup beberapa orang, yang bahkan jarang bisa dilakukan oleh para pemimpin modern saat ini. Beberapa orang besar yang kukenal melihat kemampuan Satya ini dan mereka ingin merengkuh dia. Tapi Satya tetap sosok yang kukenal. Dia lebih ingin tenggelam dan tidak tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bertemu dengan mataku”, katanya lagi. Wajahnya semakin lekat menatap sketch-book dan jemarinya semakin menekan pena yang berbuah pada goresan-goresan tegas.&lt;br /&gt;“Mata? Mata apa? Aku ngga paham?”&lt;br /&gt;“Ingat 15 tahun yang lalu?” tanyanya mengingatkanku.&lt;br /&gt;Ah, akhirnya kuingat. Pikiranku mundur ke masa lalu. Mungkin hanya beberapa detik tetapi sepertinya lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut mata itu adalah kekasihnya. Seorang perempuan Cina. Perempuan cantik yang sangat dicintai Satya, menurutnya, seumur hidupnya. Perempuan yang sangat fasih berbahasa inggris dan penuh ambisi untuk maju di tengah kemampuan finansial keluarganya yang tidak mendukung. Aku sangat tahu kisah percintaan mereka yang penuh perjuangan dan tantangan. Di mataku kehidupan mereka berdua lebih dari soal percintaan. Sebagai arsitek aku selalu mengibaratkan hubungan mereka sebagai proyek membangun menara. Ada sebuah kerjasama yang baik, tapi ada kalanya menara belum juga selesai tetapi mereka sudah berada di ketinggian. Di situlah mereka bisa memandang alam sekitar yang cantik yang tidak bisa dilihat ketika berada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia yang tertawan oleh keindahan yang lebih luas mengundang hasrat untuk terbang. Lepas bebas agar bisa terbang lebih jauh dan memandang alam di kejauhan lebih dekat. Dan itulah yang terjadi, setidaknya apa yang kutangkap dari pernyataan Satya menanggapi perpisahan dengan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar berita itu aku tidak banyak komentar. Aku hanya menerima saja apa yang Satya ungkapkan kepadaku : bahwa dia, meskipun pedih, menerima dengan tulus kepergian kekasihnya – perempuan yang selalu diibaratkan mata baginya - demi kasihnya kepada perempuan itu. “Asal dia bahagia. Aku bahagia kalau dia bahagia”, katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumandang azan dari mesjid agung Kotagede mengiringi kalimatnya. Di kejauhan aku melihat orang-orang datang untuk sembahyang. Langit mulai gelap. Dan Satya, kulihat dia duduk bersila. Diam dan hening larut bersama suara azan. Dalam imajinasiku aku melihat seorang Samurai tegak diam menantang musuh yang akan merebut kekasihnya. Dia berdiri menghadang lawan, berkata kepada kekasihnya : lari! Mata hatiku melihat Satya menghadang lawan, tapi aku tidak melihat siapa lawannya. Orang lainkah … atau dirinya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harum aroma kopi menyadarkanku. Satya masih duduk di hadapanku tetapi matanya menoleh ke belakang. Melihat orang-orang bersorak, menonton pertandingan sepak bola melalui siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, kamu melihatnya lagi? Dimana? Apa kabar dia?”. Aku mengawali pembicaraan setelah Satya berbalik lagi menghadapku.&lt;br /&gt;“Umm … kemarin kami bertemu. Aku masih ngga habis pikir bagaimana dia bisa menemukan alamatku. Kau’kan tahu, setelah dia menikah aku memutuskan menyudahi kontak. Samasekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia dalam kondisi baik,” katanya lagi. “Hebat. Dia betul-betul mataku. Dia sudah berkeliling dan melihat kota-kota dunia. Suatu hal yang selalu kuimpikan tapi belum terlaksana. Tetapi tidak seperti orang lain yang sekedar mengatakan “aku pernah di sini”, dia bisa bercerita tentang kehidupan setiap kota dan negara yang disinggahinya lengkap dengan nilai-nilainya. Begitu hidup, sehingga mendengar ceritanya aku seperti menguyah makanan yang aku suka dan menikmatinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan Satya bercerita seperti anak kecil yang gembira karena menemukan dunia baru. Biar saja. Kulihat dia sedang jatuh cinta. Kupahami itu dari penjelasannya tentang arti ‘mata’ yang baginya lebih dari sekedar pernah melihat kota-kota dunia. Baginya, perempuan mantan kekasihnya itu, masih seperti dulu mampu menumbuhkan semangat hidup Satya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, kenapa dia kembali mencarimu? Kamu bilang dia terkesan membenci dan menjauhimu waktu kalian putus dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam. Tidak ada jawaban. Dia seperti disadarkan oleh sesuatu. Kemudian dia berkata lagi. Lirih :”suaminya pasti hebat. Tentu dia seorang yang bisa memberikan dunia. Tidak seperti aku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tidak seperti kamu. Orang gila yang sukanya main petak-umpet. Serba tidak mau kelihatan dan suka menghilang. Nah, kulihat dari nomor sms yang kamu kirim tadi … nomormu ganti lagi ya? Dasar sok misterius … incognito”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa. Bebarengan dengan sorak-sorai goal penonton sepak bola.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1067811158521480688?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1067811158521480688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1067811158521480688' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1067811158521480688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1067811158521480688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/09/mata-satya.html' title='Mata Satya'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3679372946916099929</id><published>2009-08-31T23:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T23:38:36.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Girisonta, Januari 2009</title><content type='html'>Langit masih gelap ketika taksi yang kutumpangi masuk ke sebuah pelataran luas penuh pohon-pohon besar. Harum rumput dan pohon pinus basah segera menyergap ketika kubuka pintu mobil. Saat itu pukul 03.00 dini hari. Masih terasa rintik kecil hujan sisa-sisa badai semalam yang menimbulkan banjir di seluruh dataran rendah Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas membayar ongkos taksi mataku yang lelah menyapu permukaan bangunan kolonial besar penuh jendela besar, kira-kira 50 meter di hadapanku, yang hampir seluruh figurnya tertutup gelap, kecuali bagian pintu mukanya. Maka, aku mengarahkan diri menuju ke pintu itu. Dan benar, kulihat Jumeno, salahseorang Bruder di tempat ini menungguku sembari tersenyum. Tak banyak pembicaraan di antara kami yang masih mengantuk sepanjang perjalanan menuju kamar melewati Domus Patrum yang luas dan gelap. Tetapi kepadanya sempat kutanyakan apakah Wisnu dan Anton sudah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar.&lt;br /&gt;Kuamati kamar yang terasa dingin. Langit-langitnya cukup tinggi, kira-kira 4 meter. Sebuah tempat tidur berkelambu, sebuah meja kerja, dan sebuah lemari pendek. Aku membuka jendela besar dan segera udara dingin menyergap. Pakaian kutata di lemari. Begitu juga buku-buku segera kuletakkan di meja kerja. Sembari duduk di kasur yang dingin, untuk kesekiankalinya dan seperti biasa, aku mengucap :”Tuhan, aku disini”. Selanjutnya aku merebahkan diri. Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 05.00 wib.&lt;br /&gt;Lonceng kapel berdentang keras, tetapi suaranya tidak mampu membuatku bangkit dari tidur. Sempat sayup-sayup mendengar suara-suara orang di luar. Sepertinya hendak ibadat pagi. Tapi aku betul-betul tidak tertarik dan lebih memilih masuk ke dalam selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya terdengar suara ketok di pintu berulang-ulang.&lt;br /&gt;Aku melirik arloji : Pukul 06.20 pagi. Segera aku melompat bangun, dan ketika pintu kubuka tampaklah Wisnu dengan gayanya yang khas.&lt;br /&gt;“Kumpul di Refter jam 07.00”.&lt;br /&gt;“Anton sudah datang?”&lt;br /&gt;“Belum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah hari yang cukup menyibukkan. Tidak banyak yang kami kerjakan untuk mengisi setengah hari itu sebetulnya selain berkenalan dengan para penghuni, yaitu para novice dan beberapa pastor pembimbing. Berbincang dan makan siang bersama mereka, sembari sesekali melihat suasana di tempat ini.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Pukul 3 sore kami bertiga dikumpulkan di ruang pertemuan. Seorang Pastor muda memperkenalkan diri sebagai seseorang yang akan menemani kami selama 3 hari ke depan. Wajahnya cukup tampan dengan garis mata sipit menunjukkan garis keturunan Tiong Hoa. Dari tutur katanya dia terlihat baik dan berkesan seorang pendengar. Tidak banyak yang dijelaskan kecuali sebuah metode yang disebutnya sebagai shalom. Dia juga meminta kami untuk taat dalam menjaga silentium, tidak berbicara selama 3 hari kecuali sungguh diperlukan. Selebihnya dia juga berpesan agar kami selalu berada dalam situasi santai dan membuka hati. Atentif, begitu dia menyebutnya. Memasang telinga dan mata hati karena Tuhan bisa berkata lewat apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                 ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Girisonta, 15 Januari 2009, pukul 22.00 - Makam Gethsemani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sudah 30 menit aku mondar-mandir di dalam makam yang gelap ini, di bawah naungan pohon-pohon besar. Udara dingin dan basah. Sudah berulangkali pula aku berjalan melintas di antara nisan-nisan dengan salib serba putih atau memandangi nisan-nisan yang terletak di dinding. Cukup lama sampai-sampai aku hampir hafal separuh nama yang dikuburkan di tempat ini. Joseph G. Beek, Schoonhoff,  C. Kester, W. Daniels, A. Siswapranata, Br. Jak Van Zon, Carolus Orie, S. Beekman, J.M. Grounenwoud, C. Looymans, Guido Sabdautama, Al. Setiawan Gani, Chr. Melchers, Thomas Jacobs, F. de Van Der Schueren, dan … Th. Hendriks … ya, kuingat nama ini. Seorang imam Jesuit berkebangsaan Belanda yang pernah kukenal 25 tahun silam saat aku masih aktif melayani gereja sebagai mesdieneer atau pelayan altar, atau lebih tepatnya pelayan. Ya, pelayan atau abdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjumpaan” kembali ini mengesankanku. Aku seperti disadarkan akan sebuah nilai kerendahan hati, yang menuntunku untuk berani menyelami sebuah tantangan : berani untuk menjadi abdi. Berani untuk menjadi bukan siapa-siapa. Hanya kosong belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjumpaan” kembali ini juga membuatku segera menyudahi perenungan malam dan bergegas kembali ke dunia yang hangat di kamarku dengan sebelumnya mengunjungi Kapel Domus, untuk sejenak menyampaikan penghormatan dan seserahan. Sesaji bagi Sang Adi Kodrati yang kukemas dalam kehidupanku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Girisonta, 16 Januari 2009, pukul 10.30&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Colloquiuum atau berbincang sejenak dengan Pastor Pembimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, apa yang ada di dalam benakmu berkaitan dengan peranmu di dunia? Katamu kamu enggan untuk menjadi seseorang yang mencolok.”&lt;br /&gt;“Begitulah kira-kira. Entah kenapa hati saya tidak tergerak ketika membayangkan berperan menjadi seorang tokoh, atau seseorang mempunyai jabatan.”&lt;br /&gt;“Selama proses perenungan semalam kamu memiliki tempat favourite? Atau … oh ya, kemarin saya meminta agar kamu membuat sebuah simbol yang menyiratkan jati dirimu. Sudah kau temukan simbolmu?&lt;br /&gt;            “Ah ya …. tentu. Kemarin saya melihat deretan sepeda tua yang sering dipakai para Novice untuk tugas keluar. Entah kenapa saya suka melihat figur sepeda-sepeda yang sederhana itu. Sudah berkarat dan lapuk di sana-sini memang, tetapi penuh energi. Saya membayangkan sesederhana itulah hidup saya. Tapi malam harinya, waktu merenung saya merasa simbol sepeda sepertinya terlalu romantis.”&lt;br /&gt;            “Mm. Kamu memilih merenung dimana? Kapel, teras, kamar, ruang doa?”.&lt;br /&gt;            “Tidak Romo. Tidak di Kapel, tidak juga di teras atau kamar atau ruang doa. Tetapi di makam. Ya, makam. Semalam saya berkunjung ke sana.”&lt;br /&gt;            “Kamu suka makam?”&lt;br /&gt;            “Ya”.&lt;br /&gt;            “Menarik sekali bahwa semua nilai kesederhanaan yang kamu ungkapkan sangat erat kaitannya dengan makam. Mungkin itulah simbolmu : makam”.&lt;br /&gt;            “Aduh, memelas sekali diriku disamakan dengan mayat dan tulang-tulang  yang tinggal di jaratan itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tertawalah sang Pastor. Dia mengatakan justru aku harus mencari makna makam. Adakah nilai lain dibalik kematian serba ngeri di dalamnya? Dan untuk selanjutnya dia menyarankan agar aku sesering mungkin berkunjung makam karena katanya lagi : tuhanmu menunggumu di sana.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;                                                                                  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Girisonta, 17 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa kering. Penuh pertanyaan atas apa yang kami, tepatnya aku lakukan di tempat ini. Untuk apa sebetulnya aku meluangkan waktu selama 3 hari, ijin meninggalkan pekerjaan. Toh pekerjaan yang kutinggal sejenak  kusadari merupakan berkah dalam hidupku dan menjadi berkah juga untuk orang lain. Lantas apa yang kurang? Kenapa aku tidak focus saja kepada hidup dan pekerjaan yang sudah ada, bukan sebaliknya bergerak mencari bentuk yang lain, bahkan sampai menuju simbol makam atau kekosongan seperti yang dikatakan Pastor kemarin. Ah, tetapi toh itu cuma simbol belaka. Bukan sesuatu yang nalar tersentuh tangan dan kasat mata. Untuk apa dipusingkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seperti halnya kemarin, selalu diadakan ibadat ekaristi pada jam 6 sore. Khusus untuk kami berempat dan dipimpin sendiri oleh Pastor Pembimbing. Misa yang sangat intim di Kapel Maria yang sepi di tengah gerimis yang semakin meneguhkan dinginnya udara. Kami duduk merapat bersila melingkari altar kecil. Pastor dengan jubah putihnya seakan-akan mewakili sosok Guru yang sangat dekat murid-muridnya. Kadang kami bersama-sama melakukan sharing kecil atau mendengarkan khotbah yang diurai dengan sangat membumi seakan-akan kamilah pelaku di dalamnya. Atau kadang kami bermeditasi. Sekedar mencecapi perjalanan hidup dan menyadari kehadiran  Seseorang yang sudah menemani kami sejak lahir di bumi – Seseorang yang sering kami lupakan ketika hidup menghirup hiruk-pikuk dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari seluruh perayaan yang terangkum dalam misa itu ada hal yang selalu kami tunggu : secara intim kami memakan roti kecil dan minum anggur bersama. Roti selalu kami bagikan dengan penuh kasih dari satu orang ke yang lain. Begitupula anggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roti yang berarti kemanusiaan kita yang hidup, yang terus dihidupkan dengan penuh jerih-payah melalui pekerjaan sehari-hari. Dalam roti yang sama itu pula Sang Adi Kodrati yang selalu menganggap manusia sebagai masterpiece, buah cintaNya yang dimerdekakan dengan cara diperkenankan hidup utuh dengan segala sisi kemanusiannya, rela untuk hadir dengan memakai pakaian yang sama dengan manusia, berbicara dengan manusia, menyentuh manusia. Untuk merayakan kehidupan kita. Berkenan merasakan apa yang manusia rasakan meskipun luka sekalipun. Berduka bersama manusia, tertawa bercanda bersama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan anggur, melambangkan darah, pengurbanan. Diminum setelah manusia memakan roti yang tak lain adalah Sang Adi Kodrati sendiri yang telah berkenan merasakan apa yang dirasakan manusia dalam seluruh sendi kehidupannya. Agar Dia bisa memeluk dan membawa segala sisi kemanusiaan kita yang bahkan penuh luka untuk kemudian dibersihkan dengan darahNya sendiri supaya manusia menjadi murni kembali, sama dengan diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja peristiwa ini membawaku dan teman-teman lain ke dalam situasi berkanjang. Bukan sekedar perayaan, tetapi layaknya hadir di hadapan orang tua yang begitu merindukan kejujuran putera-puterinya. Di dalamnya tidaklah perlu suasana gegap gempita penuh sensasi sebetulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran seringkali berupa luka. Seringkali juga manusia bertingkah laku seperti anak yang menutupi luka karena takut terlihat oleh orang tuanya. Takut dimarahi karena dianggap melakukan perbuatan yang serba ngawur. Tetapi Gusti Allah itu orang tua yang gemar menyembuhkan. Menghukum tidak doyan Dia. Membuang waktu saja kataNya. Tetapi sesuatu hal bisa terjadi – termasuk proses penyembuhan luka - kalau ada kemauan dari kedua pihak. Maka, ada baiknya seorang anak yang terlukapun ikhlas memperlihatkan boroknya, bahkan kebodohannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                             ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Girisonta, 18 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Malam terakhir. Colloquiuum pk. 10.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Mas? Sehat?”&lt;br /&gt;“Baik Romo. Sudah lebih bening-hening-wening hati ini. Saya banyak membuat sketsa sebagai proses doa hari ini. Sesuai pesanmu kemarin. Buatlah proses doa yang sangat aku banget. Kebetulan aku memang suka sketsa dan membawa sketch-book ke sini.”&lt;br /&gt;“Menarik sekali. Bagaimana tentang makam? Tertuang juga dalam sketsa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aku memperlihatkan sebuah sketsa yang menggambarkan situasi makam, yang kubuat dalam hati terdalam nan hening sebening Girisonta : menggambarkan ladang luas penuh tanaman dan hutan di kejauhan. Seberkas sinar matahari teduh-hangat menerangi ladang. Di tengahnya terlihat sosok anak berlari gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Jadi, bagimu makam bukan tempat yang mengerikan penuh kematian? [Bukan. Malah sebaliknya. Ada kehidupan di dalamnya] Apakah kamu pernah datang ke suatu tempat dimana ada kesunyian dan kesederhanaan? [Pernah. Waktu libur Idul Fitri tahun lalu. Kebetulan Bapak mengajak ziarah. Pilihannya ke Sendang sono atau ke satu tempat lagi di Jawa Tengah juga. Kebetulan kami belum pernah ke tempat yang satu itu, maka melajulah kami ke sana] Apa yang kamu rasakan sesampainya di tempat itu? [Saya merasa homy Romo] Ah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Oh ya, satu pertanyaan lagi Romo”.&lt;br /&gt;            “Oh, silahkan”.&lt;br /&gt;            “Mengenai simbol. Sepenting apakah dia sehingga beberapa hari ini kita diminta untuk fokus kepadanya?”&lt;br /&gt;            “Kamu tahu kompas atau sextant? Ya, seperti itulah. Digunakan sebagai sarana saja untuk membaca arah hidup, atau yang lebih jauh lagi membaca disposisimu dengan tuhanmu. Memang betul tuhan kita satu dan sama. Tetapi setiap manusia diciptakan secara intim oleh penciptanya dengan tujuan yang berbeda dan khas, menjadi semacam rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Nah, kerapkali kita merasa sudah berbuat banyak hal bahkan yang baik-baik tapi kok masih saja ada yang kurang. Maka ada baiknya mengarahkan kepada tujuan kita diciptakan. Biar selaras. Tetapi bukan berarti perbuatan baik yang sudah dilakukan, meski tidak selaras, menjadi tidak baik. Tidak juga. Tetapi persis di sini bedanya makna antara percaya kepada Sing Murbeng Dumadi dengan ikut denganNya. Percaya kepadaNya adalah baik tetapi mau dan ikhlas dipakai sebagai alatNya, sesederhana apapun itu, adalah nilai yang lain lagi. Manunggaling kawula lan Gusti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah tiga hari ini. Tiga hari yang menegangkan, melelahkan, sekaligus menyejukkan dan menguatkan. Dan yang menarik adalah awalnya kami berempat hadir untuk mencari disposisi diri masing-masing dalam kehidupan. Tetapi yang ditemukan adalah lebih dari itu : relasi dengan Tuhan. Melihat bahwa Dia begitu baik dan tidak memedulikan dosa dan keberdosaan manusia. Menyadari bahwa Dia selalu hadir bahkan pada situasi terburuk sekalipun. Hadir untuk menguatkan, atau dalam bentuk lain juga hadir untuk mengajarkan melalui sebuah pengalaman pahit di masa lalu agar suatu saat manusia bisa menjadi teman seperjalanan bagi orang lain yang berada dalam situasi yang pernah dialaminya. Di sini terlihat jelas bahwa melakukan refleksi dan mencecapi kembali pengalaman masa lalu selama tiga hari ini bukanlah perkara romantis belaka, tetapi layaknya menarik mundur tali busur untuk melesatkan anak panah jauh ke depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3679372946916099929?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3679372946916099929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3679372946916099929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3679372946916099929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3679372946916099929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/08/girisonta-januari-2009.html' title='Girisonta, Januari 2009'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7940001842384997463</id><published>2009-07-22T10:29:00.000-07:00</published><updated>2009-11-11T23:10:32.825-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Rawaseneng, 12 Mei 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/Svu020jkEQI/AAAAAAAAANY/UDETswfqRxc/s1600-h/rawaseneng.001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/Svu020jkEQI/AAAAAAAAANY/UDETswfqRxc/s320/rawaseneng.001.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403111031874785538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibadat invitatorium baru saja selesai dikumandangkan waktu aku menginjakkan kaki di pertapaan ini, sebuah biara yang jauh dari keramaian, pada sebuah dataran menghadap gunung Sumbing. Dalam lelahku sisa perjalanan semalam masih kuingat wajah-wajah yang menemaniku selama perjalanan : pengemudi bis asal Maron Temanggung yang menunjukkan dimana aku harus “mengambil” ojek. Juga wajah laki-laki tua yang duduk di sebelahku selama perjalanan - seorang pedagang kelontong di pasar Parakan, dan tukang ojek yang mengantarku melintasi hutan pinus berkabut tebal di wilayah Kandangan. Kuingat pula ekspresi wajah rahib yang menerimaku. Blasius namanya. Nama yang diberikan kepadanya menggantikan nama aslinya : Iwan. Ya, Iwan, atau tepatnya Mas Iwan. Demikian aku mengenalnya. Untuk beberapa saat dia termenung ketika kusebutkan nama itu. Kusebut juga nama kecilku, nama Eyang, dan sebuah alamat rumah di Yogyakarta. Tak berapa lama kemudian senyumnya mengembang. Seperti ada kegembiraan yang memecah kesunyian yang bertahun-tahun dijalani sebagai seorang rahib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul 6 pagi.&lt;br /&gt;Lonceng angelus berdentang keras menandakan ibadat pagi di kapel hendak dimulai. Gemanya menembus lembah, menyusup di antara pepohonan, merobek kesunyian dan dingin. Dentangnya yang keras juga memenuhi kamarku yang sangat sederhana dan hening, sebuah kamar tamu bernomor “A” yang bersebelahan dengan “slot” yang menghubungkan kapel dengan hermitage. Sebetulnya aku masih lelah. Tetapi kukuatkan hati untuk bangun dan beranjak ke kamar mandi. Untunglah air hangat bersama udara dingin membangkitkan kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapel di pertapaan ini tidak besar. Sebuah kapel khas monastik. Berbeda dengan susunan gereja pada umumnya dimana bangku di letakkan menghadap altar, bangku-bangku atau stal yang digunakan oleh para rahib, yaitu semacam kubikel, tidak menghadap ke altar melainkan terletak di sisi kiri dan kanan ruangan saling berhadapan. Setiap sisi terdiri dari beberapa stal dengan 2 tingkat : satu deret di muka dan satu deret lagi di belakang dengan posisi yang lebih tinggi. Kubikel-kubikel itu tampaknya semacam properti pribadi bagi pemiliknya : tempat mereka bersamadi baik dalam posisi berlutut, bersila, duduk, maupun berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian muka adalah altar dengan sebuah tabernakel berhiaskan ukiran kayu di sekelilingnya yang menggambarkan Santa Perawan Maria. Sebuah tongkat salib di letakkan di muka mimbar. Di antara altar dan stal terlihat sebuah tali menjuntai dari plafond ke lantai yang ujungnya dikaitkan pada sebuah hook di dinding sebelah kanan. Tali itu yang menggerakkan lonceng di dalam cupola di atas altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu demi satu para rahib memasuki ruangan dan menempati stal masing-masing. Mereka memakai jubah putih dengan skapulir dan kerudung hitam. Sambil menunggu ibadat dimulai mereka bermeditasi atau berdoa. Tepat jam menunjukkan pukul 6 pagi secara serentak mereka dan kami semua yang ada berdiri, dan berkumandanglah kidung pembuka dalam alunanan nada gregorian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Tuhan, bersegeralah menolong aku.&lt;br /&gt;Tuhan, perhatikan hambaMu ini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diikuti membungkukkan badan seraya berucap :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus.&lt;br /&gt;Seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.&lt;br /&gt;Amin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kidung inilah yang selalu dikumandangkan pada setiap ibadat mengawali antifon dan mazmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mengisi waktu dengan tidur atau sekedar mencecap keheningan. Betul-betul sunyi tempat ini. Di dalam kamar, kalau tidak terdengar suara senda gurau para karyawan pertapaan di luar, waktu rasanya seperti berada di titik nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membolak-balik halaman beberapa buku yang kubawa. Tapi entah kenapa hatiku seperti menolak membaca. Ada perasaan ingin tinggal diam. Merasakan segala yang ada di tempat ini yang berbalut kesunyian. Berserah. Membiarkan diriku digerakkan oleh sebuah daya yang entah harus kusebut apa, tetapi kurasakan ada. Daya itu hadir seperti angin tetapi aku tidak tahu kemana dia datang atau pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesunyian makin terasa karena saat ini memang tidak banyak orang luar yang datang ke tempat ini. Hanya beberapa kelompok kecil yang datang dan pergi. Selebihnya hanya tiga orang yang kutemui, dua di antaranya adalah seorang pastor dan seorang bruder dari sebuah konggregasi yang berbeda. Merekalah teman bicaraku di pertapaan ini, itupun kami lakukan hanya saat makan. Kami juga tidak banyak membicarakan hal-hal yang bersifat rohani, karena - meski aku tidak tahu persis - tetapi bisa menerka tujuan mereka tinggal di tempat ini selama satu bulan, yakni ingin hadir di dalam keheningan dan diterima seperti apa-adanya mereka dan bukan karena status yang mereka sandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusempatkan juga mengunjungi makam yang terletak di sebuah bukit. Entah mengapa makam selalu menawarkan sebuah nilai tersendiri bagiku. Di dalamnya seringkali bukan kengerian yang aku dapat melainkan kedamaian. Seperti halnya dini hari tadi waktu aku menginjakkan kaki di sini, sembari menunggu disediakannya kamar aku berkanjang ke makam. Dalam kegelapan dan dingin di bawah pohon-pohon besar nan tinggi aku duduk terpekur sendirian. Hening dan tenang sekali. Sejauh mata memandang yang tampak hanya nisan dan salib berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga mengisi hari dengan bercanda dengan tiga orang rahib dan berbincang cukup serius dengan Pastor Magister. Berbeda dengan tiga rahib yang gemar bercanda itu, yang ditugaskan – atau tepatnya diperbolehkan keluar dan menerima tamu, Pastor Magister yang berdarah Batak lebih berkesan serius. Simple, to the point, dan seperlunya. Sedikit sekali kulihat senyumnya. Tatapan matanya sangat tajam sedang kalimat yang keluar dari mulutnya jauh dari hal-hal romantis seakan mengatakan kepada semua orang yang ditemuinya :”Hey, bangun!! Jangan bermimpi terus!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kulihat juga Romo Abbas atau pemimpin biara ini berbincang dengan para karyawan dengan bahasa Jawa, mengingatkanku akan sosok Mak Kuwat, Mbah Kasan, atau penduduk desa Gulurejo di Kulon Progo 10 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blasius juga menemaniku. Beberapa kali dalam hari ini dia datang untuk memberikan beberapa informasi tentang kehidupan di pertapaan ini, yang berada di bawah panji sebuah tarekat atau ordo yang sudah berumur ratusan tahun. Mereka menamakan komunitas mereka Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae, tetapi orang-orang mengenalnya sebagai Trappist, sesuai nama tempat komunitas ini didirikan, yaitu di La Trappe Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan para rahib Trappist itu biasa saja. Tidak ada yang sensasional di dalamnya. Tidak ada mujizat-mujizat atau penyembuhan, juga kekuatan-kekuatan supranatural. Yang ada hanyalah orang-orang yang bekerja di perkebunan, pembuatan roti, dan peternakan. Berkotor-kotor mereka. Lebih banyak melakukan pekerjaan tangan daripada bergelut dengan teknologi canggih. Dan di sela pekerjaan-pekerjaan untuk sekedar mempertahankan hidup tersebut mereka melakukan doa dan tapa yang mereka sebut sebagai tugas utama. 6 kali dalam sehari ditambah 1 kali ekaristi. Semuanya dilakukan dalam balutan kesunyian yang mereka katakan sebagai silentium magnum. Ini adalah metode askese. Salahsatu cara untuk mengembangkan relasi manusia dengan penciptanya dengan memposisikan diri sebagai pendengar. Apa yang didengar? Adalah suara Sang Pencipta yang diyakini begitu lembut dan hanya bisa ditemukan didalam keheningan. Tetapi bagi para rahib, lebih dari mendengarkan, mereka merelakan diri untuk menjadi kosong agar bisa diisi oleh daya penciptanya. Secara bertahap, bersama kemanusiaannya yang tidak bisa disangkal dan juga terus hidup, mereka berupaya menjadi alat bagi Sang Adi Kodrati. Dan seringkali temuan atau lebih tepatnya tujuannya adalah menjadi sebentuk alat bagi kehidupan dunia yang begitu sederhana. Ibarat bunga di tengah belantara yang harus tetap tumbuh indah meskipun tidak ada yang melihat. Ibarat air sungai yang harus tetap mengalir agar sistem berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak selalu keheningan dan kesunyian di sini memberikan ketenangan jiwa kalau sang pelaku belum menerima diri apa-adanya sebagai seorang rahib. Menjadi seorang rahib tidak berarti menjadikan mereka suci”, demikian penjelasan Romo Magister kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga pikirku. Pun doa-doa yang didaraskan mungkin terasa indah bagi mereka yang sesekali mengunjungi tempat ini, terlebih bagi mereka yang mencari penghiburan. Tetapi sebaliknya bisa menjadi sebuah kebosanan bagi mereka yang melakukan secara berulang-ulang setiap hari. Mengulang. Melakukan hal yang sama setiap hari. Hening dan hemat bicara setiap hari, mendaraskan mazmur setiap hari, tidak keluar dari biara, bertemu orang yang itu-itu saja. Konflik antar anggota komunitas sangat dimungkinkan mengingat mereka adalah manusia biasa yang terus belajar. Dan kudengar pula ketika kesadaran itu muncul, yaitu kesadaran bahwa ternyata yang mereka lakukan (menjadi seorang rahib) adalah hal-hal lumrah, biasanya di titik ini rasa kering pada jiwa akan menyelinap. Bahkan yang lebih mengerikan adalah desolasi, sebuah perasaan yang jauh dari Sang Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam sebelum ibadat Completorium.&lt;br /&gt;Seperti biasa, aku bertemu dengan kedua temanku. Bagaikan basa-basi kutanyakan apa perasaan mereka tinggal menyepi selama sebulan di tempat ini. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir mereka. Cukup jelas buatku. Dan pembicaraan kami berlanjut ke topik Blasius – si rahib yang selalu gembira itu :&lt;br /&gt;“Siapapun yang datang kemari pasti kenal Blasius. Orang itu selalu gembira. Eh, dengar-dengar dulu dia kos tempat Kakekmu di Yogya?”. Bruder Thomas bertanya yang hanya kujawab dengan anggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahnya lagi :” Tadi siang dia sempat cerita tentang Kakekmu yang sederhana dan tegas dan Nenek yang pintar membuat bawang goreng. Dia juga cerita masa-masa kuliahnya. Ternyata dia seorang insinyur sipil ya? Teman wanitanya pun banyak katanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa. Di tempat ini Blasius memang terkenal humoris dan apa-adanya. Dia suka mencandai tamu-tamu yang datang. Dia juga sigap dan cerewet seperti bebek. Kelakuannya seakan menjelaskan kepada kami bahwa pertapaan Trappist bukanlah tempat angker. Tapi satu yang mengesankanku yang melebih dari kesan umum yang kami tangkap tentang para rahib di sini adalah Blasius begitu menghayati perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans Harjawiyata, seorang rahib senior yang sedang melakukan studi spiritualitas Zen di Jepang pernah mengatakan bahwa hanya 20 persen rahib saja yang bisa bertahan di tempat ini. Sisanya memilih jalan hidup masing-masing di luar. Dan bagi mereka yang bertahan tidak berarti perjuangan selesai. Proses membentuk akan terus dialami dengan segala tegangannya yang kadang meluapkan semangat tetapi tidak sedikit menyesakkan. Di titik ini faktor penyerahan menjadi kata kunci dengan tetap mengindahkan sisi kemanusiaan yang meronta. Tentu ini tidak mudah, karena siapapun dia jika masih menganggap dirinya manusia tidak akan menipu diri bahwa menyerahkan dan mempercayakan diri kepada Daya Yang Tidak Tampak bukanlah persoalan mudah, semudah membuka pintu dan masuk ke ruang yang lain, atau semudah mengucapkan kalimat pujian yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam diri Blasius yang gembira dan humoris. Tidak dengan begitu saja kegembiraan dan kesadaran akan peran diraihnya. Dalam kerut wajahnya aku seakan melihat jejak-jejak pertarungan yang hebat antara dirinya dengan tuhannya yang bermuara kepada kekalahan dan sikap menyerah. Menyerah penuh kelelahan yang lambat-laun mengurai rasa amarah yang telah puas diledakkan menjadi api-api kecil yang tidak berarti, berganti menjadi udara sejuk yang menidurkan, memberi peluang kepada seseorang untuk menyelinap. Maka beruntunglah dirinya karena si penyelinap tak lain adalah seseorang yang telah bertarung dengannya. Yang tidak menjarah dan pergi melainkan menempati dan menaburkan benih-benihnya. Fiat Voluntas Tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini di kamar tidur seusai ibadat Completorium, setelah bersama para rahib menerima percikan air suci dari romo Abbas hatiku merasa segala sesuatu di tempat ini sangat biasa. Tidak ada gejolak yang membangkitkan gairah rohani. Tetapi kuingat juga saat masih kecil orangtuaku mengajarkan bahwa mensyukuri hidup yang sebenarnya bukanlah merayakan suatu peristiwa yang penuh sensasi tetapi merayakan segala peristiwa yang berlangsung biasa saja. Dan kuingat juga kehidupan bersama para rahib hari ini. Mereka tampak biasa saja. Bersama mereka tidak ada keinginan berlebih untuk membicarakan segala sesuatu yang bersifat rohani atau doa-doa yang berkesan magis. Tetapi jujur dalam hatiku kurasakan bahwa mereka adalah doa itu sendiri, sejauh aku mengimani bahwa doa bukan semata-mata meminta melainkan keberanian untuk bergumul bersama tuhanku dengan cara berani untuk setia menjawab persoalan hidup hari ini yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7940001842384997463?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7940001842384997463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7940001842384997463' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7940001842384997463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7940001842384997463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/07/rawaseneng-12-mei-2009.html' title='Rawaseneng, 12 Mei 2009'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/Svu020jkEQI/AAAAAAAAANY/UDETswfqRxc/s72-c/rawaseneng.001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3243022100922193468</id><published>2009-04-13T02:22:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T10:49:10.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Paskah 2009</title><content type='html'>Tiga hari berada di Yogyakarta. Hari-hari sengaja kuisi dengan rileks. Kegiatan lebih banyak terfokus pada perayaan Paskah, pun kalau itu berbentuk perjumpaan dengan beberapa orang dan peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati perjumpaan ini bahkan sudah kuawali di kereta Argo Dwipangga ketika berangkat. Menikmati Jakarta yang tenang dan cerah, suasana stasiun Gambir yang ceria : memandang struktur bangunan berwarna hijau, lokomotif buatan General Dynamics yang hilir-mudik, memandang kubah Gereja Imanuel dan beberapa bangunan tinggi di kejauhan, ratusan penumpang yang tampak bersemangat, menikmati kopi hitam bersama kakak di sebuah kedai. Atau berbincang dengan Dibyo-penumpang di sebelahku selama perjalanan, melihat atau tepatnya merasakan suasana setiap stasiun yang kami lewati. Sungguh, aku merasa persinggahan di setiap stasiun selalu memberi suasana eksotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogyakarta keluargaku masih tinggal di daerah yang meskipun di dalam sebuah perumahan, tetapi terletak di pedesaan di kaki gunung Merapi. Jadi suasana dingin, mendung, lembab, hijau, dan sepi sangat akrab dengan diriku. Yang menarik unsur-unsur pegunungan tersebut selain memberi keteduhan dalam jiwa juga menjadi unsur penyeimbang dan menimbulkan kerinduan terhadap unsur kota dan daerah yang bernuansa pesisir di Selatan : kampung Sayidan, Gondomanan, Prawirodirjan, dan Keparakan yang padat, panas, cerah, dan bersih. Begitu pula dengan Kotagede. Selalu saja, wilayah ini menjadi kerinduanku secara khusus. Wilayah Jawa yang teramat tua dan magis. Perpaduan kepadatan bangunan dengan makam ataupun lapangan serta lahan penuh pohon-pohon besar dan tua. Juga tembok-tembok mengesankan benteng yang anggun berpadu dengan jendela-pintu kayu dan teras yang dinaungi atap-atap khas bangunan Jawa berbalut genteng tanah liat. Seluruh unsur yang kujumpai ini terasa betul-betul masuk ke dalam jiwa. Meresap dan mencapai klimaks saat beristirahat sembari membetulkan beberapa sketsa dan minum segelas Jambu Selarong dingin - percampuran antara air jambu biji dengan kayu manis - di sebuah restoran yang berupa bangunan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah mengesankan juga adalah perjumpaanku dengan seorang teman lama. Juli Anto namanya. Kami sudah 9 tahun tidak berjumpa. Dan aku lupa juga bagaimana kami bisa menjulukinya “Badak”. Mungkin karena sepak-terjangnya yang tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badak mempunyai penampilan seorang Jawa sejati. Terlihat dari postur, paras dan logat bicaranya. Kemampuannya beradaptasi dengan penduduk sekampung semakin menguatkan kesan sosial yang menjadi ciri-khas masyarakat Jawa umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebetulan bahwa dia dan keluarganya menetap tidak jauh dari rumah kami. Terletak di kampung pedesaan. Rumahnya sangat sederhana namun indah. Dibangun sendiri dengan beberapa tukang. Berupa dinding bata ekspos yang cukup rapi. Bagian struktur betonnya hanya berbalutkan plesteran semen halus. Struktur kayunya menggunakan glugu atau kayu kelapa. Untuk pintu dan jendela dia menggunakan kayu jati muda tanpa finishing sama sekali. Sangat alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperkenalkan keluarganya. Nila istrinya sudah kukenal. Tetapi Kinanti anak perempuannya baru kulihat. Seorang perempuan kecil yang pintar dan menggemaskan. Mahir menggambar. Goresannya berani dengan komposisi yang cukup apik, bahkan matang bagi anak seumurnya yang baru memasuki sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang di teras menghadap lapangan kecil dengan beberapa rumah dan pepohonan di sekelilingnya. Dua cangkir kopi hitam panas dihidangkan. Juga tahu goreng yang dibuat dan dimasak sendiri oleh Nila. Angin segar mengalir memberi kesejukan.&lt;br /&gt;Tentu saja setelah sekian tahun tidak bertemu pembicaraan diawali oleh hal-hal romantis. Tetapi tidak berhenti di situ, kami juga berbicara ke masalah pekerjaan yang ternyata sama, baik yang kualami maupun dia alami sendiri, yakni menghadapi kesulitan yang mengancam bidang properti akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala di tengah pembicaraan dia bertegur sapa dalam jarak jauh dengan penduduk yang lewat. Atau seorang tetangga yang membereskan gabah yang dijemur beralaskan tikar. Sekerumunan kecil orang pulang dari acara pernikahan lewat, berpapasan dengan tiga orang anak bersepeda, salahsatunya adalah Vincent yang mengajak Kinanti bermain sepeda. Tidak lama mereka berputar-putar di lapangan. Kinanti memamerkan kemahiran bersepeda di hadapan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badak tertawa.&lt;br /&gt;”Belum lama dia bisa naik sepeda. Sebelumnya sama sekali tidak berani. Entah kenapa dua hari yang lalu dia minta roda kecil penahan di sepedanya dilepas. Kupikir dia mau belajar dan aku maupun Nila mesti memegangi bagian belakang sepedanya. Ternyata tidak”, katanya sembari membenahi jemuran di samping teras. Angin nakal meluruhkan beberapa pakaian yang dijemur.&lt;br /&gt;Dia bercerita pula tentang kemampuan Kinanti dalam menggambar yang diperoleh secara otodidak. Juga tentang Nila yang bekerja di kota Klaten, yang saban hari harus menempuh jarak 80 kilometer pergi-pulang menggunakan kereta api. Sangat mandiri. Atau tentang pemilik workshop tempat dia bekerja, seorang berkebangsaan Belanda, yang tidak mau bersikap realistis terhadap kondisi lapangan di Indonesia sehingga produk perabot mereka yang diekspor ke Inggris pelan-pelan mengalami penurunan mutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh perjumpaanku dengannya aku melihat bahwa Badak atau Juli Anto secara sekilas tidak berubah dengan 9 tahun silam saat masih membantuku membuat maket sebagai bahan studi akhirku. Tetapi dia bertumbuh dan berkembang. Dia mempunyai anak dan istri, mempunyai rumah yang sederhana tetapi asri, pekerjaan yang walaupun tidak memberinya harta melimpah tetapi toh mampu menghidupi keluarga dengan baik. Tetapi yang lebih menarik hatiku adalah otentisitas dia yang terjaga : nilai sosial yang dimilikinya dan kesetiaannya terhadap kesederhanaan hidup dan keluarga yang justru membuatnya bertumbuh. Salahsatu nilai dari kesetiaan yang hidup diantara nilai-nilai yang berkembang kearah hedonisme yang tumbuh di jaman modern akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika dalam ibadat Jumat Agung, pastor selebran yang memimpin upacara mengatakan bahwa tiga hari suci yang dilalui layaknya sebuah retreat, aku mengamininya. Memang selama mempersiapkan Paskah aku tidak selalu mampu berbuat dengan benar. Jatuh dan bangun selalu ada. Tetapi mempersiapkan Paskah tidak selalu terkunci dengan pandangan sempit pada masalah keberdosaan tetapi bagiku lebih kepada menjaga sikap atentif agar bisa mendengarkan suara Sang Pemberi Hidup yang justru ditemukan dalam perjumpaan dengan orang lain dan peristiwa dalam hidup sehari-hari. Sangat manusiawi. Dan Juli Anto yang setiawan, dalam kehidupannya yang sederhana, mengingatkan aku bahwa hidup haruslah dijalani dengan setia penuh syukur, betapapun sederhana ritme dan pengalaman yang dialami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3243022100922193468?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3243022100922193468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3243022100922193468' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3243022100922193468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3243022100922193468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/04/paskah-2009.html' title='Paskah 2009'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-8726376331846496631</id><published>2009-03-20T00:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T01:03:13.892-07:00</updated><title type='text'>Equilibrium (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/ScNMcQCqkpI/AAAAAAAAAMA/CsHGM_Wv8IE/s1600-h/TR_monk13-in-Cloister.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315176033453511314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/ScNMcQCqkpI/AAAAAAAAAMA/CsHGM_Wv8IE/s320/TR_monk13-in-Cloister.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Calabria Serra, March, 2009&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sunyi sekali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pagi ini , dalam penelitian batin, aku menjawab dorongan hatiku untuk menyelami lebih jauh perkara diriku dengan Dia yang memanggilku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di hari-hari yang lalu aku merasa sungguh berada di hadapan wajahNya, bahkan dalam kesepian yang dalam sekalipun, juga di dalam pekerjaan sehari-hari. Aku merasa dijaga dan hangat di dalamnya. Tetapi pagi ini sebersit pertanyaan di hati muncul :"benarkah aku yakin bahwa Dia ada di hadapanku dan aku berada di hadiratNya?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Damai. Kata pertama yang kubisikkan kepada diriku setelah melihat lebih jauh dorongan yang muncul dalam batin, juga untuk menyadari kehadiranku dalam pagi yang dingin hari ini. Sadar bahwa aku ada, bergerak, bernafas, dan hidup.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pandanglah Dia. Ajakanku kepada diriku untuk hadir di hadiratNya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tetapi entah kenapa aku berhenti setelahnya, dan muncul dalam hati suatu kalimat yang begitu lembut, membisikkan kata-kata yang menggoncang hatiku :"rasakan lebih dalam ... dan dalam ... lebih dalam di lubuk hati ... Coba sejenak lepaskan pikiranmu dan bertanyalah kepada hatimu yang terdalam : apakah aku percaya bahwa Dia ada? Apakah benar Dia ada di hadapanku?" Lalu, seperti tak ada pilihan lagi dan aku menjawab :"Dia tidak ada. Maafkan aku, tetapi aku merasa Engkau tidak ada. Engkau begitu sulit kuraih". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lonceng berdentang. Tanda ibadat pagi hendak dimulai. Dan hatiku merasa sunyi sekali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-8726376331846496631?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/8726376331846496631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=8726376331846496631' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8726376331846496631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/8726376331846496631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/03/equilibrium-2.html' title='Equilibrium (2)'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/ScNMcQCqkpI/AAAAAAAAAMA/CsHGM_Wv8IE/s72-c/TR_monk13-in-Cloister.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7323753294587471767</id><published>2009-03-10T01:14:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T01:29:36.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Orang-orang Pinggiran (1)</title><content type='html'>Kemarin sore menyempatkan diri nonton Slumdog Millionaire, sebuah film karya Danny Boyle. Di sini aku tidak akan mengupas sisi sinematografi film tersebut melainkan hanya terkesan dengan setting area kumuh di negara India seperti yang tersaji di film tersebut. Bisa dibayangkan betapa mengerikan hidup di tengan himpitan petak-petak rumah berukuran kecil berdekatan dengan tumpukan sampah yang menggunung. Tidak ada ruang privasi yang memberikan unsur reflektif.&lt;br /&gt;Malam harinya setting tersebut masih terus bergaung dalam pikiranku. Maka, sambil mencecapi aku teringat oleh beberapa figur kumuh seperti pada film itu yang pernah hadir mengisi kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pak Andreas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 aku memperoleh ajakan dari Ibu Wardah Hafidz untuk hadir bersama teman-teman UPLINK dalam sebuah workshop 3 hari di Surabaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat “Stren Kali”. Panitia Workshop yang dibantu oleh beberapa profesional berupaya mengajak mereka untuk mau peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya : menjaga kebersihan, tidak melawan aturan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan, meningkatkan kualitas lingkungan dengan dana yang sebagian disediakan secara mandiri. Dengan cara-cara itu panitia berharap pemerintah tidak bertegar hati melainkan mau memberi mereka kesempatan untuk hidup secara layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam workshop banyak wakil masyarakat yang hadir meskipun tidak seluruhnya mempunyai kesadaran yang sama. Ada yang betu-betul bersemangat tetapi banyak juga yang sekedar basa-basi sembari melihat kemana arah angin berhembus. Menguntungkankah atau justru sebaliknya? Dan dari sekian profil yang muncul hanya satu yang kuingat paling bersemangat, yaitu Pak Andreas. Saya lupa latarbelakangnya, tetapi tampaknya dia mempunyai kesadaran untuk menyelamatkan lingkungan dan huniannya dari gempuran pemerintah. Pola pikir yang dia miliki sering berbeda dengan konsep yang diusung panitia dan para konsultan. Dalam beberapakali percakapan aku menangkap ada dorongan dari diri Pak Andreas untuk melawan kebijakan pemerintah, semisal mengkritisi teori mengenai daerah aliran sungai (DAS) yang disampaikan oleh seorang pakar dalam sebuah diskusi ilmiah dimana Pak Andreas diundang hadir. Mereka juga mengusulkan ide-ide yang betul-betul melawan peraturan. Bukan sikap mengkritisinya yang menjadi perhatianku melainkan ada kecenderungan menolak dialog. Ada semacam kemarahan dalam diri mereka sebagai orang tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan workshop aku melihat panitia mencoba untuk bersikap netral dengan cara melayani dan menerima ide-ide mereka yang ekstrem untuk kemudian dibimbing ke arah yang lebih realistis dan tidak melawan aturan. Kulihat juga para konsultan begitu sibuk membuat beberapa gagasan. Dalam kamar tidurpun aku sempat berdiskusi dengan beberapa arsitek seperti Cahyo Bandhono dan Antonio Ismael. Mereka tidak berhenti membuat sketsa dan mengontak beberapa relasi di pemerintahan untuk mencari tahu mengenai aturan-aturan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu titik dimana terjadi semacam kejenuhan.&lt;br /&gt;Waktu sudah mendekati batasnya. Pak Andreas dan beberapa penduduk tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Panitia dan konsultan kehabisan energi untuk meladeni mereka. Beberapa dari wakil masyarakat yang hadir ternyata tidak memberi dukungan kepada Pak Andreas dan Panitia karena akan terkena dampak kerugian terhadap asetnya (baru kutahu bahwa dalam tubuh masyarakat kawasan kumuh tersebut tidak seluruhnya miskin, melainkan seperti mafia - yang bukan penduduk setempat - yang memanfaatkan tanah untuk menjalankan bisnis yang seringkali tidak dibenarkan secara aturan lingkungan). Tetapi ada pula beberapa dari penduduk tersebut yang betul-betul miskin. Mereka hanya bisa berdiam diri. Sepertinya betul-betul bodoh dan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin larut. Kulihat beberapa rekan Panitia dan Konsultan surut mengundurkan diri. Lelah dan buntu. Dan Pak Andreas? Aku melihat dia bagaikan orang yang terseret arus banjir bandang. Berteriak keras minta tolong tetapi suaranya kalah dengan deru air. Berusaha memberontak untuk menyelamatkan diri tetapi semakin dia bergerak semakin pula masuk ke pusaran yang menariknya hingga hilang. Dan kami - tepatnya aku – seperti melihat Pak Andreas yang menggelepar. Aku melihat dia berteriak tetapi suaranya makin hilang digantikan alunan musik jazz yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mang Ucha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat, tepatnya tanggal 1 Juli 2007, aku mengatakan kepada karibku Thay bahwa aku memperoleh hadiah ulang tahun yang spesial : membuat skesta hunian kecil untuk 7 orang penduduk yang tinggal di kolong jembatan di wilayah Muara Karang yang beberapa hari sebelumnya terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Jakfar mengirim sms kepadaku untuk meminta dibuatkan rancangan rumah penduduk tersebut. Jakfar sendiri adalah petugas lapangan Urban Poor Consortium. Posturnya kecil, berwajah khas penduduk Timur-tengah, dan tampak seperti seseorang yang militan. Aku sendiri saat itu masih bekerja di sebuah konsultan arsitektur yang cukup ternama yang biasa mengerjakan pesanan bangunan megah dan mahal. Maka, menerima tawaran Jakfar untukku seperti menerima kado spesial. Tentu saja aku sadar bahwa tidak mungkin aku melakukannya sendiri – yaitu masuk dalam dunia yang betul-betul berbeda – dan untuk itu aku meminta bantuan Cucu Surya, seorang sahabat yang juga seorang arsitek.&lt;br /&gt;Maka untuk selanjutnya kami berdua beberapa kali datang ke perkampungan kumuh di persilangan jembatan tol menuju Cengkareng. Di tempat inilah untuk pertamakali kami bertemu dengan Mang Ucha dan beberapa kepala rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Ucha kutaksir berumur sekitar 40-an tahun. Posturnya kekar dan agak pendiam. Namun demikian, berbeda dengan beberapa penduduk lainnya, dia bersikap cukup simpatik. Bukan yang lainnya tidak simpatik dan ramah, hanya kadangkala aku menyadari perbedaan strata membuat mereka seakan menaruh curiga kepada orang luar yang dianggap lebih mapan. Pun terhadap teman-teman dari Urban Poor Consortium yang lebih kerap berinteraksi, tidak semua penduduk menerima dengan baik. Pemikiran mereka mungkin cenderung praktis dan berharap bantuan yang bersifat instan tanpa harus melalui beragam penyuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rumah di pemukiman ini umumnya terbuat dari kayu triplek dengan struktur batang kayu. Tidak ada pondasi yang kuat kecuali tumpukan bata sekedar sebagai pengikat bangunan. Tiang perkuatanpun hanya berupa tiang beton bermutu murah. Begitupula dengan yang terjadi pada rancangan baru yang kami buat. Semua gagasan yang kami berdua sampaikan seakan ludes oleh kebiasan dan faktor ekonomi tentunya. Sebelumnya terbayang olehku untuk menerapkan struktur-struktur kayu nan luwes a la arsitek Mangunwijaya. Cukup mahal memang, tapi kami pikir bisa direduksi dengan cara memamnfaatkan material yang lebih murah pada elemen penutup bangunannya. Begitupula dengan pencahayaan dan penghawaan. Betul-betul kami pikirkan. Tapi kami disadarkan juga, dan diberi sebuah pelajaran berharga tentunya, bahwa ilmu dan kemampuan yang kami miliki tidak serta-merta mudah diterima oleh mereka. Memang mereka gembira karena baru kali ini mempunyai rumah yang digambar oleh arsitek. Bahkan sketsa-sketsa kami yang begitu sederhana menjadi barang berharga bagi mereka. Tetapi di luar dugaan kami semua itu tidak lebih dari sekedar konsep belaka. Mereka seakan betul-betul memahami apa yang mereka inginkan karena mereka juga yang mengerjakan sendiri. Beberapa bahan yang dibelipun juga bukan dari kualitas yang baik, bersanding dengan material lama yang masih bisa digunakan. Tapi tak mengapa. Baik aku mapun Cucu betul-betul bersyukur diberi kesempatan untuk memahami nilai arsitektur dari kacamata yang sangat berbeda namun hidup, yang diwujudkan oleh Mang Ucha dan kawan-kawan. Selebihnya dialog-dialog dengan merekalah yang aku nantikan. Seperti pada suatu sore aku belajar apa artinya berjiwa besar :&lt;br /&gt;Mang Ucha bercerita bahwa kebakaran terjadi saat semua orang pergi bekerja sehingga rumah sepi. Mang Ucha sendiri saat itu sedang pergi berjualan makanan gorengan seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang aneh di pagi itu. Ketegangan terjadi saat pulang ke rumah, masing-masing penghuni menemukan rumahnya sudah menjadi arang. Beruntung panas yang ditimbulkan tidak merusak struktur beton jalan tol di atasnya. Tetapi dari pihak mereka dengan terjadi kebakaran saat rata-rata orang pergi maka tidak ada yang menyelamatkan harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba bertenggangrasa dengan mereka. Itulah awalan yang umum dilakukan oleh orang-orang yang hendak peduli, termasuk kami. Mencoba menyelami pemikiran mereka, bahkan ada kecenderungan membela. Seperti halnya kami mencoba mengupas informasi yang umum terjadi pada peristiwa kebakaran kawasan kumuh, yaitu disengaja oleh oknum tertentu. Kami mencoba menanyakan hal-hal seperti itu kepada Mang Ucha. Tetapi tak disangka jawabannya adalah : tidak tahu (atau sengaja disembunyikan). Selebihnya mereka memilih sikap untuk tidak memusuhi siapapun. Mereka hanya ingin sesegera mungkin bangkit dari keterpurukan, betapapun lelahnya akibat mengalami kejadian yang berulang-kali seperti ini. Betul-betul kado ulang tahun yang spesial bagiku, yaitu belajar arti jiwa besar dari orang-orang yang betul-betul kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian aku memperoleh berita bahwa rumah mereka hampir selesai. Aku dan Cucu berencana membuat dekorasi sebagai unsur estetika dengan membuat lukisan pada atapnya sebagai satu-satunya elemen yang terlihat dari jalan tol. Tetapi sayang, tak lama kemudian Jakfar memberikan informasi terbaru bahwa rumah mereka kembali terbakar. Sampai detik ini aku belum mempunyai kesempatan bertemu lagi dengan Mang Ucha karena terlalu sibuk dengan proyek-proyek besar yang kukerjakan. Aku hanya berdoa semoga dirinya tetap berteguh dengan jiwa besarnya karena itulah satu-satunya harta miliknya yang tidak bisa habis dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;bersambung ...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7323753294587471767?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7323753294587471767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7323753294587471767' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7323753294587471767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7323753294587471767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/03/orang-orang-pinggiran-1.html' title='Orang-orang Pinggiran (1)'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-5223523125303664226</id><published>2009-03-08T10:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T18:22:36.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Jazz dan Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SbP9K1Po76I/AAAAAAAAAL4/3YytJZDaLRc/s1600-h/12051216070.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310866748133142434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SbP9K1Po76I/AAAAAAAAAL4/3YytJZDaLRc/s320/12051216070.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Bro, nonton Java Jazz nggak?”, demikian tanya seorang teman kepadaku di hari Minggu kemarin. Tidak cukup bertanya demikian dia juga menyodorkan koran yang memuat berita pergelaran Java Jazz 2009 yang dihadiri ribuan penonton dan di sisi lain pada koran yang sama, sebuah berita tentang ribuan tenaga kerja Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.&lt;br /&gt;“Ironis ya Bro. Biaya pergelaran dan tiketnya cukup mahal. Banyak uang seakan dihamburkan, tetapi sebaliknya ribuan orang butuh uang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua menyukai musik Jazz meskipun hanya sebagai penikmat. Saya ingat, kira-kira 10 tahun yang lalu musisi jazz Luluk Purwanto bersama Rene van Helsdingen mengadakan tur di beberapa daerah menggunakan Stage Bus. Di Yogyakarta mereka menempati pelataran utara Kraton berdekatan dengan bangsal Pagelaran. Suatu peristiwa yang amat langka terjadi menurut penyair Rendra yang malam itu turut menyumbangkan puisinya. Tetapi yang menarik bagi saya adalah, selain bebas biaya tentunya, pergelaran tersebut dihadiri tidak hanya oleh pecinta jazz tetapi juga orang-orang kampung sekitar yang kemungkinan besar tidak tahun-menahu soal jazz. Beberapa di antaranya adalah beberapa perempuan tua. Profil mereka mirip “mbok bakul” dari desa yang sangat bersahaja : menggunakan kebaya dan kain jarik lusuh yang lazim dipakai para penjual jamu gendong. Mungkin juga mereka adalah penjual makanan seperti jagung bakar, wedang ronde dan lain sebagainya, yang menjajakan dagangannya di malam hari. Malam itu mereka, saya, dan semua audiens duduk di tanah atau berjongkok. Ada yang duduk di pelataran, di teras, atau di bawah pohon beringin tua. Tentu saja kehadiran “mbok-mbok bakul” tersebut menarik hatiku yang bertanya-tanya apakah mereka mengerti tentang jazz?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan Luluk dan Rene indah sekali malam itu. Mereka memainkan beberapa tembang yang salahsatunya sangat saya suka, yaitu tembang tradisional Jawa Ilir-ilir. Tidak berkesan sebagai komposisi musik yang umum karena mereka tidak memainkannya secara utuh melainkan mengambil beberapa penggalan nada yang sangat dikenal oleh masyarakat Jawa dan diolah sedemikian rupa sehingga muncul sebagai sebuah komposisi baru. Sebagai unsur penegasan Jawa, kuingat, Luluk memainkan beberapa alat musik tradisional (yang barangkali bisa disebut juga mainan anak-anak) yang banyak ditemukan di pasar. Dan beberapa kali selama pentas berjalan Rene mengucapkan kata sampun (sudah selesai) atau matur nuwun (terimakasih). Sebuah dialog kecil nan indah. “Mbok-mbok bakul” kulihat tertawa sembari bertepuk tangan. Mereka merasa disapa. Saya rasa mereka tidak memahami jazz sebagai musik melainkan sebagai sapaan. Begitu pula Luluk dan Rene, saya pikir mereka mampu menghadirkan jazz bukan sebagai musik saja melainkan sebagai dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke peristiwa hari Minggu kemarin. Karibku itu mengatakan bahwa asyik juga seandainya kami bisa nonton Java Jazz. “Sebetulnya aku juga ingin. Tetapi uangnya setimpal dengan biaya seragam anakku”, katanya sembari duduk di jembatan kayu yang menghubungkan ruang keluarga dengan dapur. Kakinya diayun-ayunkan, memainkan air kolam. Kupikir tidak salah juga pagelaran Java Jazz diadakan, terlebih bila bisa menaikkan harkat bangsa kita di mata dunia. Tetapi seperti yang kami diskusikan di hari Minggu itu, banyak unsur di dunia termasuk musik jazz ialah tidak lebih dari sekedar sarana dalam hidup yang bisa dipakai untuk mengabdi Gusti Allah, yang menurut pikiran bodohku diwujudkan dalam pengabdian kepada sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Selanjutnya tergantung manusia dalam memanfaatkan semua sarana tersebut. Boleh dipakai untuk kepentingan diri sendiri sesaat atau akan lebih baik jika digunakan untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu dana untuk mengadakan pagelaran lebih baik digunakan untuk membantu orang lain ya Bro?”.&lt;br /&gt;“Wah, nanti apresiasi Jazz di Indonesia bisa berhenti dong”, jawabku&lt;br /&gt;“Atau bisa juga fifty-fifty ya. Hasilnya untuk membantu orang lain yang butuh”, balasnya. “Atau semangat musik jazz dimaknai lain, yaitu dijadikan sarana untuk saling membantu seperti cerita tentang “dialog antara Luluk-Rene dengan mbok-mbok bakul” yang kamu tuturkan tadi? Melalui musik mereka menciptakan sesuatu yang lebih dari musik itu sendiri”.&lt;br /&gt;Entahlah. Pikiranku yang bodoh ini tidak mampu berpikir seperti itu. Hanya mengantuk yang kurasakan saat ini. Apalagi tembang kroncong yang dilantunkan Waljinah yang terdengar sayup-sayup dari sebuah compo serasa memberi ketenteraman batin. Ah!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-5223523125303664226?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/5223523125303664226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=5223523125303664226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5223523125303664226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5223523125303664226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/03/jazz-dan-kehidupan.html' title='Jazz dan Kehidupan'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SbP9K1Po76I/AAAAAAAAAL4/3YytJZDaLRc/s72-c/12051216070.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-5395188134151316604</id><published>2009-02-23T20:07:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T23:25:28.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>"AANGEBONDEN DOOR"</title><content type='html'>Tidak mudah untuk mencari alat transportasi dari Gereja Katedral ke arah Jl. Jend. Sudirman. Busway yang tersedia bisa diakses harus dengan terlebih dahulu berjalan kaki sampai di muka stasiun kereta api Juanda. Cukup jauh. Begitu yang kurasakan di suatu hari Minggu : bingung mencari alat transportasi yang praktis dan murah maka aku berjalan menuju halte busway terdekat. Tetapi sesampai di depan halte kuurungkan niatku. Ada perasaan yang membawaku ingin berjalan kaki menuju arah Harmoni. Kupikir ada apa di sana ya? Apa yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu hari ini? Tiba-tiba terpikir olehku untuk menikmati situasi mendung di tengah suasana alami penuh pohon rindang, dan tempat yang menarik saat ini adalah Museum Taman Prasasti. Kenapa tidak? Di bawah naungan pohon besar di dalamnya aku bisa santai membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Taman Prasasti terletak di jalan Kober wilayah Kebon Jahe. Dulu tempat ini adalah sebuah pemakaman masyarakat Eropa Nasrani. Maka tak heran kalau setting yang ada dibuat seakan-akan tetap sebuah makam Eropa dengan corak yang khas : teduh dan tidak mengesankan ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu hendak memasuki area ini aku sempat berpikir bahwa suasananya pasti sepi mengingat kecilnya minat masyarakat Indonesia untuk mengunjungi museum. Ternyata dugaanku salah. Setelah membeli tiket seharga dua ribu rupiah dan masuk ke dalamnya kulihat banyak anak-anak muda berpakaian a la pesta Helloween. Mereka melampiaskan darah muda dengan berfoto. Seru sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan masuk melintasi prasasti-prasasti makam aku berpikir situasinya tidak jauh berbeda dengan ketika tahun 2006, saat mengunjungi tempat ini bersama dua orang ahli sejarah-perkotaan, yaitu Adolf Heuken-seorang pastor Jesuit dan Budi Lim-seorang urban architect yang sangat aku hormati. Dari merekalah aku memperoleh banyak informasi mengenai makam ini, yang merupakan bagian dari denyut kejayaan Batavia tempo dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan rapi juga tidak. Blok-blok nisan yang ada tidak ditata rapi. Begitupula dengan patung-patung malaikat yang banyak rusak di sana-sini. Tapi sekilas suasana tenang tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya rasa tidak semua yang sekarang ada di sini adalah makam sungguhan. Mungkin tinggal prasastinya", begitu komentar Pater Heuken tiga tahun yang lalu. Tambahnya lagi : "Tapi yang jelas, bagi orang Eropa makam bukanlah sosok yang menakutkan. Banyak makam dikunjungi dan dianggap sebagai taman umum. Kedamaian sejati memang ada di dalam makam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Banyak patung malaikat yang kulihat. Semuanya bagus, indah, dan hampir-hampir dibuat dengan postur yang gagah, kecuali satu-entah kenapa begitu melihatnya aku begitu terpesona-menyiratkan wajah yang welas. Bersujud dengan satu kaki, postur badan kecil, memegang sebuah nampan persembahan. Dia terletak di bagian atas sebuah batu nisan. Tulisan yang tertera, baik pada batu nisan maupun patung tidak seluruhnya jelas, kecuali sebuah kalimat di kaki patung : AANGEBONDEN DOOR. Karena menyukainya maka aku memilih tempat yang sangat teduh ini untuk membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Menjelang pukul 14.00 hujan turun. Aku memutuskan menyudahi kunjungan hari ini. Sesampai di gerbang kulihat lagi kereta kuda pengangkut jenazah. Kembali terngiang kata-kata Pater Heuken 3 tahun yang lalu : "Dulu, orang-orang Eropa membawa jenazah menggunakan perahu lewat kali Krukut. Sampai di ujung kali jenazah tersebut dijemput menggunakan kereta jenazah ini. Selama perjalanan dari kali Krukut sampai makam rombongan pengantar jenazah diiringi bunyi lonceng teng ... teng ... teng ... teng ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan situasi yang diceritakan Pater. Kubayangkan juga situasi sekarang : kali Krukut yang hitam pekat berbau. Mengalir pelan. Di atasnya bertengger halte Busway yang besar dan tidak terawat. Di sebelah kiri-kanannya terhampar jalan raya Hayam Wuruk-Gajah Mada yang penuh dengan kendaraan. Hampir tidak ada lagi bangunan yang baik di tepiannya. Dan bila malam tiba situasinya berubah menjadi tempat aktifitas yang menebarkan aroma mesum. Rasa-rasanya aku juga menyumbang salah di dalamnya, karena sebagai arsitek aku juga tidak bisa membuatnya menjadi lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-5395188134151316604?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/5395188134151316604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=5395188134151316604' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5395188134151316604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5395188134151316604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2009/02/aangebonden-door.html' title='&quot;AANGEBONDEN DOOR&quot;'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1162602813336275405</id><published>2008-12-16T07:16:00.000-08:00</published><updated>2011-06-09T05:41:53.123-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Equilibrium (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4vRL793EI/AAAAAAAAALQ/UMhSNIddU6s/s1600-h/Picture+22.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286714984888130626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 237px; CURSOR: hand; HEIGHT: 202px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4vRL793EI/AAAAAAAAALQ/UMhSNIddU6s/s320/Picture+22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya” – (Ratapan 3 : 26-28)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Namaku Don Paolo. Nama ini diberikan kepadaku delapan tahun yang lalu saat aku resmi hidup di tempat ini, yaitu suatu tempat yang dikenal sebagai &lt;em&gt;Certosa di Serra San Bruno&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Charterhouse of Serra Saint Bruno&lt;/em&gt;, sebuah biara monastik &lt;em&gt;Ordo Carthusian&lt;/em&gt; di pegunungan &lt;em&gt;Calabria Serra&lt;/em&gt; Italia. Nama tersebut diberikan untuk menggantikan nama lamaku Wegig Pangauban karena aku sudah dianggap mati. Tidak ada lagi masa lalu bagiku, juga masa depan. Yang ada hanya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Don” di depan namaku mempunyai arti yang sama dengan kata Dom, singkatan dari &lt;em&gt;Dominus&lt;/em&gt;, yang berarti master atau tuan, yang sering disandangkan pada para rahib. Terdengar mewah penuh kuasa tetapi sebetulnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun yang lalu aku masih menikmati hidup sebagai seorang creative director pada sebuah perusahaan advertising besar di Jakarta. Hidup dari proyek satu ke proyek lainnya, mempunyai gaji besar yang memungkinkan aku untuk memperoleh segala hal yang dapat memuaskan keinginanku sebagai orang muda yang tidak pernah merasa puas. Ketika itu aku merasa sudah menjadi manusia seutuhnya. Semua hal bisa aku raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada juga sisi lain dari diriku, katakanlah, sesuatu yang berseberangan dengan kehidupan glamourku, yaitu betapa aku mencintai keluargaku dan berani memberikan sebagian harta yang aku miliki untuk membantu mereka. Aku juga mempunyai kepedulian terhadap orang-orang miskin. Pernah suatu ketika terjadi peristiwa yang membuat aku begitu menghabiskan banyak energi untuk membantu orang-orang yang rumahnya digusur. Entah kekuatan darimana kuperoleh, aku menghimpun sumbangan dan menyalurkannya. Semua itu kulakukan atas inisiatif sendiri dengan dibantu beberapa orang teman. Tapi peristiwa itu kuceritakan kembali bukan sebagai bentuk kepongahan. Bukan! Aku sedikitpun tak hendak menyanjung diri sendiri. Aku hanya ingin mengatakan bahwa masih bersyukur karena masih diberi sekelumit kecil kemauan untuk berbagi. Dan jujur kukatakan kepadamu bahwa pelepasan energi dalam peristiwa itu sangat menentramkan hatiku. Tapi aku tetaplah aku yang tidak tertarik untuk bergabung dengan teman-teman di sebuah LSM untuk membantu masyarakat kecil. Bagiku hidup tetaplah mesti jelas : mempunyai gaji yang cukup, kenyamanan, dan status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4x4SYaUkI/AAAAAAAAALg/socU6pTDYrc/s1600-h/Picture+20.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286717855656202818" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 246px; CURSOR: hand; HEIGHT: 185px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4x4SYaUkI/AAAAAAAAALg/socU6pTDYrc/s320/Picture+20.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Certosa di Serra, seperti umumnya biara Carthusian lainnya, dirancang menurut prinsip baku Ordo Carthusian yang dibuat oleh bapa pendiri : St. Bruno. Terdiri atas kumpulan &lt;em&gt;hermitage&lt;/em&gt; (sel) yang disatukan oleh &lt;em&gt;cloister&lt;/em&gt; yang berakhir di area bersama : gereja, &lt;em&gt;refectory&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;chapter&lt;/em&gt;. Keduanya dipisahkan oleh pintu masuk menuju area dimana para rahib yang bertugas mengerjakan kebutuhan biara bekerja di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hariku di Serra diisi dengan menerjemahkan buku atau mengerjakan pekerjaan tangan lainnya. Aku mengerjakan itu semua dalam workshop atau sel pribadi, sebuah sel bernomor B, yang merupakan bagian dari kelompok sel rahib yang dipersiapkan menjadi imam atau sering disebut &lt;em&gt;cloistered monk&lt;/em&gt;. Tidak hanya bekerja tetapi juga makan, meditasi, berdoa, dan lectio divina. Semua kulakukan sendiri tanpa berbicara dan bertatapan dengan penghuni sel lainnya kecuali diperlukan, itupun harus seijin dari Don Thierry, &lt;em&gt;Pastor Prior&lt;/em&gt; biara ini atau di kalangan biara &lt;em&gt;Benedictine&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Cistercian&lt;/em&gt; lazim disebut &lt;em&gt;Abbas&lt;/em&gt; atau pemimpin biara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tiba waktu makan, aku pergi ke pintu depan menuju sebuah loket yang bisa diakses dari dalam dan dari luar. Di loket ini rantang makanan yang berisi nasi saffron dan sayuran di letakkan oleh seorang Bruder yang bertugas di dapur. Setelah kuambil aku naik ke lantai atas. Rantang makanan kuletakkan di meja menghadap jendela. Setelah berdoa aku menyantapnya dalam keheningan dan kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Carthusian kami hidup secara &lt;em&gt;solitude&lt;/em&gt; dan menjaga &lt;em&gt;silentium magnum&lt;/em&gt; atau keheningan total. Namun demikian bukan berarti samasekali tidak bertemu dengan penghuni lain. Ada beberapa moment yang memberi kami kesempatan untuk saling bertemu, semisal mendaki gunung, makan bersama setiap hari minggu atau hari raya (sambil mendengarkan bacaan rohani yang dibacakan oleh salah seorang rahib), ibadat ekaristi dan ibadat komunal lainnya. Satu kenangan yang kuingat, delapan tahun lalu, waktu itu merupakan malam awal mula tinggal di tempat ini : aku keluar sel menuju gereja yang berjarak sekitar 100 meter dari cloister tempat aku tinggal untuk mengikuti &lt;em&gt;conventual mass&lt;/em&gt;. Aku berjalan melewati koridor bangunan lama yang gelap sepi dengan diiringi dentang lonceng. Sangat magis tetapi waktu itu aku lebih merasa sebagai sesuatu yang menyeramkan. Ada saat dimana aku bertemu dengan rahib lain di koridor. Namun kami tidak bertegur sapa. &lt;em&gt;Equilibrium&lt;/em&gt;. Ini kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan kami ini. Perpaduan antara &lt;em&gt;senobit&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;eremit&lt;/em&gt;, antara hidup bersama dalam komunitas dengan kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4wli1gFgI/AAAAAAAAALY/V30t2fnSUHw/s1600-h/Picture+19.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286716434144040450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 267px; CURSOR: hand; HEIGHT: 260px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4wli1gFgI/AAAAAAAAALY/V30t2fnSUHw/s320/Picture+19.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di gereja aku bertemu dengan teman-teman sekomunitas. Ada 30 orang rahib di sini. Dua orang dari kami masih baru. Satu orang berstatus &lt;em&gt;postulant&lt;/em&gt;. Dia orang Texas berumur 27 tahun dan satu lagi yang enam tahun lebih tua berasal dari Jepang, sedang menjalani masa novisiat. Ada juga satu orang rahib Orthodox dari &lt;em&gt;Mount Athos Abbey&lt;/em&gt; yang ingin merasakan kehidupan di Serra ini. Kami mengambil posisi pada &lt;em&gt;stall&lt;/em&gt; masing-masing. Mengumandangkan kidung dan pujian yang dilantunkan dalam alunan &lt;em&gt;Gregorian Chant&lt;/em&gt;. Kadang kami duduk, kadang berdiri, membungkuk ketika pujian dilantunkan, atau berlutut yang disebut &lt;em&gt;formae&lt;/em&gt;. Semua dilakukan tanpa iringan musik sama sekali. Memang, berbeda dengan ritual misa pada umumnya, ritual misa Carthusian atau sering disebut &lt;em&gt;missale cartusiense&lt;/em&gt; disesuaikan dengan konsep ordo yang mengutamakan keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Hidup seorang Carthusian adalah hidup dalam keheningan di hadirat Allah. Tugas utamanya adalah berdoa bagi keselamatan orang lain dan dunia. Bukan bagi diri sendiri. Untuk itu sejak awal bergabung Pastor Prior wanti-wanti mengatakan bahwa aku harus menganggap diriku mati dan terus belajar untuk tidak terikat lagi pada dunia. Sel bolehlah dianggap sebagai peti mati. Hubungan dengan keluarga hanya boleh dilakukan tiap 3 bulan (tanpa meninggalkan sel tentunya). Menggunakan internet? Ah, kuingat sewaktu masih bekerja aku bisa tiap jam menggunakan internet. Tapi sekarang hanya dua kali dalam setahun! Begitu juga dengan televisi, radio, atau telfon seluler. Tidak ada kontak samasekali dengan alat-alat itu. Informasi dari luar kami peroleh melalui koran &lt;em&gt;Osservatore Romano&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Avvenire&lt;/em&gt;, atau dari para tamu yang disampaikan melalui Pastor Prior.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Pagi ini adalah minggu kedua menjelang Paskah. Sekujur badanku rasanya sakit sekali seperti hendak demam. Sebetulnya sudah sedari pagi aku bangun, tapi aku betul-betul tersadar ketika mendengar suara &lt;em&gt;traccola&lt;/em&gt; yang dibawa keliling oleh Don Vicario beberapa menit yang lalu. Alat berupa batang kayu dengan roda layaknya mesin pemotong rumput itu berisik sekali suaranya. Memang, pada masa pra-paska, sebagai bentuk penghayatan kepada Kristus menjelang sakratul maut-Nya, gereja tidak mengijinkan bunyi-bunyian atau segala hal yang bersifat meriah. &lt;em&gt;Tuguran&lt;/em&gt; kalau orang Jawa bilang. Larangan tersebut berlaku juga untuk lonceng yang biasa jadi penanda bagi kami. Cara ini menciptakan suasana yang makin sepi. Atau, mungkin juga perasaan sepi itu merupakan luapan hatiku yang didera kesepian yang dalam akhir-akhir ini : Sepi. Doa yang terasa kering dan hambar. Merasa bodoh. Rindu yang dalam akan Indonesia. Dan yang paling mengerikan adalah Tuhan serasa tidak ada. Bahkan, akupun mulai mempertanyakan keberadaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Herman benar. Delapan tahun yang lalu sebelum aku memutuskan meninggalkan dunia hingar-bingar di Jakarta untuk masuk dalam kesunyian di sini karibku itu mengatakan seandainya aku jenuh dengan dunia kerjaku dan ingin lebih banyak berbuat untuk orang lain kenapa harus dengan cara masuk biara dan menyendiri? Bukankah melayani tidak berarti harus menjadi seorang religius? Bukankah dengan berkeluarga dan berkarya sebagai awam di tengah hiruk-pikuk dunia akan lebih memberi banyak manfaat untuk orang lain? Bukankah berdoa bisa dilakukan kapan dan dimanapun, tidak perlu menyendiri? Dan masih banyak bukankah lainnya yang dilontarkan kepadaku. Menghadapi semua pertanyaannya, secara jujur aku tidak mampu menjawabnya. Kuakui semua pendapatnya adalah benar. Dan kuakui juga bahwa semakin aku mendekat pada-Nya dalam keheningan semakin Dia diam. Bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don Thierry, ketika mengunjungi selku, yakni pada awal mula aku diterima sebagai seorang novis, menanyakan banyak hal mengenai keadaanku, terutama tentang hidup doa. Aku menjawab bahwa aku begitu bergembira. Aku katakan bahwa suasana di Serra begitu indah dan hening sehingga aku merasa begitu dekat dengan Tuhan. Doa-doaku terasa meluap indah dan menggembirakan. Tetapi tanpa kusangka jawaban yang diberikan Sang Pastor Prior sangat singkat dengan mimik muka sedikit cemberut. Kuingat dia mengatakan :”Huh, tetapi sayang sekali bahwa Tuhan yang kita ikuti adalah Tuhan yang diam.” Aku bingung dengan arti dari jawabannya. Sampai suatu ketika dia mengunjungi selku lagi dan menanyakan hidup doaku, maka aku menjawab :”Sudah beberapa minggu ini aku merasa kering Pater. Doaku seakan tidak dijawab. Tidak selamanya keheningan memberikan luapan kegembiraan”. Tak kusangka akan jawabannya, dan dia mengatakan :”Bagus. Memang demikian seharusnya. Itu normal bagi kita para Carthusian. Tugas kita adalah berada di dalam keheningan di hadapan Allah. Maka tidak heran kalau Diapun juga diam dan bisu. Tetapi itulah inti sebuah iman, yakni ketika kita percaya bahwa Dia ada bukan karena adanya penghiburan rohani. Percaya bahwa Dia ada bukan karena mukjizat yang dilakukan-Nya melainkan bersikap seperti &lt;em&gt;Centurion&lt;/em&gt; Romawi yang ketika melihat Yesus mati dalam kondisi babak-belur dan kalah, tetapi dia mengatakan : memang betul Dia Anak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, sangat sulit menjalani hidup sebagai rahib yang sehari-hari berada di dalam keheningan, karena bagaimanapun kami adalah manusia normal yang mampu mencinta dan berseksual. Sepuluh tahun yang lalu sebelum aku betul-betul memutuskan memilih jalan hidup sebagai rahib beberapa teman dan keluarga menyarankan aku untuk bergabung dengan salahsatu konggregasi atau serikat religius. Tante Vivi, adik Ayah yang punya kenalan pastor dimana-mana namun hidupnya dipenuhi gosip menyarankan agar aku menjadi imam praja atau diosesan. Seperti Romo Mangunwijaya katanya. Karya dan sepak-terjangnya nyata. Siapa tahu malah bisa jadi paus, atau paling tidak uskup atau kardinal. Kalau menjadi rahib baginya tidak ada gengsinya. Tapi ada satu pendapat yang selalu ditandaskannya, yaitu dia selalu mensejajarkan panggilan dengan kehidupanku sebagai profesional. Baginya seorang yang sudah mengalami asam-garam dalam dunia nyata tentu sulit hidup dalam keheningan. Waktu itu aku sangat setuju dengan pendapatnya, namun lambat-laun aku percaya bahwa bukan itu inti persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akhirnya aku memilih untuk dibimbing oleh salahsatu serikat religius tetapi bukan diosesan. Alasan yang kusampaikan kepada orang-orang adalah karena dalam hatiku kecilku aku tidak ingin menjadi imam. Menjadi seorang religius bagiku tidak berarti harus menjadi imam. Kalaupun menjadi imam hal itu bukanlah tujuan utama. Dan tentang panggilan itu sendiri, ah, entahlah. Sebelumnya samasekali aku tidak berminat menjadi seorang religius. Sama sekali tidak pernah! &lt;em&gt;Vocation&lt;/em&gt; itu justru muncul melalui kakakku yang melihat tingkah polahku. Di matanya, meskipun aku dikepung kehidupan glamor tetapi aku selalu sibuk untuk orang lain sampai-sampai tidak menghasilkan apapun secara finansial. Artinya, tidak ada peningkatan ekonomi. Apalagi berbisnis. Jangankan memperoleh keuntungan, setiap melakukan negosiasi di otakku yang ada adalah hanya ingin membantu dan cukup senang memperoleh ucapan terimakasih. Begitu pula soal relasiku dengan perempuan yang tidak kunjung jelas. Melihat itu semua kakakku menyarankan agar aku memberikan energiku dengan menjadi religius. Awalnya kutampik saran itu seraya mencemooh. Tetapi lambat laun aku merasa seperti bertemu seorang sahabat yang telah lama menungguku, padahal aku sudah meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bimbingan beberapa calon imam di sebuah serikat selama kurang lebih 2 tahun, aku memperoleh banyak hal. Salahsatunya adalah memahami arti hadir di hadapan Tuhan dalam keheningan, seperti halnya Elia yang menemukan Tuhan dalam angin sepoi-sepoi basa. Bukan dalam gempa, guntur, dan api. Tuhan ditemukan dalam kekosongan yang membuat manusia harus menetralkan nilai keduniawiannya. Tuhan ditemukan dalam kerinduan manusia untuk menyatu dengan-Nya dan hadir dihadapan-Nya, bukan untuk meminta-minta melainkan seperti seorang anak yang duduk dalam pangkuan orangtuanya sekedar untuk menemukan kehangatan dan mempercayakan segala hal yang dimilikinya. Tuhan ditemukan dalam kegelapan agar manusia mampu melihat terang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bimbingan mereka pula aku diajak untuk berani melihat jejak-jejak masa laluku, betapapun buruknya. Bukan untuk diratapi melainkan untuk diterima dan diobati. Tetapi yang membuatku terpana dan berteriak halleluya!! adalah dalam semua jejak masa laluku terekam Tuhan yang sedang bekerja. Dia membawaku ke dalam situasi sulit agar suatu saat aku bisa menjadi teman bagi orang yang mengalami hal serupa, seakan-akan menyakitiku tetapi tidak meninggalkan aku. Karena bagaimana mungkin aku bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa di puncak sebuah gunung ada jurang kalau aku sendiri belum pernah ke sana atau bahkan jatuh ke dalamnya? Dalam jejak masa laluku juga terekam peristiwa-peristiwa yang menyatakan bahwa aku mencintai keheningan tanpa menjadi orang gila yang membenci dunia. Bahkan sebaliknya. Sebuah bibit yang membawaku kepada kehidupan biara monastik. Pun dalam kehidupan awam aku percaya bahwa sebuah panggilan sebetulnya sudah disiapkan bibitnya oleh Tuhan sejak awal. Panggilan sekali-kali bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia yang dipanggil. Hal ini yang membuatku akhirnya menolak pendapat Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Kesepian yang kualami, atau lazimnya dialami para rahib, memang bukan seperti penyakit yang bisa diobati begitu saja. Salahsatu cara untuk mengobatinya adalah dengan masuk dan mengenali kehidupan monastik itu sendiri. Spiritualisme dipahami dengan dilakukan secara langsung, mengikuti petuah dari seorang bapa rohani yang sangat terkenal di kalangan rahib, yaitu masuklah ke dalam selmu maka dia akan mengajarkan kepada bagaimana cara bertahan. Masih belum habis keherananku terhadap diri sendiri. Aku dulu yang begitu bebas sekarang mengurung diri dalam kesunyian. Lebih dari itu, aku bahkan memutuskan untuk menerima kaul &lt;em&gt;stabilitas&lt;/em&gt;. Sumpah hidupku adalah untuk Tuhan, sesama, komunitas, dan tempat dimana aku tinggal. Tidak akan berpindah untuk selamanya. Tidak terikat lagi ruang dan waktu. Seluruh waktuku adalah doa sampai aku dan hidupku menjadi doa itu sendiri. Sayangnya, hal itu tidak serta merta membuat kami menjadi orang suci, tetapi sebaliknya kami disadarkan bahwa cara hidup yang kami pilih tidak lebih baik daripada orang lain. Pilihan hidup menjadi seorang rahib atau religius adalah salahsatu cara dari sekian ribu cara mengabdi Tuhan di dunia. Dan itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Pagi ini Pastor Prior mengunjungiku lagi. Kuceritakan kepadanya mengenai kesepian dan kekeringan yang menderaku, tetapi dia cuma tersenyum. Kuceritakan bahwa aku merindukan berelasi dengan perempuan, tetapi dengan sikap kebapakan dia hanya mengatakan bahwa dengan demikian aku adalah laki-laki yang sehat dan normal. Untuk itu sudah sepatutnya aku bersyukur. Dia hanya mengajakku untuk menyerahkan semua yang kurasakan kepada Tuhan dengan jujur dan rendah hati tanpa mencoba untuk berteori, beralasan, dan membela diri. Dengan demikian pikiran dan hati menjadi lebih mudah untuk terbuka terhadap rahmat. Seperti halnya Maria tidak serta-merta bisa menerima apa yang disampaikan Gabriel. Karena kerendahan hati dan keberanian untuk mengakui kekurangannya maka Tuhan memberinya pencerahan. Dan hari ini, dalam ibadat malam bersama, aku betul-betul membayangkan diriku bagai seorang anak yang menghampiri ayahnya, tanpa bicara duduk di pangkuan, masuk dalam dekapan, dan dengan tenang tidur dengan penuh keyakinan bahwa dirinya akan dijaga. Tidak perlu khawatir akan hal lain meskipun tahu bahwa tantangan hidup akan terus menghampirinya. Dalam keyakinan akan bapanya, sang anak melantunkan doa bagi orang-orang yang dicintainya, bagi kota, bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286718812217198562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 138px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4yv92Ux-I/AAAAAAAAALo/gM8wabFBUQE/s320/Picture+21.jpg" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1162602813336275405?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1162602813336275405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1162602813336275405' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1162602813336275405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1162602813336275405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/12/equilibrium_16.html' title='Equilibrium (1)'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SV4vRL793EI/AAAAAAAAALQ/UMhSNIddU6s/s72-c/Picture+22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1287601048073510366</id><published>2008-10-04T08:17:00.001-07:00</published><updated>2008-10-04T08:31:46.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Pulang Kampung</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOeLVfEYd_I/AAAAAAAAAH0/D1rqiVg3Udc/s1600-h/_MG_0530.JPG"&gt;&lt;/a&gt;Pulang kampung selalu menjadi saat yang menggembirakan. Terutama pada masa Idul Fitri suasana kegembiraan pulang kampung seakan muncul pada performa puncaknya. Entah mulai kapan budaya ini muncul, tetapi yang jelas pesta ini dinikmati tidak hanya oleh umat Muslim tetapi juga umat lainnya. Dan kalau boleh aku simpulkan pesta ini sering bukan sebentuk pesta perayaan agama melainkan pesta “kemenangan” kaum urban. Kelegaan luar biasa setelah satu tahun bekerja di perantauan, kerelaan berjuang mati-matian memperoleh cara untuk pulang-bahkan dengan cara yang tidak manusiawi sekalipun, “kekalahan” para pimpinan perusahaan dimana banyak diantara mereka tidak mempunyai kuasa untuk menahan hasrat para karyawan yang sudah sangat mendamba pulang, teriakan kegembiraan bagi mereka yang memperoleh kesempatan dan tangisan bagi yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***&lt;br /&gt;Di proyek tempatku bekerja, satu bulan sebelum hari kemenangan para urban tersebut, suasana pelan-pelan menjadi tidak kondusif untuk bekerja. Suasana begitu santai dan gembira. Semua orang berbicara tentang rencana liburan. Beberapa di antara kami mulai kasak-kusuk cari tahu harga tiket sampai rencana nekat untuk membolos kerja beberapa hari sebelum liburan dimulai. Beberapa lainnya bermalas-malasan. Menikmati suasana dampak menjelang liburan. Tapi dari semua peristiwa itu yang sering kurasakan adalah : ada keakraban di sana-sini. Rata-rata orang tersenyum. Dan yang tidak boleh dilupakan yang menjadi gejala beberapa tahun ini, yaitu pulang kampung menggunakan sepeda motor. Gejala ini mungkin dipicu akibat banyaknya jumlah pemudik yang lebih besar dibandingkan jumlah transportasi yang tersedia, juga harga tiket yang mahal. Sementara itu harga sepeda motor amat sangat terjangkau kaum menengah bawah. Sepeda motor dengan kualitas baik bahkan. Bukan “barang jelek” seperti waktu aku masih kuliah dulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***&lt;br /&gt;Nyu Parwono.&lt;br /&gt;Dia adalah engineer di proyek tempat aku bekerja dulu. Seorang pemuda asal Klaten Jawa Tengah. Umurnya sekitar 28 tahun. Perawakannya sedang agak subur. Pintar dan berdedikasi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyu cukup mapan secara finansial. Kulirik, kemapanannya bukan hasil bekerja selama di Jakarta-meskipun ini juga membantu, tetapi karena dia mempunyai banyak aset di daerahnya : mempunyai beberapa ekor sapi, yang bagi kebanyakan masyarakat merupakan simbol kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi memang bener Pak. Sapi mahal harganya. Bisa mencapai sembilan juta seekor. Nah, saya mempunyai lima ekor. Itu’kan berarti saya punya tabungan sejumlah empatpuluh lima juta rupiah”, begitu Nyu menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah hebat dong. Aku aja ngga punya tabungan sebanyak itu”, jawabku.&lt;br /&gt;“Ah masa sih Pak. Bohong. Tapi ‘gini lho Pak. Sapi itu mendatangkan keuntungan, terutama yang perempuan dan pedhet (anak sapi). Yang perempuan lebih mahal dan aset karena dia akan melahirkan sapi-sapi baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dipiara terus? Lha kapan jadi uangnya?”, tanyaku&lt;br /&gt;“O, ‘gini Pak. Kalau saya butuh uang sapi saya jual.”&lt;br /&gt;“Lalu kamu ijin cuti untuk bawa sapimu ke pasar?”, tanyaku lugu&lt;br /&gt;“O, ndak juga Pak. Saya bisa suruh Paklik yang biasa ngurusi sapiku. Hasilnya kita bagi dua. Atau bisa juga salah seekor sapi betinaku saya kawinkan dengan pejantan milik orang lain. Hasilnya adalah pedhet to? Nah, setelah pedhet lahir saya bagi dua dengan pemilik pejantan tersebut. Dia atau saya bisa pilih. Mau pedhet atau uang pengganti. Kalau saya ambil pedhet maka saya beri dia uang sejumlah harga pedhet, begitu sebaliknya. Mudheng Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbuh. ‘Ra mudheng aku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betul. Tahun ini Nyu menjual sapinya dan membeli sepeda motor baru. Sebuah Honda Tiger keluaran terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah mantap Nyu”, kataku sambil mengelus-elus motor barunya.&lt;br /&gt;“Iya lah Pak. Bakal saya pakai mudik lebaran”, jelasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup kaget mendengar kalimat itu : Bakal saya pakai mudik lebaran. Setahuku Nyu sangat anti mudik menggunakan sepeda motor. Mengerikan katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Honda Tiger je Pak. He-he-he … Tiger Tiger …”, katanya terkekeh sambil menepuk “Macan” barunya. Bangga sekali dia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika aku dan kakakku berada dalam mobil dalam perjalanan pulang ke Yogya dan melihat ratusan sepeda motor melaju di depan kami, bahkan tak segan-segan beradu kuat dan kecepatan dengan mobil yang melaju dengan kecepatan 80 km/jam, aku teringat akan Nyu. Tapi tak apalah. Kupikir Nyu masih muda, seorang diri, dan waras. Masih kuat dan terjaga refleksnya. Dan sepeda motornya itu lho : Honda Tiger 200 cc. Tapi yang terpampang dan ikut beradu kecepatan bersama kami ini kebanyakan menggunakan motor jenis bebek. Meskipun kuat tapi dinaiki oleh dua orang dengan beberapa barang besar yang diikat pada rak tambahan terbuat dari kayu. Semacam sepeda motor long vehicle jadinya. Belum lagi ransel di punggung pembonceng dan di antara kaki pengemudi. Bahkan yang lebih mengerikan adalah mereka membawa anak (banyak di antaranya masih balita bahkan bayi!), di letakkan di antara Ayah dan Ibunya. Muka menghadap dada sang Ibu. Terjepit, dibungkus jaket dan kain selimut dengan kaki mengangkang. Ah, sesak sekali. Dan mereka harus melakukan perjalanan selama lebih kurang 16 jam! Menghadapi angin, hujan, terik matahari dan dingin. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akupun pernah melakukan hal serupa juga di pertengahan tahun 2006. Tapi saat itu kondisi fisik dan sepeda motorku sangat prima. Dan yang paling penting adalah aku pergi sendiri dan tidak ada target waktu sehingga memungkinkan “berjalan” santai di jalan yang tidak macet karena bukan libur lebaran. Tapi jujur, perjalanan terasa berat. Pada awalnya gembira. Tetapi ketika fisik dan pikiran mulai lelah dan benda-benda bawaan mulai bergeser dari tempatnya rasa aman mulai berkurang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOeJx6dLIpI/AAAAAAAAAHs/JYMMQvW96p8/s1600-h/_MG_0521.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253318980949189266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="180" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOeJx6dLIpI/AAAAAAAAAHs/JYMMQvW96p8/s320/_MG_0521.JPG" width="284" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sering kudengar banyak komentar mengenai cara pulang kampung seperti ini : tidak masuk akal. Bodoh! Pun aku juga sedih demi melihat mereka, terutama yang membawa anak kecil. Tak jarang kudengar dari koran dan televisi bahwa banyak di antara mereka yang mengalami kecelakaan atau sang anak meninggal karena sakit dan sesak terhimpit. Kalau sudah begini apalah makna pulang kampung untuk berlebaran?&lt;br /&gt;Tapi dalam beberapa hal aku juga mencoba berempati demi apa mereka melakukannya. Memang mahal harga sebuah kemerdekaan dan kegembiraan. Memang mahal harga yang harus diterima dari kemisikinan akibat ekonomi yang tidak dikelola dengan baik. Memang mahal harga pendidikan yang menyebabkan kebodohan dan cara pikir yang sempit.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1287601048073510366?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1287601048073510366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1287601048073510366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1287601048073510366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1287601048073510366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/10/pulang-kampung.html' title='Pulang Kampung'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOeJx6dLIpI/AAAAAAAAAHs/JYMMQvW96p8/s72-c/_MG_0521.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7523937399589169717</id><published>2008-10-02T10:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T17:13:21.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Rawaseneng, 2 Oktober 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOUMI6UmknI/AAAAAAAAAHk/kF6YovIh4ss/s1600-h/2502710463_272d62398e.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252617887631708786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOUMI6UmknI/AAAAAAAAAHk/kF6YovIh4ss/s400/2502710463_272d62398e.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mendung cukup lama menggantung di atas Kandangan Rawaseneng di wilayah Temanggung. Memberikan kesan dingin di area pemakaman di tempat aku berdiri, setelah beberapa saat sebelumnya mengikuti ibadat sore dengan menyanyikan doa serta mazmur dan ditutup dengan nyanyian Salve Regina yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rahib menyapaku. Kutebak usianya berkisar 70-an tahun. Saat itu dia sedang duduk berbincang dengan dua orang perempuan. Melihat kehadiranku mereka lantas mempersilahkan aku bergabung. Maka kamipun berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tema serius. Pembicaraan lebih banyak mengarah kepada hal-hal yang bersifat nostalgia dan menyenangkan meskipun kadangkala ada beberapa tekanan serius dalam cerita yang keluar dari mulut sang rahib tua tersebut. Tetapi itu tidak banyak, dan bisa jadi suasana santailah yang dibutuhkan : menikmati keheningan dan mengendapkan hati, sesekali berbagi pengalaman untuk bersama-sama belajar didengar dan mendengarkan. Tapi bagiku yang baru berkenalan dengan mereka hal tersebut bukan menjadi sesuatu yang penting. Diterimanya kehadiranku itulah yang kurasa lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik arloji. Hampir pukul 18.00. “Hmm, saatnya pulang”, pikirku. Ketika berpamitan aku mendengar ada sedikit kalimat keluar dari mulut sang rahib yang memberi getaran pada hatiku :”Kehidupan di sini memang unik. Tapi sebaiknya tekuni dulu kehidupan di luar agar tidak menjadi gumunan (mudah silau), yang hanya akan berakhir pada kekecewaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lonceng kapel berdentang. Suasana tetap dingin ketika aku berjalan keluar. Hanya sesekali lenguhan sapi terdengar memecah kesunyian. Di pintu gerbang kulihat seorang rahib yang lebih muda. Dia memakai jubah putih, celemek kerja warna hitam panjang menutupi dari bahu, punggung, dada, dan paha. Sebuah cappucin menutupi tengkuk. Dia berjalan agak tergesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah pulang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;---------&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.liputan6.com/video/?program=news&amp;amp;id=134602"&gt;http://www.liputan6.com/video/?program=news&amp;amp;id=134602&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.trappist-rawaseneng.org/"&gt;http://www.trappist-rawaseneng.org&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7523937399589169717?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7523937399589169717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7523937399589169717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7523937399589169717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7523937399589169717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/10/rawaseneng-2-oktober-2008.html' title='Rawaseneng, 2 Oktober 2008'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOUMI6UmknI/AAAAAAAAAHk/kF6YovIh4ss/s72-c/2502710463_272d62398e.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-9067004601315738463</id><published>2008-09-29T04:34:00.001-07:00</published><updated>2008-09-29T04:41:09.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Hermiyanto Residence, Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOC-cRlrcZI/AAAAAAAAAHc/57eWjHrbSXo/s1600-h/Hermiyanto+Residence+(2).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251406558481052050" style="WIDTH: 346px; CURSOR: hand; HEIGHT: 432px" height="428" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOC-cRlrcZI/AAAAAAAAAHc/57eWjHrbSXo/s400/Hermiyanto+Residence+(2).jpg" width="342" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOC9uvUXL1I/AAAAAAAAAHU/7wmdA_onaFw/s1600-h/Hermiyanto+Residence+(1).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251405776187502418" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOC9uvUXL1I/AAAAAAAAAHU/7wmdA_onaFw/s400/Hermiyanto+Residence+(1).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lahan berada di wilayah utara kota Yogyakarta dengan situasi lingkungan yang merupakan percampuran antara kampung dengan wilayah pedesaan. Dua nilai ini mempengaruhi pemilihan material dan penataan suasana ruang antara bangunan depan yang berfungsi sebagai kantor dengan bangunan belakang yang berfungsi sebagai rumah tinggal, yang dikemas dengan cara mengkombinasikan spirit kampung dengan keheningan desa. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-9067004601315738463?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/9067004601315738463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=9067004601315738463' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/9067004601315738463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/9067004601315738463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/09/hermiyanto-residence-yogyakarta.html' title='Hermiyanto Residence, Yogyakarta'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SOC-cRlrcZI/AAAAAAAAAHc/57eWjHrbSXo/s72-c/Hermiyanto+Residence+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-1827475768304788022</id><published>2008-09-06T11:45:00.001-07:00</published><updated>2008-09-29T04:25:58.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Jurang Mangu Town Houses, Tangerang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLUrUDmdgI/AAAAAAAAAHE/0x-bRZ_7LH8/s1600-h/Jurang+Mangu+(1).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242986756795954690" style="WIDTH: 329px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" height="200" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLUrUDmdgI/AAAAAAAAAHE/0x-bRZ_7LH8/s400/Jurang+Mangu+(1).jpg" width="335" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLUYcsUnSI/AAAAAAAAAG8/rW3nETcIq4g/s1600-h/Jurang+Mangu+(2).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242986432696720674" style="WIDTH: 330px; CURSOR: hand; HEIGHT: 250px" height="248" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLUYcsUnSI/AAAAAAAAAG8/rW3nETcIq4g/s400/Jurang+Mangu+(2).jpg" width="326" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Proyek ini merupakan kolaborasi bersama arsitek Cahyo Bandhono dan J.B. Krisna dimana kami mencoba “menyisipkan” suasana tradisional di tengah suasana metropolis maupun yang sedang menuju metropolis yang terjadi pada lingkungan sekitar. Adapun pemilihan konteks Bali di tengah perkampungan Tangerang Jawa Barat barangkali berkesan naif. Tetapi setidaknya hal tersebut merupakan usaha menjaga unsur alam pada desain. Dan Bali, saat itu Cahyo yang baru kembali setelah beberapa tahun tinggal di pulau tersebut masih terpesona dengan kekuatan nilai-nilainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLTRncgeJI/AAAAAAAAAG0/B_Ftv4aPMQU/s1600-h/Judy+Sutama+Residence+(1).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLSrHn0W_I/AAAAAAAAAGk/XU-FV3OW-04/s1600-h/Judy+Sutama+Residence+(3).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-1827475768304788022?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/1827475768304788022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=1827475768304788022' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1827475768304788022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/1827475768304788022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/09/architecture-interior-design-sketches_06.html' title='Jurang Mangu Town Houses, Tangerang'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yVZDcsTSHlg/SMLUrUDmdgI/AAAAAAAAAHE/0x-bRZ_7LH8/s72-c/Jurang+Mangu+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3262263419621679819</id><published>2008-07-18T07:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T07:53:20.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>di Busway</title><content type='html'>Jakarta punya busway! Asyik juga.&lt;br /&gt;“Udah lama lagee. Kemana aja lu?”. Begitu temanku menyambar.&lt;br /&gt;Iya juga sih. Aku masih ingat waktu awal rencana pembuatan busway jadi perbincangan yang menimbulkan pro dan kontra, sampai akhirnya direalisasikan. Tapi selama itu hanya sesekali diriku naik busway, itupun hanya pada jalur-jalur pendek, karena mobil dan sepeda motor tersedia. Tapi dalam beberapa bulan terakhir ini aku betul-betul menikmati sarana angkutan umum ini. Menyenangkan sekaligus ajaib. Gabungan dari efisiensi dengan sistem yang lama kelamaan kok makin rusak. Tapi baiklah. Bagi orang Indonesia yang sudah terbiasa menderita, sistem yang berantakan tidak terlalu dipedulikan sejauh “roda bisa menggelinding”. Yang jadi kekesalan lebih kepada masalah waktu yang tidak terjadwal baik dan sering penuh sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang penuh sesak.&lt;br /&gt;Masih bisa bersyukur juga sih, khususnya di koridor atau jalur yang sering aku lewati bis bisa berjalan lancar. Menembus kemacetan sehingga ngga perlu lama berdesak-desakan. Tapi suatu hari, dengan penuh yakin aku bersedia masuk dalam sebuah bis yang betul-betul sesak. Ngga apalah. Kupikir hanya empat bus-stop yang dilewati. Nggak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tangan kananku tergantung memegang “hanger”, tangan kiri mengamankan tali ransel, bagian depan-samping-belakang badan tergencet tubuh penumpang lain. Betul-betul tidak bisa bergerak. Sambil melamun menunggu bis sampai tujuan aku merasa ada yang aneh dengan tangan kananku. Terasa hangat dan sedikit gatal seperti dicucuk duri-duri kecil. Mencari tahu dan aku baru sadar bahwa di depanku berdiri membelakangiku seorang lelaki pendek, agak gemuk, berkulit hitam dengan leher model Mike Tyson, dan berkepala gundul!, tepatnya berambut sekitar 0.3 cm. Dan rambut-rambut kecil itu yang mencucuk-cucuk tanganku.&lt;br /&gt;Aduuhh ... gatal sekali!!! Pengen rasanya kutiup kepala itu seperti Tarzan meniup kepala Gogon di acara Srimulat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3262263419621679819?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3262263419621679819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3262263419621679819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3262263419621679819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3262263419621679819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/07/busway.html' title='di Busway'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2903870176602642391</id><published>2008-07-18T07:22:00.001-07:00</published><updated>2008-07-18T07:23:07.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Huruf "A"</title><content type='html'>Apa yang menarik dari huruf “A” selain statusnya sebagai yang pertama dan selalu disandangkan kepada orang-orang pintar sebagai nilai kesuksesannya? Bagiku ada satu lagi, khususnya untuk masyarakat Jakarta yang gemar atau sehari-harinya terpaksa naik bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf “A” selalu jadi awalan tetapi tidak berhubungan dengan nilai baik, ialah digunakan oleh para kernet untuk mengawali penyebutan tujuan bis ketika menawarkan kepada penumpang di luar. Maklum, Jakarta belum Singapore apalagi London. Tulisan tujuan yang dipasang di atas bis jarang atau bahkan hampir tidak dilihat. Hanyalah kalimat yang diteriakkan dari mulut serba kering dan berbau dari kernet yang jadi fokus perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaa … labu labu labu!!!” atau “Aaa … blem blem blem!!!”. Artinya, kernet menawarkan jurusan Pondok Labu atau Blok-M. Demikian sulit meneriakkan nama tujuan yang panjang itu sehingga selalu dipersingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kok selalu diawali huruf “A” yo Mas?”, tanya seorang teman yang baru pertamakali naik bis di Jakarta.&lt;br /&gt;“Ah &lt;em&gt;mbuh&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Ra ruh&lt;/em&gt; (ah ngga tau)”, jawab teman di sebelahnya yang kelaparan dan ngantuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2903870176602642391?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2903870176602642391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2903870176602642391' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2903870176602642391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2903870176602642391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/07/huruf.html' title='Huruf &quot;A&quot;'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7405155139515626962</id><published>2008-07-18T06:39:00.001-07:00</published><updated>2008-08-20T04:32:24.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Membaca Mangunwijaya</title><content type='html'>Dalam dua bulan ini serasa ada perjumpaan dengan almarhum Y.B. Mangunwijaya. Tidak, bukan perjumpaan gaib yang aku terima, tetapi melalui jejak-jejaknya. Adalah lewat diskusi-diskusi yang kubaca di sebuah mailist arsitektur, yang ramai membicarakan spirit Mangunwijaya baik melalui karya-karya pribadinya maupun yang tercermin dari karya anak-didiknya. Ada yang menggugat, bingung, merasa aneh, juga kagum. Tetapi yang cukup mengena pikiranku akhir-akhir ini adalah ketika membaca trilogi Rara Mendut-Genduk Duku-Lusi Lindri, sebuah karya tulis beliau yang sangat aku senangi selain Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangunwijya berani untuk masuk dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan dan menggembirakan pembaca. Sebetulnya tidak aneh juga mengingat banyak penulis yang melakukan hal ini, seperti Ahmad Tohari dan Pramoedya misalnya. Tapi bagiku, situasi sedih dan penderitaan yang diangkat Mangunwijaya lepas dari kesan romantis, kadangkala bertubi-tubi, dan diselesaikan bukan dengan kegembiraan model happy-end a la Hollywood melainkan keheningan batin meditatif dimana di dalamnya hati manusia mampu menerjemahkan kesedihan dan kematian dengan akal-budi dan hati yang sehat. Terasa dia ingin berbicara banyak lewat karya-karyanya di luas bahasa estetika yang seringkali begitu mudah diserap indera tetapi sial seribu sial juga membuat manusia sering sulit menerjemahkan makna sebenarnya di balik keindahan itu sendiri. Begitu juga aku, sering sekali ramai membicarakan buah karya dan pikiran orang besar hanya karena kesan intelektual dan keindahannya, dan berharap kesan tersebut melekat juga dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aneh, dalam memahami Mangunwijaya, semakin jauh menyelaminya semakin sulit pula aku memahaminya. Sampai di suatu titik dimana atas peran seseorang yang sangat membantuku dalam menerjemahkan Mangunwijaya, aku menjadi sadar bahwa ketika dirinya (Mangunwijaya) berkarya, dibalik ketekunan dan etos kerjanya yang demikian besar, semua itu didasari sikap hidupnya dalam memilih matiraga, menyendiri sekaligus membaur di kehidupan, dan konsisten meletakkan buah karyanya semata-mata sebagai sarana untuk keselamatan jiwa-jiwa orang-orang yang tersisih. Populer dia tidak mau meskipun media membentuk dirinya sebagai manusia yang terkenal. Melalui itu semua dirinya mempunyai tujuan dalam karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangunwijaya adalah seorang religius dalam arti sebenarnya yaitu seorang Imam Katolik. Namun demikian hidupnya tidak terjebak dalam religiositas yang sempit, sehingga membaca orang seperti dirinya akan sulit dilakukan jika kita semata menempatkannya dalam tataran kapitalisme, lifestyle modern, dan bahkan juga dalam ranah religiositas itu sendiri. Tidak, setahuku dirinya juga tidak anti dengan nilai modern atau yang berseberangan dengan “kaum cilik” karena sebagai Pastor Praja dia mengemban tugas menjadi teman seperjalanan bagi semua orang. Hal itu tercermin juga dalam pandangan-pandangannya yang netral yaitu ketika bercerita tentang rakyat jelata maupun priyayi ningrat dalam beberapa tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sebuah pernyataan yang mengatakan : bagaimana mungkin seseorang bisa tahu bahwa di atas gunung ada jurang kalau dia sendiri tidak mendaki dan mengunjunginya. Dari foto? Bisa jadi. Tapi itu bukan sebuah pengalaman otentik yang layak-bangga diceritakan. Demikian pula terhadap seseorang seperti Mangunwijaya. Tidak mungkin aku bisa betul-betul menyelami pemikirannya kalau tidak hidup dalam dunia yang membentuk tujuannya dalam berkarya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7405155139515626962?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7405155139515626962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7405155139515626962' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7405155139515626962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7405155139515626962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/07/membaca-mangunwijaya.html' title='Membaca Mangunwijaya'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-6002031712323934734</id><published>2008-07-18T03:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T05:59:03.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Si Mak</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/SIB3TGiwOfI/AAAAAAAAAFM/bjsqaiP00UA/s1600-h/172x135.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224306737807374834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/SIB3TGiwOfI/AAAAAAAAAFM/bjsqaiP00UA/s400/172x135.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dua minggu lalu, Norman adikku, yang tengah liburan sekolah berkunjung ke Jakarta. Ketika asyik ngobrol kami masuk ke dalam topik rencana reuni akbar keluarga besar yang akan diadakan di Yogya tengah bulan ini. Terbayang betapa hingar suasana dalam reuni nanti. Maklum, keluarga besar Ayah mempunyai budaya srimulat. &lt;em&gt;Nyablak&lt;/em&gt; asal ngomong, membadut, dan tentu saja membicarakan semua hal yang pernah ada di sekitar kami, apalagi dalam suasana reuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatu sosok yang selalu diingat oleh keluarga ialah si Mak. Begitu kami memanggilnya. Seorang perempuan tengah baya yang setia mengabdi keluarga secara bergiliran : dari melayani Eyang Putri hingga wafat, “mampir” di keluarga Bude Nur, dan terakhir mengabdi di keluarga kami di Pakem Kaliurang sampai akhirnya dipanggil, ya, belum dipanggil yang Maha Kuasa waktu itu, tapi dipanggil atau tepatnya diminta salahseorang anak perempuannya. Untuk menemani katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kalau ingat kok ingin ketawa yo Mas”, begitu kata Norman sambil tertawa. Teringat sesuatu yang menggelikan tampaknya.&lt;br /&gt;“Apa itu?”&lt;br /&gt;“Itu lho. Ingat ngga waktu aku masih SD? Dan Mas masih tugas akhir. Waktu itu kan lagi seru-serunya masalah Timor-timur.”&lt;br /&gt;“Njur?” (lalu?)&lt;br /&gt;“Lha, Bapak kan paling seneng nonton berita masalah Tim-tim. Nah ... ha-ha-ha!”. Ketawa lagi dia. “Lha ayo teruske ceritamu”, kataku ikut ketawa juga. Bukan karena cerita lucunya yang belum ketahuan lucu yang bikin aku ketawa, tapi karena melihat cara dia ketawa.&lt;br /&gt;“Lha itu ... TV ‘kan nyebut Xanana Gusmao terus ... dan ha-ha-ha-ha!!!” Terpingkal-pingkal si Norman memegang perutnya. Nah, waktu itu Si Mak sambil bikin teh ngomong “&lt;em&gt;Xanana karo Gusmao kuwi ngopo to yo? Isane kok mung pada eker-ekeran terus”.&lt;/em&gt; (Xanana dan Gusmao ngapain aja sih. Kok bisanya berantem terus). Tentu, mendengar cerita konyol itu aku jadi ketawa juga. Xanana &lt;strong&gt;DAN&lt;/strong&gt; Gusmao he-he-he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, si Mak memang perempuan desa yang lugu. Tahunya cuma mengabdi. &lt;em&gt;Olah-olah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;umbah-umbah&lt;/em&gt;. Mengenai Xanana Gusmao, Timor-timur apalagi reformasi, nah manusia jenis si Mak ini bukan tidak peduli, tetapi orang Jawa pengabdi dia. Keturunan petani yang cinta harmoni. Baginya simpang –siur kehidupan lumrahnya tidak dilawan tetapi dihayati, dijalankan dengan mengemban amanah damai dari Gusti Allah. Bodoh? Mungkin? Tapi tidak dipungkiri sikapnya membawa kesejukan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-6002031712323934734?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/6002031712323934734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=6002031712323934734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6002031712323934734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6002031712323934734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/07/xanana-gusmao.html' title='Si Mak'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/SIB3TGiwOfI/AAAAAAAAAFM/bjsqaiP00UA/s72-c/172x135.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7810469330487006860</id><published>2008-06-08T09:05:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T19:42:50.570-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Ari</title><content type='html'>Aku berlari di bawah jalan tol dan mendadak berhenti ketika hendak menyeberang jalan berikutnya. Semua kendaraan beradu kencang dengan sorot lampu yang tajam. Seorang laki-laki yang berdiri di sebelah kiriku, sembari memegang gitar, memberanikan diri menyeberang-menembus aliran kendaraan. Ah, kuberanikan juga diriku mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus nekat Mas,” katanya sembari tertawa setelah kami sampai di seberang. Aku hanya tertawa. Mau jawab apa? Aku tidak terlalu mengenalnya. Lagipula aku tidak bisa mendengar seluruh kalimatnya akibat deru kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metromini yang aku tunggu datang. Betul, nomornya 640, jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang. Harus agak menajamkan mata sedikit untuk mengenalinya. Dalam keadaan gelap seperti ini sering nomor 640 tertukar dengan 604, dan sangat sial jika itu terjadi terlebih jika simpanan uang di kantong atau dompet hanya pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil tempat di sisi samping koridor bus karena kakiku yang panjang bisa sangat tersiksa jika duduk di bagian “dalam” dekat jendela. Sempit sekali. Kulihat laki-laki itu juga duduk di bangku yang sejajar dengan bangkuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ngga cepat ngga bisa nyebrang, Mas”, katanya masih sembari tertawa.&lt;br /&gt;“Ya. Untung ada Mas. Jadi saya bisa ikutan nyebrang”, kataku sambil mengulurkan selembar limaribuan ke tangan kondektur.&lt;br /&gt;“Mau pulang Mas? Mulai jam berapa tadi?”, tanyaku lagi&lt;br /&gt;“Jam enam. Ya, ini mau pulang.”&lt;br /&gt;“Pulang ke?”&lt;br /&gt;“Depok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak.&lt;br /&gt;“Asli mana Mas?” dia bertanya lagi.&lt;br /&gt;“Jogja”.&lt;br /&gt;“Jogjanya?”&lt;br /&gt;“Sleman. Mas?”&lt;br /&gt;“Malang, Mas. Sering pulang dong?”&lt;br /&gt;“Ngga juga. Kalau dihitung-hitung empat bulan sekali”.&lt;br /&gt;“Ha-ha … aku malah sudah lama ngga pulang Mas”.&lt;br /&gt;“Oya?”&lt;br /&gt;“Ya. Sudah limabelas tahun. Ha-ha-ha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami berkenalan juga. Namanya Ari. Dia bercerita bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan tinggi di FISIPOL Universitas Gajah Mada. Sayang tidak lama, hanya sampai semester tiga. Faktor ekonomi penyebabnya. Dirinya juga tampak baik dan ramah. Posturnya yang tinggi, kurus, tampan, dan bersih tidak menyiratkan sosok pengamen. Bicaranya lugas dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak sempat bicara banyak. Yah, paling-paling seputar pekerjaan kami masing-masing, itupun pada tataran yang umum. Kuceritakan juga pengalamanku di beberapa proyek, perjumpaanku dengan "orang-orang proyek" yang merintis dari nol hingga sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian turun di sebuah halte di depan kantor POLDA sembari mengucap salam dan mengatakan :"Kalau cari saya di sini Mas. Bilang aja Ari". Beberapa detik berikutnya hanya sosoknya yang kulihat dari jendela bis. Berlari kecil sambil menyapa beberapa pengamen kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus kembali melaju kencang dan makin kencang. Berbelok di putaran Semanggi hanya dengan sedikit rem yang membuat badan penumpang terlempar ke sisi kanan. Gedung-gedung terlihat indah dan megah. Di antara teriakan kondektur yang makin gahar masih terngiang di telingaku perkataan Ari : "yang membedakan kita Mas, Mas punya status dan saya tidak". Ah Ari, aku tidak bisa jawab pernyataanmu. Tepatnya tidak berani, karena aku takut hanya akan menjadi hiburan belaka yang jauh dari kenyataan. Sedangkan kita semua tahu, terutama dia yang sudah menjalaninya, bahwa kerapkali hati kita mengatakan semua orang adalah sama tetapi kenyataan seringkali juga mengatakan sebaliknya. Hanya sedikit perasaan melintas, membayangkan ketika dirinya masih kuliah tentu mempunyai beribu angan dan cita-cita sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus sampai halte Bendungan Hilir. Beragam orang bergegas keluar dan masuk. Bergantian, bertabrakan, membawa rasa lelah. Sebuah sedan cantik yang merasa terhalangi membunyikan klaksonnya keras-keras. Tidak ada tanggapan dari bus yang sudah busuk dengan penumpang kelelahan di dalamnya. Kondektur makin berteriak gahar di atas trotoir :"Abang! Abang! Sarinah!".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7810469330487006860?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7810469330487006860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7810469330487006860' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7810469330487006860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7810469330487006860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2008/06/aku-berlari-di-bawah-jalan-tol-dan.html' title='Ari'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-4049695583594263378</id><published>2007-12-18T11:28:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T11:29:11.931-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Surat Untuk Wawan</title><content type='html'>Mas Wawan, seseorang yang terjebak dalam kesesakan atau jalan buntu selalu mencari "sesuatu di antara yang padat dan sesak" dimana dirinya bisa mendapatkan udara untuk menghirup nafas atau berharap melihat seberkas cahaya. Sesuatu itu bernama "ruang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan orang yang pintar mencari ruang-spiritual ketika berada dalam kesesakan. Merenung dan berdoa malah kadang membuatku tidur. Sebagai manusia aku cenderung berharap sesuatu yang nyata. Kadang sesuatu yang berbau spiritual itu indah kedengarannya tapi memberatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendapatkan ruang yang nyata maka harus betul2 mengambil sesuatu yang nyata pula. Maka, aku sangat senang dengan jalan di depan kosku, yang kalau malam sepi banget. Sering kalau 'sesak' aku jalan kaki menyusuri jalan ini jam 1 atau 2 pagi. Entah pergi ke warung teh poci atau ke taman, duduk-diam di bawah pohon cemara dekat kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menyusuri jalan, banyak hal dalam pikiranku bisa dilepaskan. Malah kadang2 ada pula ide2 baru. Pada titik ini aku merasa sebagai orang yang sedang menarik nafas, melepaskannya, dst. Lega banget. Ide2 segar yang muncul aku lihat sebagai seberkas cahaya. Kalau lewat salahsatu rumah sering terkenang seorang Eyang yang kalau pagi atau sore berdiri di pagar berbusanakan kaos oblong dan celana panjang atau sarung. Rambutnya selalu rapi. Meskipun aku ngga tau namanya tapi kami selalu bertegur sama. Dia selalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, sang Eyang sudah meninggal. Tapi sering setiap malam hari lewat depan rumahnya aku teringat padanya dan sosoknya 'muncul' di otakku. Tetap tersenyum. Bedanya, senyumnya seperti tidak kenal lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lewat rumah di pojok yang wangi melatinya selalu menggoda. Untuk yang ini aku bela2-in berhenti, menghirup, untuk sekedar mengenang rumah di Jogja atau mengenang Ibuku yang selalu menaburkan melati di kasurku. Lagi-lagi ngecharge ... sadar bahwa kita ada dan dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu sekedar saran aja. Siapa tahu membantu, apalagi dekat rumah Mas Wawan banyak gang2 sepi buat jalan2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-4049695583594263378?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/4049695583594263378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=4049695583594263378' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4049695583594263378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4049695583594263378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/12/surat-untuk-wawan.html' title='Surat Untuk Wawan'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-5516679015167694866</id><published>2007-12-18T11:22:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T11:24:26.962-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Surat Untuk Khristin</title><content type='html'>Akhir tahun ini aku selalu mempertanyakan kenapa aku masuk dalam situasi pekerjaan yang sebelumnya aku benci. Bahkan dengan gagah-berani meninggalkan kenikmatan kantor lama yang salahsatu fasilitasnya adalah mempunyai waktu libur yang cukup dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku tidak menemukan jawaban yang merupakan pandangan umum, semisal : "ah, dengan aku kerja keras seperti saat ini tentu akan memperoleh hasil yang lebih baik. Penghasilan, peluang, karier, dll." Sejujurnya nilai2 tsb aku dapatkan, tapi ... kok hatiku mengatakan bukan itu yaa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada beberapa hari lalu saat internal project meeting dimana project manager kami mengumumkan bahwa item pekerjaan bertambah, beberapa target belum tercapai, tetapi jadwal tidak berubah. Artinya : kebut pekerjaan dan tidak ada libur, bahkan untuk tanggal merah sekalipun, juga hari sabtu dan minggu. Dan seperti biasa pekerjaan dimulai pukul 08.00 sampai 22.00. Mendengar berita ini tentu aku jadi deg-degan. Wah, tiket ke jogja udah aku beli. Piye iki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perintah itu sebetulnya lebih ditujukan pada teman-teman mandor, surveyor, dan tukang. Kami yang berada di level manajerial tentu boleh menikmati libur. Hal ini boleh jadi menghibur hatiku, tapi ada sesuatu yang bikin aku tidak tenang. Aku melihat wajah para mandor dan para surveyor. Sebutlah Pak Yono, Pak Redi, Pak Priadi, Pak Bachruddin yang lantas terdiam. Tidak berani mengemukakan pendapat apalagi membantah karena mereka tahu perintah tersebut mutlak terutama bagi 'wong cilik' seperti mereka. Mereka hanya bisa tersenyum dan mencoba mencairkan suasana dengan saling bercanda. Hanya Pak Priadi yang dengan terpaksa mengajukan ijin sebentar demi menemani anaknya yang menikah di Sukabumi dengan catatan selesai acara harus kembali ke proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih diam. Sampai saat pergi ke toilet aku lihat seorang tukang. Udah sepuh. Umurnya kira2 70 tahun. Kami memanggilnya 'Simbah'. Masih memegang palu penghancur beton yang beratnya lebih dari sepuluh kilo (bukan palu biasa). Bersama beberapa rekannya dia melaksanakan tugas membongkar dinding beton penahan struktur lift setebal 30cm, setinggi 4m, dengan panjang 6m. Resiko terjerumus ke dalam lubang lift tentu di depan mata. Juga resiko jatuh dan tersangkut jalinan besi beton yang bisa merobek tubuh manusia. Belum lagi debu halus yang setiap hari dihisap bahkan ketika mereka tidur di mess yang lembab tanpa bisa melihat cahaya. Makan makanan murah yang dijual tanpa tahu mutu kesehatannya. Gaji mereka demikian kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup melihat satu contoh itu saja, dan seakan ada yang berbisik di hati :"Seto, maukah sejenak kamu bertoleransi dan menemani mereka?".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-5516679015167694866?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/5516679015167694866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=5516679015167694866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5516679015167694866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5516679015167694866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/12/surat-untuk-khristin.html' title='Surat Untuk Khristin'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-4973343296030856181</id><published>2007-12-10T07:30:00.000-08:00</published><updated>2008-01-09T11:34:33.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Surat Untuk Aris</title><content type='html'>Mas Aris .. Mantapz banget ceritanya!!!&lt;br /&gt;Jangankan kereta bisnis. Suatu kali aku &amp;amp; Bismo nekat numpak ekonomi. Harganya? cuma 38 ribu rupiah!! Ceritanya kami pengen 'ngecharge', selain mengenang masa2 perjuangan dulu he he ... Ga baik ya kalo kelamaan hidup di satu titik aja. Jadi, ada baiknya otak ini digoncang-goncang biar lebih peka dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami naik dari stasiun Senen. Sampe di dalam gerbong sandaran kursinya tegak semua. Tapi masih lebih bagus. Jamanku masih ngere dulu gerbong ekonomi kursinya dibikin dari rotan. Buset!! Trus, judulnya kami memang dapet seat-number, tapi pas sampe tempatnya kursinya udah dipake orang yang pastinya ga akan merasa salah. Malah dengan enteng minta maaf dan ijin untuk menduduki. Wis jan! Buru2 Bismo milih tidur di bawah pake koran. Lebih anget dan ditanggung pules les.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan ga bisa tidur. Setiap menit ada aja orang 'jualan'. Ngupoyo-upo orang Jawa bilang, atau mengais rezeki. Ngamen pasti. Ngemis ... selalu ada dengan modus operandi yang diceritakan Mas Aris. Ada puluhan malah. Jualan? Pasti. Bersih2 aisle atau koridor gerbong dengan cara glesotan dan nyapu sana-sini .. hmmm ... ga terlalu baru juga. Yang baru adalah : Setelah koridor di bersihin ada satu orang lagi yang tadinya udah nunggu di deket wc. Maka jadilah dia semprot pewangi sana-sini sambil minta uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen. Ada yang baik2 ada pula yang nodong. Malah ada yang gak terima dikasih 500 perak. Tapi yang paling seru adalah seperti Mas Aris bilang :pengamen bencong. Dari suaranya aja udah kedengeran sejak dia di gerbong sebelumnya. Suaranya yang bariton juga ngalahin bunyi bogie roda kereta yang "jdhar-jdher" . Nah, yang paling "mengerikan" adalah bahwa ketika setiapkali abis nerima uang, si pengamen bencong itu berucap "terimakasih suami" he he he ... Mending tidur aahh ... daripada dibilang suami ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang begini ini akan ketemu waktu kereta masuk stasiun Wates pagi hari. Biasanya ada 3 waria. Pede banget, dengan dandanan yang mencolok plus "gitar" kotak kayu dengan senar karet yang hanya menghasilkan 3-4 nada, tapi bisa ngiringin lagu apapun. Sebagian besar syair lagu berupa celotehan mereka yang selalu berakhir dengan kalimat tekewerkewerrrr ... klueerrrrr ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toilet? Jangan harap buang hajat di ekonomi. Lha wong closetnya aja buat sandaran kepala orang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap stasiun. Yah, yang namanya kereta murah pasti langganan disalip sama yang namanya senja utama, taksaka, argolawu, dan juga argo2 lainnya itu ... Tapi yang ngangenin adalah hiruk-pikuk orang jualan. Dari jenis barang yang dijual orang sambil merem tahu kereta udah sampe mana. Jadi semacam landmark. Nasi bungkus bisa dipastikan kereta masuk Cirebon. Nopia dan gethuk goreng? tentu Purwokerto. Nasi ikan ayam .. nah ini khas Jogja. Hanya orang Jogja yang menyebut daging dengan kata ikan (iwak). Iwak pitik, iwak asu, iwak sapi. Buat yang ga ngerti akan mikir : ikan berbentuk ayam ... jadi ada ayam berenang di sungai atau laut. Gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan &amp;amp; minuman. Buat teman2 yang suatu ketika akan naik kereta ekonomi. Belilah minuman panas sejak pertamakali diedarkan. Ditanggung (insya Allah) masih bersih. Itu aja masih sering nemuin bagian gelas yang licin dan berlendir hiiii ...&lt;br /&gt;Tapi soal minuman, kami seneng banget dengan penjual minuman sachet (coffeemix, kopi kapal api, dll ). Selain terjamin kebersihannya aku juga belajar ilmu design product dari mereka. Pinter banget mengemas thermos, untaian sachet minuman, cangkir plastik dalam satu kemasan. Hebat!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua keriuhan itu ada juga yang mengharukan. Sebut aja para masinis yang harus bertanggungjawab terhadap ratusan penumpang. Suatu ketika aku melongokkan kepala dari pintu. Melihat mereka jaga malam ketika semua orang tertidur pulas. Buka mata lebar-lebar di dalam kereta yang berkecepatan tinggi. Kadang sebagian badan keluar jendela. Kasih semboyan atau kode kepada petugas sinyal di darat di daerah perbukitan atau hutan yang jauh dari keramaian kota. Semakin mengharukan kalau melihat petugas sinyal tersebut udah sepuh, menaik-turunkan lampu di tangannya. Apalagi kalau pas ujan. Gaji mereka kecil. Kadang habis hanya untuk menghabiskan malam bersama pelacur di stasiun. Kalah terhadap himpitan kebutuhan hidup dan kelelahan, atau mungkin juga meredam rasa salah ketika malam2 melihat orang tertabrak dan tergilas lokomotif yang dikemudikannya. Penumpang ga pernah tahu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hmmm ... ngangeni ... semoga perjalanan bersama Nila dan keluarga menyenangkan. Juga untuk sowan Simbah di Wonosari. Wah, peristiwa yang sangat indah ya ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-4973343296030856181?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/4973343296030856181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=4973343296030856181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4973343296030856181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4973343296030856181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/12/surat-untuk-aris.html' title='Surat Untuk Aris'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-4182246761572057638</id><published>2007-12-07T18:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T18:34:02.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Eyang Putri</title><content type='html'>&lt;em&gt;*Mengenang 1000 hari wafatnya Ibu E. Surajinah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1988. Saat itu saya kembali memulai kegiatan sebagai miesdinaar setelah sekitar 3 tahun meninggalkan kelompok ini. Wajah-wajah baru yang saya temui memberi kesan bahwa kelompok ini begitu hidup dan berkembang, dan wajah-wajah lama memberikan gambaran sebuah penerimaan kembali secara tulus. Membuat saya merasa seperti “pulang ke rumah”.  Di antara wajah lama tersebut hadir seorang lelaki sepuh. Posturnya kecil dengan rambut putih. Parasnya ramah dengan senyum selalu mengembang. Kami memanggilnya Eyang Joko. Sosok inilah yang berperan dalam menjaga kemurnian dan  eksistensi miesdinaar dengan tetap mengemban nilai-nilai luhur “Ad Maiorem Dei Gloriam”. Sungguh, Eyang Joko sangat memberi inspirasi dalam kehidupanku sampai saat ini. Masih ingat dalam benakku ketika bertandang ke rumahnya. Berbicara tentang Injil, Talmud, dan Khaballa, tentang para Santo, Bapa-bapa Gereja, para skolastikat dan religius, tentang musik Gregorians, bahkan berbicara menjadi manusia apa adanya yang menyadarkan saya bahwa Tuhan selalu hadir di dalam kesederhanaan dan kelemahan manusia yang bahkan jauh dari unsur religius. Semakin manusiawi semakin illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eyang Joko adalah sosok yang antusias dalam bercerita. Tetapi seperti halnya merasakan aliran angin yang lembut di antara gesekan bambu, ketika sedang berbincang saya selalu mencuri-curi pandang sosok lain yang sangat lembut dibalik ‘kekuatan’ seorang Eyang Joko, yaitu seorang perempuan yang hadir dengan senyum dan bahasa tubuh yang anggun. Kami memanggilnya Eyang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita dengar bahwa dalam kehidupan sebuah sistem tidak bisa berjalan tanpa dukungan sistem yang lain. Sebuah jembatan yang tampak kokoh dan megah  tidak akan berfungsi baik kalau tidak didukung ikatan lainnya melalui unsur mekanik yang terkecil sekalipun. Rumpun bambu harus digerakkan oleh angin yang tak kentara agar berderak menyuarakan irama alam yang membius jiwa. Angin itu juga yang menghantar harum bambu dan diterima oleh indera yang menjadi teduh. Itulah Eyang Putri yang saya kenal. Seorang yang memberi dukungan dengan tidak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“She is my Angel”, begitu kata Eyang Joko mengomentari sang Istri.&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, seperti halnya sang suami, Eyang Putri adalah sosok yang memberi inspirasi. Tetapi lebih dari itu, dibalik kehadirannya berbalut busana Jawa sederhana yang membuat dirinya layak dipanggil Ibu dan Eyang, beliau adalah sebuah ‘rumah’ dan ‘rahim’ yang menyerap energi buruk penghuninya agar mampu berjalan lagi. Dalam parasnya saya mengerti akan makna keheningan, kedamaian, ketulusan, dan kesetiaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-4182246761572057638?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/4182246761572057638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=4182246761572057638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4182246761572057638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4182246761572057638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/12/eyang-putri.html' title='Eyang Putri'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2450842893716686861</id><published>2007-12-01T10:49:00.001-08:00</published><updated>2007-12-02T06:48:26.034-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Warung</title><content type='html'>Suatu malam di sebuah warung di wilayah Bendungan Hilir Jakarta.&lt;br /&gt;Warung ini menyediakan ketan yang diurapi dengan srundeng kelapa, teh poci, mie rebus, aneka 'gorengan' dan minuman lainnya. Berukuran lebihkurang 6x8m warung ini terdiri dari beberapa fungsi ruang, yaitu tempat persiapan, area memasak, kamar mandi, meja saji, dan tentu saja bangku tamu. Tidak ada dinding yang membatasi ruang per ruang secara jelas, kecuali kamar mandi, yang pada sebagian dindingnya terdapat bukaan. Pembatas biasanya terbuat dari partisi kayu rendah, seperti halnya struktur penopang dinding dan atap yang semuanya terbuah dari kayu. Sambung-menyambung tanpa kaidah yang benar, menopang atap seng yang selalu bocor di kala hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa lampu sebagai penerangan. Masing-masing lampu terangkai oleh kabel yang merayapi struktur bangunan yang warnanya hitam karena kusam atau jelaga. Tetapi yang menarik dari warung ini adalah aktifitasnya yang selalu hidup. 24 jam non-stop. Dilayani oleh beberapa pramusaji muda, rata-rata perempuan dan berasal dari kota-kota di wilayah pantai utara Jawa. Mereka, selain melayani dengan sigap, juga bercengkerama dengan para pembeli yang duduk berhimpitan di bangku kayu panjang menghadap meja besar berisikan makanan dan minuman. Seperti halnya para pembeli kelas atas menghadap &lt;em&gt;sushi-bar&lt;/em&gt;. Mereka, para pembeli itu muncul dari beragam profesi dan strata : karyawan, tukang sol sepatu, sopir bajaj, kuli bangunan, sopir ojek, koster gereja, bahkan beberapa 'seniman kalah' yang cukup mempunyai nama, juga beberapa orang yang dianggap abnormal. Sebut saja Yanto, seorang penderita keterbelakangan mental yang sehari-hari bekerja mengatur lalu-lintas di persimpangan jalan. Atau Tante, sebut saja begitu, seorang perempuan setengah baya dan pemulung berparas ayu, atau entah siapa namanya, seorang gila yang fasih berbahasa Inggris yang sambil tertawa gemar mengatakan kepada orang-orang : "Jesus Christ ... Erlangga Kertapati from Yahudi he he he ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu petang, aku minum teh poci di warung ini yang kebetulan saat itu agak sepi, sembari membaca sebuah buku religius.Tak lama muncul laki-laki kecil. Iwan namanya. Bekerja sebagai buruh proyek Departemen Pekerjaan Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas tahu Pasar Genjing' kan? Nah di situ ada proyek perbaikan saluran", katanya membuka percakapan.&lt;br /&gt;"Mas Iwan kerja di situ?", balasku&lt;br /&gt;"Ya".&lt;br /&gt;"Lalu, tinggalnya dimana?"&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt; di situ. Di bedeng di taman belakang warung ini. Mas sudah lama di Bendungan Hilir?"&lt;br /&gt;"Kira-kira setahun. Di tempat yang ada mobil travelnya", jawabku.&lt;br /&gt;"Oo ... Mas Sopir?"&lt;br /&gt;"Bukan. Saya kerja di bangunan".&lt;br /&gt;"Oooo .... ". Parasnya yang masih tampak bocah tampak berpikir. Manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Sering ke warung ini, Mas?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Dulu, waktu masih sering pulang sore. Sekarang pulangnya malam. Jadi sudah jarang", jawabku sambil tertawa. Mencoba mencairkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pramusaji perempuan menyajikan kopi susu baginya. Dibalas Iwan dengan candaan yang menyerempet, tapi halus dan tidak cabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas asalnya mana?", Iwan bertanya lagi&lt;br /&gt;"Jogja. Dan Mas?"&lt;br /&gt;"Jombang. Mas tahu Jombang?".&lt;br /&gt;"Hmmm ...", jawabku sambil mulutku tetap berkonsentrasi pada mie rebus. Dan dia melanjutkan ocehannya lagi :&lt;br /&gt;"Sebenarnya saya cuma bingung aja. Kok ada orang top di sini?"&lt;br /&gt;"Top? Top bagaimana?".&lt;br /&gt;"Iya. Top. Orang seperti Mas kok mau makan di sini?", dia bertanya sembari cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku menjadi salah tingkah. Terlebih saat dirinya mengatakan bahwa parasku bukan seperti orang Jawa, yang membuat diriku teringat seorang penjual bakso yang suatu malam mengatakan bahwa wajahku mirip orang India. Edan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat teman bicara Iwan menanyakan buku apa yang aku baca. Jujur, aku menjadi semakin rikuh. Hendak menjelaskan apa kepadanya? Menjelaskan temanya bagiku membuat obrolan menjadi berat. Hanyalah membolak-balik buku dengan tidak jelas yang bisa kulakukan. Lagi-lagi salah tingkah seperti orang tertangkap basah selingkuh. Dan juga, lagi-lagi Iwan hanya berkata "Ooo...". Parasnya yang menandakan bahwa dirinya masih bocah berkesan berpikir sesuatu. Manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di dekat kantor tempat aku bekerja dahulu, di wilayah Sunter Jakarta Utara, ada sebuah warung tempat aku dan teman-teman biasa mangkal sore. Sekedar melepas penat. Memang, kantor kami saat itu mempunyai habit yang cukup aneh. Jam masuk kerja adalah jam 9.30. Dilanjutkan dengan makan siang pukul 11.00 siang sampai pukul 12.00, kadang sampai pukul 13.00. Dilanjutkan lagi dengan acara makan siomay di sore hari pukul 15.00, masuk kerja lagi sampai waktunya pulang, yaitu pukul 17.00. Aneh memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung tempat kami mangkal adalah warung kecil. Terbuat dari kayu dengan atap "emplekan" dari seng dengan sebuah jendela display. Di warung yang menyediakan berbagai makanan kecil, minuman, barang keperluan sehari-hari, dan mie rebus ini tinggal sebuah keluarga. Letaknya di sudut jalan sehingga memungkinkan untuk memiliki teras kecil yang diisi bangku di bawah kerindangan pohon carson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami, pemilik warung ini, bekerja sebagai petugas keamanan sekolah yang berada di seberangnya. Anaknya satu orang. Setiap hari bermain keliling kompleks dan kampung bersama teman-teman sebayanya demi menghindari omelan Ibundanya, seorang wanita gemuk berambut keriting dan bermata juling ini yang senantiasa menemani kami. Masih segar dalam ingatanku bagaimana si Ibu ini meracik sayuran bagi keluarganya, meskipun katanya tidak pernah habis dan kemudian ditawarkan ke orang lain termasuk kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi seorang tokoh yang kerap menemani kami di warung ini. Paijo namanya. Orang asal Klaten Jawa Tengah. Seorang penjual siomay yang selalu tersenyum. Menjajakan siomaynya menggunakan sepeda &lt;em&gt;onthel&lt;/em&gt;. Siomaynya siomay kampung. Enak dan laris, sehingga lidahku yang kenyang dalam kesulitan ekonomi maupun lidah Evelyn, seorang teman kantor yang mirip aktris Gong-Li, sangat cantik, rela menikmatinya. Dan Paijo inilah yang selalu menemani kami bersama si Ibu gemuk keriting. Mereka mengenal kami, bercanda apa-adanya, selalu menanyakan jika salah satu dari kami tidak hadir, terutama Mbak Evelyn tentunya. Tentu, hati siapa yang tidak tersentuh demi melihat sang bintang yang menawan mau menyapa mereka dan duduk 'gelesotan' makan siomay di emperan? Pun mereka tercenung ketika mengetahui bahwa si Mbak Gong-Li ini hijrah ke London. Bekerja di sebuah konsultan ternama di sana dan belum lama ini namanya muncul sebagai tim desain di sebuah buku. Atau sebaliknya, begitu terharu kami ketika mendengar berita gempa di Jawa Tengah meluluhlantakkan rumah Mas Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Warung ada dimana-mana di setiap sudut kota di negeri ini. Seringkali kehadirannya tidak sekedar menandakan aktifitas ekonomi semata yang mengatakan "engkau adalah kawan jika engkau dan aku terlibat dalam perkara bisnis". Tidak! Warung malah seringkali hadir sebagai sebuah hati yang siap menerima, tidak peduli nilai ekonomi yang diperolehnya. Dan bersama mereka, para pemilik warung dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, jika kita mau membuka diri dan hati dengan sangat sederhana sekalipun kita akan merasakan sebuah "kehadiran" yang suatu saat akan bermakna ketika diri ini merasa kesepian. Menyadarkan bahwa kita ada untuk mereka, begitu juga sebaliknya. Menyadarkan bahwa setiap manusia tidak sendiri dalam berziarah di muka bumi. Seperti halnya berita yang kami terima dari London : "Ga gampang hidup sebagai perantauan di sini. Kangen kalian!!. Apa kabar Paijo? Kangen siomaynya nih". Dan kami yang membaca tertawa, menyeletuk :"Eh ... jangan-jangan si Paijo lama ngga kelihatan karena nyusul Evelyn ke London ya. Jualan siomay dia di sana ... ha ha ha ha!!!".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2450842893716686861?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2450842893716686861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2450842893716686861' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2450842893716686861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2450842893716686861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/12/warung.html' title='Warung'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2571246823900088373</id><published>2007-11-25T08:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T08:00:45.571-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Friend in The Lord</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R0nF49Qhe5I/AAAAAAAAACw/GewF2nl-Loc/s1600-h/Great%20Silence%203%20edit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136854432299973522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R0nF49Qhe5I/AAAAAAAAACw/GewF2nl-Loc/s200/Great%2520Silence%25203%2520edit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sore itu saya tiba di sebuah tempat yang sangat luas, sepi, dan sejuk. Penuh pohon tua dengan ukuran yang besar di halaman yang terletak di antara dua buah bangunan. Masing-Masing bangunan mempunyai koridor panjang yang berfungsi sebagai teras dengan meja-bangku kayu model lama di beberapa tempat, berpadu dengan lantai ubin semen mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memarkir sepeda motor saya masuk ke sebuah pintu di bawah tangga. Dan setelah pintu aku buka tampaklah sebuah halaman yang luas ditutupi rumput yang (lagi-lagi) diapit oleh dua bangunan panjang di sisi kiri dan kanannya. Masing-masing bangunan terdiri dari dua lantai dan mempunyai banyak pintu. Salahsatu dari pintu tersebut terbuka dan muncul seorang laki-laki agak gemuk dan berkulit putih. Sejenak memandang aku yang masih kebingungan.&lt;br /&gt;"Baru pertama ya Mas? Ambil aja salah satu kamar", katanya menyapaku.&lt;br /&gt;"Terimakasih. Oya, saya Seto."&lt;br /&gt;"Leo". Kami berjabat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil sebuah kamar.&lt;br /&gt;Seperti bangunannya, pintu kamar ini tampaknya belum pernah diperbarui kecuali dicat ulang. Aku masuk, dan tampaklah sebuah suasana ruang yang sangat sederhana meskipun cukup luas. Lantainya terbuat dari ubin semen mengkilap dan ceilingnya berupa plat beton ekspos dengan tekstur anyaman bambu. Dua buah tempat tidur di sisi kiri dan kanan. Satu terbuat dari besi dan satu lagi dari kayu. Pada tempat tidur besi terdapat kasur berbalutkan sprei putih, dan pada tempat tidur kayu terdapat kasur berbalutkan sprei kain jarik. Aku letakkan tas di kasur. Sebuah Injil, buku doa, buku catatan, pena, dan I-Pod aku keluarkan dan tempatkan di meja kayu, berdekatan dengan cerek plastik berisi air putih dan sebuah gelas. Pakaian aku keluarkan, dan ah! aku melihat lemari kayu, sebuah gantungan baju pada permukaan pintu, dan sebuah washbasin. Di dekat washbasin bertengger tempat penjemur pakaian dan handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tertata semuanya aku duduk. Merenung, merasakan harum ruangan yang aroma dan segala isinya mengingatkanku pada rumah lama Eyang. Seluruhnya. Material ruangnya, bangku-kursinya, lemarinya, juga pintu jendela model bangunan Jengki tahun 60-an.. dan ah ya ... panas sekali di sini. Untuk itu mataku mencari-cari penyegar udara dan akhirnya tertumbu pada sebuah kipas angin. Setelah kipas angin aku nyalakan, diriku yang masih gamang mencoba duduk-diam kembali. Merenung, dan dalam hati berkata "Tuhan, aku di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R02RHtQhe9I/AAAAAAAAADQ/Sxz3LO1lQk4/s1600-h/monk300_203x300.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137922311493614546" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R02RHtQhe9I/AAAAAAAAADQ/Sxz3LO1lQk4/s200/monk300_203x300.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pukul 19.00 setelah makan malam yang penuh canda.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Puncta&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;puncta&lt;/em&gt;, seorang biarawan muda menjelaskan bahan renungan yang bertajuk &lt;em&gt;Friend in The Lord&lt;/em&gt;. Dia berbicara dengan pola kalimat yang melompat dan agak gagap. Suaranya lirih. Tapi semua kelemahannya itu diakuinya. Dan tentu saja bagi kami bukan kelemahannya yang pokok tetapi intisari materi yang disampaikannya dengan baik. Friend in The Lord menjabarkan konsep berkomunitas yang baik dan berpusat pada Allah. Didasarkan pada komunikasi yang jujur dan tulus. &lt;em&gt;Sharing and loving&lt;/em&gt; yang tidak memusatkan diri kepada kebutuhan afeksi dan nostalgia, tetapi memberikan dirinya untuk sahabat, seperti halnya Isa Sang Putera memberikan diriNya bagi orang lain. Dan tema inilah yang menjadi bahan dasar renungan saat itu. Renungan yang dicari bukan dengan diskusi atau doa-doa permintaan, melainkan dengan &lt;em&gt;silentium magnum&lt;/em&gt;. Keheningan yang absolut, seperti yang dijabarkan seorang biarawan muda lainnya : "Setelah &lt;em&gt;puncta&lt;/em&gt; ini kita memasuki &lt;em&gt;silentium&lt;/em&gt; sampai acara ini selesai. Bukan kita yang berbicara, tetapi biarkan Dia berkata-kata. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk merenung. Terserah. Dimana saja. Boleh di kamar, di taman, atau dimanapun. Usahakan tidak ada pembicaraan yang tidak perlu. Sekian, dan kita kumpul lagi dalam doa malam di kapel". &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R1oDYyiyX1I/AAAAAAAAADg/TDkkO6eFypo/s1600-h/capture20.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141425649016266578" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R1oDYyiyX1I/AAAAAAAAADg/TDkkO6eFypo/s320/capture20.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meditasi malam selama satu jam, atau doa hadir pada subuh, misa pagi yang berbaur dengan penduduk setempat, pada waktu makan, aktifitas di kamar masing-masing, dan juga saat&lt;em&gt; coloquiuum&lt;/em&gt; atau wawancara dengan seorang biarawan. Semuanya berbalut keheningan. Mereka, pada biarawan muda itu, dahulu juga manusia seperti kami. Manusia yang bekerja mencari uang, hidup dalam rutinitas pekerjaan, mempunyai karier dan jabatan, mempunyai keinginan untuk menikah. Manusia seutuhnya yang mencinta dan berseksual. Pun saat ini mereka tetap manusia apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah &lt;em&gt;Frater&lt;/em&gt;. Saya sulit mempunyai gambaran sebuah pernikahan", kataku memulai percakapan.&lt;br /&gt;"Mas, Saya dulu juga seperti anda. Ada ketakutan dan kekhawatiran. Tapi coba renungkan ini : Bayangkan sebuah perkawinan, tentu dengan pasangan yang ideal menurut Mas. Rasakan keindahan dan kesusahannya. Lalu bandingkan dengan kalau Mas memilih menjadi Imam dan hidup selibat. Mana yang lebih kuat. Tapi bukan itu pokoknya, melainkan kalau Mas merasa menikah dan berseksual adalah sesuatu yang indah, syukuri hal itu karena itu adalah sebuah anugerah. Justru dengan ini anda diajak untuk menyadari ketika anda memilih hidup selibat tidak lain karena kesadaran untuk sebuah tugas dan mengikuti Dia. Selibat jangan dilakukan karena pelarian atau karena ketidakmampuan mencinta dan berseksual."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para biarawan muda itu. Mereka adalah manusia seperti kami dan akan tetap menjadi manusia apa adanya sampai kapanpun. Mereka telah, sedang, akan terus melewati tantangan sebagai selibater yang menyerahkan hidupnya pada sesuatu yang tidak tampak. Sesuatu yang lembut dan hening berlawanan dengan gemerlap dunia. Untuk itulah mereka hadir bagi kami yang mempunyai kegelisahan yang sama. Hadir untuk menemani. Bukan untuk menawarkan, terlebih memaksakan. Hadir untuk menjelaskan bahwa memilih hidup sebagai awam pada umumnya adalah sama baik dengan hidup selibat secara khusus demi Dia. Sama baik dan sama-sama terberkati. Sama-sama tidak ada yang salah. Dan ketika tiba saatnya menjatuhkan pilihan, apapun itu, mereka akan tetap bergembira bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di kamar yang sunyi aku kembali merenung dan bertanya :"lantas, kenapa aku ada di sini Tuhan? Aku tidak pernah meminta. Awalnya aku hanya mencoba membukakan pintu bagi tamu yang datang di malam-malam yang lalu. Kukira tamu itu adalah Ibuku yang sakit yang sempat aku temani hingga akhir hayatnya. Atau Ayahku yang di hari tuanya begitu sederhana dan penuh penyesalan atas kesombongan masa lalunya, dan saat ini begitu dekat denganku. Atau buruh-buruh di proyek yang senang aku berikan senyum dengan sedikit obrolan. Atau kukira Mbak Wartiyah dan Mang Uca yang mempunyai rumah di kolong jembatan, yang beberapa bulan lalu habis dibakar dan digusur.... Tetapi setelah pintu kubuka tak satupun dari mereka kulihat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya aku begitu lelah. Ingin membuang semua persoalan ini. Sangat sadar dalam diriku bahwa aku masih harus berhadapan lagi dengan pekerjaanku besok, yaitu merenovasi gedung yang sangat menyita waktuku. Jangankan untuk berdoa, sekedar &lt;em&gt;examen conscientiae &lt;/em&gt;atau memeriksa batinpun aku tak punya waktu. Aku memang lemah, rapuh, dan kotor. Tapi kenapa aku di sini? Entahlah. Aku lelah dan ingin tidur. Tetapi semakin memejamkan mata bait-bait nyanyian itu, meskipun sayup, tetap terdengar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Take, O Lord, and receive my entire liberty,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;my memory, my understanding and my whole will.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All that I am and all that I possess You have given me.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;surrender it all to You to be disposed of according to Your will.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Give me only Your love and Your grace;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;with these I will be rich enough,and will desire nothing more.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2571246823900088373?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2571246823900088373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2571246823900088373' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2571246823900088373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2571246823900088373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/11/friend-in-lord.html' title='Friend in The Lord'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R0nF49Qhe5I/AAAAAAAAACw/GewF2nl-Loc/s72-c/Great%2520Silence%25203%2520edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-6768236129614291693</id><published>2007-11-19T10:54:00.001-08:00</published><updated>2007-11-25T06:01:07.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Bulan di Asia</title><content type='html'>Kemarin malam aku membongkar koleksi kaset lama. Banyak juga ... dan kotor. Satu persatu aku ambil dan bersihkan, sampai akhirnya jatuh pada salahsatu album yang aku suka, bertajuk Bulan di Asia yang dimainkan oleh kelompok JavaJazz. Ini sebuah grup jazz yang muncul pada tahun 90-an. Dengan memainkan nada kombinasi pentatonik-diatonik kelompok ini mampu menarik perhatian publik pada NorthSea Jazz Festival di Den Haag Belanda. Dan Bulan di Asia hadir dengan imaji yang kuat di antara alunan nada mainstream modern lainnya. Tidak hanya nada-nadanya tetapi juga judul yang diusung. Cantik, eksotis, genit, penuh warna, sekaligus agung dan mistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudi, seorang kawan sekaligus pianis suatu ketika menjelaskan bahwa seorang musisi jazz hidup-larut dalam ritme nada yang dimainkannya : improve, ekspresif, "melompat", nada sengau, sinkop, fretless, memainkan rasa. Mereka bagaikan berjalan beriringan tetapi masing-masing berdiri pada layer yang berbeda. Namun demikian ada unsur yang selalu menjaga agar tetap ada dialog dan harmoni. Dan tentang layer sendiri, aku mengenalnya kira-kira sepuluh tahun silam ketika masih belajar di fakultas arsitektur. Kami diajarkan bagaimana mengolah layer dalam proses perancangan. Kami diajak membaca data kehidupan : sejarah, aktifitas, budaya, filosofi, religi, fungsi, program, sirkulasi, dan masih banyak lainnya. Mengolahnya, meletakkan masing-masing unsur pada pola yang berbeda, dan di tempatkan dalam satu bidang. Mirip menjahit kain-kain perca menjadi satu selimut, sehingga terbentuklah ruang dan waktu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 18 November 2007. Waktu itu menunjukkan pukul 21.30 wib. Hujan turun deras di Jakarta Selatan. Masih dengan menggunakan raincoat aku mengetuk pintu sebuah rumah di Kampung Duku yang lampunya masih benderang. Terdengar suara ceria anak-anak di dalamnya. Masih ada kehidupan pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian muncul mas Wawan dari balik pintu, diikuti Bening yang mengenakan piyama. Keduanya tertawa. Ah, nyaman rasanya. Disambut dengan sebuah kegembiraan, dingin di badan tidak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian Bening yang anggun pamit tidur, dan berganti muncul sang adik, si genit Kanya yang juga mengenakan piyama. Dirinya mencuri perhatian kami yang sudah berbincang panjang -lebar. Tentang kegiatan akhir-akhir ini, tentang diriku yang jatuh cinta, tentang teman, tentang buruh-buruh proyek, tentang bagaimana saat ini beberapa dari antara kami menduduki posisi yang baik dalam pekerjaan. Seringkali di tengah pembicaraan, Kanya mencium pipi Bapaknya. Tanpa bermaksud memutuskan pembicaraan kami sang Bapak berganti mencium pipinya dan melontarkan rayuan mesra, dan kemudian obrolan berlanjut lagi. Aneh, aku tidak merasa terganggu. Bahkan merasa kehadirannya, meskipun dalam aras yang berbeda dengan pembicaraan kami terasa bagaikan sesuatu yang alami dan saling mengisi. Sulit bagiku untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi.&lt;br /&gt;Kanya merengek minta tidur dekat dengan Bapaknya. Jadilah si Nok ini tidur di sofa berbantalkan guling panjang dengan percaya akan satu janji: nanti tidur dengan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wedang Sekoteng bersama tempe dan tahu bacem disuguhkan. Tak lupa kacang kulit. Kami berbicara tentang silencium. Mengolah rencana-rencana dan berharap Tuhan berkenan akan rencana retret yang akan datang. Kami juga berbincang tentang arti komunitas, mengkritisi, mempertanyakan makna dibalik kata, pandangan positif akan para sahabat. Lagi-lagi si Nok yang genit duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho kok ngga tidur?", tanya sang Bapak. Dijawab dengan gelengan kepala, dan sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Nok Kanya tertawa. Aku menimpali : "lho kok oom Seto ngga dicium?". "Ayo cium Oom!," sang Bapak memprovokasi. Si Nok menggeleng. Tanpa persetujuan sebuah ciuman mendarat di pipinya. Kami tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petir berkeliaran di udara. Masih hujan. Motorku tampak mengkilap gagah dibalik pintu. Mas Wawan mengucapkan sebuah kalimat yang malam itu bagiku terdengar bak kalimat samawi : "Kalau dipikir-pikir, apa artinya dia bagiku? Kenapa dia harus hadir di tengah keluargaku? Siapa dia?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan seorang individu dengan jatidiri yang berbeda," aku menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," jawabnya. Tangannya terus membelai si Nok yang mulai tertidur. Nyaman dan hangat. Menunggu janji sang Bapak yang akan mengajaknya tidur. Wajahnya terlihat cantik, seperti wajah bulan. Bulan dengan wajah yang sangat Asia. Ya, Bulan di Asia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-6768236129614291693?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/6768236129614291693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=6768236129614291693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6768236129614291693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6768236129614291693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/11/bulan-di-asia_19.html' title='Bulan di Asia'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-9027185378466341436</id><published>2007-11-14T08:06:00.000-08:00</published><updated>2007-11-28T08:16:02.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Ki Moy</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R02TL9Qhe-I/AAAAAAAAADY/qUgC0yTlUZ4/s1600-h/1162.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137924583531314146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 180px; CURSOR: hand; HEIGHT: 255px" height="315" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R02TL9Qhe-I/AAAAAAAAADY/qUgC0yTlUZ4/s320/1162.jpg" width="235" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Suatu sore aku mampir ke wilayah Kali Besar Jakarta. Sekedar untuk memuaskan rasa kangen terhadap suasana kota tua, apalagi udara saat itu tidak terlalu panas. Sangat menyenangkan untuk sejenak lepas dari rutinitas dengan cara membuat sketsa. Maka jadilah, berbekal bangku kaki tiga yang bisa dilipat, beberapa lembar kertas sketsa, dan pensil tentunya, aku mencari posisi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mata aku arahkan ke seluruh wilayah ini. Menatap deretan bangunan-bangunan tua di tepi jalan raya di sisi Timur dan Barat yang dipisahkan oleh sungai besar yang dulu dikenal sebagai Grootegracht. Airnya kotor berwarna hitam pekat. Pelan sekali alirannya, penuh sampah, dan berbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bangunan-bangunan ini berfungsi sebagai sentra perdagangan yang dikelola oleh para pedagang keturunan Cina, Eropa, dan Vereenigde Oostindische Compagnie. Sungai di depannya menjadi lalu-lintas kapal yang masuk melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, melewati ‘djembatan inten’ yang sosoknya masih bertengger sampai sekarang. Di masa jaya kala itu orang mengenal wilayah ini dengan nama Iacatra yang akhirnya berubah menjadi Batavia, Jayakarta, dan akhirnya Jakarta. Pelaut Portugis menamainya ‘Zamrud Asia’. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Gedung-gedung tua yang bahkan menurut para ahli sejarah Belanda tidak ada duanya di dunia bahkan di Eropa sekalipun, tidak berfungsi apa-apa. Diam tidak terawat. Beberapa ruangnya menyisakan tempat untuk para gelandangan, pengemis, dan pelacur yang menyediakan jasa bagi para pengemudi truk di dekat wilayah pergudangan untuk melepas lelah. Unloading. Beberapa bangunan lainnya difungsikan kembali sebagai kantor swasta dan pemerintah, juga tempat hiburan yang dikuasai oleh mafia kelas atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi di tempat yang sama bersama Pater Adolf Heuken kami melihat kerumunan di sekitar kali besar. Seseorang mengatakan ada bayi dibuang. Mendengar itu saya menoleh kepada Pastor Jesuit tersebut. Dia hanya bergumam lirih : “Ah, masih ada saja yang seperti ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pensil sudah di tangan. Aku mulai dengan menaksir bangunan. Tiba-tiba terdengar sebuah sapaan. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan tua sudah berdiri di sampingku. Badannya kecil, pakaiannya dekil. Rambutnya sedikit ikal. Dia mengatakan tertarik melihat aku melukis. Dia mengaku bernama Ki Moy. Wanita keturunan Cina. Semasa mudanya berprofesi sebagai tukang pijit berkelas, lady escort, dan cabo atau pelacur (mungkin diambil dari kata Ca Bau). Memang, jika diamati lebih jauh kekumalan tubuhnya tidak menutupi sisa kecantikannya. Dia mengaku berasal dari keluarga kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, harusnya Ibu enak dong. ‘Kan keluarga Ibu kaya semua”, begitu saya menanggapi obrolannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngga lah, mereka jahat. Mereka buang saya. Udah deh .. saya minta duitnya aja. Buat makan nasi kecap. Sepuluh rebu aja. Kalo ada lebih juga boleh .. he he .. Kalo nggak ada ya udah. Besok ketemu aja di sini. Besok ke sini ‘kan? Saya tiap hari liwat sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya Ibu tinggal dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana tuh … di kolong jembatan Inten. Di sana banyak cabonya lho. Duapuluh rebuan. Tapi Jelek-jelek. Yang cakep di sana no … di Petak Sembilan deket Gloria. Cabonya Cina. Cakep-cakep. Boleh buat situ deh. Situ apa tadi? Arsitek ya? Tukang ngitung bangunan ya? Kaya dong. Cocok deh buat situ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama obrolan berlangsung aku hanya bisa tertawa atau senyum. Uang sejumlah duapuluh ribu aku berikan, dan dengan ucapan terimakasih dia pergi dengan sebelumnya meninggalkan sebuah pesan : “Anak laki saya juga tukang ngitung bangunan. Tinggalnya di Cengkareng. Tolong temuin dia. Bilang dia saya sayang sama dia. Saya ngga minta dia harus ketemu saya. Besok kasih tahu saya ya. Kalau cari saya di kolong Jembatan Inten. Bilangin dia saya sayang sama dia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saat itu senja hari sewaktu aku melihat sosoknya yang kecil pergi. Dalam hati aku berpikir bagaimana seseorang bisa dengan mudah percaya kepada orang yang baru dikenalnya. Dia juga percaya bahwa aku mengenal anaknya hanya karena kami sama-sama tukang ngitung bangunan. Kedengarannya bodoh. Tapi bisa jadi permintaannya adalah ungkapan kerinduan yang ingin disampaikan yang selama ini tidak tahu kepada siapa dia ingin sampaikan. Sebagai manusia saya hanya bisa terharu tetapi tidak bisa berbuat lebih banyak. Hanya ada rasa ingin bertemu dengannya lagi dan mengatakan : “Ibu, saya sudah bertemu dengan anak Ibu. Dan dia mengatakan bahwa sayang kepada Ibu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ saya hanya berharap, suatu ketika, siapa tahu, diakhir hidupnya dia tetap seorang cabo miskin yang kesepian, setidaknya bisa meninggal dengan hati tenang karena ‘tahu’ anaknya mencintainya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-9027185378466341436?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/9027185378466341436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=9027185378466341436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/9027185378466341436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/9027185378466341436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/11/ki-moy.html' title='Ki Moy'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/R02TL9Qhe-I/AAAAAAAAADY/qUgC0yTlUZ4/s72-c/1162.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-4849137661941321517</id><published>2007-10-31T08:42:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:02:29.175-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Dr. Satrio - Rasuna Said</title><content type='html'>Kemarin malam saya berjalan kaki menyusuri jalan Dr. Satrio menuju Rasuna Said. Lalu lintas sangat padat. Awalnya tidak merasa heran karena sehari-hari kondisinya memang demikian. Tapi beda kali inisemua kendaraan berhenti. Kemudian, dalam jarak kira-kira 50 meter ke depan baru tampak kerumunan. Saya pikir sebuah kecelakaan. Ternyata benar. Orang ditabrak sepeda motor kata seorang tukang parkir. Di sebelah kanan di tengah jalan dua orang menebar pasir kesebuah genangan darah. Di sebelah kiri di tengah kerumunan seorang ustadz sedang berjongkok mendoakan korban ditemani dua orang polisi. Sesosok tubuh dengan posisi menelungkup di trotoir. Bagian kepala ditutup kertas koran. Tubuhnya kecil, pakaiannya dekil. Dia sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebisa-bisanya saya berdoa. Tapi dalam hati lebih banyak dipenuhi rasa haru. Haru terhadap korban, haru terhadap penabrak yang dalam kondisi &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; di bawa masuk ke mobil polisi, juga haru terhadap orang-orang yang menonton. Ada yang menaruh simpati, tapi (tanpa bermaksud buruk sangka) ada juga yang sekedar menganggap kejadian seru yang bisa dijadikan bahan cerita ke orang-orang. Muncul juga rasa aneh dalam hati demi membayangkan apa yang ada dibenak anak itu beberapa saat sebelum kematiannya. Mungkin dia punya banyak rencana, keinginan, dan berpikir ke depan tanpa pernah tahu sesaat lagi dirinya akan berpindah alam.Tapi ada lagi yang membuat hati saya terketuk : lelehan air mata seorang anak kecil di gendongan Ibunya. Sang Ibu tidak bereaksi sedih, bahkan berkesan biasa. Bisa dipastikan mereka bukan anggota keluarga. Anak itu tidak menangis keras, tapi mungkin merasakan kesedihan. Kesedihan itu seperti muncul secara spontan tanpa dirinyayang masih berusia sekitar 5 tahun mampu menalar lebih jauh apa yang terjadi. Di dalam pikiranku, spontanitas tersebut menyiratkan gerakan hati yang jujur, dalam, dan bersih. Saya yang selama berjalan dipenuhi pikiran dan kekhawatiran akan pekerjaan, kehidupan, keuangan, dan lain-lain yang membawa kepada sikap egois menjadi begitu ingin belajar lepas-bebas seperti anak itu. Sejenak berani untuk memberikan hati kepada orang lain tanpa buru-buru menilainya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya jiwa korban itu bahagia, seperti halnya saya percaya malam itu Tuhan berbicara kepada saya melalui lelehan air mataseorang anak. Memang Tuhan itu sangat lembut, tapi kehadiranNya kerapkali nyata dan meninggalkan sebuah tanda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-4849137661941321517?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/4849137661941321517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=4849137661941321517' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4849137661941321517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4849137661941321517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/10/dr-satrio-rasuna-said.html' title='Dr. Satrio - Rasuna Said'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-5665309135321331514</id><published>2007-10-26T09:06:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:02:45.330-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>God Lives in The Details</title><content type='html'>Dulu, para guru dan mahaguruku sering menyatir kalimat seorang mahaguru arsitektur, yang mengatakan bahwa Tuhan hadir dalam setiap detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tubuh kota Jakarta yang porak-poranda terdapat sebuah detail, yakni kampung kecil yang mempunyai sebuah pelataran yang berfungsi sebagai &lt;em&gt;open-public-space&lt;/em&gt;. Di tepian &lt;em&gt;common space&lt;/em&gt; tersebut hadir sebuah rumah mungil nan asri dimana keluarga Yohanes Krisnawan hidup di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan diriku duduk di pelataran tersebut, memandang teras dan ruang tamu yang terang benderang. Tentu, tak lain karena ada sebuah perhelatan, memperingati ulang tahun Kanya, puteri kedua pasangan Wawan-Nela. Dalam imajinasi, saya bayangkan kemeriahan tersebut membawa kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya, seperti halnya Kanya yang suatu saat saya temui sedang bergembira menjalin komunikasi dengan teman sekampungnya di balik pintu pagar. Padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tetapi suaranya yang ceria seakan menyusup koridor kampung, tanaman rambat, tiang-tiang jemuran, pintu-pintu rumah menularkan kegembiraan. Atau rengekan mesranya demi melihat sang Bapak mengeluarkan sepeda motornya. Atau juga sang kakak, Bening, yang dengan lembut-tak kentara menuliskan doa-doanya pada sesobek kecil kertas. Untuk teman, untuk sang adik, untuk burung piaraan, untuk Bapak dan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Tuhan selalu hadir menyusup dalam hal-hal terkecil dalam unsur kehidupan. Juga dalam sebuah rumah kecil nan asri, yang terletak dalam sebuah kampung yang mungkin dipandang sebelah mata. Dan saya percaya, selalu dimana Tuhan hadir, Dia mendirikan mezbahNya. Mendirikan altar bagi kita untuk memanjatkan doa-doa bagi sesama, bagi kota, bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dpersembahkan untuk Mas Wawan, Mbak Nela, Bening, dan Kanya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-5665309135321331514?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/5665309135321331514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=5665309135321331514' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5665309135321331514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5665309135321331514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/10/urbi-et-orbi.html' title='God Lives in The Details'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-3030654213331834796</id><published>2007-08-13T00:30:00.000-07:00</published><updated>2007-11-28T08:17:45.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Tidur</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RsAR12ukBdI/AAAAAAAAABo/pm8ODOUmSOA/s1600-h/tidur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098094395104953810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 221px; CURSOR: hand; HEIGHT: 325px" height="361" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RsAR12ukBdI/AAAAAAAAABo/pm8ODOUmSOA/s400/tidur.jpg" width="253" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RsAKTmukBbI/AAAAAAAAABY/Xhk83PKJv-Q/s1600-h/tidur.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salah satu gejala yang dirasakan beberapa teman ketika menghadapi praktek kuliah kerja nyata adalah sulit tidur pada hari-hari pertama mereka tinggal di tempat yang bukan wilayah mereka. Mereka menjadi begitu kelelahan pada hari-hari berikutnya karena tidak mempunyai kesempatan secara utuh untuk melepaskan semua energi dalam tubuhnya yang saling berbenturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tidur manusia berada dalam titik apa adanya sebagai dirinya. Posisi tubuh, gerak, mimik wajah yang sesungguhnya tidak dapat ditutupi. Seorang teman, Andre namanya, yang ketika banjir datang melanda Jakarta segera mengemasi barang dan memindahkan ke sebuah kamar kosong di lantai dua. Sesampainya di kamar tersebut dirinya terbengong demi melihat Dinar, seorang teman kos yang berprofesi sebagai foto model tidur dengan mimik yang lucu dengan wajah tak karuan. "Wah, boleh jadi dia seorang model yang sehari-hari cantik. Tapi begitu tidur tetep aja &lt;em&gt;ngowos&lt;/em&gt;", begitu komentar Andre. "Apa itu &lt;em&gt;ngowos&lt;/em&gt;?" tanya Okky yang juga seorang foto model asal Bali. "Ya itulah. Lihat sendiri. Mulut menganga, suara dengkuran ngga karuan".&lt;br /&gt;Ah, Okky yang cantik dan natural menjadi salah tingkah dan semakin cantik. Semoga kami tidak melihatnya ketika sedang tidur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Ah kalau aku hanya bisa tidur di kamarku sendiri, sejelek apapun kamarku itu", begitu kata Bernardus yang sehari-hari kami sapa &lt;em&gt;wedhus&lt;/em&gt; (kambing). Rasanya Ben tidak sedang membanggakan kamarnya yang tidak mewah. Mungkin dia benar bahwa sebuah ruang kamar adalah cerminan pribadi penghuninya sehingga hanya kepada kamarnya dia bisa merasa nyaman dan aman. Bagaimana tidak? Kamar selalu memberikan dirinya untuk didandani sesuai keinginan penghuninya. Kamar juga menjadi saksi bisu tingkah laku dan ungkapan perasaan. Jadi, kalau ada orang bisa tidur di sembarang tempat tentu dia adalah sosok yang amat luwes dan mampu membuat dirinya berdamai dengan setiap ruang-waktu dan menjadikannya sebagai kamar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Orang macam ini mirip keong. Kemana-mana bawa kamarnya. Biasanya, orang macam ini hatinya gelisah. Manajemennya pasti jelek", begitu Ben berteori.&lt;br /&gt;"Sembarangan. Jadi kamu pikir si Deni, Samuel, Eron, Aan tipe orang seperti itu? Menurut aku &lt;em&gt;kok ngga&lt;/em&gt;. Apalagi Sam. Dia sangat rapi."&lt;br /&gt;"Sam mungkin beda. Dia bisa tidur dengan enak di atas loker studio karena udah sering lembur di sini. Jadi udah kenal ruangannya dan merasa aman. Coba kamu suruh dia tidur di koridor deket tangga. Mana mau dia?".&lt;br /&gt;"Huayah!! Siapa juga yang mau tidur di situ. &lt;em&gt;Spooky Man&lt;/em&gt;!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betul, suatu ketika aku melihat ada orang tidur di tangga. Anis Temi tidur dengan bibir mencium step tangga. Atau beberapa teman yang tidur nyenyak di lantai bordes sehingga membuat orang lain yang lewat harus bersikap seperti orang yang melewati makam. Mungkin betul bahwa mereka tipe orang yang bisa mempunyai perasaan damai di banyak tempat tapi bisa jadi material turut menyumbang kenyamanan yang membuat mereka rela bersikap macam gelandangan. Ubin lantai yang dingin misalnya mampu membuat orang luruh di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Suatu hari di atas kereta Mutiara Selatan menuju Yogyakarta dari Bandung, aku duduk di bordes sembari menyesali diri kenapa tadi berangkat ke stasiun terlambat. Di sebelahku, dua orang laki-laki asyik tertidur. Badan mereka terlipat di ruang gerbong yang sempit. Melihat pemandangan tersebut, di tengah goncangan dan derak roda kereta yang keras aku berpikir bahwa struktur tubuh manusia begitu indah dan hebat. Mampu menyesuaikan diri dengan kondisi ruang meskipun dalam hatinya belum tentu ada perasaan nyaman. Data-data dan teori standar arsitektur yang dikemukakan oleh &lt;em&gt;Neufert&lt;/em&gt; yang kami pelajari di sekolah rasanya menjadi hambar. Standar tersebut tentu baik diterapkan pada wadah kehidupan manusia di semua tempat. Sayangnya, dapat diterapkan jika suatu bangsa berada dalam kondisi sejahtera. Lantas, bagaimana dengan bangsa atau masyarakat yang karena banyak hal tidak kunjung sejahtera? Apakah harus dibumi hanguskan dan diganti dengan wadah yang sesuai standar atau mencoba berkompromi, setidaknya untuk sementara waktu ditetapkan standar yang sesuai kondisi? Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembuat keputusan seringkali menerapkan standar berdasarkan apa yang mereka pikir atau mengambil nilai dari budaya lain yang jelas belum tentu sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya praktis saja. Sebuah standar harus dibaca bukan sebagai aturan baku tetapi sebuah &lt;em&gt;guidance&lt;/em&gt; yang mampu menanggapi perkembangan manusia. Bukan seperti kitab suci yang dikunyah mentah karena pada akhirnya nilai manusia itu sendiri yang perlu diperhatikan. Saya percaya, ketika &lt;em&gt;Ernst Neufert&lt;/em&gt; membuat standarisasi ruang dan &lt;em&gt;Le Corbusier&lt;/em&gt; menemukan &lt;em&gt;The Modulor&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;The Golden Section&lt;/em&gt;, semua bermula dari unsur manusia. Memberi penghargaan kepada tubuh manusia untuk memperoleh kenyamanan dan ujung-ujungnya adalah membuat manusia bisa beristirahat dan tidur dengan tenang agar irama kehidupan bisa berjalan dengan seimbang. Sebaliknya dapat dibayangkan jika jutaan energi buruk muncul ketika manusia tidur memenuhi atmosfer. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-3030654213331834796?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/3030654213331834796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=3030654213331834796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3030654213331834796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/3030654213331834796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/08/tidur.html' title='Tidur'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RsAR12ukBdI/AAAAAAAAABo/pm8ODOUmSOA/s72-c/tidur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-5653418034280327441</id><published>2007-08-05T10:11:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:03:24.779-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Aku Melihat Rosarioku Bertumpuk dengan Gumpalan Uang Kertas Limaribu dan Beberapa Receh Logam</title><content type='html'>Aku melihat rosarioku tergeletak di meja, bertumpuk menjadi satu dengan gumpalan uang kertas limaribu dan beberapa receh uang logam. Sebuah rosario kayu yang diberikan oleh seorang Pastor Diosesan kepada Ibu dengan sedikit cerita singkat tentang permohonannya kepada &lt;em&gt;Kanjeng Ibu&lt;/em&gt; agar selalu memberi kekuatan kepada Ibu. Rosario yang dikirim melalui pos tersebut aku terima tepat tiga hari setelah Ibu dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kebiasaanku, benda-benda yang kuletakkan bertumpuk berarti aku ambil dari satu tempat. Entah dari saku kemeja atau celana. Menurut kebiasaanku pula, rosario selalu aku letakkan pada tempat yang "terhormat", terpisah dengan benda-benda lainnya, dan mudah dicapai tangan. Tujuannya agar tidak rusak ketika "diambil paksa" atau putus karena terikat benda-benda lain tersebut. Tetapi dibalik itu sejak kecil aku memang memahami bahwa benda-benda seperti rosario, meskipun hanyalah sebuah benda atau alat, harus diletakkan secara hormat. Tak peduli dengan omongan yang mengatakan bida'ah dan penyembahan berhala. Yang jelas jiwaku tak tega untuk meletakkannya secara sembarangan. Secara jujur aku mengakuinya ada nilai kudus di dalamnya meskipun pemiliknya tak kunjung kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melihatnya menggumpal menjadi satu bersama uang kertas dan beberapa receh logam hatiku mengatakan bahwa aku sedang terburu-buru. Terlalu sibuk. Baik hari ini atau bahkan beberapa hari sebelumnya. Ya, aku memang terlalu sibuk. Baik dalam urusan pekerjaan kantor atau pekerjaan lainnya yang bahkan penuh nilai religiositas dan kemanusiaan. Dan seperti halnya membiarkan rosarioku tergumpal bersama uang kertas limaribu dan beberapa receh logam, kesibukanku membuat aku membiarkan orang-orang yang seharusnya aku cintai dan aku perhatikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-5653418034280327441?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/5653418034280327441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=5653418034280327441' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5653418034280327441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/5653418034280327441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/08/aku-melihat-rosarioku-bertumpuk-dengan.html' title='Aku Melihat Rosarioku Bertumpuk dengan Gumpalan Uang Kertas Limaribu dan Beberapa Receh Logam'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-2755684654193180203</id><published>2007-07-05T17:04:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:03:56.085-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Titip Refa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tanggal 23 Juni 2007 aku menerima pesan dari Bapak melalui sms. Mengabarkan bahwa Norman adikku lulus ujian nasional. Bukan hanya itu. Dikatakan juga bahwa seratus persen murid di tempat dia bersekolah juga lulus. Dalam hati aku tersenyum. Ada rasa lega dan bangga yang besar demi mengingat perjuangan yang kami sekeluarga lalui bersama untuk bisa menyekolahkan adikku yang satu ini. Maklum, kami bukan dari kalangan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003 yang lalu adalah tahun terburuk dalam karier Bapak. Peristiwa bom yang meluluhlantakkan Paddy's Restaurant di jalan Legian Bali sertamerta juga menghancurkan usaha perjalanan wisata yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun. Demikianlah saat itu, dengan kekuatan yang diperoleh entah darimana Bapak menjual semua asetnya demi bisa memberikan gaji terakhir bagi para karyawannya; mbak Yus sang sekretaris, Pak Min yang &lt;em&gt;office boy&lt;/em&gt;, dan Pak Riniyanto sang pengemudi, yang telah mengabdi bahkan sejak aku dan kakak-kakakku masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Bapak tidak berskala besar. Pas-pasan saja. Jadi tidak heran kalau tidak ada sisa harta yang bisa diandalkan saat itu kecuali sebuah sepeda motor yang dibeli dengan cara kredit dan uang tabungan yang kian menipis. Aku, saat itu masih bekerja di sebuah biro konsultan besar di Jakarta. Tapi apalah arti kata “besar” dalam kehidupan ekonomi di negara yang berantakan dan tidak mampu memberikan jaminan minimal untuk sebuah kehidupan yang layak. Serba sulit. Serba harus menahan diri. Ditambah bagi kaum urban seperti aku, kakak-kakakku, dan beberapa kawan yang betul-betul harus berdiri di atas kaki sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hidup memang sebuah perhelatan akbar. Banyak tarian yang harus dimainkan. Dan apapun tariannya tentulah akan tampak indah jika digerakkan dengan sepenuh hati, bukan dengan keluhan. Maka jadilah, dengan semangat tersebut kami menambal “dinding yang berlubang” agar “kapal” tidak karam. Termasuk agenda saat itu adalah membantu Norman untuk dapat melanjutkan belajar di sekolah menengah pertama. Ah, tapi ini jangan dibaca sebagai kisah kepahlawanan. Bukan. Ini murni rasional : bahwa harus ada tali estafet yang harus terus bersambut agar kehidupan tidak luruh. Maka mengingat peristiwa itu semua patutlah kami saat ini bersyukur atas kelulusannya. Adikku memang bisa diandalkan. Setidaknya atas usaha terakhirnya yang membuahkan nilai baik dan sikap serta pola pikir yang membuatnya dengan mudah diterima di sebuah sekolah menengah umum swasta bermutu. Murah? Tentu tidak! Dan sekali lagi kami harus “menari” lagi. Ngamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik peristiwa syukur tersebut ada satu orang lagi yang perlu selalu kami ingat, yaitu Ibu. Tiga tahun yang lalu dia memainkan peran sebagai layaknya Ibu bagi Norman yang adalah saudara kandung bagi kami tetapi berlainan Ibu. Ibulah yang sejak awal mengingatkan Bapak dan kami semua dari sejak pengumuman penerimaan, jadwal pengembalian formulir, pengambilan nomor tes, dan lain sebagainya. Tetapi dari semua peran tersebut yang terpenting adalah posisi tawarnya yang masih baik sebagai bekas guru dan petugas unit kesehatan sekolah di tempat Norman akan bersekolah. Tentu hal ini sangat membantu kami yang harus mengakui secara jujur berada dalam situasi keuangan yang lemah. Masih segar dalam ingatanku saat dirinya lapor sesampainya aku di Jogja. Lapor atas usahanya menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik Wisnu, sebagai bekas guru di sini tawaranku masih dihargai atau tidak?”, tanyanya kepada Pak Wisnu, seorang teman baik, dan bekas guru kami yang masih setia mengabdi.&lt;br /&gt;“Oh lha iya to Bu. Tapi buat siapa?”&lt;br /&gt;“Ya buat anakku to”.&lt;br /&gt;“Anakmu yang mana? Semua sudah pada lulus dan gede-gede to?”&lt;br /&gt;“Anakku yang mana? Anakku ya anakku! Norman Mahardhika namanya. Dia yo anakku”. Ngotot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Ibu memang hanya seorang guru. Guru pelajaran menyanyi, koor, dan juga pencipta lagu yang tidak pernah komersil. Baik saat masih bertugas di sekolah ini, maupun ketika akhirnya memilih “pensiun” dirinyapun masih mengajar di sekolah lain, di Instansi Pemerintah Daerah yang getol kalau ada lomba tahunan antar departemen, bahkan pernah juga di Akademi Angkatan Udara. Untuk yang aku sebut terakhir ada kesan mendalam yang tampak dalam cerita-ceritanya; bagaimana dirinya selalu dijemput menggunakan bis besar berwarna biru tua. Sesampainya di lokasi langsung di sambut oleh Taruna tertua yang melaporkan bahwa mereka siap untuk berlatih. Diingatnya juga bagaimana mereka memberi hormat ketika Ibu masuk ke dalam ruangan. Dan hasilnya : sebuah paduan suara dengan semangat militer yang setiap bulan sekali mempersembahkan koor untuk upacara misa di gereja Kidul Lodji. Tetapi begitulah. Dirinya tetap seorang guru honorer yang penghasilan terakhir sekitar tiga tahun sebelum wafatnya hanya tigaratus ribu rupiah sebulan. Tetapi semua kekurangan itu tidak melunturkan jiwa pendidik dan kecintaannya terhadap anak-anak dan sebisa mungkin menolong mereka yang membutuhkan. Salahsatu anak yang dikasihinya adalah Refa. Nama lengkapnya adalah Yohanes Refa Cahyo Kurniawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Refa lahir dari pasangan Pak Sukar dan Mbak Ten. Wajahnya bersih dan tampan. Seumur dengan Norman adikku. Dia rajin mengaji, pintar, dan budi pekertinya halus. Sangat mengerti akan kondisi orangtuanya yang sangat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ten, begitu kami memanggilnya, adalah perempuan sederhana yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Tulang punggung keluarga. Perawakannya kecil, penurut, tetapi kadangkala emosinya meledak-ledak. Mungkin hal tersebut disebabkan pendidikannya yang terbatas sehingga sulit mengolah kesulitan hidup yang dihadapi. Mbak Ten bekerja untuk keluarga kami, dalam hal ini membantu Ibu mengurus rumah dan menjaganya saat malam hari. Dahulu, sebelum kami mengambil perawat yang mengurus luka kanker payudara yang hinggap di tubuh Ibu, kalau terjadi sesuatu seperti jatuh dari tempat tidur atau pendarahan misalnya, mbak Tenlah satu-satunya orang yang bisa diandalkan. Berani melihat kanker, melihat bulir-bulir daging busuk dan darah yang mengucur serta membersihkannya. &lt;em&gt;Ora jijikan&lt;/em&gt;. Tidak mudah jijik begitu kata Ibu mengomentari keteguhan dan kesetiaan mbak Ten. Begitu setianya sehingga mulutnyapun nyaris rapat sempurna, mematuhi pesan sang majikan untuk tidak menceriterakan kondisi yang sebenarnya jika anak-anak bertanya. Di mataku mbak Ten adalah seorang malaikat. Dirinya selalu menyiapkan teh hangat yang sangat nikmat kalau aku pulang ke rumah Ibu, atau air panas untuk mandi dengan tidak lupa kebiasaannya menaburkan daun sirih. Selalu, pada saat-saat seperti ini aku merasa menjadi raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sukar mempunyai wajah yang tampan. Perawakannya tidak tinggi tetapi cukup kekar. Sejak kecil kami sudah mengenalnya. Dahulu dia bekerja membantu Pakde Mardi, saudara iparnya, sebagai pengrajin logam sepuh. Membuat benda-benda seperti sendok, lambang garuda pancasila, logo kraton, dan lain sebagainya. Sering, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika hendak pergi ke warung Bu Muh, berhenti sejenak saat melewati bengkel milik mereka. Ruangannya kecil. Berukuran 2 x 3 meter dengan atap &lt;em&gt;emplekan&lt;/em&gt; atau tambahan karena ruangan yang mereka gunakan untuk bekerja sebetulnya adalah pojok halaman. Ruangan ini cukup gelap. Lantainya tanah. Dindingnya hitam akibat hangus oleh api yang digunakan untuk mencairkan logam. Mereka bekerja dengan cara berjongkok atau duduk pada sebuah &lt;em&gt;dhingklik&lt;/em&gt;. Sebagai anak kecil aku senang melihat api yang menyala-nyala tersebut. Membesar dan panas ketika Pak Sukar meniupkan udara dari mulutnya ke dalam tungku secara manual menggunakan pipa besi. Pekerjaan inilah yang akhirnya memberikan kebutaan pada kedua matanya. Saat ini, di dalam kegelapan dunia, dirinya masih berusaha mengais rejeki sebagai &lt;em&gt;niyaga&lt;/em&gt;. Memainkan rebab dalam satu kelompok penabuh gamelan pada acara Sendra Tari Ramayana yang diadakan untuk menjamu wisatawan. Lokasinya tidak jauh dekat rumah kami. Sebagai &lt;em&gt;niyaga&lt;/em&gt; dengan jadwal yang tidak sering penghasilannya sangatlah kecil. Sisa harinya selalu digunakan untuk memainkan rebab. Duduk di sebuah kursi di muka pintu kamar menghadap halaman yang berbatasan dengan rumah kami. Suara gesekannya &lt;em&gt;rengeng-rengeng&lt;/em&gt;, pelan, kadang datar. Sendu, meditatif, menarik rasa dan emosi ke dalam situasi hening. Dia tahu bahwa aku dan Ibu suka mendengarkan permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu miskin keluarga itu. Jika tidak dibantu oleh beberapa sanak, Refa tentu tidak dapat bersekolah. Keadaan mereka yang serba sulit dan sikap mereka yang baik menggerakkan hati Ibu untuk menjadikan mbak Ten sebagai pengurus rumahnya. Untuk memberi tambahan penghasilan.&lt;br /&gt;“Untuk Refa. Anak itu baik. Bapak Ibunya ngga punya apa-apa. Kasihan kalau sampai ngga sekolah”, kata Ibu suatu hari. Aku hanya bisa mengangguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu kembali muncul dalam benakku ketika pelan-pelan kegembiraan hati atas kelulusan Norman mulai mengendap. Titip Refa. Kata-kata tiba-tiba itu muncul kembali. Pelan dan lirih, tetapi menghentakkan hati. Mengingatkan akan sesuatu yang terlupa. Kata-kata itu muncul dari mulut Ibu yang lemah, dalam pandangan mata yang nanar di sebuah kamar rumah sakit yang dingin dan temaram. Waktu itu bulan Maret menjelang April. Ibu sudah habis-habisan berjuang melawan kekuatan kanker yang sudah mencapai stadium terminal. Menggerogoti paru-paru dan jantungnya. Sudah hampir dua minggu kami menungguinya dalam kelelahan. Baik fisik maupun mental. Masih sempat sejenak melihat tawa dan semangatnya yang perlahan tapi pasti pudar berganti menjadi pikiran yang meracau, badan yang menolak makanan, bola mata yang memudar menjadi abu-abu, melihat bayang-bayang di balik kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Maret 2006. Waktu kira-kira menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana sangat sepi dan dingin. Aku berjaga sendiri, duduk di samping Ibu yang tidur dengan posisi miring menghindari rasa sakit pada sisi kanan badannya. Tangannya merangkul guling dan telapaknya menggenggam pembatas tempat tidur. Kakinya bergerak secara berkala dengan irama yang tetap. Menurut suster yang merawatnya itu tanda bahwa dia begitu menahan sakit. Aku tidak percaya karena tidak keluar keluhan dari mulutnya. Hanya kadang kepanasan dan minta untuk digosok atau disejukkan. Tetapi kaki itu terus bergerak bahkan ketika matanya yang mulai nanar terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap wajahnya. Dagu kusandarkan pada tepi kasur dekat tangan Ibu demi menahan badan yang mulai lelah. Tiba-tiba mata Ibu terbuka dan kamipun bertatapan. Aneh, tiba-tiba ada ketakutan bercampur kesedihan merayapi hatiku, demi melihat orang yang pernah mengandung aku. Perempuan keras dan kuat pendiriannya. Teguh dalam kemiskinan dan penderitaan. Rela memberikan bahu bagi anak-anaknya untuk berpijak di atasnya dan meraih bintang-bintang di langit. Hidup dalam kesendirian dan kesepian. Dan saat ini dia berada dalam kondisi sakratul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I love you Ma”.&lt;br /&gt;“Love you too”. Suaranya lirih dan berat. Sembari mengusap kepalaku. Sesuatu hal yang lama tidak kurasakan. Belaian lembut seorang Ibu kepada anaknya.&lt;br /&gt;“Maafin aku Ma”.&lt;br /&gt;“Pasti”, jawabnya&lt;br /&gt;“Kamu bangga?”, dia bertanya. Aku mengangguk tersenyum.&lt;br /&gt;“Nanti kalau Mama sudah ngga ada, tolong kamu kasih uang ke Mbak Ten. Cincin Mama ada di lemari di bawah tumpukan baju. Kamu ambil. Koor nanti biar Mas Joko yang urus. Kalau sempet bawa Mama ke gereja dan mampir ke rumah." Dan berakhir pada satu permintaan : "Titip Refa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mulutku seperti dibungkam. Dan aku seperti melihat sebilah pedang menancap di dadaku. Menembus pelan masuk ke badan inchi per inchi … terus … terus ke dalam Terasa sakitnya. Dan ketika mulutku bisa terbuka yang terlontar bukanlah kata-kata penghiburan tetapi sebuah kalimat “Ya”. Saat itu aku merasa berjabat tangan dengan kematian yang aura kehadirannya mulai terasa, pelan tapi pasti, merangkul Ibuku yang kembali memejamkan mata dengan tarikan nafas yang teduh. Aku menangis. Di dalam kegelapan dan dinginnya kamar lepas kendali seluruh kekuatan dan kesombonganku sebagai laki-laki, dan akhirnya aku tahu itulah saat terakhir kami bertatapan dan berbicara. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-2755684654193180203?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/2755684654193180203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=2755684654193180203' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2755684654193180203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/2755684654193180203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/07/titip-refa.html' title='Titip Refa'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-7226196992658948724</id><published>2007-05-28T03:07:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:04:16.588-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Eyang Waras</title><content type='html'>Bagi Wegig pulang ke Yogya adalah sebuah peristiwa yang menggairahkan. Bertemu dengan teman-teman lama, ngobrol dengan Bapak dan adik, jalan-jalan menikmati situasi kotagede yang magis, nyekar ke makam Ibu, dan juga seperti biasa; nyekar ke makam Eyang Waras. Yang terakhir ini adalah seseorang yang mempunyai kesan tersendiri dalam hatinya. Sebutan Eyang tidak lain karena usianya yang sudah tua sewaktu Wegig mengenalnya. Sekitar tujuhpuluh tahun waktu itu. Di masa mudanya Eyang Waras adalah seorang Soverdian. Hidup sebagai anggota tarekat dalam sebuah biara Katolik yang akhirnya harus rela meninggalkan status biarawan karena sadar bahwa dirinya adalah seorang homoseksual. Kehidupan selanjutnya selepas membiara dibaktikan sebagai guru dan pembimbing rohani di sebuah gereja tertua di kota Yogyakarta dimana Wegig terlibat aktif di dalamnya. Dari pertemuan dengan Eyang Waras dirinya memperoleh pengalaman religius dengan sangat sederhana namun berkesan: sebagai &lt;em&gt;messdiener&lt;/em&gt; dan mulai menyukai lagu-lagu gregorian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi messdiener adalah menjadi pelayan”, begitu kata Eyang Waras suatu hari. “Beda kalau kamu ikut kegiatan lain yang penuh acara ini dan itu. Banyak dikenal, banyak yang suka. &lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt; kalau messdiener, sekali tampil di depan ya itu tadi. Melayani. Jadi pembantu. Yang jadi fokusnya adalah Imam. Tapi apapun itu menjadi seorang pelayan adalah sebuah tugas yang harus diterima dan dikerjakan dengan senang hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tersebut kembali terngiang dibenak Wegig ketika menyusuri trotoir di tepi taman kota. Seperti angin yang bertiup lembut. Tidak terasa kehadirannya tetapi mampu mengalihkan kesadarannya menuju masa lalu. Di sisi kanan sebuah bis melaju kencang disusul sepeda motor dan mobil yang berpacu menyambut &lt;em&gt;traffic light&lt;/em&gt; yang menyala kuning. Anginnya menerpa badan, menggoyang tas bawaan yang menjadi semakin berat. Sekelompok pasukan brigade mobil berjaga-jaga di depan sebuah gedung berpagar tinggi lengkap dengan untaian kawat duri. Di sisi kiri, kelompok besar pepohonan rimbun terlihat memancarkan kesejukan. Tetapi hamparan panorama tersebut tidak mampu mencuri perhatiannya yang sedang berkelana ke masa duapuluh tahun silam, di dalam sebuah bangunan gereja tua dimana dirinya berkumpul setiap minggu bersama teman-teman messdiener di bawah bimbingan Eyang Waras. Sebuah gereja yang tidak besar tetapi tinggi dan panjang. Tiang-tiangnya berbalut logam berwarna merah &lt;em&gt;maroon&lt;/em&gt; dengan ukiran klasik di ujung atas. Seringkali burung-burung gereja bersarang di sana. Diingatnya juga seluruh dinding altar berbalut pecahan genteng tanah liat yang mengkilap. Di sebelah kiri altar terdapat pintu masuk menuju sakristi, yaitu sebuah ruang persiapan bagi imam dan petugas upacara. Di tempat inilah baju-baju &lt;em&gt;misdienaar&lt;/em&gt;, sang pelayan, digantung siap pakai dekat sebuah lemari yang mempunyai cermin di bagian luar daun pintunya. Di tempat ini pula Romo Kijm, seorang Imam Belanda yang gemar menghisap rokok commodore, suatu ketika dengan kedua telapak tangan memegang kepala Wegig dan mengarahkan ke muka cermin. “Kalau sisiran yang rapi. Jangan seperti jalan semut”, katanya sembari meletakkan jari telunjuk ke garis belahan rambut yang berkelok. Atau Romo Waskito, juga seorang Imam Belanda yang mempunyai nama asli Joseph Vossen, yang selalu mengingatkan untuk tidak mengikat lengan jubah pada pinggang. Suatu hal yang selalu dilakukan oleh messdiener berbadan besar untuk menyiasati jubah yang kekecilan sebelum ditutup dengan pakaian putih yang menutupi badan dari leher atas hingga batas lutut. Peraturan serba tertib, rapi, dan disiplin. Tampaknya di mata Romo-romo itu seorang pelayan bukanlah hamba. Pelayan adalah salahsatu jenis pekerjaan. Setara dengan pekerjaan sebagai arsitek yang dijalani Wegig saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar gema yang muncul dari sebuah pengeras suara di stasiun. Mengabarkan rangkaian kereta api yang baru datang. Wegig tersadar. Lamunannya buyar. "Ah, sudah hampir sampai rupanya", gumamnya. Di depannya tampak kesibukan sebuah stasiun. Diliriknya arloji. Masih lama. Kereta api yang ditumpanginya akan berangkat tiga jam lagi. Masih banyak waktu baginya untuk berjalan ke wilayah tua Menteng. Mampir ke sebuah kafe kecil bernuansa kolonial sembari meneguk coklat panas tanpa krim dengan &lt;em&gt;dark chocolate&lt;/em&gt; di mulut sangat mengasyikkan. Tetapi entah kenapa dirinya lebih memilih menunggu di stasiun. Maka jadilah dia naik ke lantai atas menuju teras yang diperuntukkan bagi penumpang rangkaian kereta yang akan dinaikinya. Dipandangnya teras di seberang. Dulu, tempat dimana dia berdiri khusus diperuntukkan bagi penumpang eksekutif, dan yang diseberang diperuntukkan bagi penumpang dengan kelas di bawahnya. Sekarang sudah tidak lagi. Tetapi bukan berarti pemerataan sudah terjadi. Yang dia tahu penumpang dengan kelas di bawah eksekutif ditempatkan di stasiun lain di wilayah kecamatan Senen yang padat dan rawan. Bangunannyapun kusam dan tidak terawat. Terkesan miskin dan terlantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pukul tiga lebih dini hari. Kereta baru melewati stasiun Purwokerto. Berhenti sebentar menurunkan penumpang dan memberi sedikit kesempatan kepada penjual makanan untuk sekedar melongokkan kepala melalui pintu gerbong. Tidak ada penumpang yang tertarik. Kebanyakan dari mereka masih tenggelam dalam selimut tipis masing-masing. Hanya beberapa orang yang terjaga termasuk Wegig. Duduk selonjoran di kursi. Setengah mukanya tertutup kain selimut yang melindungi hidungnya dari serbuan gas pengharum ruangan. Matanya menatap ke luar di balik kaca jendela, tetapi pikirannya tidak seirama dengan apa yang dilihatnya. Di otaknya masih terbayang Eyang Waras. Eyang yang sederhana dan saleh itu hidupnya tidak selalu indah dan beroleh penghormatan sebagai orang yang berbakti dengan tulus kepada gereja dan masyarakat. Sudah biasa didengarnya gunjingan yang mengatakan bahwa dirinya kerap mengundang para lelaki muda, termasuk para messdiener&lt;em&gt; &lt;/em&gt;didikannya yang sedang tumbuh dewasa ke dalam kamarnya secara pribadi. Dalihnya adalah semacam memberi bekal kepada anak-anak yang sedang tumbuh agar lebih siap dalam menjalani dunia dewasa dengan lebih terbuka secara benar. Pun almarhumah Ibu Wegig yang sangat menyayangi, dan selalu memandang Eyang Waras secara positif sempat menanyakan hal itu suatu ketika.&lt;br /&gt;“Tadi dipanggil Eyang?”&lt;br /&gt;“Iya Bu. Dari jam tiga sore”.&lt;br /&gt;“Oh. Ngobrol apa aja?” Ada seuntai senyum di bibirnya. Tampak santai, tetapi matanya yang teduh menyiratkan rasa takut bercampur sikap hati-hati demi menghormati Wegig, anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Atau masih ada harapan dalam hati yang membuat dirinya tetap percaya bahwa Eyang Waras tetap ‘waras’ dan bisa dia percaya.&lt;br /&gt;“ngg … Eyang ngomong banyak soal psikologi. Eyang juga cerita bahwa Eyang Putri adalah istri yang baik dan seorang malaikat. Bisa memahami keadaannya. Tadi di kamarnya aku juga membaca kitab Talmud. Hebat!! Darimana Eyang bisa punya kitab itu ya ..”.&lt;br /&gt;"Tapi kamu ... eh .. dia tidak minta macam-macam kan?". Seperti ada beban besar terangkat setelah berani mengungkapkan pertanyaan ini.&lt;br /&gt;"Ah tidak Bu. Sejujurnya, Eyang Waras sempat meminta hal itu. Tapi aku tegas katakan tidak. Dan untuk itu dia sangat hormat dan berjanji untuk berbuat macam-macam". Lega.&lt;br /&gt;"Syukur. Syukur kalau begitu. Ibu juga percaya bahwa Eyang itu baik. Yang penting kamu bisa jaga diri saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eyang Waras adalah laki-laki pintar. Tutur katanya yang sopan selalu menarik hati orang yang mendengarnya. Dia fasih dalam ilmu psikologi dan seksologi. Menguasai lima bahasa dengan sempurna : Inggris, Jerman, Belanda, Jawa, dan Latin. Kemampuan ilmu filsafat dan teologinya? Sebagai bekas seminaris tak diragukan. Berbekal talenta tersebut dia mampu menjalankan peran sebagai guru dengan baik. Menjadi mata air bagi jiwa yang kering dan ketakutan. Sayang, hanya satu yang menjadi ganjalan dalam hidupnya. Dia seorang homoseksual dan tinggal di kampung yang masih memegang pandangan lama. Dan sebagai orang yang dekat dengannya Wegig tahu bahwa gunjingan itu memang benar adanya. Tetapi, untuk meyakinkan diri suatu kali dengan berani dia menanyakan secara langsung hal itu. Dan Eyang Waras dengan jujur menyatakan kebenaran berita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung ada rasa khawatir juga dalam diri Wegig. Ada ketakutan jangan-jangan semua diskusi dengannya selama ini hanya sebuah perangkap meskipun hatinya tetap mengakui ada nilai-nilai positif di dalamnya dan sangat membantu dirinya yang sedang beranjak dewasa. Tak apalah. Toh dirinya sudah menunjukkan sikap. Lihat saja nanti apakah dalam perjumpaan berikutnya Eyang Waras konsisten dengan apa yang diucapkannya. Tapi satu sikap Eyang Waras yang sangat dipujinya; kerendahan hati untuk mengakui kelemahannya. Tidak menampik hujatan yang ditujukan kepadanya. Sebaliknya senyum selalu ada pada wajahnya dan konsisten betul akan pelayanan terhadap gereja dan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di kerkop, begitu orang Yogya dulu menyebut kata &lt;em&gt;kerkhoft&lt;/em&gt;, kompleks pemakaman dalam bahasa Belanda. Dengan hati-hati Wegig memegang duapuluhan batang dupa. Posisi tubuhnya sedikit meringkuk untuk melindungi api dari terpaan angin. Tak lama kemudian ujung batang-batang dupa tersebut cerah menjadi bara. Asapnya halus meliuk mengikuti aliran angin, dan aroma &lt;em&gt;musk&lt;/em&gt; segera menyebar. Aroma yang sangat digemari oleh Ibu. Sekian detik dirinya dibawa mundur ke suatu sore hari ketika sedang memasukkan batang dupa pada sebuah dudukan terbuat dari belahan bambu dan kemudian diletakkan pada permukaan piano rusak yang difungsikan sebagai meja untuk menampung benda-benda dekorasi ruangan. Ibu duduk di sofa. Kami berbincang santai sembari menikmati suara &lt;em&gt;rengeng-rengeng&lt;/em&gt; gesekan rebab Pak Sukar di rumah sebelah. Teduh sekali. Damai, pulang, menjadi murni dan apa adanya.&lt;br /&gt;"Ah Ibu, aku kangen.", desahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaman ini ada sejak jaman Belanda. Kondisinya seperti pemakaman di Jawa pada umumnya. Ada makam yang cukup berbalut tanah, ada yang ditutup dengan nisan dengan bentuk yang beragam. Banyak pohon tua terutama jambu air dan pace. Tetapi dekat makam Ibu ada pohon kamboja yang tumbuh seperti tidak disengaja. Di bawahnya ada makam seorang pahlawan. Sederhana sekali. Hanya berupa gundukan tanah dengan penanda berupa tongkat bambu runcing dan bendera kecil yang selalu berkibar. Keduanya terbuat dari besi dan seng yang dicat dengan semacam cat minyak. Jalan setapak sulit ditemukan di sini. Mungkin dulu ada tetapi akhirnya digunakan untuk makam-makam baru. Sangat padat dan tidak teratur. Tetapi entah kenapa selalu ada rasa teduh ketika Wegig berada di dalamnya. Mungkin karena ada makam Ibu di sini, atau bisa juga karena dia sudah mengenal tempat ini sejak kecil. Bermain perang-perangan bersama Aditya, seorang sahabat yang sekarang menjadi seorang perwira polisi. Tempat persembunyiannya adalah gundukan makam, pohon, sumur, atau batu nisan. Senapannya adalah batang kayu dengan pelontar peluru terbuat dari tali karet. Pelurunya adalah potongan tangkai daun pepaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Angin bertiup terasa sejuk di muka membuat mata semakin ingin lama terpejam. Bau harum kamboja yang luruh ke tanah, berbaur dengan harum dupa, melati, dan kanthil. Tanah kering-panas yang baru saja disiram. Aromanya meneduhkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sendirian saja &lt;em&gt;to&lt;/em&gt; Mas?"&lt;br /&gt;Wegig sedikit terkejut tapi tak lama roman mukanya berubah cerah setelah mengetahui bahwa pemilik suara berat dengan nada sopan tersebut adalah Pak Bejo, seorang tukang becak bersahaja dari desa Sedayu Bantul yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarganya, terutama Ibu. Baginya, Pak Bejo sudah seperti saudara sendiri. Maka tidak ada rasa beban dalam hatinya ketika pengayuh becak tersebut undur diri setelah menyapa dan berbincang sejenak, sekedar untuk memberi kesempatan berdoa. Dan Wegig menjanjikan untuk bertemu sepulang dari nyekar nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;HERMAN sudah jauh-jauh hari berjanji kepada Wegig untuk bertemu di Yogya. Dan janji itu ditepati. Pukul lima lebih delapan menit dia datang ke pemakaman. "Walah aku telat!! Maaf maaf!!", teriaknya dari kejauhan sambil tergopoh-gopoh menyusuri jalan setapak makam. Raut mukanya terlihat gembira. Dengan sengaja diinjaknya beberapa nisan untuk memotong jalur sembari keluar kata maaf dari mulutnya. Kedua sahabat itu berjabat tangan. Sudah lama betul mereka tidak bertemu terlebih setelah Herman menikah dan bermukim di Semarang. Bagi Wegig Herman benar-benar sahabat. Tidak sekedar teman. Memang dulu semasa kuliah mereka sering mabuk dan bolos besama. Tapi sekarang Herman bekerja menangani pemukiman rakyat miskin sedang dirinya bekerja di sebuah konsultan yang menangani proyek-proyek besar. Sahabatnya itu sudah menikah dan dirinya belum. Pun kalau kebetulan berada dalam satu kota mereka belum tentu dapat bertemu dengan alasan kesibukan. Tapi satu hal yang dicatat oleh Wegig, yaitu ketika sekali waktu dapat bertemu, meskipun sejenak, mereka betul-betul berbagi dan saling menguatkan. Seperti juga saat ini dia seakan tahu apa yang menjadi kegelisahan Wegig dalam menjalani kehidupan sebagai arsitek di kota besar. Sarat dengan mengikuti nilai-nilai pasar. Pasar yang menciptakan persaingan dan membawa para arsitek berlomba untuk mencari popularitas. Pasar yang membawa arsitektur ( yang seharusnya mengemban nilai sosial, budaya, kemanusiaan secara jujur ) ke dalam satu nilai yang dibentuk oleh &lt;em&gt;lifestyle&lt;/em&gt; model kapitalis. Pasar yang menempatkan orang-orang yang tidak mampu mengikuti pola permainnya berada di pinggir. Pasar yang ramai tetapi kehilangan semangat keramaian sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, lantas kamu sendiri bagaimana? tanya Herman. Lanjutnya lagi, "Sama saja. Kamu pikir pekerjaanku yang seakan penuh nilai moral dan kemanusiaan menyenangkan? Sebaliknya Gig, tidak gampang kerja untuk orang-orang miskin. Di satu sisi mencoba untuk selalu mempunyai perhatian untuk mereka, tetapi kalau tidak hati-hati malah bisa membuat mereka manja, merasa selalu benar sebagai orang tertindas meskipun kenyataannya sering juga mereka nakal. Juga apakah kamu pikir dengan menyandang judul membantu orang kecil lantas beroleh ucapan terimakasih dengan tulus? Belum lagi masalah internal sesama tim. Dimanapun itu, apapun judulnya, pekerjaan pastilah sama. Kukira kamu tahu betul itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman benar. Aku tidak ingin membandingkan secara hitam-putih. Kedua sisi itu sama-sama punya nilai positif. "Mungkin aku cuma lelah", katanya. Kecewa karena tidak mampu mengikuti &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;. Yang bisa dilakukan adalah mengikuti logika aliran hidup; harus membiayai diri sendiri, juga Bapak dan Adik. Selebihnya, ibarat orang menunggu di halte bis, bertemu dan ngobrol dengan orang lain. Syukur bisa membantu kalau orang itu punya kesulitan. Pendeknya menjadi arsitek adalah membuat orang lain gembira. Tidak peduli apakah namanya muncul ke permukaan atau tidak. Sepertinya bodoh memang. Tetapi biarlah, masih banyak peran dalam hidup jika kita menyetel pada gelombang memberi kegembiraan untuk sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataannya ini menimbulkan rasa lega dalam diri Wegig. Serasa ada beban besar yang terangkat. Merasa menjadi manusia baru nan segar dengan mau mengakui sebagaimana dirinya. Dan entah mengapa tiba-tiba muncul semangat baru untuk berani menghadapi arus hidup. Apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman tersenyum. Pembicaraan kali ini tidak sertamerta dapat membuat semua masalah hilang. Tetapi bersama sahabatnya ini pembicaraan terasa seperti saling menguatkan. "Sudah sore. Kamu harus balik ke Jakarta &lt;em&gt;to&lt;/em&gt;? Sampai ketemu lagi kalau begitu," Herman membuka suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam sebentar lagi tutup. Tapi Wegig belum sempat nyekar ke makam Eyang Waras. Tempatnya saja lupa. Seingatnya makamnya ada di barisan sebelah timur di dekat makam-makam tua yang tidak terurus. Tapi tak apalah. Lainkali saja, karena sore ini Wegig secara batin sudah bertemu dengannya. Belajar darinya untuk menerima diri apa adanya. Menjadi diri sendiri dan menghadapi hidup dengan senyum dan kerendahan hati. Menjadi pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak terbayang posturnya yang kecil dengan rambut putih berdiri dengan penuh percaya diri. Mengajarkan bagaimana mempersembahkan dupa di altar. "Pelan-pelan &lt;em&gt;cah bagus&lt;/em&gt; ... ya, pegang rantainya dengan tangan kanan ... angkat tangan kananmu ke depan ... ayunkan pedupaan dengan pelan. Mata ke satu arah. Jangan &lt;em&gt;jelalatan&lt;/em&gt;! Yang anggun ... bawa semua umat ke dalam hening kepada Tuhan ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan asap dupa yang harum itu membumbung tinggi ke langit-langit altar yang terbuat dari kayu berbentuk kubah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Te Deum Laudamus&lt;br /&gt;Te Dominum Confitemur&lt;/em&gt; ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-7226196992658948724?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/7226196992658948724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=7226196992658948724' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7226196992658948724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/7226196992658948724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/05/eyang-waras.html' title='Eyang Waras'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-4580117529302253188</id><published>2007-04-09T08:56:00.000-07:00</published><updated>2007-11-25T06:04:40.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Langit</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RyNR7aDNAII/AAAAAAAAAB4/tHGn7tfe_qU/s1600-h/langit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126030881924644994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RyNR7aDNAII/AAAAAAAAAB4/tHGn7tfe_qU/s320/langit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;MENJELANG hari kelahiranmu kota Yogyakarta sedang dalam situasi mencekam. Seluruh mahasiswa di Indonesia, juga yang ada di Yogyakarta berdemonstrasi, meminta agar Presiden Indonesia kedua, Soeharto, turun dari kekuasaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku masih menjalani proses tugas akhir untuk yang ketiga kalinya, setelah duakali sebelumnya tidak lulus. Pagi itu aku dapat kabar dari Eyang Kung dan Eyang Ani bahwa Bu Ayik yang sedang mengandung kamu masuk Rumah Sakit Panti Rapih. Pak Mok, aku dengar juga sudah datang ke Yogya. Jadilah sore itu aku jalan kaki sejauh kira-kira dua kilometer dari kampusku di daerah Klitren ke Panti Rapih. Kondisi jalanan cukup santai, meskipun kebanyakan orang baik yang berjalan kaki, naik mobil atau sepeda motor pergi dengan terburu-buru, karena pada masa demonstrasi seperti itu setiapkali senja turun sering diadakan &lt;em&gt;sweeping&lt;/em&gt; oleh aparat keamanan. Itu juga yang bikin aku akhirnya meninggalkan sepeda motor Suzuki Crystal di parkiran kampus. Aku titipkan ke Pak Satpam. Pak Sartono dan Pak Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu udara cerah dan hangat. Aku memilih untuk berjalan lewat depan Rumah Sakit Bethesda di jalan Jenderal Sudirman yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Nyaman sekali. Lebar jalannya sekitar duabelas meter, dan &lt;em&gt;trotoir &lt;/em&gt;atau tempat pejalan kaki sekitar tiga meter. Selain banyak pohon bangunan-bangunannya juga tertata baik. Beberapa di antaranya adalah bangunan lama peninggalan jaman Kolonial Belanda. Kalau malam hari banyak penjual makanan yang menggelar dagangannya di dalam tenda. Orang-orang biasa menyebutnya warteg, singkatan dari Warung Tegal. &lt;em&gt;Kok&lt;/em&gt; ada kata Tegal? Aneh ya .. ha ha …. Memang sih, menurut cerita orang istilah “tegal” diambil dari orang-orang dari wilayah Tegal, Pekalongan, Pemalang, dan wilayah Pantai Utara lainnya yang gemar berjualan makanan murah di pinggir jalan. Akhirnya, siapapun yang berjualan makanan di pinggir jalan di sebut warteg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membuka warungnya di atas &lt;em&gt;trotoir&lt;/em&gt;. Seringkali memakan badan jalan sehingga pejalan kaki sulit lewat. Di depan Rumah Sakit Bethesda ada dua warteg yang selalu aku ingat. Pertama, warteg “ Tiga Saudara” yang menjual Sop Kaki Kambing. Dulu Pak Mok, Bude Lala, aku sering diajak Eyang Kung makan di tempat ini. Kita mesti ambil mangkok &lt;em&gt;beling&lt;/em&gt; dan memilih lauk yang disajikan dalam sebuah baskom kaleng. Lauknya macam-macam. Ada telinga, hidung, lidah, kaki dan semua bagian badan kambing. Setelah kita pilih sang juru masak akan mencampurkan lauk dengan kuah yang diambil dari panci besar, diaduk sebentar, kemudian kuahnya dikembalikan lagi ke panci. Mungkin biar kuahnya meresap ke dalam daging. Baru setelah itu mentega nabati minyak samin Cap Onta dicampurkan sekalian dengan irisan daun bawang, garam, merica, atau bumbu lainnya, dan terakhir campur lagi dengan kuah tadi. Disajikan dengan emping mlinjo atau kalau suka boleh dicampur dengan pula dengan acar timun yang disimpan dalam toples plastik. Enak sekali. Oya, selain daging dan “teman-temannya”, ada juga lauk istimewa, yaitu otak yang disajikan dalam bungkusan daun. Makanan ini enak sekali. Tapi karena waktu itu harganya mahal Eyang Kung hanya mengijinkan satu orang yang beli, Bude Lala misalnya, kemudian dibagi-bagi … ha ha ha ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kedua adalah sebuah warung rokok berukuran sekitar satu meter kali dua meter. Bisa dipindah dengan cara didorong, seperti yang banyak kamu lihat di Jakarta. Kalau sempat &lt;em&gt;ngintip&lt;/em&gt;, warung rokok ini di dalamnya cuma bisa muat untuk dua orang yang tiduran atau duduk dengan posisi &lt;em&gt;selonjoran&lt;/em&gt;. Sangat sempit dan terbatas karena dipakai juga untuk menyimpan barang-barang dagangan dan &lt;em&gt;tape-recorder&lt;/em&gt;. Kadang yang jaga warung satu orang, kadang dua orang. Biasanya mereka bergantian. Ada juga yang membawa anaknya yang kalau ngantuk ditidurkan di dalam di atas gelaran kardus atau tikar dan berselimutkan selendang atau jaket. Sebagai alat penerangan mereka memakai lampu petromaks atau lampu pijar yang listriknya diambil dari bangunan sekitarnya. Di dekat Rumah Sakit Bethesda ada juga warung seperti ini. Yang punya dan tinggal di dalamnya seorang Ibu sepuh seumuran Eyang Ning. Sederhana sekali penampilannya. Waktu terjadi kepanikan lantaran ratusan orang lari akibat saling lempar batu antara demonstran dan tentara, Ibu itu hanya bisa teriak histeris. Panik, takut, dan bingung karena tubuhnya yang lemah tidak mampu menyelamatkan diri. Waktu itu dia hanya bisa jongkok sambil menangis di antara ratusan orang yang lari sambil teriak. Untung ada orang baik yang menarik tangannya, menyuruh Ibu itu untuk menyelamatkan diri masuk ke dalam warung lewat pintu warung yang sempit. Sementara itu orang-orang masih teriak dan Ibu tua itu hanya bisa menangis pasrah di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman Rumah Sakit Panti Rapih aku masih lihat tentara berjaga-jaga di sekitar bunderan Universitas Gadjah Mada, tempat Bu Ayik sekolah dulu. Aku masuk lewat pintu depan, terus lewat taman dan &lt;em&gt;corridor&lt;/em&gt; yang menghubungkan bangunan di sebelah utara dan selatan. Aku suka suasana &lt;em&gt;corridor &lt;/em&gt;ini. Lantainya terbuat dari ubin semen yang semakin sering dilewati orang akan semakin mengkilap. Tiang terbuat dari kayu menopang rangka-rangka kayu atap yang kelihatan. Tidak banyak dinding penutup sehingga bisa melihat taman dan membuat suasana yang akrab dan nggak ngeri. Beberapa tahun kemudian sewaktu menunggu Eyang Ani yang sakit, setiap malam aku sering sendirian lewat &lt;em&gt;corridor&lt;/em&gt; ini untuk beli teh di warung &lt;em&gt;angkringan&lt;/em&gt; di depan Rumah Sakit. Setelah melewati beberapa &lt;em&gt;corridor &lt;/em&gt;aku sampai di sebuah taman, dan melihat Pak Mok duduk termenung ditemani Oom Andi. Di tengah taman itu ada pohon Palem yang masih kecil. Bentuknya seperti botol. Aku Tanya ke Pak Mok “Siapa nama anakmu nanti?” Pak Mok dengan bercanda menjawab : Palem Botol. Aku dan Oom Andi tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian seorang bayi lahir. Mungil dan lucu sekali. Aku menciumnya dan terasa harum alami bayi yang meneduhkan hati.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sapa jenenge?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Langit. Langit Bijak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tepatnya tanggal 9 April 2007 aku memperoleh sebuah puisi dari Langit yang dikirim Pak Mok lewat email. Sebuah puisi pendek. Begini bunyinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;BUNGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga kau sunguh harum&lt;br /&gt;Warnamu indah&lt;br /&gt;Banyak jenismu&lt;br /&gt;Ada Mawar,Melati,Anggerek dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah sekali dirimu&lt;br /&gt;Pemandangan tak indah tanpamu&lt;br /&gt;Ku suka bunga&lt;br /&gt;KU ingin Bunga ku selalu merawatmu&lt;br /&gt;taman di Indonesia banyak bunganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga....&lt;br /&gt;Ku janji akan merawatmu&lt;br /&gt;Ku sangat menyayangimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGIT 8 APRIL 2007 MINGGU&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;Kamu menyebut bunga.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan manusia senang menggunakan kata bunga untuk mengungkapkan sesuatu hal yang mencitrakan semangat cinta, sesuatu yang dianggap menguntungkan, menggembirakan, atau sesuatu yang tumbuh dari pokoknya, membuat segala hal menjadi berkembang dan mampu melihat segala tersebut dengan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga adalah kasih.&lt;br /&gt;Paus Johannes Paulus II sering meletakkan karangan bunga di hadapan lukisan Bunda Maria yang dibuat pada jaman Byzantium atau di bawah patung Maria Immaculatta sebagai penghormatan kepada Ibu Maria. Doa Rosario yang diberikan Bunda Maria kepada Santo Dominikus Guzman mempunyai arti mawar, dan mawar adalah bunga. Sewaktu seseorang memberikan bunga kepada seseorang yang lain, saat itu juga dia mengucapkan kasih yang mungkin tidak bisa dikatakan lewat kata-kata. Itu berarti bunga selain bermakna kasih juga bermakna doa, sepertinya halnya kita menaburkan bunga di pusara orang yang kita cintai sebagai ungkapan doa dan kasih, atau penduduk beragama Hindu di Bali yang selalu menyertakan bunga sebagai sajian kepada Yang Maha Kuasa dalam upacara keagamaannya. Tanpa disadari bunga mempunyai makna yang indah dan berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah merawat bunga dan menyayanginya sampai hatimu menyatu dan kamu menjadi bunga bagi dunia. Seorang bijak mengatakan ketika melihat bunga yang indah di tumpukan sampah orang enggan untuk membuang sampah tersebut karena takut akan melukai dan mencabut bunga itu. Karena bunga tersebut tumpukan sampah menjadi sangat berharga. Ketika kamu tumbuh dewasa dan melihat segala sesuatu di dunia tidak semuanya indah dan menyenangkan : orang-orang miskin dan terlantar, pemukiman yang kumuh, dan lain sebagainya, jadilah bunga bagi mereka agar keindahanmu membuka hati banyak orang untuk tidak membuang “sampah” tersebut, tetapi menjadikannya baik. Jadilah menyatu dengan mereka agar mereka tidak tercabut karena bunga adalah milik Tuhan, sehingga tidak seorangpun berhak untuk mencabutnya. Dan melalui dirimu doa-doa setiap orang dipersembahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipersembahkan untuk keponakan tercinta : Alesandra Langit Bijak&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-4580117529302253188?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/4580117529302253188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=4580117529302253188' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4580117529302253188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/4580117529302253188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/04/langit.html' title='Langit'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_yVZDcsTSHlg/RyNR7aDNAII/AAAAAAAAAB4/tHGn7tfe_qU/s72-c/langit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-859498947522682984</id><published>2007-03-07T00:52:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T06:05:04.779-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>Kampung Alun-alun di Kotagede</title><content type='html'>KATA alun-alun berasal dari bahasa Belanda, &lt;em&gt;aloon-aloon&lt;/em&gt;, yang berarti lapangan. Sangat kontras dengan ruang yang dimaknainya. Sedikit pun tidak ada lapangan pada kampung ini, selain deretan rumah berhadapan yang dipisahkan jalan selebar sekitar tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini merupakan bagian kecil dari wilayah Kotagede, sebuah kota tua di tenggara Yogyakarta. Lebih dari kota penghasil kerajinan perak, Kotagede menyimpan banyak misteri sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Seperti pola beberapa kampung di Kotagede yang mengingatkan kita pada &lt;em&gt;ghetto&lt;/em&gt;, Kampung Alun-alun dilingkupi dinding (benteng) yang memisahkannya dari kampung lainnya. Hanya dua pintu gerbang di sisi timur dan barat yang menghubungkannya dengan dunia luar, dan gerbang kecil yang mempertemukannya dengan gang-gang sempit sunyi meditatif penghubung antarkampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Alun-alun berada di sisi selatan "pusat" keramaian, yaitu Pasar Kotagede melalui jalan utama Pasareyan. Tidak seperti penggalan beberapa wilayah di Kotagede lainnya, suasana ruang pada jalur pencapaian ini terasa lebih magis. Pepohonan tua yang rindang, reruntuhan dinding tebal berlumut yang memperlihatkan struktur bata pembentuknya, mengiringi perjalanan menuju tempat ini. Di situs sakral Kompleks Mesjid Agung Mataram terdapat dua kolam yaitu Sendang Seliran dan Sendang Kemuning, makam Panembahan Senopati, makam keluarga Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, memperkuat nilai magis dan menegaskan wilayah selatan adalah wilayah sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;MEMASUKI Kampung Alun-alun, terasa suasana hangat, akrab, dan bersih. Rumah-rumah tersebut bersusun berjajar arah timur-barat, saling berhadapan dengan ruang memanjang di tengah sebagai pemisah, yang juga berfungsi sebagai jalan umum. Skala bangunan terasa rendah dan akrab layaknya permukiman rakyat Jawa tradisional. Rasa akrab akan semakin terasa dengan mudahnya mata "menangkap" tritisan (atap pendek pelindung wajah bangunan) dan badan atap seolah begitu dekat, yang dibungkus genteng tanah warna terakota.&lt;br /&gt;Beberapa bangunan masih menyimpan detail yang dalam pola pikir perancangannya sangat menghargai pertemuan antarelemen struktur dengan memberikan ornamen. Misalnya, tritisan yang menjadi penutup teras, disangga konsol kayu yaitu sistem struktur penyangga atap (yang menjadi perantara peyaluran gaya vertikal dari atap ke tiang), diukir dengan pola klasik Jawa yang jarang ditemui di rumah-rumah umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit muka pada beberapa bangunan bersifat ambigu. Terdiri dari beberapa modul panel kayu fleksibel yang bisa dibongkar pasang. Suatu saat tampak tertutup masif yang hanya menyisakan sedikit lubang kecil sebagai jendela. Sebaliknya, kadang bersifat cair ketika semua modul panel kayu tersebut dibuka sehingga tampak ruang di baliknya yang bersifat semi-publik. Dalam konsep rumah Jawa, ruang ini biasa berfungsi sebagai ruang tamu atau menampung aktivitas yang sifatnya publik formal, di mana penghuni akan menunjukkan statusnya sebagai yang berkuasa. Masyarakat menyebutnya pendopo. Di sisi selatan, bangunan tidak selalu berfungsi sebagai rumah tinggal. Beberapa di antaranya adalah pelataran, ruang terbuka bersifat semi-publik dengan struktur atap berbentuk joglo. Ada yang masih asli, tetapi ada juga yang sudah dimodifikasi dengan gaya eklektik dan menyatu dengan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi lapangan ini tidak jauh dari Kampung Alun-alun. Secara logika, adanya bangunan pendopo bersifat publik di sisi selatan Kampung Alun-alun, menandakan lapangan tersebut pernah menjadi sesuatu yang penting yang menjadi fokus bagi penataan ruang keseluruhan di sekitarnya, sehingga jika ada bangunan di sekelilingnya mereka akan menempatkan area publik atau area depannya pada sisi selatan. Perlakuan ini tampaknya hendak memaknai wilayah kepemilikan masing-masing rumah tersebut. Di muka rumah yang satu kita merasakan sentuhan susunan batu kali berbentuk bujur sangkar berukuran 30X 30 cm. Di muka rumah lain terasa tatanan batu koral hitam atau semen plester abu-abu khas bangunan Kolonial, dan masih banyak lagi. Ketika terdengar bunyi dering telepon di rumah sisi selatan, dering itu disambut dengan munculnya orang dari rumah sisi utara berlari menuju rumah selatan menyeberangi jalur pemisah kampung. Seorang laki-laki menerangkan kepada kami, bahwa dulu setiap rumah berhadapan di dalam kampung ini mempunyai satu pemilik, dan penggalan jalan yang terbuka ini dapat dikatakan sebagai halaman tengah yang sebenarnya bersifat privat dan berfungsi sebagai penghubung antarbangunan. Ruas jalan ini menyatu dengan teras yang mempunyai ukuran beragam. Ada yang bisa menampung seperangkat kursi tamu dan menampung manusia cukup banyak, beratapkan kanopi cukup luas pula sehingga ruang yang dinaunginya terasa dingin dan sejuk. Beberapa lainnya lebih sederhana, hanya berbentuk pembatas samping badan jalan (buk) setinggi 40 cm dan beratapkan tritisan pendek.&lt;br /&gt;Pada bagian muka bangunan dengan teras besar terdapat pintu ganda berukir pada daunnya, yang merupakan pintu masuk utama ke rumah induk. Seperti ornamen yang memberi makna lebih pada elemen struktur, ukiran pada pintu menunjukkan bangunan ini menyandang strata penting pemiliknya. Barangkali dulu merupakan rumah tinggal pembesar. Hal itu dipertegas dengan pemakaian atap joglo. Pada konsep rumah Jawa hanya bangunan pentinglah yang memakai atap joglo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, aktivitas beristirahat berganti menjadi aktivitas keluar yang lebih sibuk. Serombongan orang dari luar kampung melintas, beberapa sambil menuntun sepeda motor. Sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai toko kerajinan perak di sisi timur mulai berkemas tutup. Sebaliknya, rumah yang berdekatan dengan pintu masuk kampung sebelah barat yang berfungsi sebagai biro jasa pemotretan tetap menjalankan aktivitasnya. Tampak bahwa kampung ini sering dijadikan jalur pintas bagi penduduk sekitarnya. Dan halaman tengah yang privat memang telah berubah menjadi jalan umum. Tidak heran jika beberapa penduduknya tanggap untuk menjadikan area komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ikatan sejarah yang mengiringinya, saat ini Kampung Alun-alun merupakan sosok yang mampu menjadi penyeimbang bagi perubahan budaya yang semakin global. Eksistensi ruang dan bangunan di dalamnya adalah museum yang menjadi wacana bagi perkembangan arsitektur. Di dalam kebisuan itulah terdapat kesadaran dan penghargaan yang tinggi terhadap hasil budaya masa lalu dan lingkungan. Dengan bertahannya eksistensi bangunan lama berikut kehidupan di dalamnya, saat ini ketika masyarakat dibingungkan dengan wacana arsitektur dengan simbol-simbol yang semakin global bahkan nyaris kehilangan identitas, Kampung Alun-alun muncul untuk menjelaskan pentingnya identitas yang berakar dari budaya sendiri. Sebuah budaya yang telah mengalami proses panjang pematangan yang bermuara pada keharmonisan antara manusia pengguna dan lingkungannya. Antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sebuah produk arsitektur yang sarat dengan nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;dimuat di Koran Kompas Minggu, 30 Juni 2002 - &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/30/iptek/kamp15.htm"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/30/iptek/kamp15.htm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-859498947522682984?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/859498947522682984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=859498947522682984' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/859498947522682984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/859498947522682984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/03/kampung-alun-alun-di-kotagede.html' title='Kampung Alun-alun di Kotagede'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-6366440302491213614</id><published>2007-03-07T00:47:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T06:05:23.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>Paham Modern dan Arsitektur Indonesia</title><content type='html'>KALAU saat ini membaca literatur mengenai perancangan arsitektur di Indonesia dan beberapa bidang perancangan lainnya akan sering ditemui dua kata ini : klasik dan modern. Dua kata itu begitu sering muncul, seakan sudah mewakili nilai-nilai arsitektur yang ada saat ini. Khususnya tentang paham modern dalam arsitektur. Nilai ini begitu diagungkan oleh mereka yang menyakininya dan dianggap sebagai tolok ukur lifestyle dan kreatifitas. Berbekal keyakinan tersebut mereka melontarkan kritik terhadap nilai yang dianggap berseberangan, yaitu klasik, tradisional, atau berbagai aliran yang bagi mereka tidak mengikuti jaman. Seperti kita tahu, modernisme lahir dari situasi yang penuh keprihatinan dan keterpurukan akibat perang Dunia I dan II di Eropa. Hancurnya kota-kota dan rusaknya sistem perekonomian membuat masyarakat mengubah pandangannya dalam mempertahankan dan membangun kembali tatanan kehidupan. Kata-kata seperti simple, efisiensi, fungsional, fleksibilitas, anti-ornamen dipahami sebagai konsep dalam berarsitektur yang ‘harus’ ditaati para arsitek. Bentuk dan estetika hanyalah akibat yang diolah berdasarkan kemampuan material. Bukan yang bersifat tempelan atau kosmetik. Dengan demikian terbaca bahwa apa yang menjadi dasar pemikiran mereka adalah sistem, bukan estetika, yang diungkapkan melalui teknologi bahan dan konstruksi, mekanikal-elektrikal, ukuran, fungsi, sekuens ruang, furniture, dan beragam lainnya. Dengan instrumen tersebut arsitektur dijaga agar tetap menjalankan perannya sebagai wadah aktifitas dalam konteks hemat biaya sesuai dengan tuntutan jaman saat itu. Modernisme juga sering dikaitkan dengan Jepang. Bangsa ini pernah mengalami keterpurukan yang sama dengan Eropa. Dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang yaitu teknologi yang sangat maju, etos kerja dan tingkat kompetisi yang tinggi, mandiri dan percaya diri, efisien dalam memanfaatkan waktu dan tempat. Pada dekade 90-an dunia arsitektur mengenal nama seperti Tadao Ando, Kazuyo Sejima, Kengo Kuma, dan beberapa arsitek modern Jepang lainnya sejajar dengan nama-nama dari benua lain yang muncul lebih dahulu, seperti Mies Van De Rohe dan Le Corbusier. Di Indonesia para arsitek tersebut mempunyai tempat di hati praktisi dan pemerhati arsitektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya mereka yang sering disebut berjiwa Zen, hening, dingin, puitis mengilhami banyak arsitek modernis. Karya-karya yang mencerminkan budaya disiplin tinggi dan presisi. Dengan karya-karyanya tersebut mereka dianggap mewakili keberadaan Jepang di dunia dalam bidang rancang-bangun yang oleh para kritikus sering disebut bergaya modern-minimalis. Berabad-abad yang lalu, jauh sebelum Jepang tumbuh menjadi modern seperti sekarang spirit Zen sudah mengakar di kehidupan mereka dalam lingkungan yang tumbuh secara tradisional. Mereka tinggal dalam naungan bangunan-bangunan berukir indah dengan beragam tatacara kehidupan. Jika dilihat lebih dalam spirit Zen ini (yang dikaitkan dengan karakter modern seperti yang muncul pada buah karya arsitek Tadao Ando dan kawan-kawan) sejatinya tidak hadir melalui rupa bentuk tetapi lebih kepada sistem kehidupan spiritual yang menjaga keseimbangan tatanan kehidupan terhadap sesama dan lingkungan yang lebih besar. Begitu juga dengan keharusan beradaptasi dengan kondisi alam yang cukup keras. Masyarakat Jepang sudah mempunyai bibit tersebut selama berabad-abad yang semakin tumbuh dengan adanya peristiwa pada akhir perang dunia II. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa modernisme tidak selalu identik dengan sesuatu yang simple secara visual, tetapi lagi-lagi harus dipahami sebagai sebuah sistem. Hal ini juga ditunjukkan dengan keragaman bahasa dan gaya pada arsitektur modern, baik di Jepang maupun di negara Barat. Setelah masa krisis berhasil dilalui terjadi pergeseran pemahaman tentang konsep modern. Kondisi ekonomi yang membaik menumbuhkan kembali apresiasi masyarakat akan arsitektur yang sebelumnya sempat hilang. Modernitas tidak lagi dianggap sebagai nilai yang paling benar. Sebaliknya apresiasi terhadap yang irasional yang diungkapkan melalui estetika, unsur dekoratif dan ornamental yang membangkitkan kenangan dan sejarah juga dianggap perlu. Tetapi di dalam pergeseran tersebut tetap ada yang tertinggal dari semangat modern, misalnya kesederhanaan, efisiensi, dan ketepatan yang justru semakin eksis dengan didukung teknologi maju. Dasar-dasar semangat modernisme tetap terjaga dan mengakar dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dunia arsitektur di Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam diskusi-diskusi yang terjadi baik di kalangan masyarakat awam maupun praktisi arsitektur, pengucapan kata modern lebih sering terjadi pada lingkup pemahaman estetika. Para arsitek modernis juga sering ‘terjebak’ dalam pemahaman ini. Membuat dan menjelaskan ide-ide modernitas tanpa diikuti dengan semangat yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Karena sejujurnya masyarakat Indonesia belum pernah merasakan kehancuran seperti yang dialami masyarakat Eropa dan Jepang. Sebuah peristiwa yang membangkitkan pola pikir rasional dan sistematis yang menempatkan kebutuhan sebagai nilai utama dan bukan keinginan. Salahsatu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami pemikiran modern dalam konteks kondisi Republik ini adalah dengan mengambil nilai dasar pemikirannya yaitu kebutuhan, yang begitu erat hubungannya dengan masyarakat marjinal, yaitu mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam merekalah banyak kebutuhan mendasar yang harus dipecahkan termasuk melalui media arsitektur, ialah mencukupi hunian murah pada lahan yang terbatas. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia dua tahun yang lalu, arsitek Han Awal menjelaskan bahwa dalam perkembangan pasca-modern begitu banyak arsitek muncul dengan beragam bahasa masing-masing. Tetapi, di dalam keberagaman tersebut tetap ada sebuah benang merah yang menyatukan yaitu paham modernisme yang awalnya disampaikan oleh para pengajar di Bauhaus kepada para mahasiswanya menular sampai kepada para arsitek generasi berikutnya baik di Jerman sendiri maupun di beberapa negara lainnya, bahkan di negara yang belum banyak terkena arus modernisasi sekalipun. Para arsitek generasi baru tersebut tentu lahir dalam situasi yang berbeda. Yang terlahir di negara modernpun merasakan nilai-nilai tersebut sebagai turunan kesekian dari nilai modern yang sesungguhnya. Modernisme diadopsi sesuai dengan kondisi kultur masing-masing, sehingga muncul gejala-gejala baru. Sebagai contoh adalah Art-Deco yang muncul di era Rationalism pada tahun 1920-an. Di Indonesia dikenal sebagai langgam Kolonial karena kehadirannya berkaitan dengan masa-masa kolonialisme. Beberapa bahkan menyebut klasik karena jelas sekali penggunaan kaidah-kaidah klasik dalam pengaturan komposisi dan skala bangunan. Semua gejala tersebut meyakinkan bahwa paham modern ‘hanya’ sebuah konsep. Sebuah solusi bagi permasalahan yang dipecahkan secara efisien dan cerdik. Ketika para arsitek meletakkan asas-asas tersebut ke dalam nilai-nilai lokal akan terjadi sebuah bentuk baru. Modernitas tidak lagi dipahami secara murni, tetapi lebih kepada perannya sebagai ‘penyegar’, sehingga muncul berbagai langgam seperti modern-classic, modern-ethnic, neo-modern, dan beberapa langgam lainnya. Itulah yang terjadi di dunia, dan tumbuh subur terutama di negara yang belum memiliki budaya modern dalam arti sesungguhnya, seperti di Indonesia misalnya. Setiap bangsa mempunyai keunikan budaya dengan permasalahannya. Sudah selayaknya jika arsitektur tidak sekedar dijadikan ajang perdebatan paham terlebih pada level estetika. Alangkah lebih baik energi yang ada dipakai untuk mengembangkan keunikan nilai-nilai lokal dan mengolah sensitifitas terhadap kebutuhan masyarakat saat ini, sehingga arsitektur lebih mempunyai peran bagi kota bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;---&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4340920048851069781-6366440302491213614?l=script-paramartha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://script-paramartha.blogspot.com/feeds/6366440302491213614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4340920048851069781&amp;postID=6366440302491213614' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6366440302491213614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4340920048851069781/posts/default/6366440302491213614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://script-paramartha.blogspot.com/2007/03/paham-modern-dan-arsitektur-indonesia.html' title='Paham Modern dan Arsitektur Indonesia'/><author><name>Seto Parama Artho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11510155633406614641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4340920048851069781.post-8025751201290197326</id><published>2007-03-07T00:43:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T06:05:40.000-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>Fungsi pada Rumah Tinggal</title><content type='html'>FUNGSI. Kata ini sangat erat dengan pandangan modern yang lahir di Eropa akibat perang dunia I dan II. Hancurnya kota, hunian, fasilitas umum, dan perekonomian membuat masyarakat Eropa harus berhitung secara cermat dalam membangunnya kembali. Fungsi menjadi salahsatu dasar utama dalam perancangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia akademik di Indonesia pada akhir 1980-an, functionalism sering menjadi bahan ejekan karena dianggap mematikan kreatifitas. Kritik terhadap paham ini adalah dinilai tidak memberi ruang gerak bagi sisi lain kehidupan seperti identitas budaya untuk diterjemahkan dalam arsitektur. Produk yang dihasilkan berupa ruang terkotak-kotak dengan bentuk yang terjadi akibat susunan ruang yang diatur seperlunya. Di Indonesia kesalahpahaman akan functionalism terjadi akibat kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai intelektual pada arsitektur. Bagi kebanyakan orang arsitektur dipandang sebagai produk teknis-konstruktif sarat dengan perhitungan matematis. Dan fungsi tidak dipandang dari sudut lain kecuali sekedar mewadahi kebutuhan dasar seperti tidur, makan, berkumpul, dan lain-lain. Hanya beberapa saja yang mengerti bahwa dibalik beban konstruktif yang disandang arsitektur mengemban nilai humaniora yang besar dimana setiap kebutuhan harus ditelaah lebih dalam dari segala sisi kehidupan yang dimiliki pengguna. Booming real estate turut memperkuat anggapan keliru tersebut. Banyak rumah dibangun sebagai komoditas bisnis dengan modul dan program ruang standar, juga estetika bersifat kosmetik sekedar tampil menawan. Hal itu dilakukan tentu dengan tujuan mencari keuntungan. Ironisnya, cara tersebut menjadi acuan bagi masyarakat dalam memandang sebuah rumah tinggal. Fungsi yang sebenarnya menjadi dasar pemikiran dalam sebuah proses perancangan menjadi rendah kedudukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi benarkah fungsi tidak memberi ruang gerak kepada kreatifitas? Rasanya tidak. Lihatlah beberapa pemikiran arsitek seperti Alvar Aalto misalnya yang sangat memikirkan secara matang fungsi dan program ruang pada 
